Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 64


__ADS_3

Ke esokkan harinya Tania sudah di perolehkan dokter untuk pulang dan Aryan menepati kata-katanya untuk datang menjenguk Tania dan Faza sekalian mengantar mereka pulang ke rumah Faza.


"Makasih, Kak." ucap Faza ketika mereka turun dari mobil Aryan.


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit," ucap Aryan dan di balas anggukan oleh Faza.


"Nggak di ajak masuk dulu, Za?" tanya Tania.


"Katanya udah hampir masuk jam kuliah jadi dia nggak bisa mampir," ucap Faza.


"Dia kuliah?" tanya Tania.


"Ngemis di kampus," ucap Faza malas karena menurutnya pertanyaan Tania tidak patut di jawab, kemudian dua orang itu masuk ke dalam rumah.


"Kok sepi? Tente Santi nggak ada di rumah ya?" tanya Tania menatap tidak ada seorangpun di dalam rumah besar itu.


"Kakek Hans udah serahin perusahaan Ramo Crishtopus yang di Malaysia sama Ayah, dan karena udah jadi CEO di sana jadi Ayah jarang pulang ke Indo begitu juga Bunda yang sering ke Malaysia buat nemenin Ayah," jelas Faza.


"Jadi lo sendirian di rumah?" tanya Tania.


"Nggak dong, 'kan ada elo sekarang," ucap Faza.


"Oh," sahut Tania kemudian Faza mengajak Tania ke taman belakang lalu mereka duduk di bawah gazebo yang berbangku empuk.


"Kecuali SALF BADRAD, orang lain nggak pernah gue ajak ke sini bahkan Bunda sama Ayah jarang ke sini," ucap Faza.


"Taman sebagus ini jarang di datengin?" tanya Tania padahal dirinya juga jarang pergi ke taman rumahnya yang jauh lebih indah.


"Cuma gue yang rutin tiap hari ke sini, karena ini tempat favorit gue," imbuh Faza.

__ADS_1


"Ooh! Ohya gue mau tanya sama lo, SALF itu 'kan gabungan nama Sasya, Aldy, Leo dan Faza. Kak Aldy sama Leo 'kan cinta mati banget sama Sasya terus lo ...."


"Gue lebih ke setia kawan," potong Faza.


"Lo nggak Gay 'kan." selidik Tania membuat Faza terbelalak lalu ia menatap tajam ke arah Tania.


"Harus banget gue suka sama Sasya?" pekik Faza membuat Tania terkekeh akan respon Faza.


"Ya nggak juga sih tapi aneh aja gitu, masa iya Sasya yang cantik dan imut gitu lo nggak tertarik sama dia," ucap Tania.


"Mau dengar gue jujur?" tanya Faza.


"Marga Ramo di larang bohong apalagi antar keluarga," ucap Tania mengingatkan prinsip keluaraga kakek Hans dan nenek Hanna.


"Sasya bukan kriteria gue, karena kriteria gue itu kayak elo," ucap Faza.


"Tapi bo'ong hahahaha ...." potong Faza tertawa terbahak-bahak membuat Tania menatap tajam sepupunya itu.


"Lo berubah, Za," ucap Tania hingga Faza menghentikan tawanya.


"Gue nggak punya sayap, nggak punya kekuatan juga, nggak punya aura membunuh juga ...."


"Ck! Maksud gue dulu lo dingin banget sama gue, ketawa aja paling satu minggu itu cuma sekali dong, kadang juga nggak pernah, lah sekarang udah beda seratus delapan puluh derajat tahu nggak." sentak Tania memotong perkataan Faza.


"Yeah! Itu karena cewek pertama yang bikin gue kagum itu elo bukan Sasya atau yang lain dan kenapa gue berubah sama lo itu karena lo beda dari cewek-cewek yang sok polos, terus suka sama gue secara diem-diem gitu, lagian lo juga sepupu gue jadi enggak salah dong gue nunjukkin sifat asli gue ke elo." ucap Faza jujur membuat Tania diam.


"Gue seneng bisa tahu lo itu sepupu gue, gue nggak perlu jaim lagi sama lo, nggak perlu kepo lagi ...."


"Hah! Lo kepo sama gue?" tanya Tania.

__ADS_1


"Gue emang pernah kepo sama Tania yang culun tapi jauh dari kata polos dan pendiam," ucap Faza membuat Tania terdiam lama.


.........


Selesai makan malam, Tania dan Faza berantai di ruang keluarga, "Masakan Bik Ella enak juga ya, jadi pengen makan tiap hari di sini" ucap Tania memuji masakan asisten rumah tangga keluarga Ramora.


Faza hanya menanggapi ucapan Tania dengan tersenyum lalu Faza berbalik menghadap Tania yang bersandar di sofa sembari memejamkan matanya,"Tan," panggil Faza.


"Eem," sahut Tania.


"Waktu itu lo bilang Kak Aryan mau dateng ke basecamp SALF BADRAD, kenapa di hari kita kumpul dia malah nggak ada?" tanya Faza membuay Tanua membuka matanya.


"Waktu itu dia lagi ada urusan penting makanya dia enggak bisa dateng," ucap Tania.


"Terus yang kemarin kenapa nama lo bisa berubah jadi Kara?" tanya Faza.


"Wah! Panjang ceritanya, Za." ucap Tania.


"Ceritain sekarang, gue bakal dengar semua," ucap Faza tidai mempermasalahkan seberapa panjangnya cerita Tania.


Tania menatap Faza lama, pria itu benar-benar serius ingin tahu semua hal tentang Tania membuat Tania berdecak kala dirinya sangat malas bercerita panjang namun jika dirinya tidak bercerita, Faza pasti akan mendesaknya terus-menerus.


.......


.......


.......


...>>>Bersambung<<<...

__ADS_1


__ADS_2