
Faza dan Alleta sampai di kediaman rumah Faza karena Alleta yang meminta kemudian Alleta hendak berpamitan untuk pergi namun Faza mencegah Alleta dengan langsung bertanya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Faza menggenggam tangan Alleta.
"Markas Free Kill," ucap Alleta cepat bahkan mungkin tanpa sadar.
"Apa! Markas Free Kill?" pekik Faza membuat Alleta membelalakkan matanya kaget kemudian langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Faza dan setelah itu Alleta hendak menaiki motornya namun Faza langsung mengambil kontak motornya hingga Alleta tidak akan bisa pergi tanpa izin Faza.
"Kamu?! Kembalikan kontak motorku, Bramasta. Aku harus pergi sekarang." sentak Alleta namun Faza malah menaiki motor Alleta.
"Jangan pergi ke mana-mana lagi, sekarang sudah waktunya untuk istirahat." ucap Faza kemudian membawa motor Alleta ke depan garasi rumahnya.
"Hei! Apa yang kamu lakukan," pekik Alleta mengejar Faza hingga ke depan garasi.
"Don't make some noise!" ucap Faza dingin lalu Faza turun dari motor dan memencet bel garasi rumahnya beberapa kali.
"Semoga aja Pak Toto yang bukain garasi," batin Faza berharap semoga bukan ayah atau bundanya yang akan membukakan pintu garasi.
"Untuk apa kamu membawa motorku ke sini?" tanya Alleta menarik kemeja Faza namun Faza malah menepis tangan Alleta dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Iya, tunggu sebentar." pekik Pak Toto sembari membuka garasinya dengan buru-buru.
"Eh! Den Faza, tumben pulangnya jam segini, abis ke mana Den?" tanya Pak Toto kepo membuat Faza tersenyum tipis.
"Abis ada acara! Ohya Pak, Ayah sama Bunda udah tidur 'kan?" tanya Faza.
"Udah pada masuk kamar tadi, Den," sahut Pak Toto mengartikan bahwa dirinya tidak tahu apakah ayah dan bundanya Faza sudah tidur atau belum.
"I-itu yang di belakang siapa Den? Cantik banget, pacar Den Faza ya?" tanya Pak Toto menggoda Faza.
"Bukan Pak, ini kebetulan temen Faza mau nginep di sini malam ini jadi tolong masukin motor dia ke dalam garasi ya Pak." pinta Faza memberikan kontak motor Alleta pada Pak Toto.
"Hah! Bramasta, apa maksudmu ...."
"Biarkan Pak Toto yang memasukkan motormu, aku akan mengantarmu ke kamar tamu." ucap Faza kemudian menarik tangan Alleta untuk masuk ke dalam rumah.
"What the hell?!" pekik Alleta.
Alleta sedikit memberontak sembari berteriak minta di lepaskan tangannya karena dirinya tidak mau menginap di rumah Faza hingga Faza di buat kesal, terpaksa Faza melingkarkan tangannya ke leher Alleta dengan membekap mulut Alleta menggunakan tangannya juga.
Sesampainya di kamar tamu, Faza menutup pintu dan mendorong kecil tubuh Alleta hingga Alleta terduduk di atas kasur.
"Biarkan aku pergi, aku tidak bisa menginap di tempat ...."
"Berhentilah bicara, Elle!" ucap Faza dengan aura dingin.
"Sejak tadi kamu berteriak tidak mau menginap di rumahku, apakah kamu tidak bisa menghargai aku sedikit saja, aku hanya ingin membantumu Elle?!" ucap Faza sangat geram karena Alleta sulit untuk di jinakkan.
"Maaf aku tidak bisa menerima bantuanmu karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, saat terakhir kali kamu membantuku pergi dari rumah, aku tidak akan pernah melibatkanmu dalam masalahku lagi jadi biarkan aku pergi atau aku akan terus-terusan merepotkanmu." pinta Alleta bangkit dari tempat duduknya.
"Ck! Tidak mau melibatkan aku lagi katamu!?" tanya Faza hingga Alleta menatap wajah Faza.
"Apa kamu sadar sudah terlambat untukmu mengatakan 'tidak mau melibatkan aku ke dalam masalahmu lagi' karena sejak awal kita bertemu kamu sudah melibatkan aku ke dalam masalahmu, Elle." ucap Faza dengan sengit.
"Ingatlah dalam semalam kamu sudah dua kali memaksaku untuk menyelesaikan masalahmu dan sudah tiga kali juga aku membantumu jadi bagaimana kamu akan membayar kebaikkanku! Hem?" tanya Faza berhasil membuat Alleta bingung harus menjawab apa.
"Aku, aku ...."
"Cobalah untuk menghargai diriku yang hanya ingin membantumu, Elle." potong Faza hingga Alleta kembali bungkam.
"Aku memintamu untuk tinggal di sini hanya sementara waktu, apa kamu mau menerima bantuan kecilku ini?" tanya Faza berharap Alleta tidak akan egois.
"Ba-baiklah! Hanya untuk malam ini saja." sahut Alleta patuh lalu kembali duduk di atas kasur.
"Akan lebih baik jika kamu bisa terus patuh seperti ini, Elle." ucap Faza kemudian berjalan menuju pintu.
"Bramasta," Alleta memanggil hingga Faza yang sudah berdiri di ambang pintu langsung menoleh ke arah Alleta.
"Terima kasih sudah mau membantuku, maaf merepotkan." ucap Alleta menatap Faza kemudian memalingkan pandangannya ke samping.
Sebelum Faza menutup pintu, senyum tipis terpatri di bibirnya, "Istirahatlah!" ucap Faza lalu menutup pintu kamar Alleta.
.........
Ke esokkan harinya Alleta bangun di jam setengah lima pagi untuk melaksanakan kewajibannya kemudian Alleta keluar kamar dan mencari air mineral di dapur rumah Faza dan setelah itu Alleta kembali masuk ke dalam kamar lagi.
"Siapa itu?" ucap Santi tidak sengaja melihat Alleta berjalan masuk ke dalam kamar tamu.
"Perempuan berambut panjang?" gumam Santi mengerjapkan matanya beberapa kali lalu melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.
Di dalam kamar Alleta duduk di kasur sembari membuka layar handphonenya, "Mom !!" gumam Alleta meyentuh layar handphonenya dengan tangan bergetar.
"Maafkan Leta, Leta tidak bisa menepati janji Leta untuk tetap bertahan di keluarga kita." gumam Leta menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Mereka tidak menginginkan Leta dan kakak sangat membenci Leta karena Leta adalah penyebab kematian Mommy. Kenapa ini bisa terjadi pada Leta, Mom? Kenapa Mommy memilih untuk menyelamatkan Leta, kenapa bukan Leta saja yang pergi, kenapa Mommy harus melahirkan Leta sedangkan yang di inginkan Daddy dan Kak Vero adalah Mommy bukan Leta." ucap Alleta kini setetes demi setetes air mata Alleta jatuh mengenai pipinya.
"Leta selalu mendengar ucapan orang-orang tentang Leta yang katanya Leta sangatlah beruntung dilahirkan dari keluarga kaya raya tapi Mom, yang Leta rasakan percumah hidup bergelimang harta tapi tidak ada kasih sayang dari keluarga ... indahnya keluarga sederhana yang dipenuhi kasih sayang dari orang tua maupun saudaranya sendiri, Leta ingin merasakan kasih sayang itu dari Daddy dan juga Kak Vero, Mom!' seru Alleta memeluk handphonenya dengan sangat sedih.
"Tapi di sana Mommy jangan khawatir, Leta akan tetap menyayangi Daddy dan Kak Vero dan tidak akan membenci mereka. Meskipun ... Tidak masalah jika mereka ingin Leta pergi dari rumah maka Leta akan pergi dari rumah, semoga mereka bahagia karena Leta tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu," lirih Alleta menghapus air mata dengan perlahan.
"Sudah cukup Leta menyusahkan mereka, mulai sekarang Leta akan berusaha hidup mandiri." ucap Alleta bertekad penuh.
"Tapi aku membuat Bramasta di repotkan karena aku tidur di rumahnya, sepertinya aku harus segera pergi dari sini agar tidak merepotkan Bramasta lagi." gumam Alleta bertekad untuk pergi.
Alleta menghela napas panjang, "Maaf karena semalam sudah membuatmu menyaksikan pertengkaranku dengan Daddy dan Kakakku, Bramasta. Maaf juga karena sudah melibatkanmu agar aku bisa pergi dari rumah itu dan untuk kesekian kalinya aku minta maaf karena sudah merepotkanmu. Di masa depan jika takdir mempertemukan kita lagi, aku janji akan membalas semua kebaikkanmu." gumam Alleta benar-benar merasa tidak enak hati dengan Faza yang awalnya hanya ingin meminta bantuan sekali tapi malah merepotkan dua sampai tiga kali.
"Apakah di sini ada pulpen dan kertas!?" gumam Alleta bangkit dari kasur kemudian mencari pulpen dan kertas di atas meja, di dalam laci hingga ke dalam lemari pakaian.
"Hah! Bagaimana bisa tidak ada pulpen dan kertas di sini? Jika aku tidak meninggalkan pesan apapun, akan sangat tidak sopan bagiku pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa padanya." dumel Alleta membuat seseorang yang mengintip dari balik pintu tersenyum gemas karena melihat tingkah Alleta.
Tok ... tok ... tokk !!!
Alleta tersentak kaget kala seseorang mengetuk pintu kamarnya, "Astagfirullah!" pekik Alleta memelotot sembari menoleh ke arah pintu.
Bunda Santi ikut tersentak kaget lalu tersenyum tipis karena Alleta berteriak kaget karena ulahnya, "Apa aku membuatmu kaget?" tanya Santi.
"A em! Sepertinya tidak, Ny-nyonya." ucap Alleta memanggil Santi dengan panggilan Nyonya karena menurut Alleta wanita secantik Santi tidak mungkin jadi pembantu rumahnya Faza.
"Sepertinya ini Mommynya Bramasta!?" batin Alleta menerka.
"Sedang mencari apa?" tanya Santi sembari berjalan masuk ke dalam kamar.
"Pu-pulpen dan kertas," ucap Alleta jujur dan tersenyum canggung.
"Untuk apa?" tanya Santi berpura-pura tidak tahu padahal dari balik pintu Santi mendengar semua ucapan Alleta.
"Bu-bukan untuk apa-apa, hanya untuk menulis sesuatu hal yang tidak penting saja." ucap Alleta tidak mungkin memberitahu bundanya Faza tentang dirinya yang berniat untuk meninggalkan pesan lewat kertas lalu pergi keluar dari rumah mereka.
"Kemarilah!" titah Santi menyuruh Alleta untuk duduk di kasur bersamanya lalu Alleta berjalan mendekati Santi dan duduk di lantai.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di lantai, sini duduk di atas sini." ucap Santai menepuk-nepuk kasur dan Alleta langsung berdiri lalu duduk di samping Santi.
"Siapa namamu?" tanya Santi pelan.
"Alleta Chevelle," sahut Alleta dengan canggung.
"Nama yang indah." puji Santi dan Alleta langsung mengucap kata terima kasih pada Santi.
"Siapa yang membawamu ke sini? Apakah itu Faza?" tanya Santi dan Alleta menganggukkan kepalanya pelan.
"Tapi Nyonya jangan salah paham, Bramasta hanya membantu saya saja setelah itu saya akan pergi dari sini." ucap Alleta takut jika Santi akan berfikiran buruk tentang Faza yang membawanya ke rumah mereka.
"Ke mana kamu akan pergi?" tanya Santi karena dirinya tahu Alleta sudah tidak mau kembali ke rumahnya lagi, lalu ke mana Alleta akan pergi fikirnya.
"Ke mana?!" gumam Alleta pun bingung.
__ADS_1
"Ke tempat yang jauh, sangat jauh." ucap Alleta menerawang jauh ke depan.
"Gadis ini, kenapa perasaanku ingin sekali memeluk dirinya, rasanya seperti ingin memberikan kehangatan seorang ibu kepada anak gadisnya." batin Santi seperti bisa merasakan penderitaan Alleta.
"Kemarilah! Aku ingin memelukmu." ucap Santi membuat Alleta menoleh ke arah Santi yang merentangkan kedua tangannya.
"Hm! Nyonya ...."
"Kemarilah!" sela Santi tidak mau menerima penolakkan Alleta padahal Alleta belum menyelesaikan perkataannya.
Alleta merasa bingung tapi tak urung tubuhnya mendekat hingga Santi menarik pelan kepala Alleta untuk ia letakkan di dadanya atau di bawah lehernya.
"Alleta! Siapa yang memberi nama itu?" tanya Santi sembari mengelus kepala Alleta dengan lembut.
"Mommy yang memberikannya karena nama Mommy adalah Leta," ucap Alleta mengingat saat sang daddy pernah menceritakan tentang mommynya yang ingin memberi nama belakangnya pada anak perempuan mereka.
"Apa kamu merindukan Mommymu?" tanya Santi.
"Mommy sering datang ke mimpi saya tapi setelah itu Mommy pergi meninggalkan saya, saya ingin memeluk Mommy tapi di setiap mimpi saya, saya tidak pernah bisa menggapai Mommy," ucap Alleta dengan tatapan kosong, dirinya mengingat mimpinya saat bertemu dengan sang mommy tapi tak lama dari itu ia di tinggal pula oleh sang mommy.
Santi melepas pelukkannya dengan perlahan, "Bagaimana bisa kamu mengatakan Mommymu meninggalkanmu! Hm? Mommymu tidak mungkin meninggalkanmu walau sejak kamu lahir Mommymu sudah tidak ada, dia akan selalu ada di dalam sini." ucap Santi menunjuk hati Alleta dan Alleta menganggukkan kepalanya lirih.
"Eh! Ba-bagaimana Nyonya bisa tahu kalau Mommy saya sudah tidak ada lagi?" tanya Alleta baru sadar akan pembicaraan mereka yang sedang membahas so'al mommynya.
"Tidak sengaja tadi mendengar semua ucapanmu saat sendirian," ucap Santi membuat Alleta tersentak kaget.
"Hatimu begitu tulus, meski Daddymu dan juga Kakakmu tidak menginginkanmu tapi kamu tetap menyayangi mereka dan tidak membenci mereka." ucap Santi mengelus rambut belakang Alleta.
"Saya tidak akan pernah membenci mereka tapi sayangnya saya sudah durhaka dengan mereka karena saya sering membantah permintaan Daddy dan Kakak saya, Nyonya." ucap Alleta.
"Mungkin saya memang pantas di perlakukan seperti ini karena saya sering membuat mereka marah." ucap Alleta dengan senyuman yang ia peksakan.
"Kamu enggak salah udah nolak permintaan Daddy kamu karena kamu berhak mencari kebahagiaan kamu sendiri, Elle." ucap Faza dari arah pintu hingga kedua wanita itu menoleh ke arahnya.
"Bramasta," gumam Alleta.
"Sebelumnya Faza minta maaf karena Faza udah lancang bawa perempuan ke rumah tanpa izin dulu sama Bunda ataupun Ayah." ucap Faza lirih.
"Enggak perlu Faza jelasin, Bunda juga pasti udah tahu 'kan alasannya apa." lirih Faza karena tadi di luar Faza mendengar pembicaraan kedua wanita itu.
"Em! Bunda enggak bakal marahin Faza karena lancang bawa Elle ke rumah kita 'kan, Bun?" tanya Faza menatap sang bunda, Faza paling tidak bisa jika melihat bundanya marah kepadanya.
"Asalkan niatmu baik sama perempuan ini, Bunda enggak akan marah sama kamu." sahut Santi membuat Faza menganggukkan kepalanya mengerti.
"Elle, setelah Daddymu berteriak marah karena kamu mencari kebahagiaan denganku dan setelah Kakakmu mengatakan dirinya ingin kamu keluar dari rumah itu, apakah kamu masih merasa bahwa kamulah yang bersalah dan merekalah yang benar, Elle?" tanya Faza berdiri di depan Alleta hingga Alleta mendongakkan kepalanya menatap Faza.
"Apa aku harus menyalahkan mereka?" batin Alleta.
"Yeah mungkin aku tidak salah tapi aku merasa diriku tidak berguna karena aku tidak bisa memenuhi keinginan mereka, Baramasta. Aku tahu sejak aku lahir aku tidak pernah di anggap keluarga oleh mereka tapi bagiku mereka tetaplah keluargaku." ucap Alleta tanpa ekspresi.
"Aku tahu mereka adalah keluargamu tapi kamu juga harus mengerti satu hal, sebelum kamu mencintai orang lain kamu harus mencintai dirimu terlebih dahulu, Elle." ucap Faza serius dan itu membuat Santi tertegun karena putra semata wayangnya ternyata sudah dewasa.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan dirimu sendiri terluka karena mereka, bagaimana bisa kamu berkorban demi mereka, bagaimana bisa kamu bisa perduli dengan mereka dan bagaimana bisa kamu bertahan demi bisa membuat mereka bahagia sedangkan mereka selalu menggoreskan luka pada dirimu dan tidak pernah perduli denganmu." ucap Faza membuat Alleta menerawang jauh ke ingatan-ingatan masa lalu.
...Flashback on...
Ibu tiri yang selama ini selalu di bela oleh ayahnya Alleta sudah terlalu sering menunjukkan jati dirinya di depan Alleta.
Saat itu tanpa sengaja Alleta mendengar pembicaraan Emy dengan salah satu anak buahnya yang ingin mencelakai kakaknya, Althevero.
"Setelah Althevero tiada, giliran Alleta yang akan menjadi tergetku, setelah itu barulah semua harta warisan Mas Darjo akan menjadi milikku."
Alleta mendengar jelas rencana Emy yang ingin menguasai semua harta ayahnya dengan cara membunuh kakaknya dan juga dirinya.
Posisi Althevero saat itu berada di club malam dan Alleta bergegas ke tempat kakaknya setelah dirinya menghubungi kakaknya namun semua nomor kakaknya tidak ada yang aktif.
Sebelum para anak buah suruhan Emy mendekati Althevero, Alleta sudah lebih dulu mencegah mereka dengan cara bertarung dengan empat orang suruhan Emy sekaligus.
Ketika pulang dalam keadaan sekujur tubuh di penuhi luka, sang ayah yang melihat dirinya sangatlah khawatir namun karena hasutan Emy yang mengatakan bahwa Alleta telah melakukan kesalahan karena memukuli empat orang sekaligus, Emy menunjukkan rekaman video Alleta yang bertarung dengan para anak buahnya Emy.
"Jelas di sini kamu menyerang mereka duluan, Leta." ucap Emy berpura-pura sedih.
"Untuk apa mereka mencelakai kakakmu, Leta? Apa menurutmu mereka suruhan rival bisnis kakakmu? Tapi bagaimana kamu bisa tahu bahwa mereka ingin mencelakai kakakmu?" tanya Emy beruntun.
"Jangan berpura-pura tidak tahu Emy," sengit Alleta.
"Apa maksudmu?" tanya Emy.
"Katakan dari mana kamu mendapatkan video itu jika bukan para anak buahmu yang merekamnya lalu mengirimkannya kepadamu Mereka adalah anak buah yang kamu suruh untuk mencelakai kakakmu, Emy." pekik Alleta dengan emosi hingga Darjo di buat kaget dan langsung menatap tanda tanya ke arah Emy.
"Kenapa kamu terus saja menuduhku, Leta. Aku tahu kamu membenciku tapi aku tidak, aku sangat menyayangimu dan juga kakakmu seperti anakku sendiri. Jadi mana mungkin aku tega melakukan hal seperti itu kepada kakakmu, apa gunanya bagiku Leta." ucap Emy menangis pilu.
"Karena harta, kamu menginginkan semua harta warisan milik Daddyku." pekik Alleta.
"Jika aku menginginkan harta Daddymu, mudah saja bagiku mendapatkannya dengan cara menipu Daddymu tapi aku sangat mencintai Daddymu, harta bukanlah segalanya bagiku, Leta." lirih Emy berhasil membuat Darjo tersentuh.
"Munafik!" pekik Alleta.
"Sudah cukup! Hentikan semuanya." pekik Darjo melerai keduanya.
"Permasalahanmu kenapa selalu Mommy Emy yang kamu salahkan, Leta." ucap Darjo membuat Alleta terkejut kala ayahnya lagi-lagi membela ibu tirinya.
"Daddy tidak percaya dengan Leta?" tanya Alleta merintihkan air mata kecewa.
"Daddy kecewa kamu berkelahi dengan orang lain dan menyalahkan Mommy Emy atas segalanya. Mulai malam ini Daddy akan mengurungmu di kamar selama dua minggu." ucap Darjo mantap.
Keesokkan paginya Althevero masuk ke dalam kamar Alleta sembari membawakan sarapan untuknya.
"Kak Vero," ucap Alleta senang.
"Ini sarapan untukmu," ucap Althevero cuek.
"Terima kasih, Kak." sahut Alleta.
"Ohya Kak ...."
"Ada satu hal yang harus aku sampaikan juga, Jangan pernah kamu menyangkut pautan diriku dengan semua permasalahanmu atau akan akan semakin membencimu." sengit Althevero memberi peringatan.
"Apa maksud Kakak?" tanya Alleta.
"Emy mengatakan kamu di kurung di sini karena kamu berkelahi dengan orang lain tapi kamu mengatas namakan diriku sebagai orang yang ingin kamu selamatkan, benar-benar licik." sengit Althevero.
"Tidak Kak, Leta tidak ...."
"Jangan pura-pura jadi pahlawan hanya karena kamu ingin mendapatkan perhatian dariku, sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah perduli dengan orang yang telah membunuh Mommyku." sengit Althevero kemudian keluar dari kamar Alleta.
...Flashback off...
"Terima kasih atas sarannya, mulai sekarang aku akan lebih perduli pada diriku sendiri." ucap Alleta tidak bisa membalas kata-kata Faza yang mana itu semua benar adanya, selama ini Alleta tidak pernah perduli dengan dirinya sendiri, selalu saja dirinya menomor satukan daddy dan juga kakaknya.
"Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di sini lagi ...."
"Tinggallah di sini, Nak." ucap Santi memotong perkataan Alleta membuat Alleta dan Faza menoleh ke arahnya.
"Nak?!" batin Alleta untuk pertama kalinya mendengar panggilan itu dari bundanya Faza.
"Terima kasih atas tawarannya Nyonya tapi aku tidak bisa," ucap Alleta dengan lembut.
"Dosa loh nolak permintaan orang tua," cibir Faza membuat Alleta memelototinya.
"Bunda selalu merasa kesepian di rumah karena di setiap harinya Ayah pergi ke kantor dan aku juga pergi ke kampus. Jika kamu tidak keberatan tinggallah di sini untuk sementara waktu agar Bunda ada teman mengobrol di rumah." ucap Faza menjelaskan kenapa bundnya ingin Alleta tinggal di rumah mereka.
"Apakah putraku tertarik dengan perempuan cantik ini?" batin Santi tersenyum tipis pasalnya Faza sangatlah antusias menerima Alleta untuk tinggal di kediaman mereka.
"Itu artinya aku melanggar janjiku," ucap Alleta.
__ADS_1
"Terik kembali janjimu karena kamu sudah terlanjur melibatkan aku." sahut Faza namun Alleta malah terdiam.
"Kamu mau 'kan tinggal di sini?" tanya Santi menarik dagu Alleta agar menatap dirinya dan Alleta hanya menganggukkan kepalanya setuju.
.........
...Indonesia 08:00....
Setelah selesai mandi, Niky duduk di atas kasur sembari membuka layar handphonenya yang sejak tadi berdering heboh.
"Gila ya ni Faza, heboh banget sih ni orang ngirimin pesan sampai sebanyak ini." oceh Niky membaca setiap pesan yang di kirimkan Faza.
"Oh My Gosh! Leta udah punya tempat tinggal?" gumam Niky tersenyum senang karena setelah semalam Faza menceritakan kejadian yang di alami Alleta hingga Alleta harus menginap di rumah Faza, kini Faza memberitahu Niky bahwa Alleta sudah mendapatkan tampat tinggal yang baru.
"Ih, pelit banget ni orang enggak mau ngasih tahu Leta tinggal di mana." kesal Alleta langsung meletakkan handphonenya di atas nakas.
Niky menghela napas lega karena Alleta sudah punya tempat tinggal baru, walau Faza tidak memberitahu tempatnya di mana tapi tidak masalah bagi Niky. Asalkan Alleta sudah punya tempat tinggal, Niky juga merasa tenang.
"Maafkan aku Leta, pacarmu berhak tahu segalanya tentang dirimu agar dia juga bisa membantumu." gumam Niky membaringkan tubuhnya lagi di atas kasur, padahal tubuhnya masih di baluti handuk putih kemudian Niky berdiri hingga ikatan handuknya tidak sengaja terlepas.
"Sayang!" pekik Diky membuka pintu kamar Niky begitu saja membuat Niky membelalakkan matanya kaget.
"Akhhh ...." pekik Niky melompat ke atas kasur lalu cepat-cepat menarik selimut yang sudah ia lipat dengan rapi
Diky terdiam di tempat karena barusan hal yang tidak pernah ia lihat, kini tidak sengaja ia lihat.
Glukk ....
"Maaf, aku enggak tahu kalo kamu baru selesai mandi." ucap Diky membalikkan badannya membelakangi Niky namun seperdetik kemudian Diky memutar kepalanya menatap Niky dan di ikuti tubuhnya kembali menghadap ke arah Niky.
"Ngapain lihatin aku kayak gitu, keluar sana." pekik Niky memelototi kekasihnya itu.
"Perasaan aku udah bilang pagi ini aku mau dateng ke apartemen kamu dan kamu juga udah jawab iya sama aku. Hem! Jangan-jangan kamu sengaja ya ...."
"Enggak ada ya aku sengaja! Itu karena kamunya yang dateng mendadak, pake acara masuk kamar aku tanpa ketok pintu segala lagi, enggak sopan banget jadi orang." sentak Niky memanyunkan bibirnya ngambek.
"Bilang aja udah enggak sabar buat ...."
"Jangan mesum di sini deh, nyebelin banget sih." pekik Niky memalingkan pandangan ke samping.
"Mau coba enggak, yang?" tanya Diky semakin jadi menggoda Niky hingga Niky melebarkan matanya kaget kemudian Niky menatap tajam kekasihnya yang sedang tersenyum genit ke arahnya.
"Oke! Kalo gitu pernikahan kita tunda tiga tahun lagi," sengit Niky malah Diky yang di buat kaget lalu setelah iti Diky buru-buru keluar kamar dan menutup pintu kamar Niky.
"Aku tarik omongan aku tadi, yang." pekik Diky dari luar hingga Niky berusaha keras menahan tawanya karena kekasihnya itu tidak mau menunda pernikahan mereka.
Setelah selesai berpakaian rapi, Niky keluar kamar untuk menemui kekasihnya di ruang tamu, "Takut banget batal nikah ya, Yang?" tanya Niky duduk di samping Diky.
"Hm! Udah terlanjur sayang banget so'alnya, dari pada kebablasan akunya ngehamilin kamu duluan mending kita cepet-cepet nikah 'kan," sahut Diky mengedipkan sebelah matanya menggoda Niky.
"Ih! Di dunia ini enggak ada yang namanya kebablasan, kalo sampai ada cowok yang ngehamilin cewek di luar nikah itu karena cowoknya ***** sama tubuh cewenya bukan cinta dan sayang sama orangnya." ketus Niky memukul lengan Diky.
"Kalo kasusnya beda gimana? Karena saking takutnya si cowok di tinggal sama ceweknya, dia terpaksa harus ngehamilin ceweknya biar mereka bisa bersatu gimana?" tanya Diky sedikit tidak terima jika laki-laki selalu di salahkan.
"Kalo ceweknya enggak sayang sama cowoknya gimana? Mau di paksain ceweknya biar masa depannya enggak bahagia karena terpaksa harus nikah sama cowok yang enggak dia sayang!?" Niky malah balik bertanya, nada suara Niky agak sinis karena kekasihnya itu pintar sekali menjawab.
"Ya kalo dua-duanya saling sayang gimana coba?" tanya Diky membuat Niky sangat-sangat kesal, entah kenapa dirinya bisa mencintai pria yang tidak pernah mau mengalah darinya itu.
"Sayang sih sayang tapi jangan di rusak juga ceweknya, iiiih nyebelin banget sih. Males ah aku jadinya." pekik Niky hendak beranjak pergi namun tangan Diky lebih dulu menarik tangan Niky hingga tubuh Niky terjatuh di atas tubuh Diky.
"Cowok itu bukan aku yang bakal ngerusak masa depan kamu." ucap Diky lembut.
"Dan satu hal yang harus kamu tahu tentang sebrengs*k apapun kelakuan cowok, kalo dia udah kenal sama satu cewek yang bisa buat dia jatuh cinta, apapun bakal dia lakuin buat bisa bahagiain dan juga jagain cewek itu. Contohnya Leo!" seru Diky membuat Niky tertegun.
"Keputusan besar yang dia ambil buat ngebiarin cewek yang dia sayang nikah sama cowok kejam kayak Henry dulu, itu demi bisa nyelamatin nyawa keluarga besar cewek yang dia sayang." tambah Niky membuat Niky menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Diky.
"Begitu juga aku yang sayang sama kamu, aku bakal buat kamu bahagia jadi istri aku, selamanya. Aku janji!" ucap Diky menarik dagu Niky agar bisa menatap matanya.
"Jangan ngambek ya, please." pinta Diky memasang wajah melas dan juga menjewer telinganya sendiri.
"Iya," sahut Niky tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah, calon bini enggak jadi ngambek 'kan sama gue." batin Diky membalas senyuman Niky.
.........
...Kediaman keluarga Mahendra....
Hal yang paling membosankan bagi seorang ibu hamil ketika suaminya akan bertingkah possessive hingga pergi bekerja pun, Karamel harus ikut dengan Leo agar Leo bisa memantau Karamel dari jarak dekat.
Namun ketika pintu lift pribadi Leo baru saja terbuka dan mereka hendak keluar dari lift, seorang wanita tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu lift lalu wanita itu langsung berlari masuk ke dalam lift dan memeluk tubuh Leo dengan sangat erat hingga genggaman tangan Leo dan Karamel terlepas karenanya.
"Aku kangen kamu, Rendras." ucapnya dengan gembira.
Karamel membulatkan matanya sembari menganga kaget kala tangannya terhempas dan hampir saja jatuh, untungnya Jeffry sedikit cekatan membantu Karamel untuk menyeimbangi tubuhnya.
"Hati-hati Nyonya," pekik Jeffry cepat.
"Terima kasih, Jeffry." ucap Karamel.
Brukk ....
Karamel dan Jeffry tersentak kaget kala Leo mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh ke lantai.
"Kamu enggak apa-apa atau ada yang luka? Kita ke rumah sakit sekarang." ucap Leo menyentuh perut Karamel dengan khawatir.
"Enggak enggak enggak, aku enggak apa-apa kok." sahut Karamel namun detak jantungnya masih belum stabil akibat rasa kagetnya tadi.
"Karamel!?" pekik wanita itu membuat Karamel menoleh ke arahnya yang baru saja berdiri.
"Zoeya," gumam Karamel dengan tenang.
"Perutnya? Dia sedang hamil?" batin Zoeya menatap perut Karamel yang buncit.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Karamel keluar dari lift begitu juga dengan Leo dan Jeffry.
"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan di sini?" Zoeya balik bertanya.
"Tidakkah kau bisa lihat aku ke sini bersama siapa? Tentu saja aku ke sini karena suamiku." ucap Karamel membuat Zoeya mengerutkan dahinya.
"Siapa yang kau maksud suamimu?" tanya Zoeya dan Karamel menatap wajah Leo begitu juga dengan Leo yang menatap wajah Karamel.
"Rendras!?" batin Zoeya melihat tatapan mereka berdua yang begitu dalam.
"Wow! Apa itu maksudnya kau mendekati Rendras dengan cara menggodanya lalu kau berhasil? Tidak ku sangka kau masih saja menjadi wanita jala*g, Kara." sengit Zoeya tanpa basa-basi langasung menghina Karamel, dirinya mengira Karamel sedang mengaku-ngaku sebagai istri Leo.
"Jaga bicaramu, Zoeya." sengit Leo mengepal tangannya marah karena Zoeya berani mengatai istrinya wanita jala*g , Leo hendak melangkahkan kakinya untuk mendekati Zoeya namun tangan Karamel menggenggam tangan Leo hingga Leo menatap wajah sang istri, Karamel menggelengkan kepalanya melarang Leo untuk melakukan hal yang tidak-tidak pada Zoeya.
"Kalo Mas Leo sampai turun tangan, Zoeya pasti bakal dapet masalah besar." batin Karamel tidak mau Leo hilang kendali hanya karena dirinya di hina oleh Zoeya.
"Kau membelanya Rendras?" herannya Zoeya karena Leo membela Karamel.
"Berhentilah menghina orang lain seakan-akan hanya dirimulah yang paling sempurna impian para laki-laki, Zoeya." sengit Karamel melangkahkan kakinya untuk mendekati Zoeya.
"Baju tipis yang menampilkan setengah buah dada dengan rok mini menampilkan paha besarmu, apa kau tidak merasa bahwa dirimu yang sekarang terlihat seperti wanita penggoda." ucap Karamel dengan tatapan membunuh, rasanya sangat melelahkan bagi Karamel punya suami yang selalu di segani banyak wanita apalagi wanita itu tidak mempunyai harga diri dan berani terang-terangan menggoda suaminya.
"Tutup mulutmu ...."
"Kau yang seharusnya tutup mulut!" pekik Karamel menunjuk wajah Zoeya dengan marah membuat Zoeya kaget, dirinya tidak percaya Karamel berani membentak dirinya.
"Apa-apaan ini, dia berani membentakku?" batin Zoeya dengan napas tercekat.
.
.
__ADS_1
.
::: Bersambung :::