Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 254 (Takdir)


__ADS_3

Di dalam pesawat Jeffry membuka laptopnya untuk melihat isi rumah Leo lewat CCTV yang terhubung langsung dari laptopnya, Jeffry memberitahu semua detail keadaan rumah tuannya itu baik-baik saja, sudah di pastikan istri dan anak tuannya itu aman berada di rumah.


"Istriku pasti kesepian di rumah," ucap Leo menatap layar laptop yang menampilkan Karamel sedang duduk sendirian di ruang makan sambil menyantap makan malamnya. Wanita itu sangat lahap sekali memakan makanannya, Leo sampai tersenyum gemas melihat tingkah istrinya itu.


"Aku rindu sama kamu, sayang. Coba aja kamu mau ikut aku ke Irlandia !!" gumam Leo tidak melepas tatapan matanya dari sang istri padahal belum juga berpisah 24 jam, Leo sudah sangat merindukan istrinya itu.


Sedangkan Jeffry beberapa kali mengerjapkan matanya sambil menelan salivanya kasar saat matanya bergerak membaca sesuatu dari layar tabletnya, Jeffry menatap sekilas Leo yang duduk di sebrangnya lalu Jeffry kembali menatap layar tabletnya. Kemudian Leo menutup laptopnya dan menatap Jeffry yang sedang mengotak-atik tabletnya.


"Apakah ada pergerakan dari pria itu?" tanya Leo tiba-tiba mengangetkan Jeffry karena Jeffry terlalu fokus. Tangan kanan sekaligus asisten pribadi Leo itu menghela napas panjang sebelum membalas tatapan tuannya.


"Barusan Ang memberitahu kabar tentang semalam leader itu maminta semua mafiosonya untuk bersiap menyerang rumah anda, Tuan." ucap Jeffry membuat Leo membulatkan matanya kaget, informasi ini sangat tiba-tiba sekali.


"Apa?" pekik Leo bangkit dari tepat duduknya, napas pria itu tercekat, detak jantungnya pun berdetak dua kali lebih cepat. Rasa takut itu muncul, dirinya takut istri dan anaknya kenapa-kenapa saat dirinya jauh dari mereka.


"Tapi sepertinya leader itu sudah menyelidiki isi kediaman anda hingga tadi siang, Ang mengatakan leader itu menunda hari untuk menyerang kediaman anda, Tuan." ucap Jeffry membuat Leo bisa bernapas kembali namun pria itu tidak merasa tenang.


"Menunda!" gumam Leo duduk sambil memejamkan matanya lemah.


"Itu artinya mereka akan membuat strategi untuk menyerang rumahku," ucap Leo menatap tajam mata Jeffry. Glukk! Tiba-tiba saja tubuh Jeffry menjadi merinding karena di tatap tajam oleh tuannya itu.


"Aku harus menghubungi Keisha untuk membawa istriku ke tempat yang aman." ucap Leo, pria itu sudah mempunyai rencana kedua tapi Jeffry tidak tahu akan itu.


"Apakah leader itu tidak akan curiga, Tuan?" tanya Jeffry seperti tidak sependapat dengan keputusan tuannya itu.


"Kau merasa saat Keisha masuk ke dalam rumah dan keluar dari rumahku, anak buah leader itu akan mengikuti mobil Keisha sampai mereka melihat langsung bahwa pemilik mobil itu keluar tanpa membawa istriku bukan." ucap Leo sudah lebih dulu mengetahui isi fikiran Jeffry.


"Kau tenang saja, Keisha punya caranya sendiri untuk membantuku." ucap Leo sangat percaya dengan sahabat masa kecilnya itu. Jeffry hanya bisa diam karena Jeffry tahu tuannya itu bukanlah pria bod*h jadi apapun keputusan tuannya itu, pasti tidak akan salah dan gagal.


.........


...Kediaman Keluarga Blende...


"Agh, sial!" umpat Keisha kesal, lagi-lagi pencarian pria itu gagal.


Keisha mengusap wajahnya kasar, ke mana dirinya harus mencari seseorang yang telah membantunya di masa lalu, Keisha sangat ingin bertemu dengan pendonor ginjalnya di masa lalu namun hasil pencariannya selama tiga tahun ini tidak pernah membuahkan hasil.


Tiga tahun yang lalu di California, Saat Keisha mendapat kabar dari nomor yang tidak di kenal ngatakan adik tirinya kabur lagi dari rumah, tanpa berfikir siapa orang yang mengirim pesan itu Keisha langsung bergegas ke bandara untuk mencegah adik nakalnya itu. Namun na'asnya saat di perjalanan Keisha malah mengalami kecelakaan beruntun hingga menyebabkan pria itu koma selama dua minggu.


Tanpa di ketahui oleh orang tua Keisha, ternyata Keisha menyimpan rahasia yang sangat besar, pria itu memiliki penyakit gagal ginjal kronis stadium akhir, di tambah lagi dirinya mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan fungsi ginjal pria itu semakin menurun dan bertambah parah. Pria itu hampir tidak tertolong jika bukan ada orang yang baik hati mendonorkan satu ginjalnya untuk Keisha pakai.


Namun sayangnya, dokter mengatakan orang itu tidak mau memberitahu identitasnya kepada keluarga Keisha, bahkan ayah dan ibu tiri serta adik tiri Keisha pun tidak tahu siapa orang yang telah berbaik hati memberikan ginjalnya pada Keisha.


Keisha menyentuh dadanya tepat di mana ginjal orang baik itu tertanam di dalam tubuhnya, "Siapa?" gumam Keisha dengan lirih.


Zoeya yang baru saja dari dapur, terdiam kaku di belakang Kesiaha yang sedang duduk di ruang keluarga, wanita itu merasa kasihan dengan kakak tirinya karena selama tiga tahun ini kakak tirinya itu terus saja mencari keberadaan si pendonor ginjalnya. Wanita itu menghala napas berat sebelum melangkah untuk mendekati kakak tirinya.


"Masih nyari pendonor itu lagi, Kak?" tanya Zoeya duduk di samping Keisha sambil membawakan kopi untuk kakak tirinya itu. sepertinya wanita itu sudah semakin berani bertanya-tanya kepada Keisha. Apakah itu karena Keisha terlalu baik padanya?


"Hem!" sahut Keisha datar, melihat ekspresi menyeramkan Keisha, Zoeya sudah paham kalau pencarian kakak tirinya itu pasti gagal lagi.


"Kenapa sih Kak Kei nyari si pendonor itu terus-menerus? Bukannya kata Daddy pendonor itu enggak mau Kakak tahu identitasnya siapa ya? Lagian menurut aku enggak penting juga nyari orang yang jelas-jelas enggak mau di ketahuin identitasnya, buang-buang waktu enggak sih." tanya Zoeya namun Keisha hanya diam, dan itu cukup membuat Zoeya tidak mau bertanya lagi atau dirinya akan mendapatkan bentakkan dari kakak tirinya karena terlalu cerewet.


"Dasar siluman ular yang enggak punya hati nurani! Lo mana ngerti sama yang namanya kebaikkan, yang lo tahu mah cuma kejahatan doang. Gue mau cari pendonor itu karena gue mau bales budi sama dia, kalo dia cewek 'kan bisa gue angkat jadi saudara gue atau bisa jadi jodoh gue tapi kalo dia cowok, dia bisa gue angkat jadi saudara gue." batin Keisha namun yang namanya membatin mah, Zoeya mana bisa dengar.


"Handphone baru lo ada ada di ruang kerja gue," ucap Keisha tanpa menatap adik tirinya.


Zoeya terpaku di tempatnya, dirinya berfikir apa yang di katakan kakak tirinya barusan? Handphone barunya ada di ruang kerja kakak tirinya? Apakah itu pengganti handphone tadi sore yang di celupkan kakaknya di kolam ataukah handphone baru itu semacam hadiah kecil dari kakak tirinya untuk dirinya? Astaga! Reaksi apa yang harus Zoeya tunjukkan? Berbahagia sampai melompat-lompat atau terharu sampai menangis tersedu-sedu?


Melihat Zoeya tidak bereaksi sedikit pun, Keisha jadi menggerakkan kepalanya untuk menatap adik tirinya, dahi pria itu mengerut bingung saat melihat raut wajah adik tirinya yang tampak tegang. Ada apa dengan adik tirinya itu?


"Tiga detik lo enggak ambil tu handphone, gue buang ...."


Sebelum Keisha menyelesaikan perkataannya, Zoeya sudah lebih dulu bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju ruang kerja kakak tirinya, wanita itu tentu tidak akan rela handphone pemberian kakak tirinya itu di buang begitu saja.


"Bisa-bisanya gue punya adik tiri yang enggak punya hati kayak dia," gumam Keisha dengan raut wajah penuh kebencian.


Dia dalam ruang kerja kakak tirinya, Zoeya menangkap kotak yang ada di meja kerja kakaknya itu, wanita itu hendak duduk di kursi kerja kakak tirinya tapi wanita itu menggelengkan kepalanya cepat, bagaimana jika kakak tirinya menyusul dirinya dan tiba-tiba masuk ke sana? Bisa-bisa kakak tirinya akan memarahi Zoeya habis-habisan nanti! Alhasil Zoeya memilih untuk duduk di sofa dan membuka kotak handphonenya di sana.


"Hah! Udah di buka?" gumam Zoeya tercengang karena handphone itu sudah lebih dulu di buka oleh kakak tirinya, mata wanita itu menyipit curiga akan sesuatu.


"Jangan-jangan Kak Kei udah pasang GPS lagi di handphone baru ini!" gumam Zoeya memasang raut wajah cemberut. Zoeya merasa dirinya sudah seperti seorang tahanan yang harus di awasi kakak tirinya selama 24 jam!


"Mau bagaimana lagi, anggap saja ini sebuah keamanan untuk diriku jadi kalau aku sedang berada dalam bahaya Kak Kei bisa mengetahuinya dan dia pasti akan membantuku." ucap Zoeya tersenyum lebar namun seperdetik kemudian raut wajah wanita itu berubah menjadi murung.


Kata-kata Zoeya barusan seakan-akan kakak tirinya adalah kakak yang sangat menyayangi dirinya, Zoeya menggelengkan kepalanya cepat. Itu tidak akan mungkin menjadi kenyataan, kakak tirinya tidak akan mungkin menjadi pahlawannya saat dirinya berada dalam bahaya apapun, itu di sebabkan karena kakak tirinya sangat membenci Zoeya.


"Apa yang aku harakan, Kak Kei enggak mungkin perduli sama aku." gumam Zoeya menghela napas berat.


Setelah selesai, Zoeya keluar dari ruang kerja kakak tirinya dan tanpa sengaja Zoeya melihat kakak tirinya sedang teleponan dengan seseorang yang entah siapa, Zoeya juga tidak tahu dan tidak mau tahu. Alhasil wanita itu berjalan lurus menuju tangga rumah.


"Oke, besok gue ngomong sama Karamel," ucap Keisha membuat langkah Zoeya berhenti, mata wanita itu langsung menoleh ke arah Keisha yang berdiri sambil memunggungi dirinya.


"Karamel?!" desis Zoeya tanpa mengeluarkan suara, wanita itu tiba-tiba menjadi penasaran di buatnya.


"Iya bawel lo, gue 'kan sayang banget sama Karamel jadi gue bakal usahain lah buat jaga dia." ucap Keisha membuat hati Zoeya sakit, Zoeya mencengkeram kuat ulu hatinya yang tiba-tiba seperti sedang tertusuk belati.


"S*it!" umpat Zoeya mengeraskan rahangnya lalu wanita itu melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga. Tess! Air mata wanita itu jatuh tepat saat dirinya meniki tangga ke tiga.


Brakk ....


Zoeya menutup pintu kamarnya dengan kuat lalu dirinya bersadar di pintu itu, air mata wanita itu semakin deras mengingat kata-kata kakak tirinya di lantai satu tadi, bukan hanya Justin dan Leo yang menyayangi Karamel tapi kakak tirinya juga sangat menyayangi Karamel.


Ya, Karamel memang orang yang sangat baik, di mata semua orang, Karamel itu bagaikan berlian yang sangat indah sedangkan Zoeya, Zoeya selalu di pandang buruk dan jahat di mata semua orang.


"Haruskan aku katakan kau sangat beruntung di sayangi banyak orang, Karamel Listra?" tanya Zoeya mengeraskan rahangnya marah bercampur sedih. Kenapa dirinya tidak seberuntung itu? Kenapa dirinya di haruskan mendapatkan pandangan buruk di mata semua orang?


"Bahkan Kak Kei juga sangat menyayangimu," lirihnya, tubuh wanita itu perlahan merosot hingga terduduk lemah di lantai yang begitu dingin.


Zoeya sempat merasa senang karena kakak tirinya perlahan merubah sikapnya yang dingin menjadi lebih sedikit hangat padanya tapi pahitnya kenyataan bahwa memang di dalam hidupnya tidak ada cinta dan kasih sayang siapapun termasuk kakaknya.


"Aku iri padamu, Karamel Listra sialan." desis Zoeya memeluk kedua lututnya lemah.


.........


...Kediaman Keluarga Mahendra...


Ke esokkan harinya, di siang hari Keisha datang ke rumah Leo untuk mengunjungi istri sahabat masa kecilnya itu.


"Apa Leo enggak ngasih tahu kamu so'al dia yang pergi ke Irlandia kemarin pagi?" tanya Karamel pada Keisha.

__ADS_1


"Semalem dia udah ngasih tahu kok gue, Babe." ucap Keisha membuat Karamel terkekeh, nada suara Keisha seperti seorang bencong, sangat lucu.


"Terus kalo udah tahu, ngapain ke sini? Mau nemenin gue yang kesepian?" tanya Karamel menaik turunkan alisnya, beberapa hari ini mereka sering bertemu kini Karamel dan Keisha sudah sangat akrab. Cepat sekali bukan!


"Ehem! Ini penting sih babe tapi gue mau ngomong berduaan aja sama lo." ucap Keisha membuat raut wajah Karamel berubah serius.


Keisha menolehkan kepalanya menatap datar para bodyguard Leo lalu kepala pria itu bergerak untuk mengusir mereka semua, seketika mereka semua bergegas pergi dari ruang tengah atau ruang keluarga itu. Karamel sampai dibuat kaget karena Keisha bisa memerintah anak buah suaminya tanpa di bantah oleh mereka semua.


"Jangan kaget, semalem Leo udah ngomong sama mereka kalo gue bakal dateng ke sini dan gue yang bakal ngatur mereka semua." ucap Keisha dengan nada bossy dan Karamel hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Jadi gini Kar, semalem Leo udah cerita semuanya ke gue, Leo bilang dia terpaksa harus ke Irlandia karena perusahaannya lagi butuhin dia banget dan lo udah di ajak sama dia tapi lo enggak mau 'kan." ucap Keisha dan Karamel menganggukkan kepalanya cepat.


"Gue takut mual berlebihan," ucap Karamel.


"Gue paham tapu Leo bener-bener khawatir banget sama lo," kata Keisha dengan serius.


"Gue cape mau nanya ada apa sebenarnya tapi enggak ada jawaban atas pertanyaan gue!" ucap Karamel memasang tampang kesal.


"Bahaya yang luar biasa," sahut Keisha membuat Karamel menghela napas kecewa, suaminya pasti sudah memberitahu segalanya pada Keisha, tapi dirinya yang jelas-jelas adalah istri Leo malah di buat penasaran setengah mati.


"Terus?" tanya Karamel datar.


"Leo minta tolong sama gue buat bawa lo keluar dari rumah ini secepatnya," ucap Keisha membuat Karamel tertawa sinis.


"Jelas-jelas suami gue nyuruh gue buat diem di rumah dan dia ngelarang keras gue buat keluar dari rumah, terus kenapa bisa jadi berubah fikiran secepat ini?" tanya Karamel.


"Karena si berengs*k itu nekat mau nyerang rumah ini, Karamel sayang." batin Kesiha namun pria itu tidak bisa mengatakannya langsung pada Karamel atau dirinya akan di bunuh oleh sahabat masa kecilnya sendiri.


"Itu karena rumah ini udah enggak aman lagi, baby Karamel." ucap Keisha selembut mungkin membuat Karamel menyipitkan matanya, wanita itu tidak puas dengan jawaban Keisha barusan.


"Semalem Leo nemuin sesuatu yang aneh dari beberapa anak buahnya di rumah ini, lo ngerti 'kan maksud gue." ucap Keisha berbohong, pria itu berharap Karamel akan mengerti dan mempercayainya.


Karamel mengangkat kepalanya untuk menatap CCTV yang ada di ruang keluarga itu, wanita itu memasang raut wajah datar sambil matanya menatap sinis CCTV itu.


DI ruang kantor Irlandia, Leo menatap layar laptop di mana istrinya sedang menatap ke arah CCTV yang terhubung langsung dengan laptop Leo sehingga mereka berdua seperti sedang melakukan video call namun bedanya hanya Leo yang bisa melihat Karamel sedangkan Karamel tidak bisa melihat Leo.


Bluss !!!


Bisa-bisanya Leo di buat tersipu karena melihat tatapan intens istrinya itu. S*it! Leo jadi merindukan pelukkan dan ciuman istrinya.


"Berhenti natap CCTV sayang, aku enggak tahan lihatnya." gumam Leo masih tersenyum malu padahal Karamel tidak tahu jika suaminya itu sedang melihatnya.


Sementara itu Karamel yang masih menatap ke arah CCTV, wanita itu sudah mengerti apa yang di katakan Keisha barusan. Leo mengetahui keanehan para anak buahnya pasti dari CCTV yang ada di rumah itu. Puas menatap CCTV Karamel langsung berpindah menatap ke arah Keisha yang juga menatap dirinya.


"Lo tahu siapa suami gue yang sebenarnya?" tanya Karamel ingin memastikan apakah Keisha mengetahui tentang suaminya adalah seorang mafia atau tidak.


"CEO Rendra dari perusahaan Binondra Group!" ucap Keisha membuat Karamel menatap malas pria itu, ternyata pria itu tidak mengetahui sisi gelap suaminya.


"Oh ternyata enggak tahu!" desis Karamel tanpa suara namun Keisha bisa membaca lewat gerakkan bibir Karamel, pria itu tersenyum sinis saat Karamel tidak melihatnya.


"Tahu kok! Orang gue tangan kanan kedua dan Jeffry tangan kanan pertama Leo, masa iya gue enggak tahu. Malahan sebelumnya si idiot Leo itu enggak tahu kalo gue anaknya Josh Blende." batin Keisha terkekeh karena berbohong dengan istri sahabat masa kecilnya itu.


"Jadi gimana? Sekarang gue ikut lo?" tanya Karamel menatap Keisha namun Keisha malah menggelengkan kepalanya membuat Karamel memelotot heran.


"Enggak buat hari ini," ucap Keisha.


"Terus besok?" tanya Karamel menaikkan sebelah alisnya.


"Terus kapan? Nunggu gue di bunuh dulu sama penyusup yang pura-pura jadi anak buah suami gue?" sentak Karamel kesal, harap maklum ibu hamil itu memang sensitifan orangnya dan baru saja Karamel terpancing emosi karena Keisha seperti sedang mempermainkannya.


Glukk !!!


Keisha tersentak keget kala melihat Karamel membentak dirinya, suara wanita itu mampu membuat jantung Keisha berdegup dua kali lebih cepat karena sangat keras. kenapa lebih menyeramkan dari Leo? Fikir Keisha.


"Eng-enggak gitu juga, m-maksud gue ... aduh kenapa jadi gagap gini sih gue." Keisha membentak dirinya sendiri kerena tiba-tiba saja dirinya menjadi gagap.


Di sebrang sana, Leo tertawa keras karena untuk pertama kalinya Leo melihat Keisha berbicara gagap, dan itu di sebabkan oleh bentakkan istrinya. Selama ini Leo sering membentak para anak buahnya termasuk pada Keisha dan Jeffry namun itu tidak pernah membuat Keisha takut sedikitpun, mungkin itu di sebabkan karena mereka adalaj sahabat baik.


Keisha menarik napas dalam-dalam lalu ia hembusan dengan pelan sebelum pria itu menatap Karamel dan tersenyum lebar, "Gini Karamel Listra kesayangan gue, hari ini gue dateng ke sini terus besok gue dateng lagi ke sini dan besoknya lagi gue dateng lagi ke sini em pokoknya sampai tiga kali kali deh. Nah! Di hari ke empat lo baru ikut gue keluar!" ucap Keisha sambil mengedipkan sebelah matanya.


Karamel menikkan sebelah alisnya, itu artinya apa yang di katakan Karamel tadi benar, menunggu Karamel di bunuh dulu oleh penyusup yang berpura-pura menjadi anak uah suaminya baru setelah itu Keisha akan membawanya keluar dari rumah.


"Nunggu gue jadi mayat dulu gitu baru lo bawa gue keluar dari sini?" tanya Karamel sinis membuat Keisha menghela napas kasar.


"Gue jamin seribu persen lo bakal aman sampai hari em sunday, monday, tuesday, wednesday. Nah sampai hari tuesday dan di hari wednesday-nya gue bakal jemput lo buat keluar dari sini." ucap Keisha sambil jarinya menghitung hari di mana dirinya akan membawa Karamel keluar dari kediaman Leo.


"Fine!" sahut Karamel patuh karena Karamel percaya Keisha tidak mungkin mengambil keputusan begitu saja tanpa di setujui oleh suaminya terlebih dahulu.


"Bagus bumil nurut," ucap Keisha bernapas lega karena semalam Leo mengatakan Karamel itu susah di bujuk jadi Keisha sempat deg-degan dan khawatir dirinya tidak akan berhasil membuat Karamel menuruti perintahnya.


"Gue yakin si berengs*k itu pasti bakal nyelidikin mobil gue yang keluar-masuk rumah Leo dan setelah dia tahu pemilik mobil itu Keisha Sam Blende-lah orangnya. Dia pasti bakal nyari tahu istri Leo ikut mobil gue atau enggak. Di hari pertama, kedua dan ketiga, si berengs*k itu bakal lihat gue keluar-masuk rumah Leo sendirian tanpa bawa istri Leo, tapi di hari keempat, si berengs*k itu enggak akan nyangka gue bakal bawa Karamel keluar dari rumah Leo di hari keempat itu." batin Keisha sudah memperkirakan semuanya.


.........


Di dalam mall, seorang pria sedang duduk di restoran mall itu dengan di temani oleh dua bodyguardnya, mata pria itu mantap tajam ke arah layar laptop yang menampilkan halaman luar rumah keluarga Mahendra.


"Ikuti mobil itu dan cari tahu siapa pemiliknya," pria itu memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki mobil Keisha yang baru saja keluar dari kediaman Leo.


"Map apa yang kau bawa? Berikan kepadaku," tanya pria itu sambil mengangkat tangannya ke arah salah satu bodyguardnya.


"Ini adalah informasi lelaki kemarin yang datang ke kediaman Mahendra, bos." ucap anak buah pria itu memberikan map berisi informasi tentang laki-laki yang datang ke kediaman Leo kemarin sore dan laki-laki itu adalah Adit.


"Hanya seorang mahasiswa biasa," ucap pria itu tidak membaca informasi lengkapnya karena melihat tampang Adit saja, pria itu itu sudah bisa mengetahui kalau Adit bukanlah tandingannya yang sangat hebat itu.


Pria itu mengibaskan tangannya untuk memerintahkan kedua anak buahnya pergi dari sana karena wanita yang ia tunggu sejak beberapa menit yang lalu sudah ada di depan pintu restoran.


"Masih saja suka telat," ejek pria itu saat wanita itu duduk di depannya.


"Kenapa kau mengajakku bertemu, apa kau ingin melancarkan rencanamu sekarang?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.


"Seharusnya kemarin adalah waktu yang baik untuk menculik Karamel tapi ternyata itu tidak mudah," ucap pria itu memasang raut wajah kesal saat dirinya diberitahu anak buahnya kalau isi rumah itu ada ratusan anak buah Leo.


"Memang apa susahnya? Dia hanyalah seorang wanita biasa sedangkan ...."


"Dia bukan wanita biasa, kau tidak tahu siapa dia yang sebenarnya." ucap pria itu mengetahui siapa Karamel yang sebenarnya.


"Ohya! Apa maksudmu dia adalah ratu iblis?" tanya wanita itu mengerutkan dahinya dengan malas dan pria itu menganggukkan kepalanya.


"Dia ...."

__ADS_1


Brukk ....


"Agh! Apa kau tidak punya mata, jalan saja masih menabrak orang lain." bentak seorang wanita merasa kesal pada seorang pria karena pria itu menjatuhkan cap es cappuccino-nya ke rok yang di pakai oleh Zoeya.


"Maaf maaf, saya enggak sengaja ...."


"Pergi sana," bentak Zoeya membuat pria itu langsung bejalan pergi meninggalkan Zoeya.


"Menyebalkan," umpat Zoeya.


Dari dalam restoran, Pria itu tidak menyelesaikan perkataannya karena dirinya mendengar suara Zoeya, pria iti berdiri dari tempat duduknya saat melihat wanita yang ia rindukan berdiri di depan pintu restoran itu namun wanita itu hendak pergi dari sana, segera pria itu berlari untuk mencegah wanita itu pergi.


Grebb !!!


"Aku merindukanmu, sayang." ucapnya membuat tubuh wanita itu tepaku di tempatnya karena wanita itu sangat mengenal pemilik suara itu.


"Sial! Kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi?" batin Zoeya kesal karena dirinya bertemu dengan pria yang sangat ia hindari.


"Lepas!" sengit Zoeya mengepal tangannya, wanita itu merasa risih karena banyak sekali mata yang memandang mereka berdua.


"Zoeya ...."


"Aku bilang lepas!" bentak Zoeya melepas paksa tangan pria itu dari tubuhnya lalu Zoeya memutar tubuhnya untuk menatap pria itu.


"Sudah berapa kali aku peringatkan jangan pernah mengganggu hidupku, aku sudah ...."


"Apa itu karena kemarin Keisha telah melecehkanmu," sengit Zayn. Ya! Pria itu adalah Zayn, mantan tunangan Zoeya yang sangat Zoeya benci.


"Tutup mulutmu, bajin*an!" sentak Zoeya memelotot marah sambil menunjuk wajah Zayn.


"Walau aku tahu Keisha yang memaksamu tapi mendengar suara de***anmu kemarin, hatiku merasa sangat sakit Zoeya!" lirih Zayn dengan mata berkaca-kaca, Zoeya mengepal tangannya kuat. Gara-gara perintah kakak tirinya kemarin, Zayn jadi salah paham dengan dirinya dan Keisha.


"Itu bukan ...."


"Jadi ini mantan tunanganmu?" tanya seorang wanita dari arah belakang Zayn, dia adalah mantan kekasih Leo yang sangat terobesi dengan Leo, siapa lagi kalau bukan Widia.


"Widia?!" ucap Zoeya tampak kaget karena bertemu dengan mantan pacar Leo lagi.


"Zoeya?!" ucap Widia pun tampak terkejut karena ternyata mantan tunangan Zayn adalah Zoeya, wow! Beruntung sekali wanita itu bisa bertunangan dengan pria tampan seperti Zayn! Fikir Widia.


Zoeya mengeratkan dahinya lalu wanita itu menatap ke arah Zayn, "Waw! Kalian saling mengenal satu sama lain rupanya?!" ucap Zoeya.


"S-sayang, aku mohon kau jangan salah paham dulu ...."


"Apa? Salah paham? Dengan siapa? Kalian berdua? Oh tentu saja tidak Zayn, aku bahkan sangat bersyukur kau bisa mendapatkan penggantiku, walau sebenarnya wanita ini sangatlah murahan karena mendekati dua pria sekaligus tapi sepertinya dia sangat cocok denganmu." ucap Zoeya sambil mengejek Widia yang sangat terobsesi dengan suami Karamel tapi malah berkencan dengan Zayn.


"Kau ...."


"Aku do'akan semoga kalian sampai pelaminan karena dengan begitu kau tidak perlu lagi mengganggu hidupku karena aku benar-benar sangat muak melihat wajahmu, Zayn." sengit Zoeya menatap tajam ke arah Zayn dan wanita itu mengabaikan Widia yang hendak marah karena di katai murahan oleh Zoeya.


"Tidak Zoeya dengarkan aku, aku dan wanita sialan ini hanyalah sebatas rekan kerja saja, Sayang. Aku mohon percaya padaku, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya!" ucap Zayn cepat, pria itu takut sekali Zoeya akan merasa cemburu padahal kenyataannya Zoeya sangat gembira saat Zayn bisa menemukan penggantinya.


"Rekan kerja?" gumam Zoeya.


"Iya sayang, kami hanya rekan kerja saja." ucap Zayn membuat Zoeya menyipitkan matanya curiga, wanita itu langsung mengerti dengan arah pembicaraan Zayn.


Karena memang dari awal Widia pernah mengajak Zoeya untuk bekerja sama untuk menghancurkan rumah tangganya Karamel dan Leo. Zoeya jadi paham dengan kerja sama yang di maksud Zayn, wanita itu menggelengkan kepalanya pelan. Benar-benar manusia yang tidak punya hati nurani, Zoeya benci manusia spesies Zayn yang tega menghancurkan hidup orang lain karena dendam.


"Kak kei?!" batin Zoeya mengingat semalam kakak tirinya itu ingin menjaga Karamel, itu artinya kakak tirinya akan ikut terlibat juga.


"Sial !!" umpat Zoeya membalikkan badannya untuk berlari menuju eskalator, wanita itu harus memberitahu kakak tirinya prihal Zayn yang ingin mencelakai Karamel.


"Zoeya ...." Zayn berteriak sambil berlari menyusul Zoeya namun sayangnya Zayn kehilangan jejak Zoeya, wanita itu cepat sekali menghilang dari keramaian mall.


"Aggghhh !!!" Zayn mengerang frustasi karena wanita yang ia rindunya pergi tanpa sempat ia ajak bicara sebentar.


"Jangan bod*h mengejar wanita yang tidak mengharapkan dirimu lagi, Tuan Zayn yang terhormat. Lagi pula masih banyak wanita di luar sana bisa kau kencani atau bahkan bisa kau tiduri sekalian, tidak harus mantan tunanganmu itu." ucap Widia sambil menyilang kedua tangannya di perut, Zayn menatap tajam ke arah Widia.


"Berkacalah sebelum bicara, kau bahkan lebih parah dariku, Zoeya adalah mantan tunanganku yang setidaknya kami pernah saling mencintai satu sama lain sedangkan kau, kau hanya lah sebatas mantan pacar yang tidak pernah di anggap oleh Leo tapi kau begitu terobsesi dengannya sampai ingin merebut posisi Karamel sebagai nyonya Rendra. Jadi siapa yang bod*h sekarang? Kau bukan." ejek Zayn manikkan sebelah sudut bibirnya sinis.


Widia mengeraskan rahangnya emosi karena dirinya di katakan bod*h oleh Zayn namun wanita itu bisa apa, dirinya tidak punya keberanian untuk membentak ataupun marah karena wanita itu sangat sadar bahwa pria yang ada di depannya ini adalah orang yang berbahaya.


.........


...Kediaman Keluarga Blende...


Sesampainya di halaman rumah, Zoeya langsung keluar dari mobilnya lalu ia berlari masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan kaka tirinya, mulai dari ruang kerja, gazebo di kolam berenang, halaman belakang hingga ke lantai dua, Zoeya telusuri semuanya tapi tidak ada tanda-tanda kakak tirinya itu ada di dalam rumah.


"Bukannya mobil Kak Kei tadi ada di depan ya?" gumam Zoeya dengn napas terengaj-engah lalu Zoya kembali berlari menuju lantai satu.


"Apa kalian melihat Kak Keisha ada di mana sekarang?" tanya Zoeya langsung pada para pelayan rumah yang sedang sibuk beres-beres rumah namun mereka hanya diam saja membuat Zoeya mengeraskan rahangnya kesal.


"Kenapa kalian malah diam semua? Jawab aku di mana Kak kei sekarang!" bentak Zoeya sambil memelototi mereka semua membuat mereka semua menundukkan kepala takut.


"Den Keisha sudah pulang beberapa menit yang lalu tapi setelah pulang, Den Keisha pergi lagi menggunakan motornya, Nona." ucap sang kepala pelayan.


"Ke mana?" tanya Zoeya mendesak.


"Kami tidak tahu, Nona." sahutnya membuat Zoeya mengumpat kesal lalu wanita itu pergi ke perpustakaan rumahnya.


"Berengs*k kau Zayn !!" umpat Zoeya sambil duduk di kursi perpustakaan itu.


"Zayn bukan orang biasa, dia adalah pimpinan mafia The Black Tongue. Ambisi dia buat ngehancurin hidup Karamel sama Kenzi itu udah terlalu besar sejak beberapa tahun yang lalu, aku harus ngelakuin sesuatu buat bantu mereka biar selamat dari Zayn." gumam Zoeya sambil memejamkan matanya lemah, namun seperdetik kemudian mata wanita itu membulat sempurna.


"Eh! Sejak kapan aku perduli dengan hidup wanita sialan itu?" sentak Zoeya tanpa sadar dirinya mengkhawatirkan hidup orang lain dan itu adalah hidup Karamel, wanita yang tidak pernah ia suka sejak sekolah menengah pertama dulu.


"Enggak-enggak, aku enggak mungkin perduli sama si Karamel sialan itu, yang aku perduliin cuma keselamatan Kak Keisha, iya Kak Kei! Kak Kei 'kan mau ngejagain Karamel dan aku ... aku hanya perduli sama Kak Kei bukan sama Karamel sialan itu." gumam Zoeya menyangkal bahwa dirinya tidak perduli dengan Karamel tapi dengan kakak tirinya.


.


.


.


::: Bersambung :::


...Pada ingat sekarang? Zayn itu leader The Black Tongue, musuhnya K-King/Kenzi?...


...Tapi kok Zayn bisa tahu ya tentang dunia gelapnya Karamel sama Kenzi? Pada penasaran enggak nih?...

__ADS_1


.......


...Yang minta lanjut, coba komen dong....


__ADS_2