Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 242 (Takdir)


__ADS_3

Di perjalanan menuju pesta ulang tahun Niky, entah kenapa sejak di rumah hingga mereka berada di dalam mobil bahkan kini mereka hampir sampai di tempat tujuan, Karamel tidak bosan-bosannya bertanya so'al penampilannya kepada Leo.


"Beneran udah bagus belum sih Mas penampilan aku?" tanya Karamel entah untuk keberapa kalinya membuat Leo sebenarnya lelah untuk memjawabnya.


"Udah bagus sayang, udah cantik kok." sahut Leo dengan sabar.


"Tapi ...." ucapan Karamel di sela Leo.


"Enggak ada tapi-tapian ...." tapi Karamel kembali menyela.


"Aku keliatan gendut ya?" tanya Karamel membuat Jeffry refleks menutup mulutnya dengan tangan karena dirinya hampir ingin tertawa atas pertanyaan nyonya bosnya itu.


Sedangkan Leo menaikkan kedua alisnya merasa aneh dengan pertanyaan istrinya, Karamel sedang hamil enam bulan jadi wajar jika istrinya itu terlihat gendut namun Leo berfikir jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, mungkinkah istrinya itu tidak akan marah?


"Enggak kok sayang, kamu kelihatan, yeah kelihatan ...." Leo berfikir keras bagaimana untuk mengatakannya. Jika Leo mengatakan tubuh istrinya langsing, itu pasti akan membuat Karamel mengoceh panjang karena dirinya berbohong tapi jika Leo mengatakan perut istrinya gendut, otomatis wajah istrinya akan langsung berubah murung.


"Kelihatan apa?" tanya Karamel buru-buru ingin mendengar jawaban suaminya.


"I mean, di perut kamu 'kan ada si junior Sayang," ucap Leo langsung di sela oleh Karamel.


"Jadi aku kelihatan gendut ya, Mas." lirih Karamel, dan benar saja wajahnya berubah murung.


"Enggak juga sayang tapi iya, itu karena perut kamu berisi juga sayang tapi ya cuma dikit doang kok," ucap Leo serba salah mengucapkannya.


"Dikit juga tetap aja gendut 'kan." cemberut Karamel mengelus perutnya yang buncit, Karamel tidak menyalahkan perutnya yang buncit namun Karamel merasa kesal karena malam ini dirinya pasti akan bertemu dengan mantan suaminya yang mungkin akan jauh lebih se*si darinya.


Jeffry benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak ketika melihat bosnya di landa kesulitan karena menghadapi istrinya yang entah kenapa sangat perduli sekali dengan penampilannya malam ini.


"Jangan cemberut gitu dong sayang, walau kamu lagi hamil gini, aura kecantikan ibu hamil itu dua kali lipat dari biasanya loh." ucap Leo mengelus perut Karamel membuat tubuh Karamel berdesir merinding.


"Masa iya?" tanya Karamel dan Leo menganggukkan kepalanya.


"Di acara ulang tahun sahabat kamu sendiri, mungkin aja kamu yang bakal jadi pusat perhatian mereka." ucap Leo dengan nada suara yang berbeda, mungkin jiwa kecemburuan suaminya itu akan meronta-ronta malam ini. Jika Karamel bisa menyadarinya nanti.


"Jangan konyol deh kamu, yang bakal jadi toko utama malam ini adalah Niky Gasena Wilson bukan aku." ucap Karamel.


"Tuan–Nyonya kita sudah di barisan menuju gerbang utama, sebentar lagi kita akan masuk karena kita berada di barisan ke tiga dari depan." ucap Jeffry memberitahu Leo dan Karamel.


"Ternyata restoran milik Diky sama besarnya sama restoran bintang lima ya, Mas." ucap Karamel menatap keluar jendela.


"Ini bukan milik Diky tapi restoran ini udah atas nama kakaknya Diky," ucap Leo.


"Diky punya kakak?" tanya Karamel baru tahu.


"iya, kakak perempuan." jawab Leo.


"Tapi kakaknya Diky udah nikah delapan tahun yang lalu dan karena bakat kakaknya Diky menurun dari Ayahnya Diky yang pintar dalam bidang berbisnis jadi Ayahnya Diky menyerahkan beberapa aset perusahaan dan restoran sama kakaknya Diky." tambah Leo.


"Terus gimana sama Diky, dia 'kan anak laki-laki. Masa iya penerus perusahaan Ayahnya malah di turunin ke kakaknya bukan ke dia?" tanya Karamel.


"Diky bilang dia punya pilihan sendiri buat gapai kesuksesannya sendiri, enggak harus jadi CEO juga, dia pasti bisa jadi orang sukses. Asal ada usaha, tekad yang gigih dan dukungan orang tuanya, gelar apapun pasti bisa dia dapat dengan hasil usahanya sendiri." ucap Leo.


"Aku enggak nyangka ya, Diky yang kerjaannya suka bercanda-bercandaan doang sama Adit ternyata pemikirannya bisa sejauh itu buat masa depan dia." ucap Karamel.


"Tapi dia 'kan bentar lagi mau nikah sama Niky, masa iya enggak ada kerjaan apapun buat tanggungan kebutuhan mereka sehari-hari." ucap Karamel lagi.


"Tapi enggak sih, Niky 'kan anak kesayangan Daddynya jadi enggak mungkin juga hidup mereka bakal kesulitan ya." gumam Karamel mengingat kembali tentang keluarga Niky yang sangat menyayangi Niky bagaikan tuan putri yang selalu di manja dan di penuhi segala kebutuhannya.


"Jadi maksud kamu Niky itu anak manja!?" tanya Leo.


"Ish, bukan Niky-nya yang manja tapi orang tuanya yang manjain dia." ucap Karamel.


"Makanya waktu Diky ngelamar Niky, orang tuanya Niky enggak tanggung-tanggung mau langsung nikahin mereka." ucap Leo tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Ish,"


"Tuan-Nyonya kita sudah sampai." ucap Jeffry menghentikan percakapan mereka berdua.


.........


"Tega lo Nik buat gue enggak bisa tidur malem ini." ucap Bobby jengkel.


"Ehem, malem semua. Udah lama enggak ketemu apa kabar kalian semua?" tanya seorang wanita yang tak lain dan tak bukan dia adalah Widia.


"Widia?!" ucap Dito mengerutkan dahinya heran kenapa wanita yang telah menghilang selama bertahun-tahun kini ada di pesta ulang tahunnya Niky.


"Eh hai Dito, udah lama enggak ketemu lo makin keren aja ya." ucap Widia tersenyum manis.


"Oh hai juga," sahut Dito namun nada suaranya terdengar terpaksa, mungkin Dito masih merasa kecewa dengan Widia.


"Bobby, astaga hai Bob udah lama enggak ketemu, lo masih gendut aja ya!" sapa Widia melambaikan tangannya.


"Hai," sahut Bobby sama seperti Dito antara niat tak niat menjawab sapaan Widia.


Dan secara bersamaan Diky dan Adit langsung memutar bola mata jengah, rasanya mereka muak dengan wanita penuh drama itu.


"Adit—Diky hai! Udah lama enggak ketemu, kalian apa kabar?" tanya Widia pelan tanpa berhenti tersenyum lebar.


"Ehem ehem! Gue yakin mata lo enggak buta 'kan lihat gue sama Diky baik-baik aja sekarang," sahut Adit pedas.


Senyuman yang tadinya merekah seketika berubah kaku, "Syukur deh kalian baik semua." ucap Widia.


"Oh iya kamu Niky Gasena Wilson 'kan, Happy Birthday ya buat kamu." ucap Widia mengulurkan tangannya ke hadapan Niky.


"Hem, makasih." sahut Niky menjabat tangan Widia.


"Tadi dari kejauhan aku ngeliat kalian ngobrol, aku enggak nyangka loh ternyata anak-anak SALF BADRAD bisa nerima perempuan lain selain Saysa buat jadi teman mereka, sekarang udah pada berubah ya." ucap Widia entah apa maksudnya berbicara demikian.


"Maksudnya apa nih ngomong kayak gini sambil ngelirik-ngelirik gue," batin Niky tersenyum aneh menatap Widia.


"Biasanya ya anak-anak SALF BADRAD itu pada enggak mau nerima perempuan manapun buat jadi temen mereka karena satu-satunya perempuan yang boleh jadi temen baik mereka itu ya cuma Sasya doang." tambah Widia mulai sok akrab dengan Niky membuat Niky agak risih karena siapa Widia ini yang seakan-akan sangat mengenal dekat dirinya.


"Beruntung sih kamu bisa di terima jadi temen mereka, tapi aku juga pernah loh jadi temen baik mereka malahan aku pernah pacaran sama salah satu dari mereka." ucap Widia tak henti-hentinya berbicara.


"Ck! Siapa yang pernah nganggap dia jadi temen baik kita." sarkas Diky dengan sinisnya.


"Habis ngekhayal, maklumin aja." timpal Adit mengejek Widia.


Widia terdiam sejenak, dirinya mengeraskan rahang kesal dan ingin marah mendengar ejekkan Diky dan Adit namun dirinya harus tetap menjaga image-nya di depan semua orang jadi Widia harus tetap tersenyum walau di ejek habis-habisan oleh dua orang itu.


"Oh iya Leo mana ya?" tanya Widia tiba-tiba.


Dito berdecih karena ternyata Widia tidak berubah, masih saja mencari sosok Leo yang jelas-jelas tidak pernah menganggapnya ada.


Dan seperdetik kemudian Leo datang dengan penuh pesonanya malam ini, "Baru dateng lo, Man." ucap Adit menatap ke arah belakang Widia dan mengabaikan Widia.

__ADS_1


Semua anak-anak SALF BADRAD serta Niky dan Widia menoleh ke arah Leo. Ralat, semua orang yang ada di pesta itu memandang kagum ke arah Leo yang begitu tampan dan juga berwibawa.


Widia tersenyum lebar menatap Leo, "Leo ....!!!" gumam Widia dengan detak jantung yang dag dig dug serrrr.


Leo terus berjalan hingga mendekati Widia, "Le ...." seketika Widia terdiam kala Leo berjalan melewati dirinya seakan-akan dirinya tidak di anggap oleh laki-laki yang masih sangat ia cintai.


"Mana Kara?" tanya Niky mengerutkan dahinya.


"Di toilet," sahut Leo.


"Lo lo ninggalin dia sendirian, bener-bener gila lo ya." pelotot Niky garang.


"Lo kayak enggak kenal Kara aja sih Nik, dia maksa gue buat duluan tadi, tapi gue udah nyuruh asisten pribadi gue buat nungguin dia." ucap Leo membuat Niky merasa lega.


"Leo," panggil Widia menepuk punggung Leo.


Leo mengerutkan dahinya menatap tajam Diky dan Adit secara bergantian kemudian dirinya menghela napas panjang ketika Diky dan Adit serentak tersenyum sinis.


Perlahan Leo membalikkan badannya menghadap Widia sampai-sampai senyuman Widia semakin merekah, "Hai! Kamu kamu apa kabar?" tanya Widia dengan berseri-seri.


"Baik," sahut Leo datar.


"Enggak nyangka ya kita bisa ketemu lagi di sini, kamu kamu makin ganteng aja ya sekarang." ucap Widia memuji Leo, rasanya hati Widia di penuhi banyak bunga mawar yang bermekaran kala bisa bertemu lagi dengan mantan kekasihnya yang masih sangat ia cintai.


"Lo juga ...." ucap Leo membuat detak jantung Widia semakin berdegup kencang.


"Makasih ...." ucapan Widia langsung di sela Leo.


"Enggak berubah, masih bisa aja." tambah Leo membuat Adit, Diky dan Bobby tertawa kecil mengejek Widia yang langsung hilang senyumannya.


"Hehe kamu masih suka bercanda ya kayak dulu, gemes deh! Ohya ngomong-ngomong kamu udah punya pengganti aku? Ah ma-maaf maksud aku apa kamu udah punya pacar?" tanya Widia membuat mereka semua merasa muak, lain dengan Niky yang mengerutkan dahinya meresapi kata-kata Widia barusan.


"Jadi mantan yang dia maksud itu Leo," batin Niky.


"Enggak ada," sahut Leo cuek dan itu membuat Niky memelotot kaget.


"Apa-apaan lo ... hemp ...." Niky yang hendak mengomeli Leo langsung di bungkam mulutnya oleh Diky.


"Sayang, jangan ikut campur dulu ya, nanti berabe loh urusannya." bisik Diky membuat Niky menghela napas pasrah kala kekasihnya melarangnya untuk bicara.


"Ehem, belum bisa move on ya dari aku." ucap Widia bercanda namun mereka semua merasa jijik melihatnya.


"Ternyata gue beneran udah di be*oin sama yang namanya cinta, hah! Bisa-bisnya gue pernah naksir sama ni cewek," batin Dito menatap sinis ke arah Widia.


"Heh Widia, tebal banget ya muka lo ngomong kayak gitu sama Leo." ucap Adit mengatai Widia.


"Selamat malam semua," sapa Karamel dengan anggunnya menghampiri mereka.


"Lama banget di toilet," ucap Leo mendekati Karamel lalu menuntun Karamel untuk duduk di samping Adit.


"Duduk sini Kar." ucap Adit menepuk kursi di sampingnya kemudian Karamel duduk di sana.


"Emang bener ya kata orang-orang, pesonanya bumil itu dua kali lipat dari biasanya apalagi bumil muda kayak lo, Kar. Cantiknya berlipat-lipat ganda deh pokoknya." ucap Diky memuji kecantikan Karamel.


"Apaan sih lo Dik, biasa aja kalik." ucap Karamel.


"Jangan sensi dong bumil, di puji loh itu bukan di ejek." ucap Bobby.


"Iya, enggak kok Bobby." sahut Karamel tersenyum lebar.


"Tapi emang bener loh Kar, penampilan lo spektakuler banget malam ini." ucap Adit juga memuji penampilan Karamel.


"Alasan kita telat ya ini, kelamaan dandan sampai jadi secantik ini." ucap Leo mendapatkan cubitan kecil dari Karamel di pinggangnya hingga Leo meringis kecil di buatnya.


"Nyinyir banget sih," kesal Karamel.


"OMG! Siapa sih ni cewek, dateng-dateng langsung di sambut baik sama mereka semua terus kenapa coba dia di puji-puji kayak gitu sama mereka semua dan lagi kenapa Leo akrab banget sama ni cewek sampai-sampai ni cewek bisa berangkat bareng Leo. Errg! Bikin gue marah aja ni cewek." batin Widia merasa dirinya di abaikan sejak Karamel hadir di tengah-tengah mereka.


"Ehem," suara batuk Widia mengalihkan pandangan mereka semua ke arahnya.


"Eh maaf, kelepasan." ucap Widia tersenyum menatap Karamel membuat Karamel mengerutkan dahinya aneh.


"Anda siapa?" tanya Karamel menyelidik, pasalnya Karamel merasa tatapan Widia menujukkan rasa tidak suka terhadap dirinya.


"Oh kenalin aku Widia Monalisa, mantan pacarnya Cleo Rendra Agata." ucap Widia memperkenalkan dirinya dengan sengaja menyebut Leo sebagai mantan kekasihnya.


Karamel terdiam membuat mereka semua merasa gelisah, "Heh Widia ...."


"Ehem! Anda mantan pacarnya siapa tadi?" tanya Karamel memotong perkataan Adit yang hendak memarahi Widia.


"Mantan pacarnya Cleo Rendra Agata," ucap Widia tersenyum lebar.


Seketika tangan sebalah kanan Karamel terkepal sempurna, "Em maaf! Gunanya anda mengatakan bahwa Leo adalah mantan pacarnya anda kepada saya, itu apa ya?" tanya Karamel membuat Widia tersentak.


"Apakah menurut anda itu adalah etika yang baik untuk memperkenalkan diri anda kepada orang lain, dengan membawa-bawa nama mantan pacar anda?" tanya Karamel lagi dan Widia hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, bingung harus menjawab apa!


Sedangkan Diky dan Adit tersenyum sinis sembari melakukan fist bump kala Karamel berhasil membuat Widia bungkam.


"Atau mungkin anda menganggap saya sebagai saingan anda, makanya anda mengatakan bahwa anda adalah mantan pacarnya Leo secara terang-terangan?" tanya Karamel semakin mengintimidasi.


"Enggak kok, aku cuma ngomong asal aja tadi, enggak ada maksud kayak gitu. Beneran !!" ucap Widia cepat dan gugup.


"Anda lihat perut saya yang buncit ini, di sini ada bayi kami yang sudah berumur enam bulan dan sebentar lagi akan masuk bulan ke tujuh." ucap Karamel mengelus perut buncitnya.


Widia menaikkan kedua alisnya tidak mengerti kenapa Karamel berucap demikian, "Maaf, aku enggak ngerti maksud kamu ngomong kayak gitu apa ya?" tanya Widia membalikkan ucapan Karamel tadi.


"Ayah dari anak ini adalah Cleo Rendra Agata," ucap Karamel membuat detak jantung Widia bedegup terkejut.


"A-anaknya Leo?!" ucap Widia melongo kaget.


"Apa! Leo, kamu udah nikah?" tanya Widia menatap ke arah Leo.


"Benar! Kami sudah menikah jadi Nona Widia selagi anda punya harga diri sebagai seorang wanita, saya beritahu anda untuk berhenti menatap suami saya karena anak yang ada di kandungan saya tidak suka jika papanya di pandang oleh wanita lain selain mamanya." sarkas Karamel langsung memberi peringatan kepada Widia.


"Bukannya tadi Leo ngomong dia enggak punya pacar," ucap Widia rasanya tidak percaya dengan kata-kata Karamel.


"Masih aja be*o ni cewek, Leo ngomong enggak ada pacar itu karena dia udah punya istri." ucap Adit.


"Dan lo ngomong apa tadi, Leo belum bisa move on dari lo? Ck! Yang ada lo tu enggak pernah di anggap tahu enggak di kehidupan Leo." timpal Diky sangat menyenangkan bila mengejek Widia.


"Ini pasti enggak bener. Leo, aku mau denger dari mulut kamu sendiri, bilang ke aku kalo yang di omongin perempuan itu enggak bener." pinta Widia memohon namun Leo hanya diam menatap Widia dengan sinis.


"Kamu enggak ngomong apa-apa, itu artinya ...." ucapan Widia di sela langsung oleh Leo.


"Gue emang udah nikah dan nama istri gue Karamel Listra Najasi Aramoy." ucap Leo merangkul pinggang Karamel dengan mesra.

__ADS_1


"Tega kamu ngomong kayak gitu ke aku," lirih Widia tidak menerima pengakuan dari Leo.


"Apa kamu lupa aku pernah ngilangin sesuatu yang paling berharga dalam hidup aku demi kamu, demi bisa bersatu lagi sama kamu, Leo." lirih Widia membuat Dito dan Bobby membelalakkan mata kaget karena Widia berani mengungkit masa lalunya di depan istri Leo. Padahal jika Dito dan Bobby tahu, Karamel sudah mengetahui sedikit masa lalu Widia dari Diky dan Adit.


"Cukup Widia, masa lalu enggak perlu lo ungkit-ungkit di sini," pekik Diky terpancing emosi.


"Lagian nyadar diri dong, penderitaan lo itu emang berawal dari kesalahan lo sendiri." timpal Dito angkat bicara.


"Kalian ...."


"Stop! Jangan sampai lo berani rusak acara ulang tahun gue gara-gara lo enggak terima Leo udah nikah sama sahabat gue atau gue bakal usir lo sekarang juga." ancam Niky menatap Widia yang hampir akan menangis.


"Mending lo pergi deh dari hadapan kita semua, muak gue lihat muka dramatis lo." ucap Diky mengusir Widia secara terang-terangan.


Dan secepatnya Widia pergi dari hadapan mereka semua, entah ke mana.


"Untung jinak tu cewek, sekali di usir langsung pergi." ucap Adit.


"Jadi dia yang namanya Widia?!" gumam Karamel menyipitkan matanya seakan-akan sedang meredam amarah yang ingin ia luapkan segera.


"Sayang ...."


"Dia masih berharap sama kamu," ucap Karamel menatap Leo.


"Lo tenang aja Kar, Leo mah udah cinta mati sama lo jadi dia enggak akan mungkin berpaling dari lo." ucap Diky membantu Leo agar Karamel tidak marah pada sahabatnya itu.


"Yeah! Semoga aja dia enggak jadi pelakor kayak yang di sinetron-sinetron TV, kalo sampai dia kayak gitu. Aku harap kamu bisa tegas ngehadapain dia, Mas." ucap Karamel sangat tidak suka jika harus mengurus masalah tidak penting.


.........


...Malaysia....


Malam ini Faza keluar bersama Dafa dan Lily, entah ke mana dua orang itu akan membawa Faza demi bisa menghibur suasana hatinya yang baru saja memutuskan untuk tidak dekat lagi dengan Gina.


"Za, kita ke rumah Lily aja ya sekarang." ucap Dafa.


"Ngapain? Gue 'kan nerima ajakkan kalian itu karena gue mau ke cafe aja." tolak Faza karena dirinya sangat paham dengan kedua temannya itu jika sudah berduaan, dirinya pasti akan di abaikan.


"Lily mau ngundang temen-teman cewek dia buat party kecil-kecilan, siapa tahu nanti ada yang cocok 'kan sama lo." ucap Dafa.


"Ya udah anterin gue ke cafe dulu, abis itu lo berdua boleh pergi party." sahut Faza tidak tertarik sama sekali.


"Ya ampun Faza kok lo kayak cewek banget sih, kita 'kan ngajak lo keluar buat seneng-seneng bukan buat galau-galauan." oceh Lily.


"Gue cuma mau suasana yang tenang, Ly." ucap Faza malas.


"Kuburan sana," bentak Lily kesal.


"Lagian gue masih enggak habis fikir deh sama lo, kurang baik apa coba Gina sampai-sampai lo enggak bisa suka sama dia sedikitpun." oceh Lily masih merasa kesal dengan Faza karena tadi siang saat di kampus, Faza dan Dafa sudah menjelaskan segala keputusan Faza yang tidak akan mendekati Gina lagi.


"Udahlah jangan di bahas lagi, kayak yang lo enggak pernah ngalamin di posisi gue aja. Gue denger beberapa minggu yang lalu ada pemuda yang dateng ke rumah lo buat ngajak lo ta'arufan 'kan. Kenapa lo enggak terima tu cowok padahal gue denger cowoknya berasal dari Yaman, rajin ngaji sama hafiz Al-qu'ran juga bahkan sikap dia jauh lebih baik dari cowok lo yang bobrok ini." balas Faza membuat Lily membelalakkan matanya.


"Itu karena lo udah terlanjur sayang 'kan sama Dafa." tambah Faza membuat Lily bungkam seribu bahasa.


"Malah bahas so'al pacar gue," cibir Dafa merasa tidak nyaman mengingat kekasihnya hendak di ajak ta'arufan oleh entah siapa, Dafa tidak mengenalnya.


"Terserah lo deh Za, gue harap lo enggak akan nyesel deh nanti." tukas Lily kemudian berhenti berbicara.


Ketika mereka sampai di cafe yang biasa mereka kunjungi setiap kali ada waktu senggang, tiba-tiba di depan cafe ada beberapa orang yang sedang berselisih hingga berkelahi.


"Ini yang lo sebut ketenangan," celetuk Lily dengan malas menatap Faza.


"Bisa enggak lo karungin aja ni cewek lo, kirim ke Afrika atau buang ke tengah laut aja biar tenangan dikit hidup gue tanpa denger ocehan ni cewek." ucap Faza dengan kesalnya.


"Sembarangan lo ya, minta di tonjok lo." gertak Lily sok-sokan ingin memukul Faza.


"Ly bisa enggak sih mulut bebek lo di kondisiin dikit, berisik tahu enggak." ucap Faza dengan geregetan.


"Lo ngatain gue binatang," sentak Lily menunjuk dirinya sendiri.


"Istighfar lo, di ciptain jadi manusia malah minta jadi binatang," ucap Faza membuat Dafa tanpa sengaja menyembur minuman yang ada di mulutnya ke lantai.


Pftt ....


"Astaga, Bebep." pekik Lily menggelegar hingga para pelanggan lainnya menatap ke arah meja mereka.


"Bahaha! Gokil lo, Za." ucap Dafa tertawa renyah, tanpa sadar kini Lily sedang melongo karena melihat tingkah dirinya yang malah menertawai ucapan Faza.


"What! Gokil?!" pekik Lily menggertak meja dengan kasar.


Brakk ....


Bersamaan dengan Lily yang berteriak, pintu di cafe itu tiba-tiba di tendang oleh seseorang yang entah siapa itu hingga seisi cafe langsung berteriak kaget sekaligus ketakutan.


Brukk ....


Brukk ....


Brukk ....


Dan seisi cafe kambali di kejutkan oleh tiga orang yang terjatuh di lantai kala dari arah belakang mereka ada yang menendang punggung mereka bertiga.


"Berani menghalangi jalan saya, kalian akan berhadapan langsung dengan saya." ucap seseorang yang terdengar seperti suara seorang wanita kemudian masuk ke dalam cafe.


"W O W, penampilan tu cewek tomboy banget." ucap Dafa melebarkan matanya menatap penampilan wanita yang baru masuk ke cafe itu membuat Lily langsung menutup mata kekasihnya agar tidak cuci mata terhadap penampilan wanita lain.


Wanita tomboy itu langsung mengambil posisi ancang-ancang untuk melawan tiga orang yang ada di depannya, dan tanpa basa-basi ketiga orang itu langsung maju untuk bertarung.


Brukk ....


Brukk ....


Brukk ....


Terjadilah pertarungan yang tidak seimbang antara satu wanita melawan tiga pria sekaligus hingga bermenit-menit kemudian dari arah belakang wanita tomboy itu, salah satu dari tiga pria itu mengeluarkan pisau dan mengarahkannya ke arah wanita tomboy itu.


Tsukk ....


"Oh **** ....!!!"


.


.


.

__ADS_1


::: Bersambung :::


Salam hangat semuanya, rajin-rajin kasih vote dan hadiah ya kakak-kakak , biar thor bisa rajin up juga. Like dan komen jangan lupa juga.


__ADS_2