
Sesampainya di parkiran cafe, Faza memberitahu Alleta untuk tunggu di mobil karena dirinya akan menemui Gina duluan dan setelah itu Faza akan menghubunginya lalu dirinya akan masuk ke dalam cafe.
Di dalam cafe setelah Faza duduk di hadapan Gina, Faza langsung bertanya pada Gina 'kenapa wanita itu mengajaknya bertemu' namun Gina belum menjawabnya dan malah menyuruh Faza untuk pesan minuman atau makanan dulu.
Setelah minuman Faza datang, Faza bertanya lagi "Ada apa Gin? Sejak tadi aku bertanya kau hanya diam saja." tanya Faza sedikit menundukkan kepalanya agar bisa menatap wajah Gina yang sejak tadi tidak mau menatapnya dan malah menyembunyikan wajahnya ke bawah.
"Ada masalah dengan kakakmu?" tanya Faza namun Gina menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa? Nilaimu turun lagi?" tanya Faza namun lagi-lagi Gina menggelengkan kepalanya.
"So what's up?" tanya Faza dan Gina menghela napas panjang.
"Semalam Gina menginap di rumah Liliy," ucap Gina sepertinya ingin bercerita atau curhat dengan Faza.
Gina mendongakkan kepalanya menatap Faza, 'Percaya banget lo sama omongan Faza, tu anak enggak pernah pacaran, paling mereka pura-pura pacaran aja.' Gina mengingat ucapan Lily yang mengatakan Faza cuma pura-pura pacaran dengan Alleta.
"Terus?" tanya Faza mengerutkan dahinya kala Gina menatapnya dalam diam.
"Gina, Gin, Ginaaa ....!" panggil Faza melambaikan tangannya di depan wajah Gina hingga Gina tersadar dari lamunannya.
"Ah i-iya Bang kenapa?" tanya Gina gelagapan.
"Melamunkan apa?" tanya Faza datar, wanita ini apakah sedang ada masalah. Fikir Faza.
"Tak de apa-apa," sahut Gina tampak sekali sedang mengelak.
"Kau menginap di tempat Lily kenapa?" tanya Faza malanjutkan topik utama mereka.
"Em! Ma-malam tadi Gina bertanya dengan Lily mengenai Abang, Liliy cakap selama ini Abang tak de girlfriend so ...."
Faza menyipitkan matanya, ternyata benar dugaan Faza, Gina mengajaknya bertemu karena ingin membahas so'al hubungannya dengan Elle. Lalu setelah ini apa? Mungkinkah Gina akan memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Faza? Oh semoga saja itu tidak terjadi. Harap Faza.
"Sudah aku katakan Lily dan Dafa tidak ada yang tahu so'al hubunganku dengan Elle." ucap Faza memotong perkataan Gina, Faza yakin hati Gina pasti sakit mendengar ucapannya barusan namun Faza tidak ada pilihan lain, membuat Gina mengerti bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Gina adalah jalan terbaik untuk menghentikan Gina menyukainya.
"Tapi Liliy cakap Abang suka dengan Gina," ucap Gina keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna.
Glukk ....
"Buat malu je kau mulut," batin Gina merutuki kebodohannya sendiri karena berbicara keceplosan di depan Faza, namun Faza memasang tampang datar membuat Gina cemberut karenanya.
"Sejak awal Lily memang ingin mendekatkan kita berdua menjadi pasangan tapi bukankah kita sahabatan." ucap Faza mengatakan apa yang pernah di sarankan Alleta kepadanya.
"Sahabat!" beo Gina menatap dalam mata Faza yang datar.
"Em! Gina nak jujur ke Abang Faza, Gina tak tahu sejak kapan, Lily sering cerita ke Gina tentang Bang Faza yang cuba dekati Gina sampai Gina percaya dengan apa yang Lily cakap. Gina dah terlanjur jatuh cinta ke Abang!" ucap Gina begitu cepat hingga Faza mengerutkan dahinya aneh karena Gina tampak gelisah sendiri lalu Gina menatap Faza, dirinya ingin melihat ekspresi pria itu.
Apakah wajah Faza terbuat dari triplek? Menatap Gina dengan wajah Datar, mirip sekali seperti triplek.
"Jadi bukan gue yang buat Gina jatuh cinta tapi Lily yang udah buat dia terobesi sama gue," batin Faza merasa Gina bukan mencintainya tapi lebih ke obsesi karena hanya dengan mendengar cerita Lily, Gina langsung terbawa perasaan.
"Lily yang bilang 'kan bukan aku, aku sudah memiliki kekasih dan aku mencintai kekasihku." ucap Faza langsung ke intinya saja.
"Kenapa selama ini Gina sering tanya Bang Faza dah ada pasangan ke belum, Bang Faza selalu jawab tak de?" tanya Gina terdengar mendesak, bibir Gina bergetar menandakan dirinya menahan tangisan.
"Karena itu urusan pribadiku," jawab Faza singkat dan jelas. Raut wajah Gina berubah, yang di katakan Faza barusan berhasil membuatnya bungkam.
Faza menghela napas panjang, "Aku minta maaf karena tidak bisa membalas perasaanmu, aku dekat denganmu karena kau mengajakku untuk menjadi sahabatmu dan kita adalah sahabat." ucap Faza mengingatkan Gina tentang siapa yang duluan mengajak untuk menjadi sahabat dan Gina ingat itu, dirinya lah yang mengajak Faza untuk menjadi sahabatnya.
"Gina tak secantik girlfriend Abang ya?" tanya Gina membuat pupil mata Faza sedikit melebar, kenapa Gina bertanya demikian. Fikir Faza aneh.
"Bahkan jika ada yang lebih cantik dari Elle, perasaanku tidak akan berubah untuknya." ucap Faza memberitahu Gina bahwa dirinya mencintai seseorang tidak dengan memandang fisik.
Sial! Pertanyaan Gina barusan berhasil membuat Faza merasa jengkel, apakah pendangan wanita selalu begini terhadap pria, berfikir tentang pria yang mencintai wanita karena memandang fisiknya saja.
"Gina senang dekat Abang," ucap Gina dan Faza hanya tersenyum tipis.
"Maaf Gina dah keterlaluan, tak seharusnya Gina cakap macam ni ke Abang." ucap Gina lirih.
"Tidak apa-apa," sahut Faza santai.
Di luar cafe, lebih tepatnya di dalam mobil Alleta sedang asik meminkan handphonenya, sekitar 30 menit tidak ada tanda-tanda Faza akan menghubunginya membuatnya merasa bosan diam di dalam mobil sendirian.
"Dia menipuku," umpat Alleta melempar handphonenya di atas dashboard mobil Faza.
"Sangaja mengajakku keluar karena tidak ingin melihatku bersantai di rumahnya, dasar pria licik." umpat Alleta memejamkan matanya tidak peduli.
Sementara itu di dalam cafe, Faza mengirimkan beberapa pesan kepada Alleta agar wanita itu bergabung dengan mereka namun bermenit-menit lamanya, Alleta tetap tidak merespon pesannya.
Faza di buat kesal, suasananya dengan Gina menjadi canggung sekarang. Faza butuh kehadiran Alleta namun di mana wanita itu?
"Sebenar, aku mengangkat telepon dulu." ucap Faza berpura-pura ada yang neneleponnya dan Gina hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Lagi ngapain sih ni cewek," umpat Faza berusaha menelepon Alleta namun wanita itu tidak mengangkatnya.
"Bener-bener ya ni cewek enggak mau ngangkat telepon gue, apa jangan-jangan dia tidur lagi." karena Alleta tidak mengangkat teleponannya, Faza kembali menghampiri Gina.
"Gina, maaf aku tidak bisa lama-lama di sini, Elle sedang ...." ucapan Faza terpotong.
"Iya," sahut Gina cepat. Faza menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan Gina.
Gina menatap kepergian Faza dengan senyuman yang ia paksakan lalu Gina menatap minuman Faza yang sama sekali tidak di sentuh olehnya, kedekatannya dengan Faza hanya lah sebatas sahabat, pria itu tidak mencintainya. Gina memejamkan matanya seraya tangannya terkepal kuat.
.........
Faza masuk ke dalam mobil dan benar seperti yang ia duga tadi, Alleta ketiduran di dalam mobil dengan handphone yang ia letakkan begitu saja di atas dashboard mobilnya.
Faza menatap sinis ke arah Alleta dan tiba-tiba saja ada perasaan ingin menjahili Alleta yang sedang terlelap.
Di kontak mobil Faza ada gantungan kunci yang berbentuk bulu ayam, Faza sudah lebih dulu terkekeh sebelum memulai aksinya. Dan setelah itu Faza memasukkan bulu ayam itu ke hidung Alleta membuat tangan Alleta bergerak menggosok-gosok hidungnya yang terasa geli dan gatal.
"Pftt!!" Faza kembali terkekeh lalu menjahili Alleta beberapa kali hingga beberapa kali pula Alleta di buat geli dan bersin.
Hachuu ....
Faza membulatkan matanya kaget saat Alleta bersin tepat di depan wajahnya, "Aghh!" Alleta terbangun dengan tangannya menggosok-gosok hidungnya yang gatal.
"Bahahaa!!!" pecah, Faza tidak bisa menahan tawanya saat melihat raut wajah jelek namun menggemaskan Alleta.
Seketika Alleta membulatkan matanya, "Kamu, berani-beraninya mengganggu tidurku." geram Alleta saat melihat tangan Faza yang sedang menggenggam gantungan kunci bulu ayam membuat Faza berhenti tertawa.
"Oh my god!" ucap Faza terkesiap membuka pintu mobilnya untuk keluar, Faza ingat Alleta adalah salah satu gangster jalanan se-Asia. Ralat, sekarang Alleta telah menjadi mantan gangster jalanan se-Asia, pukulan wanita itu sudah pernah dua kali Faza rasakan dan kali ini dirinya tidak mau merasakannya lagi.
Alleta keluar dari mobil untuk memberikan pelajaran pada Faza, "Mau kabur?" tanya Alleta menyeringai, wanita itu pantang sekali di ganggu saat sedang enak-enaknya tidur dan Faza lupa akan itu.
...Flashback on...
Ketika Faza pulang dari kampus, dirinya langsung mendapati Alleta yang tertidur pulas di sofa ruang keluarga.
"Ini mah bukan lo yang nonton TV tapi TV-nya yang nonton lo, Elle." ucap Faza menggelengkan kepalanya seraya mematikan televisinya.
Faza menatap wajah Alleta yang begitu tenang saat tidur, cantik tapi auranya menyeramkan. Itulah yang Faza fikirkan.
"Kamu udah pulang?" tanya Santi pada Faza hingga Faza mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara bundanya.
"Barusan Bun," sahut Faza.
__ADS_1
"Kamu tahu Leta di mana? Tadi dia mau minum jahe hangat dan ini udah Bunda buatin tapi waktu Bunda cariin, dianya malah enggak tahu ke mana," ucap Santi menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Nih," Faza menunjuk ke arah sofa panjang.
"Tidur!?" ucap Santi.
"Mata merem pasti tidur lah Bun," sahut Faza.
"Dia pasti kecapean bantu Bunda nyiramin semua tanaman Bunda tadi," ucap Santi membuat Faza mengerutkan dahinya.
"Sendirian Bun?" tanya Faza dan Santi menganggukkan kepalanya.
"Ya udah biarin dia tidur, ini jahe buat kamu aja, nanti kalo Leta udah bangun Bunda buatin yang baru lagi." ucap Santi.
"Oke Bun!" sahut Faza, lalu Santi pergi meninggalkan Faza.
"Rajin banget sih," gumam Faza menundukkan kepalanya untuk mencubit pelan hidung Alleta.
"Emhh!" Alleta menepis tangan Faza kala dirinya tidak bisa bernafas dan Faza terkekeh di buatnya.
Faza mengeluarkan kontak mobilnya yang ada gantungan kunci bulu ayam lalu ia mainkan di sekitaran hidung Alleta membuat Alleta risih hingga terbangun.
"Oops! Bangun." gumam Faza tidak menyangka Alleta terbangun akibat kejahilannya.
Bukk ....
"Aw!" Faza meringis kala Alleta membogem wajahnya hingga dirinya terjatuh ke lantai.
"Akibat mengganggu ketenangan orang," sengit Alleta lalu menjewer telinga Faza dengan sangat kuat.
"Elle Elle lepas, sakit!" ringis Faza menggenggam tangan Alleta yang menjewer telinganya.
"Dengarkan baik-baik, aku tidak suka ada orang yang mengganggu waktu tidurku jadi aku peringatkan Tuan Bramasta yang terhormat jangan sampai ada lain kali kamu mengganggu tidurku atau aku akan memukulmu lagi." ucap Alleta seraya melepas jewerannya.
...Flashback off...
"Elle, aku benar-benar tidak sengaja." ucap Faza dari jarak jauh, Faza menyesali perbuatannya.
"Ohya!" Alleta melangkahkan kakinya mendekati Faza, sedangkan Faza melangkahkan kakinya untuk mundur.
"Ayolah! Bisakah jangan bermain kekerasan," pinta Faza, wanita yang ia hadapi bukanlah sembarang wanita, sudah cukup baginya merasakan perihnya pukulan Alleta.
"Satu pukulan!" ucap Alleta mengacungkan jari telunjuknya.
"Bagaimana jika aku mentraktirmu?" tawar Faza.
"Ide bagus! Tapi sebelum itu aku harus menghukummu." ucap Alleta membuat Faza jengkel lalu setelah itu Faza berlari menjauhi Alleta membuat Alleta segera mengejarnya.
"Kamu tidak akan bisa mengejarku, lebih baik kamu menyerah saja Elle." pekik Faza terkekeh kecil kala Alleta tidak bisa menjangkaunya.
"Kita lihat saja!" ucap Alleta mempercepat langkah berlarinya.
"Bang Faza!" gumam seorang wanita yang baru saja keluar dari cafe menatap dua orang yang sedang berlari di area parkiran sembari tertawa. Dia adalah Gina.
"Elle sudah cukup, ini melelahkan." pekik Faza berhenti sejenak menghadap Alleta, berharap Alleta akan berhenti mengejarnya namun wanita itu tidak menyerah dan menggelengkan kepalanya tanda dirinya masih ingin memberi Faza pelajaran.
"Kamu, ah dasar wanita keras kepala." umpat Faza jengkel lalu berlari lagi.
"Aku minta maaf," pekik Faza merasa lelah, begitu juga dengan Alleta.
Huh !!!
"Aku kehabisan tenaga hanya untuk mengejarmu saja," ucap Alleta dengan terengah-engah, jarak Faza dan Alleta kini masih saling berjauhan.
"Dan aku kehabisan energi hanya untuk menghindarimu," balas Faza jengkel.
"Deal!" sahut Faza lalu mereka berdua berjalan mendekat, Alleta mengangkat tangannya ke udara hingga Faza mundur di buatnya.
"Kamu ....!"
"Ada apa?" tanya Alleta membuat Faza diam karena ternyata Alleta ingin berjabat tangan.
"Ehem! Aku kira kau masih belum menyerah," ucap Faza menjabat tangan Alleta.
"Jika kau berkenan, aku ingin sekali memukul wajahmu yang tamp ...." Alleta langsung terdiam, sedangkan Faza mengerutkan dahinya sembari menahan senyum.
"Apa kamu bilang? Aku tampan?" tanya Faza memajukan wajahnya lebih dekat dengan wajah Alleta.
"Tidak," ucap Alleta mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Setelah seminggu kamu tinggal bersamaku, kamu baru menyadari bahwa aku ini tampan, Elle." ucap Faza menaik turunkan alisnya.
"Menjijikkan," desis Alleta meninggalkan Faza begitu saja.
"Hey! Bagaimana jika kamu jatuh cinta kepadaku," ucap Faza tiba-tiba merangkul bahu Alleta tapi wanita itu acuh saja.
"Tidak akan pernah," sahut Alleta.
"Mau bertaruh?" tawar Faza, wanita itu menoleh ke arah wajah Faza seraya alisanya terangkat sebelah.
"Siapapun di antara kita berdua yang jatuh cinta duluan, itu artinya dia kalah dan yang kalah harus memenuhi satu permintaan dari yang menang." ucap Faza entah dapat ide dari mana.
"Bramasta! Cinta itu bukan mainan, aku tidak setuju." ucap Alleta melepas rangkulan tangan Faza.
Dari kejauhan Gina menghela napas panjang, tidak pernah Gina lihat senyum bahagia Faza saat bersamanya, dirinya merasa sedikit iri dengan Alleta yang bisa memiliki Faza bahkan Faza juga sangat mencintainya.
...Seminggu kemudian....
Alleta sudah siap sejak dua jam yang lalu, tinggl menunggu Faza yang entah kenapa seperti seorang wanita yang lama sekali berdandan di kamarnya.
"Sudah siap?" tanya Faza pada Alleta yang sedang asik menonton televisi bersama kedua orang tuanya.
"Paman, sudah berapa lama aku di sini?" tanya Alleta menatap Glenn.
"Sekitar dua jam," sahut Glenn tersenyum mengelus puncak kepala Alleta, wanita itu tersenyum lalu menoleh ke arah Faza dengan tampang datar.
"Dengar Tuan muda Bramasta? Dua jam," ucap Alleta seraya mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya di hadapan Faza.
"Kita akan menginap di sana selama empat hari, Elle." ucap Faza, pria itu tidak mau di salahkan. Dasar Faza.
"Ya ya, aku tahu." sahut Alleta malas berdebat dengan Faza lalu dirinya bangkit dari duduknya.
"Kita berdua pamit dulu, Paman–Bibi." ucap Alleta.
"Ayo jalan," sentak Alleta memelototi Faza.
Hari ini Faza dan Alleta akan pergi ke Indonesia, di mana sahabat mereka akan melangsungkan acara pernikahannya di Bali.
"Apakah acaranya akan berlangsung lama?" tanya Alleta pasalnya dia tidak pernah datang ke acara pernikahan siapapun.
"Yeah! Akad nikah dan resepsi pernikahan." sahut Faza singkat.
"Berapa hari?" tanya Alleta.
"Apanya?" tanya Faza tidak mengerti.
__ADS_1
"Resepsi pernikahannya?" perjelas Alleta.
"Mungkin sehari atau dua hari," sahut Faza membuat Alleta ragu untuk mempercayainya.
Alleta menyandarkan kepalanya di jok mobil, matanya menerawang jauh ke depan hingga helaan napas berat Alleta berhasil membuat Faza menoleh ke arahnya.
"Lagi mikirin apaan ni anak," batin Faza.
"What are you thinking about?" tanya Faza kemudian.
"Bagaimana jika memilih untuk tidak menikah seumur hidup?" tanya Alleta membuat Faza membulatkan matanya.
"Apa kamu bercanda! Pernikahan itu sama seperti menyempurnakan hidupmu, Elle." ucap Faza hingga Alleta menoleh ke arahnya, wanita itu tidak paham dengan kata-kata Faza.
"Bisa kamu bayangkan jika kamu tidak mau menikah nanti, kamu akan hidup sendirian dan tidak ada yang akan mengurusmu di hari tua karena kamu tidak ada suami ataupun keturunan." ucap Faza membuat Alleta tersenyum lebar seraya memejamkan matanya.
"Aku mencintai seseorang tapi dia bukan orang baik," ucap Alleta tiba-tiba, Faza mengerutkan dahinya seraya menatap Alleta bingung. Apakah wanita itu akan bercerita kepadanya?
"Paman Glenn bilang, jika dia mencintaiku juga maka aku bisa membuatnya berubah menjadi baik dan aku sudah mencobanya, tapi hasilnya aku gagal." ucap Alleta tidak merubah raut wajahnya yang tersenyum lebar, akhir-akhir ini Alleta lebih banyak tersenyum.
Dugaan Faza benar, saat Elle mengatakan dirinya pernah berada di posisi Gina, wanita itu ternyata masih mencintai pria itu. Ah! Selama seminggu ini Faza mengakrabkan diri dengan Alleta, apakah hanya sia-sia saja.
"Aku terlambat," ucap Alleta menghela napas panjang, dan tangan Faza terkepal.
"Dia sudah meninggal empat tahun yang lalu," ucap Alleta membuat Faza tersentak.
"Maka dari itu aku mengatakan, bagaimana jika tidak mau menikah seumur hidup karena orang yang di cintai sudah tiada." ucap Alleta.
"Kamu bisa membuka lembaran barumu bersama pria lain, Elle." sahut Faza.
"Maybe yeah! But i don't know," ucap Alleta.
.........
...Indonesia _ Jakarta...
...Kediaman keluarga Mahendra...
"Good morning, Mama." sapa Leo.
Langkah Karamel yang hendak pergi ke dapur pun terhenti ketika mendengar suaminya menyapanya dari sofa ruang keluarga. Karamel menyipitkan matanya sebelum bertanya, "Kamu enggak kerja?"
Karamel mengira suaminya sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, dirinya bahkan merutuki kelalaiannya di kamar tadi karena tidak membuatkan sarapan untuk suaminya.
"Ini lagi kerja kok, Sayang." ucap Leo mengangkat tablet yang sedang ia genggam.
"Kenapa enggak ke kantor?" tanya Karamel, kini sudah duduk di samping suaminya.
Leo menarik tubuh istrinya untuk mendekat lalu pria itu mencium kilas pelipis istrinya dan berpindah tempat mencium perut buncit istrinya yang kian membesar.
"Good morning, juniornya Papa." sapa Leo membuat Karamel terkaku di tempat, walau ini bukan pertama kalinya Leo mencium perut buncitnya tetapi rasa yang di dapat wanita itu selalu sama setiap kalinya, mampu membuat darahnya berdesir.
Karamel tersenyum, "Kamu belum jawab pertanyaan aku, Papa." ucap Karamel mengusap kepala suaminya yang masih mencium perut buncitnya.
Leo mengangkat kepalanya menghadap istrinya, "Cuma ada rapat aja di kantor, Jeffry bisa ngewakilin aku." ucap Leo sekenanya.
"So, Haruskah kamu bekerja juga di rumah bahkan sebelum mandi dan sarapan? Di mana karyawanmu yang lain? Apa mereka enggak bekerja sedangkan atasan mereka selalu sibuk setiap saat?" tanya Karamel mengerutkan dahinya, nada suara wanita itu seperti sedang mengomeli suaminya.
Leo menatap dalam mata istrinya, mengomel di pagi hari? Apakah istrinya itu sedang dalam mood yang tidak baik? Dasar ibu hamil sulit sekali untuk di mengerti.
"Semua karyawan punya kesibukkan masing-masing, begitu juga aku." sahut Leo kemudian kembali fokus pada layar tabletnya.
Karamel menghela napas kasar, "Besok Niky sama Diky nikah," ucap Karamel tiba-tiba.
"Tapi aku enggak di izinin buat hadir," sidir Karamel, raut wajah wanita itu menampilkan tampang datar.
Leo menoleh dan menatap istrinya, Karamel terlihat acuh dengan tatapan suaminya itu dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Leo meletakkan tabletnya ke sofa lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya, Karamel tersentak namun wanita itu diam saja.
"Kesehatan kamu lagi enggak stabil Mama, ingat 'kan kata Dokter." ucap Leo, dua hari yang lalu Karamel tiba-tiba merasakan sakit kepala yang berlebihan sampai mual-mual tengah malam bahkan perut wanita itu sering mengencang hingga menimbulkan rasa sakit.
"Tapi aku 'kan mau ngeliat sahabat aku nikah." ucap Karamel masih dengan wajah datar, suaranya pun menjadi ketus.
"Kita bisa video call Adit," sahut Leo.
"Kamu kenapa harus buat Mama sakit sih, Dek?" tanya Karamel mengelus perutnya membuat Leo terkekeh gemas.
"Adeknya enggak mau Mamanya bepergian jauh-jauh karena itu bakal buat kamu cape sama sakit kepala," sahut Leo.
"Itu mah maunya kamu biar aku diem di rumah aja," cibir Karamel mengerucutkan bibirnya.
"Lebih penting mana pergi ke pernikahan sahabat kamu di Bali tapi membahayakan kesehatan anak kita atau diam di rumah, kesehatan anak kita enggak akan kenapa-kenapa?" tanya Leo malah memberi pertanyaan.
"Diem di rumah," sahut Karamel ketus.
"Jadi jangan ngambek lagi oke, kasian Adeknya nanti ngerasa bersalah." bisik Leo membuat Karamel tersadar.
"Enggak kok, Mama enggak nyalahin Adek." ucap Karamel cepat mengelus lembut perutnya dan Leo senang melihat tingkah istrinya.
"Aku mau ke dapur dulu, kamu lanjutin aja kerjanya." ucap Karamel melepas pelukkan mereka dan pergi meninggalkan suaminya.
Leo tersenyum menatap langkah kaki istrinya yang agak mengangkang lalu dirinya kembali melanjutkan pekerjaannya.
.........
Leo yang sedang fokus menatap layar tabletnya tiba-tiba mengerutkan dahinya saat mencium aroma masakkan. Leo bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju dapur.
"Haruskah kamu masak setiap pagi? Di mana pelayan yang bertugas masak? Apa mereka masih tidur sedangkan majikkannya sibuk di dapur?" tanya Leo sambil menyilang kedua tangannya di perut dan menyandarkan kepala sebelah kanannya di kulkas. Pria itu membalikkan perkataan istrinya tadi.
"Kenapa? Kehamilanku baru tujuh bulan, aku masih bisa ngelakuin hal-hal semacam memasak. Kamu terlalu berlebihan mengkhawatirkanku, Papa." sahut Karamel menoleh ke arah suaminya sekilas, Leo menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis.
"Dasar istri keras kepala," batin Leo, dirinya tidak menanggapi perkataan istrinya karena akibatnya pasti mereka akan beradu mulut di pagi hari. Dirinya memilih untuk berjalan menuju ruang makan.
Karamel membawa dua piring sarapan ke meja makan dan meletakkannya di depan suaminya, Leo mengerutkan dahinya saat melihat porsi sarapannya lebih banyak dari pada milik istrinya.
Pada saat Karamel duduk di kursinya, tangan Leo bergerak menukar piring mereka berdua.
"Kenapa ...."
"Kamu harus makan yang banyak!" potong Leo cepat, Karamel menyipitkan matanya tidak suka.
"Kamu mau buat aku gemuk?" tanya Karamel seraya tangannya ingin menukar kembali piring mereka berdua namun seraga Leo menarik piring miliknya menjauh dari Karamel.
"Aku makan buat aku sendiri tapi kamu makan buat dua orang, Kara." ucap Leo membuat Karamel mengerucutkan bibirnya.
"Aku udah minum susu satu gelas penuh di dapur tadi, Papa." ucap Karamel.
"Kamu habisin makanan itu atau jangan ada video call sama Adit bahkan sama yang lain juga?!" ancam Leo dengan tatapan tajam, Karamel menghela napas pasrah lalu memakan sarapannya dengan perasaan kesal.
"Dasar keras kepala! Kenapa gue malah bisa jatuh cinta sama cewek keras kepala kayak dia bahkan gue enggak bisa marah sama dia, ck!" batin Leo menatap kedua pipi istrinya yang mengembung karena di penuhi makanan.
.
.
.
__ADS_1
::: Bersambung :::