Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 227 (Takdir)


__ADS_3

Ketika Adit dan Diky menjelaskan bagaimana asisten pribadi Leo yaitu Jeffry tidak sengaja berpapasan dengan mobil Karamel yang di mana Jeffry melihat Karamel pergi dengan seorang pria yang tidak ia kenal. Otomatis sebagai asisten pribadi Leo, Jeffry memberitahu Leo akan apa yang ia lihat tentang Karamel.


Leo sangat percaya dengan Karamel, dirinya berusaha untuk berpositive thinking tapi perasaannya selalu gelisah, walau Leo percaya akan semua tindakan Karamel namun rasa cemburu Leo tidak bisa ia pendam kala mengetahui istrinya pergi dengan pria lain.


Leo mencari keberadaan Karamel dan ketika Leo mengetahui lokasi tempatnya, Leo meminta kedua sahabatnya yang paling dekat dengan Karamel yaitu Adit dan Diky untuk menghampiri Karamel.


Leo percaya penuh kedua sahabatnya itu akan membantunya untuk menemukan informasi tentang pria yang bersama istrinya, namun sayangnya kedatangan Adit dan Diky terlalu mendadak dengan tindakan mereka pada saat memprovokasi Justin juga terlalu mencolok hingga akhirnya Karamel mencurigai mereka dan mencoba untuk memancing mereka untuk jujur, jawaban mereka tentang Leo yang menyuruh mereka benar-benar membuat Karamel menghela napas berat.


Karamel tidak marah akan apa yang di lakukan suaminya karena Karamel sudah sangat paham dengan Leo yang super pencemburu abis tapi ada rasa kecewa juga karena dirinya tidak punya ruang privacy lagi.


Sore ini Karamel baru saja pulang ke rumah namun belum juga keluar dari mobilnya, tiba-tiba mobil Leo juga baru sampai di rumah.


"Kamu dari mana?" tanya Leo berusaha bersikap normal di depan sang istri.


Karamel tidak melarang atau mengancam Adit dan Diky untuk bungkam di depan Leo jadi sudah pasti kedua pria itu telah memberitahu Leo semua informasi yang mereka dapat, tapi sepertinya Adit dan Diky tidak memberitahu Leo tentang mereka yang ketahuan oleh Karamel saat di cafe tadi, jika tidak mana mungkin Leo bertanya kepada Karamel lagi.


"Dari jalan sama sahabat lama aku," sahut Karamel dengan jujur.


"Siapa?" tanya Leo menyelidik.


"Kamu laper enggak?" kebiasaan Karamel yang jika tidak mau berkata jujur pasti akan menghindar.


"Aku bisa nyelidikin sendiri siapa orang yang kamu temui hari ini, Kara." sengit Leo.


"Sayangnya suami aku bukan orang bod*h, dia pasti udah tau siapa orang yang aku temui hari ini, bukan begitu suamiku?" tanya Karamel terang-terangan.

__ADS_1


"Ehem!" Leo tidak bisa berkata apa-apa dan langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Karamel yang sedikit terkejut dengan suaminya yang tiba-tiba pergi begitu saja.


Setelah selesai makan malam Leo tampak menghindari Karamel, mungkin Leo masih merasa cemburu dengan Karamel yang dari tadi pagi hingga sore menghabiskan waktu dengan sahabatnya Justin.


"Mas," panggil Leo masuk ke ruang kerjanya, Karamel membawa secangkir kopi panas untuk sang suami.


"Hem," sahut Leo tidak melepas tatapannya dari layar laptop, sampai Karamel meletakkan kopinya di atas meja kerja sang suami.


"Makasih," ucap Leo tanpa mau menatap si empu'nya yang berdiri di sampingnya itu.


"Kamu marah ya sama aku?" tanya Karamel.


"Enggak," jawab Leo.


"Aku ketemu Justin hari ini," ucap karamel menghentikan pergerakan Leo yang sok sibuk di meja kerjanya itu.


"Kamu sering bilang tentang sahabat lama kamu, kamu bilang ke aku tentang kalian yang enggak punya hubungan apa-apa selain pure sahabatan aja tapi aku masih aja ragu sama ucapan kamu, aku bilang aku percaya sama kamu tapi perasaan aku masih ragu." ucap Leo.


"Aku yang nyuruh Adit sama Diky tadi siang buat datengin kamu sama sahabat kamu itu, tambah Leo membuat Karamel tersenyum tipis.


"Maaf," lirih Leo menundukkan kepalanya.


Karamel mengangkat dagu Leo dengan jari telunjuknya, tatapan keduanya terpaku satu sama lain, Karamel beruntung bisa mendapatkan Leo, ia sangat mencintai lelaki satu ini.


"Aku tau, maaf juga udah buat kamu cemburu," ucap Karamel mendekatkan wajahnya dan mencium bibir suaminya.

__ADS_1


Leo dan Karamel sama-sama memejamkan mata mereka, Leo membalas ciuman , tidak ada ciuman bernafsu hanya ciuman kelembutan dari keduanya hingga napas sudah mulai habis, pang**an keduanya baru di lepas.


"I love you Kara, so much," ucap Leo kembali mencium lips Karamel lebih lama lagi hingga Leo membawa Karamel ke dalam kamar untuk melakukan penyatuan antar suami-istri.


"Em! Ma-Mas aku ...."


"Kenapa hem?" tanya Leo dengan suara berat, Leo tidak bisa menahan hasratnya lagi ketika Karamel sudah ia baringkan di atas kasur.


"A-aku aku aku ...."


"Jangan bilang kamu mau berhenti ...."


"Tapi kamu jangan buat aku orgasme berlebihan ya," pinta Karamel dengan mata yang langsung ia pejam kuat kala merasa malu dengan permintaannya sendiri.


Karamel hanya tidak mau menyakiti anak yang ada di dalam kandungannya, sudah cukup kejadian beberapa bulan yang lalu saat ia kehilangan anak pertamanya, Karamel tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali maka dari itu Karamel harus bisa melayani suaminya dengan sangat berhati-hati.


"Sayang, are you okay?" tanya Leo heran, Karamel membuka matanya ragu.


"Mainnya pelan-pelan aja ya, aku takut nanti kecapean," pinta Karamel berbisik.


Gluk! Leo menelan salivanya kala kaki jenjang Karamel bergerak menyentuh bagian intimnya, Karamel menggigit bibir bawahnya dengan penuh sensual membuat Leo tergoda dan langsung menerkam bibir se*sinya lalu setelah itu sepasang suami-istri itu larut dalam penyatuan surga dunia.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2