
Penyusunan rencana sudah sangat matang, seluruh anggota karete yang notabenenya rata-rata mantan anggota mafia ikut bersama Tania dan Aldy ke tempat markas Dark Cobra yang letaknya di tengah-tengah hutan.
Salah satu IT terbaik Aldy memberi kabar bahwa pencariannya tentang Alex tidak salah, Alex sekarang sedang ada di Indonesia.
Di jalan menuju hutan itu Aldy mengulang strateginya kembali, ia mengatakan ada beberapa pemanah dan juga penembak jitu yang bersembunyi di atas pohon dan di balik semak, mereka yang sudah pada posisi memang di tugaskan Aldy sejak jam 3 pagi tadi dan kini giliran Tania dan Aldy yang akan masuk dengan berjalan kaki di hutan menuju markas besar Dark Cobra.
"Temen IT gue nanti bakal kasih informasi ke gua kalo Alex udah dateng," ucap Aldy.
"Mending kita yang duluan sampai dan nempatin posisi kita di sana," sahut Tania.
"Kalo maunya gitu, kita harus cepet," ucap Aldy dan Tania menganggungkan kepalanya.
Beberapa menit mereka berjalan akhirnya mereka bisa sampai di tujuan mereka sebelum Alex, Tania dan Aldy berpisah tempat karena mereka ingin menyerang dari dua sisi yang berbeda.
Sembari menunggu kedatangan Alex, Tania memejamkan matanya sejenak bayangan Vian datang menghampiri Tanua, tawa itu, senyuman itu dan raut wajah itu. Tania rindu semua itu, ia rindu pada Vian.
"Vian," gumam Tania.
"Hahaha ... hahaa ...."
Tania tersadar dari lamunannya ketika mendengar tawa jahat muncul dari depannya. Benar adanya informasi IT terbaik Aldy tentang Alex di Indonesia, Alex keluar dari mobil mewahnya dengan wajah yang sumringah. Ck! Tangan Tania rasanya sangat gatal, ingin sekali ia menyerang tanpa aba-aba.
Tania mengangkat kepalanya untuk menatap pohon-pohon yang terlihat kosong tapi mungkin di dalamnya ada banyak para anak buah Aldy,
"Siput lelet," gumam Tania merasa tidak sabaran karena kakaknya itu tidak ada memerintahkan pergerakan apaaaaaa gitu.
"Kenapa Kak Aldy ...."
Belum sempat Tania menyelesaikan perkataannya, semua anggota keluar dari sarangnya dan mulai menyerang markas Dark Cobra.
Tania sangat terkejut melihat anggota yang di bawa kakaknya begitu banyak keluar bersama Aldy yang memimpin, ternyata tidak sepenuhnya Aldy menceritakan rencananya pada Tania. Sial, Tania merasa marah sekarang.
"Mari bermain," gumam Tania memberi kode pada anggotanya untuk keluar dan ikut menyerang markas Dark Cobra.
Dorr....
Dorr....
Swingg....
srett....
Brugg....
Suara bercampur menjadi satu saat semuanya bertarung satu sama lain, mafioso Dark Cobra mempunyai pertahanan yang cukup kuat, mereka menembakkan sasaran yang pas tapi juga kadang ada yang melesat. Karena anggota Tania dan Aldy jauh lebih terlatih dalam menghadapi lawan mereka.
Pertarungan mereka cukup lama hingga membuat Tania bosan karena tidak ada yang sebading ataupun sama kuatnya dengan dirinya, apa mungkin karena anggota milik Alex adalah bocah ingusan yang sok-sokan menjadi kuat?
Srett....
Srett....
Srett....
Tania memanah kaki-laki para musuh hingga mereka jatuh kesakitan.
__ADS_1
Dorr .... brug ....
Dorr ... brug ....
Srett ... brug ....
Aku melihat ada tembakan dan juga anak panah mengenai tubuh para mafioso Dark Cobra hingga mereka jatuh tak berdaya. Aku yakin tembakan dan juga anak panah itu berasal dari atas pohon.
"Ck!" Tania berdecak kesal entah karena apa.
Degg! Seketika pandangan mata Tania bertemu dengan Aldy dan Alex yang sepertinya sedang berbicara, ah tidak maksudnya mereka sedang berteriak satu sama lain.
"Gawat," kata Tania melihat sekeliling Aldy ada banyak yang ingin menembak ke arah kakaknya itu, dengan cepat Tania melangkah dan memanah bahkan Tania juga mengeluarkan pistolnya untuk menembak para anggota Alex yang dengan lancangnya menyodorkan pistol ke arah kakaknya.
"What problem made you attack my base?" samar Tania dengar pekikan Alex.
"Banyak, masalah kami banyak sampai kami harus membunuhmu, Alex." balas Tania dalam hati. Dor! Dor! Tapi kegiatan wanita itu tidak berhenti dan masih setia menembakki para anggota musuhnya.
"How are you traitor, are you satisfied being the ruler of evil?" tanya Aldy ikut berteriak.
"Kenzi ... ughh ...."
Tania membulatkan matanya terkejut saat melihat bagian jantung Alex di penuhi banyak darah, ada apa ini?
"Boss," pekikan beberapa mafioso Dark Cobra berlari mendekati Alex.
Tania menatap Aldy yang mengangkat tangannya ke atas sembari menggenggam sebuah kain merah bergambar singa, ayolah! Kenapa otak Tania menjadi lemot begini?
"The leader of the Dark Cobra is dead," pekik Aldy dengan lantang.
Tania terpaku dan terdiam, ia masih belum percaya, secepat itukah mereka mengalahkan Dark Cobra tanpa harus banyak mengeluarkan tenaga ekstra.
But wait, siapa yang menembak Alex? apakah salah satu anggota mereka? Rasanya tidak mungkin, tembakan yang sangat sempurna seperti itu hanya seorang sniper yang bisa melakukannya.
Sreeet! Semua orang yang ada di atas pohon turun melalu tali dan salah satunya mendekat ke arah Aldy.
"Bawa jasad Alex bersamamu, kuburkan jasadnya dengan layak dan sampaian juga permintaan maafku pada paman Alucas." ucap Aldy pada salah satu orang yang turun dari pohon.
Tania melihat sekelilingnya yang ternyata sisa mafioso Dark Cobra yang masih hidup di sekap oleh anggota mereka.
"Siapa mereka?" gumam Tania bingung pasalnya Tania tidak pernah melihat mereka yang berwajah Eropa ikut gabung dengan rombongan mereka tadi.
"Tania," Aldy memanggil Tania yang masih di buat ling-lung oleh keadaan sekitarnya, Tania mengangkat tangannya hingga Aldy tersenyum di buatnya.
"Come here," pekiknya sehingga Tania berjalan mendekati Aldy.
"Tris, kenalin ini adek gue Tania ... Ah gue lupa nama dia Karamel. Karamel kenalin ini temen Kakak, Trisna IT kakak dan juga seorang sniper profesional." ucap Aldy.
Orang yang di panggil Tris mengulurkan tangannya di depan Tania, "Trisna Ryusatosi," ucapnya mengenalkan diri.
Trisna selalu membantu Aldy dalam misi-misi penting seperti menjaga keamanan rumah, akses perusahaan sang papa atau yang lainnya juga.
"Karamel Listra," sahut Tania membalas uluran tangannya.
"Boleh saya melihat wajah anda, Nona Kara?" tanya Trisna formal.
__ADS_1
Tania menaikkan sebelah alisnya dan menatap Aldy yang menganggukkan kepalanya.
Tania menarik kain yang ia pakai di bagian mulut dan hidungnya ke bawah lehernya, Trisna tersenyum kepadanya tapi Tania tidak membalas senyumannya. Suasana hati Tania entah kenapa menjadi tak karuan saat tahu Alex mati tanpa mendapatkan siksaan dulu padahal Tania sangat ingin menyiksa pria jahanam itu.
"Lo yang nembak Alex tadi?" tanya Tania pada Trisna membuat Trisna tersenyum tipis.
"Atas perintah dari Aldy, saya harus menembaknya tepat di bagian jantung," ucap Trisna.
Wajar Alex langsung mati, ternyata Trisna seorang sniper handal. Arg! Tapi Tania kesal karena tidak bisa menyiksa Alex, pria jahanam itu sudah mati di tangan sniper handal kakaknya.
"Kenapa muka lo di tekuk gitu?" tanya Aldy padahal Tania yakin, kakaknya itu mengetahui isi hati dan fikiran Tania.
"Nggak seru, gue nggak bisa nyiksa tu cowok jahanam karena udah duluan mati di tangan orang ini ni," ketus Tania seraya memelototi Trisna
"Maafkan saya Nona, jika Aldy tidak mengangkat kain merah itu mungkin saya tidak akan menembaknya dan membiarkan anda menyiksanya terlebih dahulu," ucap Trisna merasa tidak enak hati.
"Hem, gue mau pulang," ketus Tania.
"Sepertinya mood Kara sedang tidak baik, aku harus membawa dia pulang sekarang dan jika ada waktu kau bisa main ke rumah, kita pamit." ucap Aldy seraya berpamitan.
"Kalian hati-hati," sahut Trisna.
..............
Setelah sampai rumah, Tania langsung melempar semua barangnya ke meja dan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Tania," panggil Aldy duduk di samping Tania tapi Tania tidak merespon membuat Aldy menggenggam tangan adiknya yang terasa sangat dingin.
"Kakak cuma nggak mau rencana kita gagal, makanya waktu Alex lengah Kakak harus cepet bertindak," jelas Aldy memberi pengertian.
"Hem," Tania tidak ingin marah tapi kekesalan dalam dirinya belum bisa ia kendalikan.
"Yang penting dendam kita udah terbalaskan semuanya," ucap Aldy masih setia menggenggam tangan adiknya.
"Gue belum puas, asal lo mau tau," ucap Tania memejamkan matanya.
"Lo bisa siksa tangan kanan Alex," ucap Aldy.
"Ck! Yang bunuh Vian itu Alex jadi gue harusnya nyiksa Alex, Kak," pekik Tania tidak bisa menahan air matanya. Ayolah! Sejak tadi Tania berusaha menahan sesak di dadanya dan air matanya agar tidak jatuh tapi nyatanya ia gagal.
"Gue tahu, Tania. alasan gue nyuruh Trisna membidik jantung Alex itu karena gue mau balas perbuatan Alex sama Vian dulu jadi kita nggak perlu sampai nyiksa dia, yang penting dia udah mati sekarang." ucap Aldy memeluk Tania.
"Alex biad*b, gue benci dia, gue benci cowok jahat itu, gue benci dia yang udah bunuh Vian, Kak." pekik Tania di pelukan Aldy.
"I know, kita udah balas semua perbuatan dia ke kita sama Vian," ucap Aldy mencoba untuk memenangkan Tania.
"Semoga lo nggak marah karena gue balas dendam, Vian. Gue ngelakuin ini bukan cuma semata-mata mau balas dendam doang tapi kita juga mau membersihkan nama kita berdua, gue harap lo paham di atas sana," batin Tania membenamkan wajahnya di dada sang kakak.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1