
Ke esokan harinya Kenzi menjemput Tessa ke apartemennya, "Good morning, Babe." sapa Kenzi ketika Tessa sudah masuk ke dalam mobil.
Tessa tersenyum kaku, "Morning," sahut Tessa membuat Kenzi mengerutkan dahinya aneh.
"What's going on?" tanya Kenzi sehingga Tessa langsung menoleh ke arahnya.
"Enggak ada, kita berangkat sekarang aja ya." ucap Tessa seperti menghindari pertanyaan Kenzi.
"Tessa, cerita sama aku ada apa?" tanya Kenzi meminta agar Tessa berkata jujur.
"Ken, hug me please." pinta Tessa sehingga Kenzi langsung melepas seatbelt-nya dan memeluk tubuh sang kekasih.
"Ada apa! hem?" tanya Kenzi mengelus rambut panjang Tessa, hati Kenzi merasa tidak tenang melihat kekasihnya bersikap aneh seperti sekarang.
"Semalam semalam aku mimpi buruk tentang kamu yang hampir di bunuh oleh Ryan, Ken." ucap Tessa dengan tubuh yang bergetar.
"Aku takut, aku takut kalo Ryan tahu so'al pertunangan kita, dia bakal nyelakain kamu lebih parah lagi." ucap Tessa lagi.
Kenzi melepas pelukkannya lalu kedua tangannya ia letakkan di pipi Tessa, "Itu cuma bunga tidur kamu aja Sayang, percaya sama aku, Ryan enggak akan bisa nyelakain aku." ucap Kenzi berusaha menenangkan sang kekasih.
"Gimana kalo kita jangan kasih tahu semua orang dulu tentang pertunangan kita, aku enggak apa-apa kok kalo harus berhadapan sama Tia tapi aku enggak mau kalo kamu sampai berurusan lagi sama Ryan, dia itu udah gila Ken." pinta Tessa menggenggam tangan Kenzi.
Kenzi menatap tajam manik mata Tessa, "Jadi maksud kamu biar kamu aja yang menghadapi masalah sama Tia sedangkan aku enggak!?" ucap Kenzi merasa tidak adil jika hanya Tessa yang menghadapi masalah.
"Emang kamu mau berurusan sama Ryan lagi?' tanya Tessa sedikit membentak.
"Kenapa enggak kalo dia-nya berani ganggu kamu," sahut Kenzi membuat Tessa diam.
"Tessa, mimpi kamu semalam cuma ngasih tahu kamu buat waspada sama Ryan jadi jangan mikir yang aneh-aneh ya." pinta Kenzi lembut.
"Tapi Ken ...."
"Aku enggak akan biarin mimpi itu terjadi, aku janji sama kamu." ucap Kenzi menatap dalam mata Tessa.
"Aku percaya sama kamu," ucap Tessa kemudian, dan Kenzi langsung mencium kening Tessa.
"Ya udah kita berangkat sekarang ya," ucap Kenzi dan Tessa menganggukkan kepalanya patuh.
Sesampainya di kampus, Kenzi lebih dulu keluar dari mobilnya lalu setelah itu Kenzi membukaan pintu untuk Tessa.
"Kenzi ...." teriakkan yang melengking bahkan larian kencang Tia tiba-tiba terhenti ketika Tessa keluar dari mobil Kenzi.
"Tessa?!" gumam Tia memelotot tidak suka melihat wanita yang selama ini menghilang dari sisi Kenzi, kini malah kembali lagi.
Tessa menatap Tia dengan tatapan tak bersahabat lalu kemudian Tessa menoleh ke sampingnya menatap Kenzi dengan datar, "Well, selama ini dia terus nyambut kedatangan kamu kayak gini?" tanya Tessa membuat Kenzi melirik Tia sekilas kemudian menatap Tessa dengan senyum lebar.
"Yeah! Namanya juga pria tampan, pasti di kejar-kejar banyak cewek lah, Babe." ucap Kenzi menyombongkan diri di depan kekasihnya itu.
"Seketika aku berubah fikiran, kita harus kasih tahu dia so'al pertunangan kita." ucap Tessa mantap, membuat Kenzi senang tentunya.
"Maka genggamlah tangan tunanganmu ini, Sayang." ucap Kenzi tersenyum senang.
Tessa terdiam sejenak menatap tangan Kenzi yang terulur di depannya, Oh Kenzi hati Tessa sekarang sangat berbunga-bunga karena perlakuan kecilmu itu.
Dengan senang hati Tessa menyambut tangan Kenzi lalu mereka berdua melangkah bersama menuju kelas, semua mata tertuju pada Kenzi dan Tessa yang telah kembali memamerkan kemesraan mereka.
"Dasar wanita tidak tahu malu, berani sekali kau datang ke sini lagi." bentak Tia dengan lantang hingga langkah Tessa dan Kenzi terhenti tepat di depan Tia.
"Em Sorry, what do you mean?" tanya Tessa pura-pura tidak mengerti.
"Jelas-jelas kau sudah di keluarkan dari kampus ini lalu kenapa kau masih berani menginjakkan kakimu di sini lagi, hah?!." sengit Tia.
"Oh yeah aku memang tidak masuk kampus selama kurang lebih satu setengah bulan mungkin, kau tahu apa sebabnya? Mommy-ku telah meninggal, Tia. Dia pergi meninggalkan aku dan Daddy-ku untuk selama-lamanya. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku saat itu? Sangat menyedihkan hingga aku berfikir untuk tidak masuk kampus terlebih dahulu." ucap Tessa membuat orang-orang yang mendengarnya sangat terkejut.
Pasalnya ketika Tessa keluar dari kampus, Tia langsung mengumumkan bahwa dirinya telah meminta ayahnya untuk mengeluarkan Tessa dari kampus, sejak saat itu semua orang tidak ada yang berani untuk berselisih dengan Tia karena mereka takut mendapatkan nasib yang sama seperti Tessa.
"Omong kosong ...."
"Dan yeah! Setelah aku memutuskan untuk kembali ke kampus lagi, aku harap mulai saat ini kau bisa menjauh dari Kenziku." potong Tessa tidak akan mengizinkan Tia untuk bicara.
"Kenzimu? Ck! Kau fikir siapa dirimu ...."
"Perlu kau tahu, aku adalah Tessa Gracella tunangannya Kenziro Syaputra," ucap Tessa dengan lantang.
"Omong kosong ...." ucapan Tia terhenti ketika Tessa mengangkat tangannya dan juga tangan Kenzi, di jari manis mereka berdua terpampang jelas cincin pertunangan mereka.
"Tidak akan aku biarkan siapapun mendekati tunanganku termasuk dirimu Tia," sengit Tessa dengan serius.
Seketika seisi kampus menjadi heboh membicarakan so'al pertunangan Tessa dan Kenzi, di mana banyak kaum wanita yang kecewa karena mereka tidak akan ada kesempatan lagi untuk memiliki Kenzi begitu juga para kaum pria yang selama ini menganggumi Tessa yang polos dan pemberani.
Sedangkan Tia malah tertawa yang begitu menyedihkan, dirinya tidak percaya dengan kata-kata Tessa.
"Kenzi, tolong jelaskan padaku apa yang di katakan Tessa itu tidaklah benar." pinta Tia.
"Aku yakin kau tidaklah tuli, Tia." ucap Kenzi sudah cukup membuat Tia mencengkram kuat rambutnya, sungguh Tia merasa gila karena terlalu mencintai Kenzi.
"Aku tidak akan terima semua ini, jika aku tidak bisa mendapatkan Kenzi maka wanita busuk ini juga tidak boleh mendapatkan Kenzi. Aku akan membuat hubungan kalian hancur, aku bersumpah akan itu." batin Tia entah rencana apa yang sedang ia fikirkan untuk bisa memisahkan Kenzi dan Tessa.
Tia tersenyum miring, "Aku akan mendapatkanmu, Kenzi." bisik Tia yang hanya bisa di dengar oleh Kenzi dan Tessa saja.
Setelag itu Tia pergi meninggalkan mereka berdua, dan seketika itu juga raut wajah Tessa berubah marah, "Rasanya aku ingin menyiksa wanita itu dengan rotan," kesal Tessa membuat Kenzi tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu.
"Jangan buat rusak suasana hatimu, Sayang." ucap Kenzi melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih membuat si empunya berusaha menenangkan dirinya agar tidak emosi.
"Ya udah, aku antar kamu ke kelas aja ya." ucap Kenzi dan Tessa menganggukkan kepalanya seruju.
...Enam bulan kemudian....
...Indonesia _ Jakarta....
Pagi-pagi sekali Karamel membawakan sarapan untuk sang suami ke kamar mereka, kemudian Karamel meletakkan nampan sarapannya di atas nakas lalu setelah itu Karamel duduk di pinggiran ranjang dekat sang suami yang masih tertidur pulas.
"Mas," panggil Karamel menyentuh pipi Leo dengan lembut.
"Bangun dulu dong, aku bawaain sarapan buat kamu nih." ucap Karamel pelan namun Leo hanya menggeliat saja.
"Mas," panggil Karamel lagi.
"Mas, ih kebo banget sih tidurnya." ucap Karamel mulai kesal.
"Engh! Sayang, biarin aku tidur bentar lagi kenapa? Aku masih ngantuk ini." racau Leo malah menarik selimutnya lalu membalikkan badannya untuk membelakangi Karamel.
__ADS_1
Karamel menghela napas panjang, kemarin siang suaminya itu baru saja pulang dari Singapura karena panggilan dari Prasetya untuk mengurus so'al perusahaan lain yang hampir saja meminta untuk membatalkan kerja sama mereka terhadap perusahaan Binondra Group.
Tujuh hari telah menyelesaikan segala urusan di perusahaan Binondra Group yang di Singapura, siang harinya Leo di telepon oleh sekertaris perusahaannya yang ada di Indonesia untuk bisa segera kembali karena ada meeting penting yang harus Leo sendiri yang menghadirinya.
Sampai tadi malam Leo benar-benar merasa letih dan setelah makan malam, Leo memilih untuk langsung masuk kamar untuk istirahat.
"Ya udah kalo gitu, aku enggak akan ganggu kamu tidur." ucap Karamel bangkit dari tempat duduknya menuju kamar mandi.
Sekitar dua puluh menit Karamel berendam di bathtub, sebelum Leo bangun dari tidurnya, Karamel cepat-cepat keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk panjang yang terlilit sempurna menutupi bagian dada hingga pahanya.
"Selamat pagi, sayang." sapa Leo tiba-tiba sudah duduk di pinggiran ranjang.
Glukk ....
Pagi-pagi membuka mata, Leo sudah di suguhi pemandangan tubuh sang istri yang hanya di baluti oleh handuk putih saja. Leo menatap perut Karamel yang sudah setengah membesar, sangat se*y dan menggoda sekali di mata Leo.
Rasanya sudah satu bulan lebih, Karamel membuat Leo repot karena rengekan Karamel yang selalu ngidam ini itu membuat Leo harus pulang-pergi Indonesia—Singapura bahkan Irlandia dan kini lihatlah istrinya itu telah berhasil membuat Leo tersiksa karena matanya di suguhi tampilan se*y istrinya.
"Astaga Kara, enggak cukup apa kamu buat aku tersiksa karena harus pulang-pergi Jakarta–Singapura–Irlandia." rengek Leo frustasi melihat tampilan istrinya itu.
Dan Karamel tentu paham maksud suaminya itu, seketika Karamel membelalakan matanya kaget, "Kamu udah bangun?! Berhenti di situ," pikik Karamel ketika Leo bangkit dari tempat duduknya dan hendak mendekati Karamel.
Karamel menelan salivanya gelisah, setelah hampir tujuh bulan Karamel berhasil membuat Leo harus menahan nafsunya, jangan sampai hari ini suaminya itu yang berhasil memangsa dirinya.
"Kenapa? Kamu yang duluan mulai 'kan?!" ucap Leo.
"Salah kamu kenapa udah bangun tidur." sahut Karamel malah menyalahkan Leo.
Leo menghela napas gusar, "Ya udah aku mau nyapa anakku, enggak kamu izinin juga?" tanya Leo beralibi agar bisa mendekati sang istri.
"Aku-aku mau ganti baju dulu ...."
"Aku enggak bakal ngapa-ngapain kamu, aku cuma mau cium perut kamu doang kok." ucap Leo mendekati Karamel yang mematung.
Cupp ....
"Morning kiss, Istriku tercinta." ucap Leo mencium kilas lips Karamel.
Kemudian tangan Leo meraba perut Karamel yang tertutup handuk putih lalu setelah itu Leo hendak menyingkap handuk itu namun Karamel menggenggam tangan Leo seakan-akan melarangnya untuk membuka handuk itu.
"Astaga, kamu enggak bolehin aku buat nyapa anak aku sendiri?" tanya Leo membuat Karamel mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Awas aja kalo kamu berani macem-macem," perlahan Karamel melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan tangan Leo menyingkap handuknya.
"Morning juniornya Papa ... cupp!" sapa Leo mencium tepat di bagian pusar Karamel.
Degg ....
Selalu saja begini, setiap kali bibir Leo menyentuh perut Karamel, tubuh Karamel akan berdesir merinding. Tanpa sadar Karamel memejamkan matanya, menikmati kecupan sang suami yang tak kunjung di lepas itu.
Leo membuka matanya untuk melihat wajah Karamel, istrinya itu sedang menikmati sentuhannya. Leo tersenyum miring karena sepertinya istrinya itu juga merindukan dirinya.
Tangan yang tadinya menyentuh perut Karamel, kini sudah berjalan menuju intim Karamel dan pada saat Leo menempelkan tangannya, tiba-tiba saja mata Karamel terbelalak kaget.
"Ehem! Udah 'kan nyapanya, sekarang aku mau ganti pakaian dulu," ucap Karamel mundur beberapa langkah lalu pergi begitu saja meninggalkan Leo.
Leo mendesah frustrasi karena sang istri masih menghindar jika ingin di ajak bercinta, mungkin bawaan anak mereka. Fikir Leo demikian namun Leo tersenyum senang mengingat istrinya tadi memejamkan matanya seperti sedang menikmati kecupan bibirnya.
Karamel berjalan menuju sofa, menunggu sang suami selesai mandi agar mereka bisa sarapan bersama.
Beberapa menit kemudian Leo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di bagian pinggangnya, lain halnya dengan Leo yang akan tergoda melihat lengkuk tubuh sang istri, Karamel malah memandang biasa saja ke arah suaminya itu.
"Benar-benar bawaan bayi," Batin Leo sedikit kesal karena biasanya istrinya itu akan tersipu ketika melihat perut six pack abs-nya namun sejak kehamilan Karamel yang ke empat bulan, Karamel menjadi berubah biasa saja saat Leo memamerkan perut six pack abs-nya.
"Kenapa malah ngeliatin aku sih Mas, buruan ganti baju ih, habis itu kita sarapan bareng." ucap Karamel sembari mengelus-elus perutnya.
Setelah selesai sarapan Karamel hendak membawa nampan kotor itu ke dapur namun Leo langsung mengambil alih nampan itu, "Biar aku yang bawa ke bawah, kamu tunggu di sini aja ya." ucap Leo dan dengan senang hati Karamel mengangguk kepala patuh.
Tringg ....
Di saat Leo masih di luar kamar, tiba-tiba handphone Leo berdering dan Karamel mengambil handphone itu untuk ia angkat.
"Hal ...." ketika Karamel mengangkat teleponnya dan hendak bicara tiba-tiba suara perempuan langsung memotong perkataanya.
"Rendras astaga, akhirnya kamu ngangkat telepon aku juga." ucap wanita itu membuat Karamel mengerutkan dahinya.
"Ndras, aku ngambek ya sama kamu barusan aku pergi ke kantor kamu buat ketemu sama kamu tapi resepsionis kamu bilang, kamu udah kembali ke Indonesia kemarin siang. Ih nyebelin, kenapa kamu enggak ngabarin aku dulu sih Ndras, aku 'kan bisa ngantar kamu ke bandara kalo gitu atau aku ikut kamu buat temenin kamu kerja di Indonesia juga bisa." cerocos wanita itu membuat Karamel membelalakan matanya kaget.
"Gara-gara kamu pergi tanpa ngabarin aku jadinya aku langsung minta izin sama Daddy aku buat nyusul kamu ke sana, gimana Ndras? Kamu enggak apa-apa 'kan Rendraku sayang kalo aku nyusul kamu sekarang?" tanya wanita itu membuat mata Karamel memerah.
Berani sekali wanita itu memanggil Leo dengan panggilan 'Sayang' tidak tahukah wanita itu bahwa pria yang berusaha ia dekati adalah suami wanita lain.
"Siapa cewek ini, kenapa dia ngomong seolah-olah dia punya hubungan deket sama suami aku?" batin Karamel menghela panjang sembari menelan salivanya dengan kasar.
"Rendras, kamu kok diem aja sih!" ucap wanita itu tampak keheranan namun Karamel tampak enggan untuk mengeluarkan suara jadilah dirinya mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Karamel menatap layar handphone suaminya itu, "Di kunci!?" gumam Karamel tampak kesal.
"Nyebelin banget sih," kesal Karamel karena beberapa kali dirinya membuka dengan tanggal lahir Leo, tanggal lahir dirinya lalu tanggal jadian mereka dulu bahkan tanggal pernikahan mereka juga sudah Karamel coba tapi tetap saja gagal.
"Sayang," panggil Leo masuk kamar membuat Karamel tersentak kaget.
"Tumben kamu megang handphone aku,"
"Kenapa? Enggak boleh?" tanya Karamel tampak marah.
Leo terkejut, dirinya bertanya santai tapi kenapa istrinya malah menjawab dengan marah?
Leo duduk di samping Karamel, "Kata siapa enggak boleh ...."
"Kenapa di kunci? Kasih tahu kodenya sekarang." titah Karamel datar.
Astaga ada apa dengan istrinya itu sebenarnya, nada suaranya sungguh tidak mengenakan hati sekali.
Leo mengerutkan dahinya, "Tanggal lahir kamu sama tanggal lahir aku, Sayang." sahut Leo dan Karamel langsung membuka kode handphone Leo dengan menggunakan tanggal lahir mereka berdua.
Karamel tampak memeriksa sesuatu di handphone Leo kemudian setelah itu tiba-tiba saja Karamel tertawa yang memendam kekecewaan, "Zoe's !!!" gumam Karamel membuat Leo tersentak kaget.
"Sebenarnya kamu ke Singapura karena urusan pekerjaan atau karena dia?" tanya Karamel dengan nada tinggi menunjuk pesan whatsapp Leo dan wanita bernama Zoe's.
"Tunggu-tunggu, kenapa kamu bisa tahu ...."
__ADS_1
"Siapa perempuan yang benama Zoe's ini?" tanya Karamel mengintimidasi.
Leo menghela napas panjang, "Dia adalah anak dari Tuan Blende," ucap Leo.
"Zoeya An Blende !?" ucap Karamel langsung mengenal siapa wanita itu.
Leo mengerutkan dahinya, "Kamu kenal ...."
"Bukannya kata Fico tu anak udah di jodohin sama bokapnya." ucap Karamel mengingat dulu Fico pernah cerita tentang Jessy yang hendak meminta tolong untuk bertemu dengan seorang wanita yang bernama Zoeya namun tak berselang lama Jessy malah membatalkan pertemuan mereka karena Zoeya sudah di jodohkan dengan pria lain.
"Terus kenapa kamu namain dia Zoe's di handphone kamu?" tanya Karamel dan Leo hendak bicara namun di sela oleh Karamel.
"Oh! Apa itu artinya Zoe's adalah Zoeya sayang," ucap Karamel mengingat tadi Zoeya memanggil Leo dengan panggilan Rendras.
Leo terbelalak, "Astaga Kara, jangan bilang kalo kamu curiga aku selingkuh sama dia?" tanya Leo lirih.
"Kalau di fikir-fikir sejak dua bulan yang lalu kamu sering banget pergi ke Singapura sama Irlandia, kalo bukan aku yang minta kamu buat pulang ke Jakarta, kamu enggak akan pulang sampai berhari-hari bahkan sampai berminggu-minggu, Mas. Sekarang aku minta jujur sama aku, kamu pergi karena urusan pekerjaan atau karena dia?" tanya Karamel dengan mata yang memerah.
"Kara ...."
"Dan lagi, kenapa dia bisa manggil kamu dengan panggilan Rendras dan kamu manggil dia Zoe's, kenapa Mas?" tanya Karamel lirih.
"Ini enggak seperti yang kamu fikirin sayang ...." ucapan Leo terpotong.
"Enggak usah kebanyakan drama, jelasin sekarang juga." sentak Karamel tegas.
"Oke, Zoeya itu anaknya Tuan Blende yang hampir membatalkan kerja sama dengan perusahaan Binondra Group yang di Singapura, Sayang." ucap Leo.
"Pertemuan pertama dan kedua kami berjalan dengan lancar tapi pertemuan ketiga kami, Tuan Blende membawa putrinya juga. Aku fikir Tuan Blende ingin mengajari anaknya so'al bisnis juga tapi enggak tahunya niat Tuan Blende ingin mendekatkan aku sama anaknya ...."
"Terus kamu mau?" tanya Karamel menyela.
Leo tersenyum, "Menurut kamu aku bakal nerima dia terus ninggalin kamu sama anak yang ada di kandungan kamu?! Aku enggak sebod*h itu buat berpaling dari perempuan yang dulunya sulit buat aku dapatin, Kara." ucap Leo dengan serius.
"Sejak pertemuan ketiga itu, Tuan Blende terus-terusan mengirim anaknya ke kantorku sampai-sampai perkerjaanku yang lainnya harus aku tunda karena kehadiran Zoeya harus aku waspadai juga, Kara. Aku takut perempuan itu sengaja di kirim Tuan Blende untuk memata-matai pergerakanku selama di kantor." jelas Leo lagi.
"Terpaksa aku harus mengurus perkerjaanku di malam hari karena kalo di siang hari, Zoeya akan menggangguku." ucap Leo.
"CEO Rendra Agata sekaligus pimpinan Vic's Bloody Wolf, Polar Prince takut dengan seorang perempuan!? Apa aku enggak salah dengar?" tanya Karamel.
"Bukan takut tapi aku cuma waspada, Kara." bantak Leo.
"Waspada sama takut itu beda-beda tipis," ucap Karamel membuat Leo bungkam.
Karamel menghela napas panjang, "Terus untuk panggilan ini?" tanya Karamel pelan namun tatapan kosong.
"Awalnya aku juga enggak tahu Rendras itu apa, tapi waktu aku mengatakan namaku bukanlah Rendras tapi Cleo Rendra Agata, dia bilang bahwa Rendras itu adalah nama panggilan sayangnya yaitu Rendra Sayang." sahut Leo santai.
"Dan kamu juga membalas panggilannya dengan Zoeya sayang," teriak Karamel dengan deru napas yang menggebu-gebu.
"Leoooo! Iiiih nyebelin banget sih kamu itu udah punya istri dan istri kamu itu lagi hamil, di dalam perut aku ini ada anak kamu, darah daging kamu. Berani kamu main sama perempuan lain, aku penggal kepala kamu." ancam Karamel sangat emosi namun entah kenapa Leo malah tertawa saat mendengarnya.
"Astaga bumil fikirannya sensitif banget sih, aku mana mungkin berani buat main sama perempuan lain Sayang." ucap Leo hendak mengelus perut Karamel namun dengan cepat Karamel menghalanginya dengan cara menggenggam tangan Leo.
"Kehilangan kamu lebih menakutkan dari pada kematian, Mas." lirih Karamel merintihkan air matanya.
"Sayang ...."
"Udah cukup dulu kamu bersandiwara ninggalin aku dan berpura-pura udah tunangan sama Jessy demi nyelamatin nyawa keluarga aku, Mas. Sekarang hal apa lagi yang membuat kamu harus deket sama Zoeya?!" lirih Karamel tidak sanggup jika suaminya itu harus pergi meninggalkannya lagi seperti dulu.
"Enggak ada Kara! Please jangan nangis sayang, aku enggak ada hubungan apa-apa sama Zoeya, dia manggil aku Rendra sayang tapi aku enggak, aku manggil dia Zoe's karena dia perempuan murahan yang selalu berpakaian terbuka demi bisa menggoda aku." ucap Leo mengusap air mata Karamel.
Leo menghela napas panjang saat Karamel menatap mata Leo, "Zoe's artinya Zoeya Sl*t," ucap Leo pelan.
"Enggak tahu kenapa tapi waktu Zoeya manggil aku Rendra sayang, tiba-tiba aja di fikiran aku langsung muncul nama Zoe's itu dan waktu aku manggil dia Zoe's, dia mikir ...."
"Dasar suami bod*h! Jelas dia salah paham sama panggilan kamu, aku aja salah paham 'kan sama kamu." ucap Karamel masih berderai air mata.
"Ma-maaf," lirih Leo tersenyum kaku lalu menundukkan kepalanya.
Leo merasa sedikit bersalah karena sudah membuat istrinya salah paham, harusnya Leo tidak memberi nama panggilan itu untuk Zoeya.
Karamel mengatur deru napasnya agar kembali stabil lalu Karamel menyentuh pipi Leo membuat Leo mendongakkan kepalanya menatap Karamel, "Aku fikir karena aku enggak memenuhi kebutuhan biologis kamu selama enam bulan ini, kamu jadi berpaling ke perempuan lain." ucap Karamel.
Leo menggelengkan kepalanya, "Enggak sayang ...."
"Iya, aku tahu kamu enggak bakal berpaling dari aku tapi kamu udah terlanjur buat aku salah paham kayak gini," ucap Karamel tersenyum simpul namun seperdetik kemudian senyuman itu berubah jadi datar.
"Jadi kamu harus di hukum tidur di kamar tamu selama tiga hari," ucap Karamel membuat Leo membelalakan matanya.
"Apa? Kara kamu tahu betapa tersiksanya aku di Singapura selama seminggu ini tidur tanpa di peluk sama kamu ...."
"Aku enggak perduli," sahut Karamel ketus.
"Sayang, nanti kamu butuh apa-apa, siapa yang bakal bantu ...."
"Aku bisa minta bantuan Becca," potong Karamel.
Karena selama dua bulan ini Leo sering pulang-pergi Indonesia - Singapura dan Irlandia jadi Leo meminta Becca untuk tinggal di kediaman keluarga Mahendra agar bisa menjaga Karamel.
"Aku udah di sini, Becca bisa pulang ke apartemennya."
"Becca itu anak buah aku, bukan anak buah kamu jadi kamu enggak ada hak buat nyuruh-nyuruh dia pulang ke apartemennya. Udah ah! Aku mau turun, males debat sama kamu." ucap Karamel berdiri dan hendak berjalan keluar.
"Oke, aku bakal tidur di kamar tamu selama tiga hari tapi aku enggak akan biarin kamu turun tangga sendirian," ucap Leo terpaksa mengalah dan langsung menuntun Karamel keluar dari kamar.
Perlahan tapi pasti Leo menuntun Karamel turun dari tangga namun baru juga menuruni tangga ke empat, langkah Karamel terhenti karena pandangan matanya melihat sesuatu yang tidak biasa.
"Mas ...."
.
.
.
::: Bersambung :::
Ini thor baru up ya, kenapa thor upnya lama? Itu karena keluarga thor baru aja berduka, kakek tercinta thor baru aja berpulang ke ramatullah.
Oh iya mulai hari ini thor bakal rajin up tapi asalkan kalian kasih vote dan hadiah ya. Like dan komen jangan lupa juga.
__ADS_1