
...Karamel Point Of View....
Oh iya aku lupa, kakekku 'kan punya jiwa anak muda, tidak heran kenapa para anak muda datang ke rumah untuk berkumpul bersama kakek tuaku ini.
Baru saja ikut kumpul dua puluh menit yang lalu aku sudah di buat risih oleh mereka yang terus melirik dan menggodaku di depan kakek, sungguh menyebalkan, apakah kakek tua ini adalah kakekku? Kenapa dia tidak marah melihat cucunya di ganggu oleh anak-anak muda yang genit dan menyebalkan ini.
"Ik voel me ongemakkelijk, opa." ketusku dalam bahasa Belanda karena tidak enak juga juga para anak muda itu mendengar ketidaknyamananku ini.
(Aku merasa tidak nyaman, Kek).
"Ini sangat menyenangkan, cucuku." ucap kakek Hans. Ya Bagi kalian ini sangatlah menyenangkan tapi bagiku ini sangatlah tidak nyaman.
"Whatever, I wanna go. Bye!" ketusku pergi keluar dengan membawa mobilku.
"Jangan pulang larut malam, Nak." pekik kakek Hans memberi peringatan.
"Ja." pekikku keluar dari rumah karena tidak nyaman dengan anak-anak muda yang datang ke rumah.
(Iya).
Entahlah aku sedikit bingung dengan para anak muda itu, kenapa mereka bisa sedekat itu dengan Kakek Hans? Ah! Aku salah pertanyaan. harusnya yang di pertanyakan itu, kenapa mereka mau bergaul dengan seorang kakek-kakek tua? Apa di Bandung sudah kekurangan anak-anak muda?
Terserahlah, aku tidak ingin pusing dengan masalah itu, lebih baik aku pergi ke sebuah cafe terdekat.
Beberapa menit berlalu aku sampai ke salah satu cafe yang lumayan bisa di jadikan tempat untuk bersantai karena pelanggannya tidak terlalu ramai, untungnya cafe ini ada bangku di bagian luar juga jadi aku bisa duduk di bangku luar cafe sembari menikmati alunan lagu dan di temani secangkir flat white tentunya.
Tringg! Belum juga lima menit aku duduk di bangu cafe ini, ada saja yang menggnggu.
"Halo," pekikku.
"Wiss! Biasa aja dong," sahut Faza.
"Wat dan ook." ucapku dalam bahasa Belanda.
(Bodo amat).
"Lo di mana sekarang? Semua pada nyariin, kakak lo khawatir, gue juga khawatir bahkan pacar lo juga hampir ketabrak truk gara-gara nyariin lo keliling Jakarta. Kita semua khawatir sama lo, Ra!" sentak Faza membuatku sangat terkejut.
"Terus gimana keadaan Leo, dia baik-baik aja 'kan?" tmtanyaku khawatir.
"Cih! Khawatir lo," ejek Faza.
__ADS_1
"Jawab Bang," sentakku dan Faza mengatakan bahwa Leo baik-baik saja.
"Syukur deh kalo gitu, gue lagi liburan bentar, paling dua atau tiga harian doang, abis itu gue pulang." ucapku tidak memberitahu keberadaanku ada di mana.
"Tolong kasih tahu pacar gue, jangan khawatir, gue lagi sedikit depresot makanya butuh refreshingin diri." ucapku lagi kemudian sambungan telepon terputus.
Brakk ....
"Anji*g berkokok eh setan bergoyang," latahku karena terperanjat kaget sebab tiba-tiba saja meja di depanku di pukul oleh seseorang.
"Jadi elo cewek yang lagi dekat sama Kevin," pekik seorang perempuan kepadaku.
"Lepas topi lo," pekiknya padaku lagi.
"Anda siapa?" tanyaku.
"Gak usah pura-pura nggak tahu deh lo. Gue Stela, pacarnya Kevin," pekiknya tanpa henti.
Aku menghela napas panjang, Kenapa perempuan ini selalu berteriak kepadaku, lagian ada masalah apa sih nih perempuan aneh. Kenapa aku jadi pelampiasannya coba?
"Dengar ya anak miskin, Kevin itu milik gue jadi jangan mimpi buat dapatin dia," pekiknya lagi.
Byurr! Aku terkejut kala perempuan itu menyiram tubuhku dengan minumanku sendiri, untung minumannya dingin Bambang, kalo panas 'kan jadi hancur nih muka cantik.
Brakk! Aku menggebrak meja kala perempuan tidak sopan itu telah berani ngusik ketenanganku.
"Siapa sih lo, dateng-dateng langsung marah-marah nggak jelas terus nyiram gue sembarangan lagi," pekikku tidak bisa menahan emosi lagi.
"Berani lo sama gue," pekik perempuan itu.
"Lo fikir gue takut,' sengitku.
"Erghh!" perempuan itu langsung melepas topiku lalu mengacak-acak rambutku namun aku tidak tinggal diam. Bukk! Aku memukul kepalanya dengan kepalan tanganku.
"Arghhh !!" ringis perempuan itu.
"Eh kurang ajar banget lo ya sama Stela, lo nggak tahu apa dia itu anak dari ...."
"Bodo amat, gue nggak perduli," sengitku memotong perkataan teman perempuan yang bernama Stela itu.
"Wah dasar orang mi ...."
__ADS_1
"Cukup Ika," pekik seseorang dari belakangku.
"Kevin," gumam si Stela membuatku menoleh ke arah belakang. Ck! Jadi dia yang namanya Kevin.
"Jadi benar, lo berdua buntutin gue sampai sini," pekik si Kevin dengan sangat keras hingga beberapa pengunjung memusatkan perhatian mereka ke arah kami bertempat.
"Vin, lo bisa nggak sih nggak usah kasar sama Stela, dia udah banyak berjuang buat dapetin cinta lo tapi lo malah nggak perduli sama dia dan lebih milih cewek miskin ini." ucap si Ika kepadaku.
"Kalian berdua udah buat masalah sama orang yang nggak kalian kenal, jadi Stela minta maaf sama dia sekarang," pekik si Kevin mengerah padaku.
"Kenapa lo belain dia sih, Vin." pekik si Stela.
"Gue bilang minta maaf sekarang," pekik Kevin nemun Stela hanya diam saja, aku pun beanjak pergi dari perkumpulan mereka.
"Heh jala*g mau kemana lo," pekik Stela membuat langkahku berhenti kemudian aku berbalik menatap Stela.
"Anj*y! Bau mulut busuk banget sampe ke sini, kebanyakkan dosa sih lo," pekikku membuat orang-orang sekitar tertawa terbahak-bahak kemudian aku berjalan menuju mobilku dan pergi dari sana.
..........
...Author Point Of View ....
"Gue udah peringatin berulang-ulang kali sama lo, gue nggak pernah suka sama lo, enggak akan pernah suka, paham lo!" pekik Kevin pada Stela.
"Tapi aku cinta sama ...."
"Persetan sama cinta lo itu, gue muak sama lo yang selalu punya rencana busuk sama cewek-cewek terdekat gue, kayak tadi lo berdua ngebentak-bentak dan nyiram cewek yang nggak kalian kenal bahkan gue sendiri nggak kenal dia siapa,' pekik Kevin membuat Stela dan Ika terkejut.
"Bukannya dia ...."
"Kenapa? Lo berdua ngira cewek itu gebetan gue? Stela, Stela kelakuan udah busuk be*o lagi," ejek Kevin kemudian pergi dari cafe itu.
"Siapa dia? Gue harus minta maaf sama dia tapi apa gue bisa ketemu sama dia lagi?" gumam Kevin menghela napas guser, pria itu merasa bersalag karena perihal dirinya, Karamel sampai di bentak dan di siram oleh Stela.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1