
Kepalanya terasa sakit, matanya terpejam kuat, beberapa kali kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, samar-samar bayangan pria itu saat menatap tajam dirinya memenuhi fikiriannya. Dia tidak ingin mendengar dan berusaha menutup telinganya namun tidak bisa, suara itu bagaikan sebuah petasan yang mengganggu ketenangan otaknya.
'Pewaris utama Daddy ada di depan mata lo sekarang dan lo bakal jadi tanggung jawab gue, apapun yang lo lakuin di luar sana, gue yang bakal lo hadapin duluan.
'Lo bakal jadi tanggung jawab gue, apapun yang lo lakuin di luar sana, gue yang bakal lo hadapin duluan.'
'Apapun yang lo lakuin di luar sana,'
'Gue yang bakal lo hadapin duluan.'
'Gue yang bakal lo hadapin duluan, Paham !!'
Zoeya membuka matanya dengan terkejut, seluruh bagian tubuhnya bergetar ketakutan, baik wajah, leher, maupun tangannya di penuhi keringat dingin. Napas wanita Itu pun menjadi terengah-entah di buatnya, apa yang terjadi sebenernya?
Raut mukanya berubah sedih, Zoeya menggigit bibirnya seraya matanya berkaca kaca ingin menangis hingga pada akhirnya wanita itu benar-benar menangis. Zoeya fikir dirinya akan mati karena kebencian kakak tirinya namun ternyata dirinya hanya di beri obat tidur oleh kakak tirinya itu.
Kak Kei – batin Zoeya lirih, begitu kejam kakak tirinya memperlakukannya di ruangan menyeramkan itu hingga bayangan peringatannya pun masih melekat di fikirian Zoeya.
"Non Zoeya sudah bangun?" suara kepala pelayan rumah keluarga Blende masuk ke kamar Zoeya dengan membawakan sarapan untuknya.
Zoeya selalu marah jika ada pelayan yang tidak mengetuk pintu saat masuk ke dalam kamarnya kecuali kepala pelayan rumahnya, karena kepala pelayan itu sudah di perintah secara langsung oleh kakak tirinya untuk mengurus Zoeya, lagi-lagi Zoeya tidak berani membantah kata-kata kakak tirinya dan dirinya hanya bisa pasrah saja dengan perintah kakak tirinya.
Zoeya menghapus air matanya lalu ia mengambil posisi duduk, "Jam berapa sekarang?" tanya Zoeya datar, wanita itu memang sudah di kenal tidak ada sopan santunnya.
"Sudah jam setengah delapan, Non." sahut kepala pelayan itu sambil menyajikan sarapan di atas meja.
"A-apa Kak Kei sudah pergi ke kantor?" tanya Zoeya dengan suaranya sedikit bergetar, ini adalah pertama kalinya bagi Zoeya menanyakan so'al kakak tirinya itu. Dirinya ragu untuk bertanya tapi dirinya sedikit penasaran.
"Sudah Non, baru saja waktu Bibi ke atas buat nganterin sarapan buat Non Zoeya, Den Keisha pergi ke kantor." ucap kepala pelayan itu dan Zoeya menganggukkan kepalanya sambil menghela napas lega.
"Sarapannya sudah siap, Non." ucap kepala pelayan itu pada Zoeya dan Zoeya hanya menganggukkan kepalanya saja namun kepala pelayan itu tidak bergerak dari tempatnya.
"Ada hal lain?" tanya Zoeya menatap sinis kepala pelayan itu.
"Mohon maaf Non, Den Keisha semalem enggak sengaja nemuin Non Zoeya pingsan di luar rumah, Den Keisha kira Non Zoeya lagi enggak enak badan jadi ini ada obat dari Den Keisha buat Non Zoeya, kata Den Keisha obatanya harus di minum ya Non." ucap kepala pelayan itu sebelum pamit keluar kamar Zoeya. Wanita itu tersentak dan terdiam sejenak akan ucapan kepala pelayan itu, kakak tirinya memberikan obat untuk dirinya? Apakah ini mimpi? Keisha perhatian dengannya?
Secepatnya Zoeya bangkit dari ranjang lalu ia berjalan menuju sofa dan mengambil obat itu, ia menatap obat itu dengan teliti. Itu bukanlah racun seperti yang ia duga? Kakaknya benar-benar memberikan obat sakit kepala untuk dirinya.
"Kak Kei," gumam Zoeya. Tubuh wanita itu menjadi lemas, hati wanita itu pun merasa hangat saat kakak tirinya memberikan obat itu untuk dirinya, senyum bahagia terpatri di bibir wanita itu. Entahlah! Walau hanya di berikan sebuah obat saja, Zoeya sudah merasa sangat-sangat senang, mungkin karena ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya!?
Apakah benar hidup wanita itu terlalu rapuh hingga memengaruhi sikapnya? Apakah benar yang di butuhkan wanita itu hanyalah sebuah kehangatan keluarga?
.........
...Binondra Group...
Pekerjaan Leo hari ini lumayan banyak, apalagi di bulan ini Leo akan melangsungkan proyek barunya bersama tiga pengusahan lainnya. Setelah melangsungkan rapat selama tiga jam, Leo kembali masuk ke dalam ruangannya namun ketika dirinya masuk, seorang pria tengah sibuk bermain handphone di sofa ruangannya.
"Enggak ada kerjaan lo dateng ke kantor gue?" tanya Leo sinis sambil berjalan menuju kursi kebesarannya, Leo sedikit enggan bertemu sahabat masa kecilnya itu pasalnya Keisha selalu bersikap tidak sehat jika di depannya, entah apa sebabnya. Pria itu benar-benar aneh di mata Leo.
Keisha mendongakkan kepalanya melihat sekilas sahabat masa kecilnya itu, "Cuma mau ngasih tahu hal penting, Zoeya enggak akan ganggu hidup lo sama yayang Karamel lagi. udah itu doang!" ucap Keisha membuat Leo memelototi dirinya namun Keisha tidak melihatnya karena pria itu sedang asik memainkan handphonenya.
"Apa lo bilang?" pekik Leo menggelegar, pria itu tidak terima istrinya di panggil mesra oleh Keisha dan Keisha tahu itu.
Keisha tersenyum lebar menatap Leo, "Tenang aja nama lo pasti tetap ada di hati gue kok, mantan tercintaku." ucap Keisha bersikap seolah-olah dirinya adalah seorang perempuan.
Leo memutar bola mata jengah, "Udah berapa lama sih lo jomblo, masih aja enggak berubah tu kelakuan." ejek Leo membuat Keisha memutar bola matanya ke atas seperti sedang berfikir sudah berapa lama dirinya menyendiri.
"Gue 'kan milik elo," ucap Keisha membuat Leo memijat pelan pelipisnya, sejak lama Leo mencari tahu apa penyebab shabat masa kecilnya itu bersikap tidak sehat jika di depannya namun sia-sia, Leo tidak pernah mengetahui apa motif Keisha bersikap seperti itu padanya.
"Ngenes banget ni anak," gumam Leo pelan namun Keisha bisa mendengarnya walaupun samar-samar.
"Gue ngenes 'kan gara-gara gue kasian sama lo yang enggak pernah rela gue di miliki orang lain," ucap Keisha seakan-akan menuduh Leo adalah akar permasalahan dirinya yang jomblo.
"Kei gue udah punya bini," ucap Leo datar, berharap Keisha berhenti bersikap seolah-olah mereka adalah pasangan. Astaga sungguh menggelikan!
"Ih siapa juga yang bilang lo enggak punya bini, lagian ni ya bentar lagi 'kan gue juga punya bini kok, babe." ucap Keisha membuat Leo mengerutkan dahinya, apakah Keisha sudah punya kekasih? Leo sungguh berharap sahabat masa kecilnya itu sudah memiliki kekasih agar dirinya bisa terlepas dari Keisha.
Keisha menatap ke arah Leo, reaksi Leo seperti orang penasaran namun Keisha tahu Leo gengsi untuk bertanya, Keisha terkekeh sebelum bangkit dari tepat duduknya dan berjalan menghampiri Leo.
"Yayang Karamel jadiin gue yang kedua enggak masalah 'kan, babe" ucap Keisha membuat mata Leo membulat sempurna dan tanpa berfikir panjang, Leo melempar handphonenya ke arah wajah Keisha.
Plakk ...
"Buset! Agh, idung gue !!" pekik Keisha kala handphone itu mengenai hidungnya, lalu dirinya mengusap hidungnya yang terasa sakit akibat benda pipih nan keras itu.
"Jangankan buat jadi suami kedua Karamel, lo berani ngebayangin nikah sama Karamel sekali aja, gue bunuh lo sekarang juga." ancam Leo dengan tatapan serius, Keisha membuka sebelah matanya untuk menatap Leo.
"Enggak nyangka sekarang sahabat gue udah berubah, enggak kayak dulu lagi fu*kboy abis." batin Keisha terkekeh dalam hatinya.
"Becanda doang kalik babe, seriusan amat sih lo jadi orang." ejek Keisha mengambil handphone Leo di lantai lalu memberikannya kepada Leo, untungnya handphone itu tidak retak ataupun rusak.
"Gue mau minta sesuatu dari lo," ucap Keisha dengan raut wajah sarius, Leo mengerutkan dahinya, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak saat Keisha menginginkan sesuatu darinya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Leo sinis dan Keisha berjalan mendekati Leo hingga kini dirinya berdiri tepat di samping Leo.
"Pengen peluk," ucap Keisha merentangkan kedua tangannya ternyata ingin memeluk masa kecilnya itu.
"Jangan coba-coba ...."
Sebelum Leo menyelesaikan perkataannya, Keisha sudah lebih dulu memeluk tubuh Leo dengan sangat erat, pria itu melingkarkan kedua tangannya di leher Leo hingga Leo merasa dirinya bukan sedang di peluk namun sedang di cekik mati oleh sahabatnya itu.
"Kei, lepasin bangs*t!" pekik Leo, wajah pria itu sudah memerah akibat pelukkan mematikan Keisha.
"Diem kenapa sih lo, kangen ini gue!" ucap Keisha menepuk-nepuk punggung Leo dengan kasar, Leo mengepal kuat kedua tangannya, cara berpelukkan sahabat masa kecilnya itu masih sangat buruk di mata Leo.
"Kei, gue pecat lo jadi sahabat gue!" ucap Leo dengan suara yang begitu memekakan telinga Keisha namun Keisha berlagak tidak mendengar saja. Hingga ketika handphone Keisha berbunyi di dalam saku jasnya, dengan sangat terpaksa pria itu melepaskan pelukkannya.
Tringg ....
"Dasar pengganggu!" umpat Keisha mengambil handphonenya.
"Pergi ke neraka sana lo, bangs*t." umpat Leo menendang bokong Keisha hingga Keisha hampir jatuh ke lantai.
"Akh! Sayangku kasar!" umpat Keisha mengelus bokongnya sebelum mengangkat teleponnya.
"Halo, ada apa?" tanya Kesiha dengan nada suara yang amat datar.
"..........."
"Baiklah! Aku akan kembali sekarang." ucap Keisha lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, raut muka pria itu begitu serius saat menerima panggilan tapi setelah selesai, Kesiha kembali menebarkan senyuman manisnya pada Leo.
"Yeah kayaknya gue harus pergi sekarang, maaf ya babe enggak bisa nemenin lo lebih lama lagi." ucap Keisha pada Leo.
Leo memutar bola mata jengah, siapa juga yang ingin di temani oleh pria setengah jadi-jadian seperti Keisha, malahan Leo berharap pria itu tidak muncul di hadapannya.
"Tuh pintu keluar ada di sana," tunjuk Leo menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar
"Cium dulu dong," ucap Keisha memonyongkan bibirnya seoalah-olah pria iti sungguh-sungguh ingin mencium Leo.
"Gue enggak masalah kalo harus ganti HP sekarang," ucap Leo membuat Keisha mundur beberapa langkah, Leo adalah salah satu orang yang tidak pernah main-main dengan ucapannya sendiri, jika pria itu sudah mulai kesal atau marah, apapun yang ia ucapkan dari mulutnya pasti akan ia lakukan. Dan Keisha tahu barusan Leo memberitahu dirinya untuk tidak mencium dirinya atau handphone pria itu akan mengenai bibir dan wajah tampannya.
"Ck! Kasian banget ya yayang Karamel punya laki kayak lo G-A-L-A-K, galak banget!" ucap Keisha mengeja kata 'galak' lalu menekan kata itu dengan mata memelotot ke arah Leo.
"Tch! Dia kira gue pernah marahin bini gue apa." batin Leo acuh dengan ucapan Keisha dan memilih untuk menatap palayar laptopnya, lalu Keisha pamit pergi dari ruangannya tapi Leo hanya menanggapi dengan ber 'hem' ria saja.
.........
...Kediaman Keluarga Mahendra...
Karamel menatap meja yang berserakkan bungkus-bungkus cemilannya, baik itu kotak dan bungkus es krim sampai ke bungkus coklat semuanya memenuhi meja panjang itu.
"Pengen shopping," gumam Karamel mengelus-elus perutnya hingga adek bayinya menendang perutnya, Karamel langsung menatap ke arah perutnya.
"Ulu lu, Adek pengen shopping ya?" tanya Karamel dengan gemas.
"Tapi Papa enggak bisa kita ajak karena Papa lagi sibuk di kantor, gimana kalo kita berdua aja yang keluar buat shopping?" tanya Karamel pada bayinya.
"Ya udah kita siap-siap dulu yuk," ajak Karamel kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah sekian lama bersiap-siap, Karamel kemudian turun ke lantai satu menghampiri salah satu pelayan rumahnya untuk ia ajak keluar rumah.
Karamel dan pelayan itu masuk ke dalam mobil, di mana bodyguard suaminya ia jadikan supirnya hari ini, tak lupa pula di belakang mobil mereka ada dua mobil lainnya yang berisi beberapa bodyguard Leo bertugas menjaga Karamel.
Sesampainya di tempat tujuan, Karamel dan pelayan ruamahnya keluar dari mobil di ikut juga oleh semua bodyguard suaminya. Seketika saat Karamel masuk ke dalam mall, dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
Semua mata memandang ke arah Karamel seakan-akan mereka mengenali dirinya. Pujian serta bisik-bisikkan akan paras rupawan Karamel kian terdengar di telinga Karamel, sesekali wanita cantik itu mendapatkan sapaan dari para pria dan Karamel hanya tersenyum mengangguk saja sebagai tanggapan, lain halnya jika seorang wanita yang menyapa maka Karamel akan membalas 'hai' pada mereka.
Karamel mengerti kenapa dirinya menjadi pusat perhatian, ternyata mereka semua mengenal siapa dirinya yang sebenarnya, terbukti saat beberapa orang menyapa dirinya dengan panggilan 'Mbak Karamel dan juga Nona Karamel' apalagi ada yang yang menyapanya secara formal 'Nyonya Randra'
Karamel merasa luar biasa! Setelah beberapa bulan yang lalu Leo memberitahu dunia tentang istrinya Karamel, kini dirinya menjadi sangat terkenal namun mungkin masih ada banyak yang tidak mengenal dirinya. Contohnya Widia dan Zoeya.
"Ternyata Nyonya muda ada banyak penggemarnya ya," ucap sang pelayan kala majikkannya itu selalu mendapatkan sapaan dari orang-orang.
"Bukan aku tapi suamiku, Bik." ucap Karamel terkekeh lalu mereka menaiki eskalator.
"Kalo Tuan muda mah emang sedari SMP dulu punya banyak penggemarnya," sahut sang pelayan dengan antusias, dan Karamel hanya tersenyum tipis saja.
Saat sudah sampai di lantai ke tiga, tiba-tiba Karamel menolehkan kepalanya ke samping kiri, seketika langkahnya berhenti kala kedua matanya tidak sengaja menangkap sesuatu yang aneh.
"Ada apa Nya?" tanya sang pelayan merasa heran karena Karamel tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Karamel menatap pelayannya sejenak, "Adeknya mau donat," ucap Karamel kemudian melangkahkan kakinya menuju jajanan manis itu.
Setelah selesai membeli donat, barulah Karamel pergi ke toko-toko pakaian untuk dirinya, semua barang yang Karamel pilih rata-rata seharga 300 ribu atau bahkan 500 ribu, tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah juga.
Namun para pegawai toko yang menganal siapa Karamel berhasil di buat heran sekaligus kagum dengan Karamel karena yang merwka tahu wanita cantik itu adalah anak dari orang kaya bahkan suaminya pun adalah orang yang sangat kaya raya namun wanita cantik itu tidak seperti orang yang hidup bergelimang harta karena nyatanya wanita cantik itu lebih suka kesederhanaan hidup.
__ADS_1
Apalagi saat Karamel menangkap wajah kebingungan para pegawai toko itu, Karamel langsung tahu apa yang sedang di fikirkan mereka tapi Karamel tidak mau menanggapi mereka karena menurut Karamel tidak perduli bagaimana mereka akan memandang kesederhanaan Karamel, yang penting tujuannya berbelanja hari ini adalah dirinya merasa puas dan senang dan jangan lupa pula pakaian yang ia beli harus yang nyaman di pakai bukan nyaman di pajang di lemari.
.........
Belanjaan Karamel hari ini cukup banyak karena dirinya bukan hanya membeli pakaian saja tapi wanita itu juga membeli banyak sekali cemilan, walau pelayannya memberitahu Karamel untuk jangan membeli jajanan yang sembarang takut nanti Leo marah, tapi Karamel tidak perduli akan peringatan pelayannya itu.
"Bibik jangan khawatir, Mas Leo enggak akan bisa marah kok sama aku." ucap Karamel seraya mereka berjalan menuju eskalator kala mereka akan turun ke lantai dua.
Namun langkah Karamel lagi-lagi terhenti dan kepalanya tertoleh ke arah samping kiri, Karamel mengerutkan dahinya membuat pelayan dan juga beberapa bodyguardnya mengikuti arahan mata Karamel.
Mereka tidak tahu apa yang Karamel lihat hingga pada saat sang pelayan hendaj bertanya, kaki Karamel langsung berjalan entah ke mana.
"Kata Adeknya beli satu makanan lagi dan ini makananya," ucap Karamel menunjukkan toko banana.
"Lihat deh, pisangnya kayak nugget terus di atasnya dikasih selai coklat, matcha, taro, vanilla dan ... dan semuanya. Maksudnya adeknya mau semuanya." ucap Karamel pada pelayannya lalu Karamel bergegas membelinya.
"Semoga Tuan Muda enggak marah sama Nyonya Muda," harap pelayan itu karena tadi pagi Leo berpesan pada semua pelayan rumahnya untuk menjaga Karamel dan memerhatikan apapun yang di makan istrinya itu lalu setelah itu mereka harus melaporkannya pada Leo saat Leo pulang dari kantor nanti.
Setelah puas membali makanan terakhir yang Karamel inginkan, Karamel hendak akan pulang karena dirinya sudah merasa sangat puas berbelanja hari ini tapi tiba-tiba langkah kakinya harus berhenti saat melihat wanita yang ia kenal sedang berjalan di depan matanya.
Karamel menatap datar wanita itu dengan mengerutkan dahinya, dari awal masuk ke dalam mall Karamel sudah merasakan sesuatu yang aneh, saat menginjakkan kaki di lantai tiga wanita itu tidak sengaja melihat sosok yang sepertinya sedang memperhatikan dirinya namun Karamel mengalihkan perasaan anehnya pada makanan manis bernama donat. Begitu juga saat dirinya hendak turun ke lantai dua, di lantai tiga itu Karamel melihat lagi sosok yang sama seperti ada yang sedang memantau dirinya namun lagi-lagi Karamel harus mengabaikkan perasaan aneh itu pada makanan yang bernama banana nugget.
Karamel terdiam lama menatap wanita yang sedang berjalan itu hingga pada saat wanita itu mendongakkan kepalanya, tatapan mata keduanya bertemu satu sama lain.
Dengan jarak yang hanya beberapa langkah, Zoeya berhenti dan menatap datar ke arah Karamel sambil alisnya terangkat sebelah, apakah benar dunia itu begitu sempit hingga dirinya bisa bertemu dengan Karamel di saat dirinya tidak ada niatan untuk bertatap muka dengan wanita itu?
"Dan yang aku hindari malah muncul di hadapanku," gumam Zoeya merasa tidak senang karena bertemu dengan Karamel lagi, padahal dirinya sudah berusaha keras untuk menghindari Karamel.
Karamel berjalan mendekati Zoeya, "Sampai kapan kau akan mengikutiku terus Zoeya?" tanya Karamel dingin mambuat Zoeya memutar bola mata jengah.
"Jujur saja aku sangat ingin membunuhmu Kara, oh sepertinya aku salah menyebut nama maksudku Nyonya Rendra." ucap Zoeya sambil mengepal tangannya sangat kuat, demi apapun Zoeya merasa sangat-sangat kesal dengan Karamel karena Karamel adalah penyebab dari kakak tirinya mengikatnya semalam.
Beberapa bodyguard Leo hendak melangkahkan kakinya untuk mendekati Zoeya namun Karamel mengangkat tangannya agar bodyguard suaminya itu tetap di tempatnya.
"Wow! Sangat berbeda dengan yang dulu, sekarang kau sudah ada banyak bodyguard yang menjaga dirimu." ucap Zoeya dengan senyum sinisnya dan dengan rahang mengeras.
"Tentu kau bisa melawanku dan mempermalukanku sekarang atau bahkan kau juga bisa menrginjak-injak harga diriku di depan semua orang, kau bisa melakukan semuanya dengan sesuka hatimu Karamel Listra karena kau sudah menjadi orang kaya. Ah! tidak tidak, kau memang berasal dari orang kaya dan sekarang kau bisa menghina orang-orang di sekitarmu." ucap Zoeya dengan tatapan penuh kebencian.
Karamel menyipitkan matanya, kenapa Zoeya mengatakan hal-hal yang tidak pernah Karamel dengar sebelumnya keluar dari mulut wanita itu? Zoeya mengatakan Karamel bisa menghina dirinya, Karamel mana mungkin melakukan itu karena dirinya bukanlah Zoeya yang suka menghina orang sembarangan.
"Aku bukan dirimu yang suka merendahkan orang lain," sahut Karamel dengan frontal agar Zoeya sadar diri bahwa selama ini Zoeya selalu bersikap tidak baik pada orang lain.
"Apakah yang di katakan suamiku seminggu yang lalu tidak membuatmu sadar sedikit saja Zoeya, kesombongan hidupmu tidaklah berarti apa-apa bagi orang lain, malahkan kau akan di pandang buruk di mata orang lain karena kau selalu memamerkan kekayaanmu dan merendahkan hidup orang lain." ucap Karamel mengulang apa yang di katakan suaminya, namun Zoeya malah bertepuk tangan sambil menatap tajam wajah Karamel.
"Buka matamu lebar-lebar Karamel Listra Najasi Aramoy, kehidupan ini lebih menomor satukan uang dan kekuasaan, coba kau rasakan sekali saja hidup tanpa kekuasaan maka kau akan di rendahkan sama seperti pertama kali aku merendahkanmu dulu." ucap Zoeya seakan-akan mengungkap apa yang ia rasakan pada Karamel namun cara bicara Zoeya begitu santai.
"Tapi sayangnya walau sudah berulang kali aku merendahkanmu, kau tidak pernah merasa sedih karena selama ini kau selalu menyembunyikan kekayaanmu dan terlihat seolah-olah kau adalah orang miskin di mata umum, padahal kau orang kaya yang sangat bahagia, bukan begitu Nyonya Rendra?" tanya Zoeya tersenyum sinis.
"Ayolah! Sombongkan kekuasaanmu sekarang, aku ingin mendengarnya." ucap Zoeya tersenyum sinis, wanita itu seperti sedang memprovokasi Karamel tapi tidak tahu kenapa apa motif Zoeya memprovokasi Karamel?
"Iya! Tapi aku tidak pernah menyombongkan kekayaan keluargaku seperti kau yang selalu menyombongkan kekayaan yang jelas-jelas itu bukan milikmu tapi milik kakak tirimu yaitu Keisha, Kau bukanlah siapa-siapa tanpa marga Blende, Zoeya. Kau hanyalah anak tiri!" sengit Karamel terprovokasi, wanita itu terpancing emosi hingga kata-kata kasar itu ia keluarkan begitu saja dari mulutnya.
Zoeya mengepel tangannya dengan sangat kuat, Zoeya berusaha keras agar tidak mengamuk seperti biasanya saat sedang mengina orang lain, wanita itu telah berjanji dengan Keisha untuk tidak berurusan dengan Karamel lagi tapi rasa kesal wanita itu terhadap Karamel malah membuatnya terlalu banyak bicara. Hingga kini sejujurnya, kata-kata Karamel barusan sudah berhasil menyakiti hatinya.
"Yeah! Itu karena kau dididik dengan benar orang orang tuamu," sengit Zoeya membuat pupil mata Karamel melembut, entah kenapa Karamel merasa perih dengan kata-kata Zoeya barusan.
Zoeya mengha napas panjang, "Bod*h! Untuk apa aku mengatakannya!" batin Zoeya memejamkan matanya kesal pada diri sendiri karena keceplosan bicara di depan Karamel.
"Ck! Kau adalah orang yang istimewa di mata semua orang maka dari itu kau tidak akan bisa merasakan hidup di benci semua orang," ucap Zoeya tanpa ekspresi kemudian pergi meninggalkan Karamel dengan perasaan yang dongkol.
Untuk beberapa saat napas Karamel tercekat karena kata-kata Zoeya, pada akhirnya Karamel menyakiti hati wanita itu padahal Karamel tahu jalan cerita hidup wanita itu seperti apa.
"Maafkan aku," gumam Karamel memejamkan matanya menyesal karena menambah rasa sakit hati pada wanita malang itu.
Wanita yang sangat malang itu berlari sejauh-jauhnya, menyusuri toko-toko yang begitu ramain pengunjung, menaiki eskalator yang begitu lambat hingga dirinya terpaksa berlari agar segera mencapai tujuannya.
"Aaaaghhhhhh !!!" wanita itu berteriak sekuat-kuatnya ketika sudah sampai di atas rooftop, tidak ada air mata di dalamnya namun kesedihan itu terukir jelas di raut wajahnya.
Zoeya menatap layar handphonenya, di mana nomor yang tidak di kenal terus-menerus menghubunginya tanpa henti, Zoeya menggelengkan kepalanya, wanita itu tahu siapa pemilik nomor yang tidak di kenal itu.
"Jangan ganggu aku," gumam Zoeya menatap kosong ke depan sana, wanita tampak muak mendengar nada dering handphonenya yang terus-terusan berbunyi di genggaman tangannya.
"Cih! Hidup penuh drama!" gumam Zoeya sinis, wanita itu menggenggam erat handphone yang terus saja berdering, kenapa orang yang menghubunginya tidak mengerti situasi yang sedang Zoeya alami? Zoeya benar-benar di buat kesal sekarang!
"Sudah berapa kali aku katakan jangan pernah mengganggu hidupku lagi, aku sangat muak denganmu apa kau dengar itu sangat-sangat muak, pergi sana kau Bajin*an!" pekik Zoeya ketika dirinya terpaksa mengangkat telepon itu lalu dirinya mematikkan sambungan itu secara sepihak, namun Zoeya memutar bola mata jengah saat orang itu kembali menghubungi dirinya.
Zoeya lebih memeilih untuk mematikan handphonenya karena wanita itu merasa risih dengan orang yang menghubungi dirinya namun ketika Zoeya mendongakkan kepalanya hendak menghirup udara sebanyak-banyakknya. Suara orang yang baru saja menghubungi dirinya barusan terdengar jelas tepat di belakang wanita itu
"Ow! Kau menyakiti hatiku lagi, Zoeya."
.
.
__ADS_1
.
::: Bersambung :::