
"Udah cukup! Aku udah ...."
"Aku nemenin Sasya sampai malam hari bahkan sampai dia tidur, waktu dia udah tidur aku mengungkapin perasaan aku sama dia dan setelah itu aku pulang ninggalin dia sendirin tapi waktu aku keluar ruangan Sasya tiba-tiba cowok yang Sasya cintai narik kerah baju aku sampai keluar rumah sakit," ucap Leo tidak memperdulikan permintaanku yng menyuruhnya berhenti.
"Leo ...."
"Aku mohon, aku udah enggak mau nyakitin hati kamu lagi, dengerin sumua cerita aku. Aku mohon!" lirih Leo membuat aku terdiam lama menatap matanya yang merah, kemudian aku menghela napas berat dan mengangguk menuruti permintaannya.
"Malam itu aku sama cowok itu berantem sampai cowok itu ninggalin aku dalam keadaan yang enggak baik, setelah kejadian itu selama seminggu aku enggak jenguk Sasya bahkan mungkin cowok itu juga enggak janguk Sasya sampai akhirnya kita bersembilan dapat kabar tentang Sasya yang udah pergi nianggalin kita selamanya." ucap Leo merintihkan air matanya walau hanya sedikit.
Ini adalah kali pertama aku melihatnya mengeluarkan air mata, rasanya sesak saat melihat air mata yang keluar dari pelupuk matanya, entah keberanian dari mana yang ku dapat hingga aku mengulurkan kedua tanganku ke lehernya dan memeluknya dengan posisi pria itu duduk memeluk kedua lututnya.
"Maaf, aku enggak tau kalo dia udah enggak ada," ucapku masih dalam keadaan memeluknya. Seketika aku merasakan Leo menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Maafin aku karena aku terlalu sibuk sama perasaan aku sendiri sampai aku baru ngasih tau kamu sekarang," lirih Leo menggenggam tanganku yang masih melingkar di lehernya.
"Sasya pasti udah bahagia di alamnya yang baru," ucapku tak sadar mengeluarkan air mata juga.
Sejenak aku berfikir akan rencana awalku yang ingin tahu masalah Leo dengan Kak Aldy tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk bertanya.
Cukup lama posisi kami tidak berbuah, saling berpelukan sampai akhirnya aku melepaskan pelukanku.
"Ayo kita pulang, biar aku yang nyetir mobil kamu," tawarku lembut hingga Leo menatapku dengan sangat lekat.
__ADS_1
"Kamu bisa nyetir?" tanya Leo dengan raut wajah yang sendu namun terlihat menggemaskan, tapi pertanyaannya membuat aku sedikit tersentak.
"Oh, apa gue nawarin diri buat bawa mobil dia?" batinku menelan salivaku kasar.
"Anu gu-gue ... aku bisalah dikit-dikit," ucapku gelagapan.
"Jangan becanda," dia seakan-akan sedang meremehkan aku. Ck! Dasar menyebalkan.
"Aku nggak mau cepat-cepat mati karena keadaan kamu yang kayak gini," ucapku menyambar kontak mobil dari tangannya.
Aku dan Leo sudah duduk di dalam mobilnya, ku lirik wajahnya yang tampak khawatir, apa dia fikir aku akan memasukkan mobilnya ke dalam jurang? Kenapa wajahnya kusam sekali.
"Tunjukin arah jalannya di mana," ucapku menyalakan mesin mobilnya.
"Tu-tunggu Tania, kayaknya aku aja deh yang bawa mobilnya," ucap Leo dengan wajah yang semakin khawatir.
"Enggak dong, Sayang." ucap Leo.
"Tunjukkin jalannya aja, susah banget sih," sentakku kesal hingga ku dengar helaan napas pasrahnya.
"Lurus aja dulu nanti belok kiri sampai di perempatan ambil jalur kiri lagi dan bla bla bla ...." Leo menunjukkan arah jalannya hingga dua jam berlalu kami baru bisa sampai di jalan raya.
"Jauh banget sih tempatnya," ketusku.
__ADS_1
"Gantian, sini!" pinta Leo.
"Biar aku aja yang nyetir, kamu tidur aja," tolakku sedikit menancap gas.
"Ini udah malem, gantian," paksanya tapi tidak aku hiraukan.
"Tania nggak usah bandel kenapa sih, sayang." ucap Leo menekan kata 'sayang'
"Berisik tau enggak." sengitku.
"Tania ...."
"Pacar yang baik diem aja ya, aku udah duduk di sini jadi kamu nggak akan bisa paksa aku buat tukar posisi, paham." ucapku membutnya senyum-senyum aneh.
"Dasar bandel," ucapnya memejamkan matanya.
"Enggak dapet informasi dari Leo, dengan cara apapun juga, malam ini gue harus dapet informasi dari Kak Aldy." batinku seraya menambah sedikit kecepatan mobilnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
.... Bersambung ....