
"Semuanya, kenalin ini Alleta Chevelle sahabat gue yang udah lama banget enggak ketemu sama gue dan sekarang dia dateng ke acara ulang tahun gue." ucap Niky memperkenalkan Alleta.
"Hai semua," sapa Alleta agak kaku namun di sambut hangat oleh mereka semua.
"Bener-bener cantik ya," puji Adit tersenyum manis menatap Alleta dan Alleta hanya tersenyum kikuk saja.
"Halo Alleta, kenalin nama gue Adit." ucap Adit cepat memperkenalkan dirinya hingga wanita yang ada di depan Adit memalingkan wajahnya begitu saja, siapa lagi kalau bukan Nanda.
"Kalo gue Dito," ucap Dito menunjuk dirinya sendiri.
"Dan ini si gentong Bobby," ucap Dito menunjuk Bobby membuat Bobby memelototi Dito karena berani mendahului dirinya yang ingin memperkenalkan dirinya di depan Alleta.
"Nah kalo yang ini tunangan aku, namanya Diky." ucap Niky membuat Alleta menatap ke arah Diky.
"Hai, namaku Alleta Chevelle tapi kalian boleh memanggilku Leta saja." ucap Alleta kemudian melirik ke arah Faza yang berada di sampingnya.
"Dan ... em! Aku rasa melihat kalian tadi meneriki nama Bramasta, sepertinya kalian sudah saling mengenal satu sama lain jadi ...."
"Ohya jelas kita kenal, dia itu sahabat seperjuangan kita sekaligus mantan ketua osis kita dulu waktu SMA." sahut Dito dan Alleta menganggukkan kepalanya.
"Oh iya." sahut Alleta.
"Elle, perkenalkan juga ini adik sepupuku Karamel Listra dan ini suaminya Cleo." ucap Faza memperkenalkan Karamel dan Leo.
"Uwu! Panggilannya beda dari yang lain," goda Adit dengan senyum jahilanya menatap Faza.
"So sweet!" timpal Niky membuat Faza memutar bola mata jengah.
"Adik sepupu?" batin Alleta agak kaget, Alleta tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu keluarganya Faza di sini walau hanya adik sepupu.
"Hai calon kakak ipar," sapa Karamel tanpa rasa malu.
"Eh tamu jauh di persilahkan duduk dulu dong," ucap Karamel kemudian.
"Wah wah wah! Ternyata selama ini di Malaysia lo pacaran sama sahabatnya Niky, Bang?!" goda Karamel ketika Alleta dan Faza di persilahkan duduk di tengah-tengah mereka.
Faza menghela napas panjang, bingung harus menjawab apa. Jika dirinya berbohong, mungkin saja dirinya tidak akan bisa lepas dari Alleta si wanita yang suka memaksa dirinya namun jika dirinya berkata jujur, dirinya akan membuat Alleta merasa di permalukan.
"Yeah gitulah," sahut Faza.
"Hem! Bukannya Bang Aza enggak pernah deket sama cewek manapun ya tapi kenapa tiba-tiba dia bisa deket sama sahabatnya Niky dan bukannya Leta itu salah satu anggota gangster jalanan se-Asia. Kalo sampai musuh Leta tahu tentang hubungan mereka, bisa-bisa hidup Bang Aza dalam bahaya, atau Bang Aza udah tahu tentang pacarnya." batin Karamel merasa khawatir dengan sang kakak sepupunya.
"Tanya aja ah!" batin Karamel penasaran.
"Bang, lo pacaran sama dia udah berapa lama?Terus lo udah tahu belum semua tentang dia?" tanya Karamel dalam bahasa Belanda hingga yang lainnya di buat melongo karena tidak mengerti.
"Kenal aja baru beberapa jam yang lalu Ra, gimana gue bisa tahu semua tentang dia coba." batin Faza bingung harus menjawab apa.
"Lumayan lah," sahut Faza dalam bahasa Belanda pula.
"Pacar lo itu hampir sama kayak lo bertemperamenal cuek tapi dia perduli dan perhatian sama orang lain, dia juga orangnya lemah lembut dan ramah tapi sama orang-orang tertentu doang, dan sikap dia bisa berubah jadi kejam juga kalo nyawanya udah terancam. Gue tahu itu dari Niky! Satu lagi, dia anak broken home yang milih buat jadi salah satu anggota gangster jalanan yang paling berpengaruh di area Asia demi mencari kesenangan tersendiri tanpa harus mikirin so'al keluarganya yang bisa di bilang udah hampir hancur kali ya." jelas Karamel dalam bahasa Belanda membuat Faza tersentak kaget.
"Apa lo tahu itu?" tanya Karamel lagi dalam bahasa Belanda.
"Hah! Ni cewek salah satu anggota gangster jalanan? Wah, pantesan aja tadi jago bela diri ni cewek." batin Faza malah mengingat kehebatan Alleta saat bertarung di Malaysa beberapa jam yang lalu.
"Tapi gue enggak nyangka kalo ni cewek ternyata anak broken home juga, tapi ngeliat dari tampilannya kayaknya iya deh ni cewek anak broken home." batin Faza merasa prihatin akan keadaannya Alleta, walau dirinya tidak tahu semenyedihkan apa hidupnya.
"So'al itu gue baru tahu dari lo tapi enggak apa-apa, udah terlanjur so'alnya." sahut Faza mengedipkan sebelah matanya tersenyum lebar.
"Hidup di hutan sono lo berdua, enggak sadar apa lo berdua di sini muka-muka kita pada cengo semua lihat lo berdua ngobrol pake bahasa Belanda." bentak Bobby kepada Karamel dan Faza.
"Ngomong apaan sih lo berdua, please deh jangan buat gue susah tidur gara-gara penasaran?" pekik Bobby bertanya kala dirinya sangat-sangat penasaran.
Karamel tersenyum tipis menatap Alleta sekilas, "Gue nanya so'al perasaan dia yakin apa enggak sama Leta, takutnya dia malah nyakitin si Leta." ucap Karamel menjawab kebingungan Bobby. Ralat, kebingungan semua yang ada di sana.
"Terus Faza jawab apa tadi?" tanya Dito ikutan kepo.
"Kamu tenang aja, Bang Aza udah terlanjur sayang sama kamu katanya." ucap Karamel pada Alleta membuat Faza memelototi adik sepupunya itu.
"Kacau lo Ra! Bisa-bisa salah paham ni cewek sama gue!" batin Faza merasa pusing.
Degg ....
"What wrong with me!?" batin Alleta merasa aneh dengan detak jantungnya yang tiba-tiba menjadi tidak stabil setelah Karamel mengatakan bahwa Faza sudah terlanjur sayang padanya.
Walau Alleta tahu, Faza sedang berbohong namun entah kenapa ada rasa senang saat ada seseorang yang menyayangi dirinya. Andai kata-kata Faza itu nyata, harap Alleta.
"No! Takdirku sudah hancur sejak lahir, tidak akan ada seorangpun yang menyayangi diriku kecuali penciptaku." batin Alleta merasa pedih namun tetap bersyukur karena Allah telah memberinya kesempatan untuk hidup.
"Cie cie cie, pak ketos udah sayang-sayangan aja nih sama anak orang." goda Adit.
"Ya iyalah sayang sama anak orang masa iya Faza sayangnya sama buaya betina, lo kata dia spesies buaya laut apa." pekik Bobby berhasil membuat mereka semua tertawa kecuali Faza.
"Ya enggak lah, Faza mah dari lahir emang udah jomblo akut jadi enggak pantes dong kalo dia di panggil buaya laut atau buaya darat." ucap Dito terdengar mengejek Faza yang tidak pernah merasakan pacar-pacaran.
"Ohya Za, gimana pengalaman pertama lo jatuh cinta? Berbunga-bunga enggak tuh hati lo?" tanya Dito membuat raut wajah Faza berubah agak murung, tiba-tiba saja Faza melirikkan matanya ke arah Karamel.
Mungkinkah Karamel cinta pertamanya!? Faza berfikir demikian.
"Di tunggu ya Za undangan pernikahannya." ucap Dito sembari tertawa.
"Masih lama, beg*k." pekik Faza tanpa sadar.
"Anj*y! Udah di rencanain." goda Diky.
"Woah! Berarti fix nih bakal jodoh sama si Leta." goda Adit membuat Faza memejamkan matanya dengan kuat, kala sadar dengan teriakkannya tadi sudah membuat para sahabatnya semakin jadi menggoda dirinya.
"Kasian lo Bob, patah hati deh lo." ejek Diky pada Bobby.
"Ni satu gentong pengen banget tadi kenalan sama si Leta tapi sayangnya Leta udah ada yang punya, patah deh tuh hati dia." ucap Dito menjelaskan maksud dari ejekkan Diky.
"Niky! Aku dan Bramasta tidak bisa berlama-lama di sini, kami harus segera kembali ke Malaysia." ucap Alleta tiba-tiba membuat yang lainnya terdiam.
"Kalian baru sampai beberapa menit yang lalu, Leta." ucap Niky tampak sedih.
"Besok Bramasta harus pergi ke kampus, jika kami pulang kemalaman, besok dia pasti akan bangun kesiangan," ucap Leta dengan lembut. Beda saat berbicara dengan Faza, nada suara Alleta terdengar cuek.
"Uwu! Perhatian bingits, jadi iri gue." ucap Adit mengalihkan pandangannya ke arah Nanda bermakusud memberi kode pada Nanda agar Nanda perhatian juga denganmya namun Nanda malah memelototi Adit membuat Adit menampilkan tampang sedih.
"Dasar enggak peka," desis Adit.
"Tidak masalah Elle, kita pulang setelah acara tiup lilin Niky saja." ucap Faza tidak tega melihat Niky yang hendak mengeluarkan air matanya.
"Kamu dengar 'kan, pacarmu tidak masalah kalian diam di sini beberapa jam lagi." ucap Niky lirih.
"Aku menyempatkan diri untuk datang ke sini tapi aku juga ada urusan, Niky." ucap Alleta ternyata dirinyalah yang ada urusan penting.
Niky tersentak, "Apa dia memaksamu lagi?" tanya Niky bersamaan dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Mendengar pertanyaan Niky dengan air mata yang mengalir di kedua pelupuk matanya, semua orang menjadi bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Kenapa Niky menangis? Siapa orang yang memaksa Alleta hingga Niky di buat menangis?
"Hei sayang, kenapa kamu nangis kayak gini, hem?" tanya Diky mengelus kedua pundak Niky dari belakang.
"Hapus air matamu, jangan buat sahabatmu yang lain salah paham ok!" ucap Alleta menghapus air mata sahabatnya itu. Rasa khawatir Niky bisa Alleta lihat dari mata Niky namun Alleta tidak mau Niky bersedih di hari bahagianya ini.
"Lagian tidak ada hubungannya dengan itu, aku kembali karena ada acara juga dengan teman-temanku." ucap Alleta tersenyum tipis.
"Tidak bohong 'kan?" tanya Niky.
"Tidak," sahut Alleta
Niky menghela napas panjang, dirinya tidak percaya dengan kata-kata Alleta namun dirinya tidak bisa menghalangi Alleta pergi karena Alleta adalah orang yang keras kepala sama seperti Karamel.
"Tidak bisakah beberapa menit lagi di sini," pinta Niky dengan lirih.
"Maafkan aku," sahut Alleta benar-benar tidak bisa menuruti kemauan sahabatnya itu.
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantar kalian sampai ke depan." ucap Niky dan Alleta menganggukkan kepalanya setuju kemudian mereka berdua berjalan duluan sebelum Faza akan menyusul.
__ADS_1
"Bang, jaga dia kalo lo benar-benar sayang sama dia, gue bakal selalu dukung lo berdua. Semangat!" ucap Karamel dan Faza hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian Faza pamit pergi dengan para sahabatnya.
.........
Ketika Faza dan Alleta sudah di antar oleh Niky hingga ke parkiran Alleta dan Faza langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Niky yang setia menunggu kepergian mereka sembari melambaikan tangannya ke arah Alleta.
"Gue harus kasih tahu Faza so'al Leta," gumam Niky berjalan masuk ke dalam restoran.
Tempat lain di dalanm mobil, sikap Alleta berubah menjadi pendiam, beberapa kali Faza melirikkan matanya ke arah Alleta dan pandangan Faza selalu menangkap mata Alleta yang terlihat kosong seperti sedang melamunkan sesuatu.
"Kenapa ni cewek jadi pendiam gini," batin Faza agak tidak nyaman karena biasanya mereka berdua selalu bertengkar namun kali ini Alleta hanya diam dan melamun saja.
Hingga saat mereka sudah di dalam pesawat, tidak ada sepatah katapun Faza mendengar Alleta berbicara.
"Masa bodo, gue tidur aja lah." gumam Faza hendak menutup matanya namun suara nada dering handphone Faza membuat Faza maupun Alleta terperanjat kaget.
"Sorry! Ada yang menelepon, aku akan mengangkatnya dulu." ucap Faza bangkit dari tempat duduknya untuk menjauh sedikit dari Alleta.
"Halo Ra," panggil Faza ketika sambungan telepon dari Karamel sudah terhubung.
"Halo Za, ini gue Niky." sahut Niky.
"Oh elo Nik, ada apa?" tanya Faza merasa sedikit kecewa karena yang menelepon bukan adik sepupunya.
"Gini Za, gue enggak mungkin ngomong di telepon karena Leta pasti ada di samping lo sekarang 'kan, jadi gue minta lo buka pesan whatsapp lo sekarang. Penting so'alnya." pinta Niky membuat Faza bingung.
"Oke!" sahut Faza singkat.
"Ya udah gue matiin teleponnya," ucap Niky kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Faza membuka aplikasi whatsappnya namun tidak ada pesan apa-apa kemudian Faza kembali duduk di depan Alleta yang sedang asik mendengarkan musik lewat headseat sembari memejamkan matanya.
Tak lama dari itu nada dering pesan whatsapp Faza berbunyi dan seketika iti juga Faza membuka aplikasinya.
"Gue tahu lo bukan orang yang bisa pacaran sama sembarangan cewek, gue yakin lo milih Leta buat jadi pacar lo itu karena lo bisa lihat ketulusan hati Leta begitu juga sama Leta, dia bukan cewek yang mudah buat jatuh cinta. Seorang Alleta tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan juga kakaknya, dan lo beruntung bisa dapat cintanya Alleta."
"Za, gue berharap banget lo mau jadi teman curhat dia kalo dia lagi ada masalah, jadi tempat dia bersandar kalo dia lagi sedih, dan yang pastinya jadi pelindung dan penyemangat Alleta di masa kini ataupun di masa depan."
Faza membaca dua pesan yang masuk dari Niky di dalam hatinya kemudian ada pesan masuk lagi dari Niky.
"Mungkin lo tahu sedikit tentang Alleta tapi gue mau kasih tahu lo banyak tentang dia biar lo bisa mengenal Alleta lebih baik lagi."
"Dulu sebelum Alleta Chevelle lahir, Tuan Darjo Kimberly dan Nyonya Yuriko Leta punya seorang anak laki-laki bernama Kak Althevero Sheffield. Waktu Kak Vero berusia empat belas tahun, Nyonya Leta hamil lagi dan di dalam perut Nyonya Leta ada Alleta. Sebenarnya Kak Vero bahagia banget waktu tahu dia bakal punya adik apalagi adiknya berjenis kelamin perempuan tapi di hari Nyonya Leta mau melahirkan, dokter cuma bisa nyelamatin salah satu dari ibu atau anaknya aja. Pilihan itu berat buat Tuan Darjo dan Nyonya Leta karena kalo mereka milih Alleta otomatis Nyonya Leta bakalan meninggal tapi kalo Nyonya Leta yang di pilih, Nyonya Leta enggak akan bisa hamil lagi. Waktu itu Tuan Darjo milih Nyonya Leta buat di selamatin tapi karena Nyonya Leta tahu suami dan putranya pengen punya anak dan adik perempuan jadi Nyonya Leta minta untuk nyelamatin nyawa Alleta."
"Tapi kelahiran Alleta malah buat dia menderita karena Daddy yang selalu ngasih perhatian penuh sama dia waktu dia masih kecil malah nikah lagi sama perempuan gila harta yang enggak pernah perduli sama dia sedangkan Kakak yang dia sayangi malah benci banget sama dia. Sejak Alleta lahir Kak Vero enggak pernah perduli sama Alleta karena menurut Kak Vero, Alleta adalah penyebab dari kematian Mommy kandungnya dan lahirnya Alleta adalah pembawa sial bagi keluarga mereka."
Faza membaca pesan Niky dengan sangat serius, dirinya tidak menyangka ternyata wanita yang berpenampilan seperti laki-laki di depannya saat ini ternyata memiliki kehidupan yang menyedihkan.
"Za, Alleta butuh seseorang yang bisa mencintai dan menyayangi dia, gue yakin orang yang pantas buat Alleta itu cuma elo."
Tiba-tiba saja detak jantung Faza berdegup sangat cepat saat Niky mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang pantas untuk Alleta.
"Gue aja baru kenal sama Elle, Nik." batin Faza menggaruk kepalanya bingung harus bertindak seperti apa.
"Malam ini mungkin Alleta bakal di paksa lagi sama Daddynya buat deket sama cowok pilihan Mommy tirinya."
"Gue harap lo mau bantu Leta buat ngomong sama Daddynya Leta kalo sebenarnya lo itu pacarnya Leta karena gue takut Za, cowok pilihan Mommy tirinya Leta itu enggak ada yang bener, mereka cuma mau menikmati tubuhnya Leta karena mereka udah ngasih jumlah uang yang banyak sama Mommy tirinya Leta."
"Itu artinya Elle di jual sama nyokap tirinya." batin Faza mengeraskan rahangnya marah.
"Kejadian Leta yang hampir di perkosa sama beberapa cowok pilihan Mommy tirinya Leta udah pernah Leta kasih tahu ke Daddy sama Kakaknya tapi mereka enggak pernah percaya sedikitpun kata-kata Leta, dan sering kali juga Leta nolak buat di deketin sama cowok-cowok pilihan Mommy tirinya tapi Daddy sama kakaknya Leta malah marahin Leta karena menurut mereka Leta enggak bisa menghargai perhatian Mommy tirinya."
Faza langsung mematikan layar handphonenya tidak tahan membaca cerita yang di kirimkan Niky, keluarga Alleta benar-benar sudah keterlaluan memperlakukan Alleta seperti boneka yang hanya bisa di kendalikan oleh mereka saja.
"Mommy," gumam Alleta membuat Faza mendongakkan kepalanya menatap wajah Alleta yang berkeringat.
"Elle," panggil Faza.
"Leta takut! Jangan tinggalkan Leta, Mom." gumam Alleta membuat Faza langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian duduk di samping Alleta.
"Chevelle," panggil Faza mendekatkan wajahnya ke wajah Alleta sembari tangannya menyentuh pipi Alleta dengan jari telunjuknya.
Tess ....
Air mata Alleta jatuh tepat saat mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Faza manjauhkan tubuhnya dan juga pandangannya dengan rasa gugup, "A em! Ma-maaf, aku mendengarmu memanggil-manggil ...."
"Mommy," sela Alleta membuat Faza menatap ke arah Alleta.
"Lupakan! Anggap kamu tidak mendengar apa-apa." ucap Alleta bangkit dari tempat duduknya kemudian pergi entah ke mana meninggalkan Faza.
"Gimana coba caranya biar gue bisa bantu dia, orang dia-nya aja sinis gitu sama gue," gumam Faza bingung harus bertindak bagaimana.
.........
...Indonesia...
Ketika sudah selesai memberitahu Faza segalanya, Niky langsung mengembalikan handphone Karamel.
"Bang Aza pasti bisa bantu Leta," ucap Karamel mengusap punggung Niky.
"Gue harap kayak gitu," sahut Niky.
"Ya udah kita masuk sekarang yuk, di sini udaranya dingin." ucap Karamel kala mereka kini berada di balkon.
"Ayok!" ucap Niky setuju.
"Tunggu," pekik seorang wanita yang tak lain dan tak bukan dia adalah Widia.
"Mau apa lo di sini?" bentak Niky memelototi Widia.
"Jangan khawatir, aku hanya ingin bicara sebentar dengan Karamel." ucap Widia tersenyum ke arah Karamel.
"Mau ngomong apa lo, hah?" bentak Niky lagi.
"Karamel, aku emang enggak sekaya keluarga kamu tapi kamu harus tahu cinta aku ke Leo itu lebih besar di banding siapapun," ucap Widia membuat Niky naik pitam ingin menampar wajah Widia.
Sama seperti Niky, Karamel juga mengepal tangannya ingin sekali memberi pelajaran dengan Widia namun Karamel berusaha tetap tenang atau dirinya akan kehilangan kendali.
"Aku enggak akan rela biarin cinta aku jadi milik orang lain, so di depan kamu sekarang, aku janji bakal rebut Leo dari kamu." ucap Widia langsung mendapatkan tamparan dari Niky.
Plakk ....
"Denger ya Widia, lo bukan cewek murahan pertama yang punya ambisi buat deketin Leo, sebelumnya juga ada tapi lo tahu enggak? Nasib cewek murahan itu berakhir di penjara Afrika." ucap Niky tersenyum sinis.
"Kalo lo masih sayang sama diri lo sendiri, mending lo pendam aja rasa cinta lo itu atau kalo sampai lo nekat mau ngehancurin rumah tangganya Karamel sama Leo, lo bakal bernasib sama kayak cewek murahan sebelumnya, mendekam di penjara." sengit Niky membuat Widia mengeraskan rahangnya.
"Masuk yuk, Kar." ajak Niky menarik tangan Karamel agar masuk ke dalan meninggalkan Widia.
"Iih! Nyebelin banget sih tu cewek, gue ngomong sama Karamel tapi malah dia yang nyakutin gue mulu." kesal Widia geregetan.
"Gue enggak perduli ancaman tu cewek, yang jelas gue mau Leo jadi milik gue seutuhnya." sengit Widia tidak berfikir jernih dan masih ingin bertekad merebut Leo dari Karamel.
Sedangkan di dalam pesta ulang tahun Niky, Karamel mengomel panjang kala kesal dengan Widia.
"Kara, gue tahu lo kesel tapi lo harus bisa sabar hadapin cewek-cewek murahan kayak Widia." ucap Niky pada Karamel.
"Gue enggak tahan hidup gue kayak gini terus Nik, banyak banget cewek-cewek di luar sana tergila-gila sama suami gue." lirih Karamel.
"Rasanya tuh gue ... ah! Pengen bunuh mereka semua tahu enggak." kesal Karamel membuat Niky menelan salivanya dengan kasar.
Glukk ....
"Lo becanda enggak lucu ah, mending kita jangan bahas masalah ini lagi oke, kasian bayi lo pasti sedih lihat lo marah-marah kayak gini." ucap Niky menyadarkan Karamel dari emosi tingginya.
Karamel menghela napas panjang, "Maafin Mama ya sayang, karena emosi Mama jadi enggak bisa ngendaliin diri." ucap Karamel mengelus perutnya.
"Syukur deh Kara bisa tenang," batin Niky merasa lega.
__ADS_1
.........
...Malaysia...
Sesampainya di Malaysia, Alleta bertanya di mana alamat rumah Faza agar Alleta bisa mengantar Faza pulang namun Faza malah meminta alamat rumah Alleta agar Faza saja yang mengatarnya pulang hingga perdebatan di antara keduanya terjadi lagi.
Kali ini Faza tidak menyerah walau Alleta memaksanya habis-habisan, hingga pada akhirnya Alleta yang mengalah dan Faza yang menang.
"Dasar pria bod*h," umpat Alleta membuat Faza memelotot kaget, wanita kedua setelah Karamel yang berani mengata-ngatai dirinya adalah Alleta.
"Berani banget ni cewek ngomongin gue be*o," batin Faza kesal namun ya sudahlah, lupakan saja.
Sesampainya di kediaman rumah, Alleta bertanya kepada Faza bagaimana dirinya bisa pulang sekarang? Apakah supir pribadinya akan menjemputnya atau malah dirinya akan menyusahkan temannya agar bisa menjemputnya?
"Bisakah kamu menawarkan aku masuk ke dalam rumahmu dulu?" tanya Faza membuat Alleta terdiam.
"Ngeliat dia diem kayak gini, jangan-jangan bener di dalem ada cowok yang mau di kenalin orang tuanya sama dia." batin Faza tidak habis fikir di jam tengah malam begini ada orang yang masih menerima tamu.
"Kamu bisa lihat mobil yang itu, sepertinya Daddyku sedang ada tamu jadi ...."
"Tidak masalah, katakan saja aku adalah kekasihmu." ucap Faza membuat Alleta mengerutkan dahinya aneh.
"Kekasih?" beo Alleta tiba-tiba terlintas sebuah rencana di benaknya.
"Apa kamu mau membantuku?" tanya Alleta dan Faza menganggukkan kepalanya pelan.
Tapi Alleta malah mengerutkan dahinya aneh, "Kamu mau membantuku tanpa harus aku paksa dulu, woah sebuah keajaiban." ucap Alleta cengo.
"Lalu bagaimana denganmu yang malah bertanya bukannya memaksa seperti sebelumnya?" tanya Faza membalikkan keajaiban Alleta.
"Ini masalah yang berbeda," sahut Alleta memalingkan pandangannya ke samping.
"Baiklah! Biarkan aku yang mengalah dan akan membantumu, Elle." ucap Faza.
"Bagus! Dengan begini aku bisa lolos dari paksaan mereka." batin Alleta merasa senang, namun sedetik kemudian Alleta memikirkan konsekuensinya jika Faza membantunya lagi kali ini.
"Tapi jika dia membantuku malam ini, mungkin saja dia akan sering terlibat dalam maslahku tapi jika dia tidak membantuku, Daddy pasti akan memaksaku terus-menerus." batin Alleta merasa bimbang padahal Faza sudah mau suka rela membantunya.
Alleta mendongakkan kepalanya menatap Faza, tiba-tiba saja Alleta teringat akan kata-kata Faza saat untuk pertama kalinya Alleta meminta bantuan Faza, 'Tolong jangan libatkan orang lain atas permasalahanmu itu, Nona'
"Benar! tidak seharusnya aku melibatkan Bramasta. Ini adalah masalahku, aku yang harus menyelesaikannya." batin Alleta lebih memilih untuk tidak meminta bantuan Faza lagi.
"Jangan terlalu serius, tidak ada masalah yang harus di selesaikan aku hanya bercanda saja." ucap Alleta membuat raut muka Faza berubah.
"Hanya bercanda?" beo Faza.
"Kamu hubungi temanmu sekarang agar kita bisa menunggunya di sini," ucap Alleta duduk di tangga rumahnya.
"Kenapa Elle jadi berubah fikiran kayak gini!?" batin Faza.
Faza mengeluarkan handphonenya kemudian Faza menelepon Dafa agar bisa menjemputnya namun Dafa tidak mengangkat telepon Faza sehingga Faza menyimpan handphonenya kembali ke dalam saku bajunya.
"Bagaimana, dia akan menjemputmu?" tanya Alleta dan Faza menganggukkan kepalanya bohong.
"Ehem, sepertinya tenggorokanku kering." ucap Faza mengusap-usap tenggorokannya.
"Ehem, apa kamu mau minum sesuatu?" tanya Alleta Alhamdulillah peka orangnya.
"Air mineral biasa saja," ucap Faza sehingga Alleta bangkit dari tempat duduknya
"Kamu tunggu di sini," titah Alleta kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.
.........
Lama Faza menunggu, Alleta tak kunjung datang juga, apakah dapur rumahnya sangat jauh. Fikir Faza heran.
"Berhenti memaksaku untuk mengikuti kehendak kalian, aku adalah anak dan adik kalian, harusnya kalian mengerti apa yang aku inginkan."
Faza memelotot kaget saat mendengar teriakkan Alleta yang sepertinya sedang bertengkar dengan seseorang di dalam sana.
"Akan lebih baik jika kamu bisa keluar dari rumah ini secepatnya, menikahlah dengan Panji, Chevelle."
Faza mengeraskan rahangnya kala mendengar bentakan seorang laki-laki terhadap Alleta sehingga tanpa fikir panjang Faza langsung berlari masuk ke dalam rumah Alleta.
"Sebesar itukah rasa bencimu Kak, sedalam itukah rasa tidak sukamu atas kehadiran diriku di dunia ini?" tanya Alleta bersamaan dengan Faza yang berdiri menghadap Alleta namun membelakangi punggung keluarganya Alleta.
"Elle!" batin Faza menatap lirih ke Alleta.
"Sudah cukup, Leta lelah sekarang! Malam ini Leta akan mengikuti kemauan Kakak, selagi itu bisa membuat Kak Vero bahagia, Leta akan pergi dari rumah ini." ucap Alleta menatap Faza dengan sekilas.
"Maafkan aku Bramasta, aku terpaksa harus melibatkanmu, ini yang terakhir kalinya aku janji setelah ini aku tidak akan merepotkanku lagi." batin Alleta.
"Kamu sudah datang menjemputku, Bramasta?!" ucap Alleta tersenyum ke arah Faza, namun senyuman itu begitu menyakitkan karena Alleta akan pergi meninggalkan daddy dan juga kakaknya.
Semua orang mengikuti arah pandangan Alleta, "Siapa kamu?" tanya sang daddynya Alleta yaitu Darjo.
Faza menoleh ke arah Darjo kemudian Faza kembali menatap Alleta yang sudah berderai air mata, Alleta mengatupkan kedua tangannya memohon pada Faza agar mau membantunya untuk yang terakhir kalinya.
"Aku mohon bantu aku, Bramasta." batin Alleta.
"Gue bakal bantu lo, Elle." batin Faza mantap.
"Saya adalah kekasihnya Elle, Om." ucap Faza tanpa melepas tatapannya dari Alleta.
"Apa kekasih? Ya ampun Mas, selama ini aku berusaha mencari pria yang baik-baik untuk Alleta tapi ternyata di belakang kita, dia sudah mempunyai kekasih yang tidak kita ketahui prilakunya baik atau tidak untuk Alleta." ucap mommy tirinya Alleta yaitu Emy.
"Jaga bicaramu Emy ...."
"Jaga sopan santunmu terhadap Mommy Emy, Leta." pekik Darjo membuat Alleta mengeraskan rahangnya kesal.
"Selalu saja Daddy membela dirinya," bentak Alleta merasa kecewa.
"Sudah cukup! Sekarang katakan apa benar kamu punya pacar tanpa sepengetahuan kami?" tanya Darjo merasa kecewa.
"Iya, dia adalah kekasih Leta," sahut Leta.
"Jadi ini alasanmu menolak lamaran Panji, kamu bilang kamu tidak mau mencintai laki-laki manapun kecuali aku dan daddy tapi nyatanya. Ck! Kecil-kecil sudah pandai berbohong rupanya." ejek Althevero membuat Alleta semakin merintihkan air matanya.
"Kamu sudah keterlaluan Leta," ucap Dajo pula.
"Keterlaluan? Leta sudah besar Dad, Memangnya salah jika Leta berpacaran dengan laki-laki yang Leta cintai? Kenapa kalian selalu menganggap Leta sebagai anak kecil yang tidak mengerti apa-apa." sentak Alleta heran.
"Bukankah, Kak Vero juga punya kekasih? Lalu kenapa Leta tidak boleh punya kekasih?" tanya Alleta lagi.
"Sejak lahir Leta tidak pernah merasakan kasih sayang kalian berdua. Coba katakan apakah Kak Vero pernah perduli dengan Leta sedikit saja? Dan apakah sejak Leta berusia delapan tahun dan Daddy menikah lagi dengan perempuan gila uang itu apakah Daddy pernah memperhatikan kehidupan Leta, tidak pernah bukan." lirih Alleta membuat Althevero dan Darjo terdiam.
"Bahkan yang merawat Leta sejak lahir bukan kalian berdua tapi almarhumah Bibi Anjali yang telah merawat Alleta." sengit Alleta mengungkap kepedihan hatinya kala yang merawat dirinya saat kecil dulu bukanlah Daddynya yang selalu sibuk bekerja ataupun Kakaknua yang sangat membenci dirinya tapi yang telah merawatnya dulu malah pembantu rumah mereka.
Leta menghela napas panjang, "Leta adalah penyebab kematian Mommy, Leta adalah pembawa sial, Leta tidak pantas hidup dan Leta tidak pantas menjadi keluarga kalian. Maka mulai dari sekarang Leta bukan lagi anak dari Tuan Darjo dan Leta bukan lagi Adik dari Tuan muda Althevero, Leta cuma anaknya Mommy Yuriko Leta." isak Alleta sangat menyedihkan.
"Alleta sayang, jangan katakan itu ...." ucapan Darjo di sela langsung oleh Alleta.
"Daddy, selama ini 'kan Leta selalu rutin mengingatkan Daddy agar jangan lupa untuk minum obat tapi karena setelah malam ini Leta akan pergi dari rumah ini, Daddy jangan sampai lupa minum obatnya ya," ucap Alleta tersenyum sembari menangis.
"Untuk Kak Vero juga jangan sering-sering pergi ke club malam lagi, bahaya Kak banyak orang jahat yang ngincar nyawa Kak Vero." ucap Alleta membuat Althevero mengerutkan dahinya.
"Bagaimana dia bisa tahu aku sering ke club malam?" batin Althevero.
"Leta pamit," ucap Alleta langsung melangkahkan kakinya mendekati Faza kemudian menarik tangan Faza untuk keluar dari rumah.
"Hiks hiks! Bawa aku pergi dari sini, Bramasta." isak Alleta memberikan kontak motornya kepada Faza hingga Faza langsung menerimanya dan mambwa Alleta pergi dari sana.
"Alleta ...." pekik Darjo ketika Faza dan Leta sudah keluar dari gerbang rumah.
.
.
.
__ADS_1
::: Bersambung :::