Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 185 (Takdir)


__ADS_3

Los Angeles (Malam).


Tessa mendapatkan pesan dari nomor yang tidak ia kenal namun setelah Tessa membuka pesannya, Tessa langsung tahu nomor yang tidak di kenal itu adalah Kenzi.


Kenzi : 20 menit di cafe ×××


"What? Dua puluh menit?" pekik Tessa karena jarak apartemen Tessa jauh dari tempat yang di tentukan Kenzi.


Tessa berlari mengambil tas dan kontak mobilnya lalu Tessa mengeluarkan mobil yang selama ini jarang ia pakai.


Tiga puluh menit berlalu Kenzi menghela napas panjang kala Tesaa belum juga sampai, "Dasar nih cewek nguras kesabaran gue," umpat Kenzi merasa kesal menunggu lama di cafe itu.


Bukk ....


Tessa datang dan langsung duduk di depan kursi meja Kenzi, "Hah ... hah ... Huftt!!!" napas Tesaa tidak stabil karena berlari dari parkiran menuju meja Kenzi.


"Telat sepuluh menit," tukas Kenzi datar.


Tessa mengangkat tangannya ke depan Kenzi, "Gue butuh minum," ucap Tessa terengah-entah.


Kenzi mengangkat tangannya ke atas lalu Kenzi menjetikkan jarinya beberapa kali hingga salah satu pegawai cafe menghampiri meja Kenzi, "Minum apa lo?" tanya Kenzi.


"Air mineral aja," sahut Tessa dan KenI meminta pegawai wanita itu untuk membawakan air mineral.


Setelah air mineral itu sampai Tessa langsung meminum habis air itu, "Astaga kumat lagi," batin Tessa mencengkram kuat jantungnya.


Kenzi menyipitkan matanya ketika melihat kening Tessa di penuhi banyak keringat namun Kenzi membuang muka bersikap tidak perduli.


"Keluarin buku lo," titah Kenzi datar.


Tessa menghela napas pelan lau Tessa membuka tasnya dan mengeluarkan buku-bukunya, "Berapa halaman yang di minta?" tanya Kenzi melihat tugas yang di tunjuk Tessa.


"Minimal delapan lembar tapi kalo bisa sih di lebihin dikit biar nilai gue naik juga, hehe ...." sahut Tessa cengengesan.


"Jangan sok akrab, gue enggak suka." sambar Kenzi membuat Tessa mengumpat dalam hati ingin memukul wajah pria sombong di depannya itu.


"Somsek sekali anda," dersis Tessa memutar bola mata jengah.


"Gue dengar umpatan lo," ucap Kenzi fokus melihat buku-buku Tessa.


"Oh sorry mulutku terlalu licin!" seru Tessa cuek membuat Kenzi mengeraskan rahangnya.


..............................


...Indonesia....


Setelah Leo dan Kevin berangkat ke kantor, Karamel yang tadinya sudah meminta izin pada Leo untuk bertemu Adit dan Diky kini sedang bersiap-siap untuk berangkat bersama Rendi.


"Kenapa Leo cuma ngajak Kevin doang, gue juga 'kan pengen liat suasana kantor Binondra Group itu kayak gimana," celoteh Rendi kecewa karena tadi pagi Leo mengajak Kevin untuk ke kantornya tapi tidak dengan dirinya.


"Papa Kak Kevin juga punya bisnis properti toh? Jadi wajarlah Leo ngajak Kak Kevin, biar Kak Kevin belajar juga so'al bisnis." sahut Karamel namun Rendi menggelengkan kepalanya.


"Mimpi Kevin itu pengen pergi ke Romania, dia itu mau jadi musisi terkenal tapi bokapnya enggak pernah setuju bahkan alat-alat musik Kevin kadang di hancurin karena sering bertentangan sama bokapnya," ucap Rendi membuat Karamel mengingat tentang Leo yang pernah bertentangan dengan papanya.


"Leo juga pernah enggak akur sama Papanya, Leo cerita kalo mimpi dia yang sesungguhnya itu pengen jadi olahragawan tapi Papa Pras selalu ada cara buat patahin mimpinya, Mama Yara adalah kelemahan Leo dan papa Pras gunain Mama Yara buat ngancem Leo." imbuh Karamel sedikit menceritakan tentang Leo.


"Cih! Ternyata dua sepupu itu nasibnya sama," ucap Rendi dan Karamel tersenyum menanggapi Rendi.


Sesampainya di cafe Gourmet, Karamel mengirim pesan pada Adit lewat WhatsApp, mengatakan dirinya dan Rendi sudah di parkiran sekarang dan balasan Adit ternyata mereka berdua sudah ada di dalam cafe.


"Mereka udah di dalem, Kak," ucap Karamel meletakkan handphonenya di tas lalu Karamel mengambil kaca mata hitam untuk ia pakai.


"Ya udah, samperin sekarang aja," sahut Rendi, lali mereka berdua turun dari mobil dan menghampiri Adit—Diky.


"Lo berdua enggak kuliah?" tanya Rendi datang dan duduk di samping Diky.


"Belum, Kak," sahut keduanya serentak.


"Lo berdua udah selidikin semuanya?" tanya Karamel tiba-tiba dan keduanya mengangguk ragu, pasalnya ada Rendi.


"Ini flash disk tentang dia," Adit memberikan sebuah kotak kecil yang di mana jika orang lain melihatnya pasti mengira isinya adalah cincin atau kalung.

__ADS_1


"Bentar-bentar lo bertiga pada bahas apaan sih?" tanya Rendi kebingungan.


Tuh kan bener dugaan Adit sama Diky kalo Rendi tidak seharusnya ada di tengah-tengah obrolan mereka, takutnya ember alias ngadu sama orang yang lagi mereka bahas.


"Kak Rendi ikutin aja permainan kita bertiga," ucap Karamel membuat Rendi penasaran.


"Permainan apaan?" tanya Rendi.


"Ini gak apa-apa, Kar?" tanya Adit melirik Rendi sekilas lalu menatap Karamel lagi.


"Gak apa-apa," kata Karamel.


"Di sekitar Leo ada tujuh orang mata-mata sedangkan di sekitar lo ada dua orang mata-mata," ucap Adit membuat Karamel emosi dengan tangan yang terkepal kuat.


"Dua mata-mata itu ada di sini di tempat-tempat yang harus kita waspadai. Pertama, di tiang listrik dia yang lagi baca koran dan di sisi lain sekumpulan anak muda di lapangan sepeda, dia yang lagi main gitar." ucap Diky menatap Karamel.


Rendi semakin di buat bingung, dirinya ingin menoleh ke arah yang di sebutkan Diky tadi namun dengan cepat Diky menggapai bahu Rendi.


"Jangan di cari Kak, bahaya!" seru Diky memperingati sehingga Rendi menyentil tangan Diky agar terlepas dari bahunya.


"Kara, kita ke sini ...."


"Sekarang kita ada di zonanya para penjahat, Kak." ucap Adit membuat Rendi mengerutkan dahinya.


"Maksud lo?" tanya Rendi.


Karamel memijat pelan pelipisnya.


"Semalem waktu gue main skateboard bareng Kak Kevin sama Kak Rendi, gue enggak sengaja liat dia yang pernah punya masalah sama gue berdiri enggak jauh dari cafe dan waktu kita di jalanan, dia muncul lagi tapi sama dua bodyguard yang berdiri di belakang dia." ucap Karamel.


"Gue curiga dia ngincer gue atau Leo, makanya gue minta Diky sama Adit buat cari tau tentang dia ... tujuh orang mata-mata yang ada di sekitar Leo dan dua orang mata-mata yang ada di sekitar gue, itu suruhan dia. Kecurigaan gue terbukti bener!" tambah Karamel.


"Siapa?" tanya Rendi tapi Karamel malah menggelengkan kepalanya.


"Kak Rendi enggak akan kenal," ucap Karamel membuat Rendi speechlees.


"Terus apa rencana lo selanjutnya?" tanya Diky.


"Sekarang gue sama Kak Rendi mau pergi ke kantor, biar enggak ada yang curiga lo berdua bisa tetap di sini untuk beberapa waktu!" tambah Karamel kembali mendapatkan anggukkan dari keduanya.


Karamel dan Rendi berjalan keluar dari cafe dan di balik kaca mata hitam yang ia pakai, Karamel melihat dua orang yang di ucapkan oleh Diky tadi.


"Sial," umpat Karamel kala dua orang itu memakai penutup wajah.


..............................


...Kantor Binondra Group...


Selesai meeting Leo, Kevin dan Jeffry kembali ke ruang kerja Leo, di sana sudah ada Karamel dan Rendi yang menunggu kedatangan mereka.


"Sayang, kamu di sini," Leo menghampiri Karamel.


"Iya," sahut Karamel.


"Em Leo, aku mau ngomong sama kamu sebentar boleh?" pinta Karamel.


"Boleh dong, mau ngomong apa?" tanya Leo.


Karamel menatap Jeffry, Kevin dan Rendi sekilas dan Leo mengerti arti tatapan sang istri yang hanya ingin bicara berdua dengan dirinya.


"Jeffry, bawa Kevin dan Rendi ke ruanganmu sekarang," titah Leo tidak melepas tatapannya dari sang istri.


"Baik Tuan," sahut Jeffry.


"Mari Tuan," Jeffry menuntun Kevin dan Rendi untuk keluar dari ruangan Leo.


Kevin tampak penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Karamel pada Leo, namun Kevin sadar tidak bisa untuk memaksakan diri untuk tahu masalah orang lain.


"Ada masalah, Kara?" tanya Leo tampak khawatir menyentuh kedua pipi sang istri.


"Leo, semalem aku ...."

__ADS_1


Tringgg! Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena di dalam saku jas Leo handphonenya berdering.


"Abdi," gumam Leo menyebut nama yang menghubunginya.


"Abdi?" beo Karamel.


Karamel merampas handphone Leo lalu Karamel mengangkat telepon sahabat suaminya itu.


"Halo," sapa Karamel.


"Kara?" panggil Abdi.


"Iya ini gue, kenapa?" tanya Karamel sinis.


"Singkirin HP lo dari kuping lo sekarang," titah Abdi membuat Karamel mengerutkan dahinya menjauhkan handphone Leo dari telinganya.


Karamel menatap layar handphone Leo dan ternyata Abdi bukan menelepon tapi malah melakukan video call pada Leo.


"Kenapa lo video call suami gue?" tanya Karamel.


"Ow so sweet udah jadi suami-istri ya sekarang," tiba-tiba Firgy muncul menggoda Karamel.


"Firgy?" Karamel tampak kaget.


"Lo berdua, lo berdua udah ...."


"Enggak kok," sahut Firgy mengerti apa yang ingin Karamel katakan tapi itu malah membuat Abdi mengerutkan dahinya binging.


"Apaan yang enggak?" tanya Karamel menggoda Firgy membuat tubuh Firgy menegang.


"Em itu gue denger cerita dari Abdi, katanya dia kecewa sama Leo dan lo enggak terima itu." ucap Firgy malah mengalihkan pembicaraan.


Karamel terkekeh kecil karena tingkah Firgy.


"Gue mau minta maaf, gue fikir Leo udah enggak anggap SALF BADRAD sebagai sahabatnya lagi makanya dia bertindak tanpa mau minta bantuan para sahabatnya, gue kecewa di bagian itu aja sih," ucap Abdi.


Karamel mengerti kenapa para sahabat Leo sangat kecewa dengan Leo, mereka adalah sahabat sejak sekolah dasar, susah-senang selalu mereka hadapin bersama tapi kali ini di mata SALF BADRAD, Leo seperti tidak membutuhkan bantuan sahabatnya maka dari itu mereka semua merasa kecewa dengan Leo.


Tiba-tiba Leo mengambil handphonenya dari tangan Karamel lalu Leo mengacungkan jari tengahnya pada Abdi sehingga Firgy dan Karamel terbelalak kaget sedangkan Abdi malah terkekeh di buatnya.


"Sejak kapan lo kenal gue hah? Lo bener-bener bagian dari sahabat gue yang tau luar—dalem gue atau cuma status nama sahabat doang hah?" sengit Leo kesal karena si kalem ini ternyata sama bodohnya dengan sahabatnya yang lain.


"Ck, manusia siapa yang tau kalo wataknya bisa berubah-ubah, gue kira lo emang beneran udah berubah bejat pe'a," ucap Abdi malah ikutan kesal.


"Enggak lah, sinti*g" sentak Leo.


Lah kok jadi adu bacot ni dua sohib.


"Padahal Leo enggak mau SALF BADRAD dalam bahaya loh Di, dia sengaja ngejauh dari kalian biar musuh-musuh dia enggak menargetkan orang-orang terdekat Leo," ucap Karamel.


"Tuh dengarin, Leo berusaha ngelindungin kalian semua, harusnya lo ngerti lah jadi Leo itu enggak gampang, banyak nyawa yang harus dia selamatin termasuk kalian para sahabatnya," omel Firgy membuat Karamel tertawa.


Sejak kapan Firgy menunjukkan jati dirinya di depan orang lain, biasanya juga selalu bersikap dingin — Fikir Karamel heran tapi juga senang.


"Kenapa kalian enggak jadian aja? Kalian itu cocok tauk," goda Karamel menaik turunkan alisnya.


"Bukan tipe gue cowok pengecut," sengit Firgy terdengar ambigu di telinga Abdi, Leo dan Karamel.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Hai wak-wak reader .....


Jangan lupa dukung author cici dengan terus vote, like dan komen ya. Buat yang mau kasih tips juga boleh ya. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.


Selamat membaca semua 😉😉

__ADS_1


__ADS_2