Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 214 (Takdir)


__ADS_3

"Siram dia dengan air dingin," titah Leo dan salah satu mafioso Vic's Bloody Wolf mengambil sebuah ember dari luar kemudian menyiramkan isi ember itu ke wanita yang sedang asik tidur di lantai.


Dia adalah Clara, yang terpenjara di markas Vic's Bloody Wolf selama kurang lebih 10 hari. Clara terperanjat kaget dan langsung bangkit dari posisi tidurnya.


"Semua keluar dari sini," titah Leo dan beberapa mafioso yang menjaga Clara langsung keluar dari ruangan itu.


"Siapa kalian," lirih Clara ketakutan.


"Kalian mau apa?" Clara menyembunyikan wajahnya.


Karamel menatap Leo seakan-akan bertanya 'Apa yang terjadi dengan Clara? Kenapa Clara ketakutan seperti sekarang?' Leo yang di tatap hanya mengedikkan bahunya tidak tahu apa-apa karena selama Clara di kurung di markas, Leo tidak pernah datang ke markas.


Karamel menghela napas kemudian Karamel melepas topengnya, "Ini gue, Karamel!" ucap Karamel membuat Clara mendongakkan kepalanya.


Clara menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kara, Kara gue mohon lepasin gue dari sini, gue takut di sini, mereka mereka semua nyiksa gue," lirih Clara ketakutan.


"Gue mohon maafin gue," pinta Clara memohon.


"Gue juga enggak mau di penjara, Kara. Gue mohon sama lo kasih gue kesempatan buat berubah," Clara bersimpuh dengan mengatupkan kedua tangannya.


Karamel bisa melihat, Clara sungguh-sungguh tersiksa karena mengetahui dirinya akan di kirim ke penjara tapi Karamel punya prinsip jika seseorang sudah melakukan kesalahan maka orang itu harus di beri hukuman.


Saat itu Clara tidak pernah ragu untuk membunuh Karamel dan merebut Leo dari Karamel maka Karamel juga tidak akan pernah ragu untuk menghukum Clara meski Clara sudah berubah sekali pun.


"Kalo lo mau belajar berubah, lo harus terima takdir lo yang akan mendekam di penjara ...."


"Enggak, gue enggak mau di penjara," pekik Clara.


"Lo mau di penjara atau di bunuh?" tanya Leo sinis.


"Leo, apa kamu setega itu sama aku?" tanya Clara menatap Leo penuh derita.


Karamel mengeraskan rahangnya, melihat tutur kata Clara yang masih berharap dengan Leo membuat Karamel jijik dan ingin memukul wajah Clara.


"Bahkan kalo istri gue ngizinin gue buat bunuh lo, gue juga enggak akan ragu buat bunuh lo." ucap Leo membuat Clara menangis tersedu-sedu.


"Kenapa kamu jahat sama aku, Leo. Apa kurangnya aku di mata kamu sampai kamu tega ngelakuin semua ini ke aku." ucap Clara.


"Jelas gue tega sama cewek jahat kayak lo," ucap Leo sewot.


"Panggil anak buah kamu sekarang, aku mau dia di antar secepatnya," ucap Karamel memakai topengnya begitu juga Leo yang kembali memakai topengnya kemudian Leo langsung meneriaki anak buahnya untuk masuk ke ruang eksekusi.


"Enggak, aku mohon jangan kirim aku ke penjara," pinta Clara namun Karamel tidak perduli akan permohonan Clara.


"Tutup mulutnya," titah Karamel dengan nada keras.


Dua mafioso milik Leo membawa Clara hingga ke dalam mobil, Clara terus menangis dan memberontak ingin lepas dari dua orang berbadan kekar yang membawa dirinya hingga ke dalam mobil.


Seperti orang penting, Clara di kawal puluhan mobil yang isinya para mafioso milik Leo.


"Lakukan tugas kalian untuk mengantar wanita jahat itu ke penjara Afrika, pukul dia jika dia memberontak kemudian siksa dia jika dia punya niatan untuk kabur." titah Leo membuat bulu kuduk Clara yang mendengarnya langsung merinding.


Semuanya patuh akan perintah sang pimpinan lalu mereka yang di tugaskan untuk mengkawal Clara langsung menuju mobil mereka masing-masing, mobil pertama hingga ke-6 lebih dulu jalan di depan kemudian mobil yang ada Clara di urutan ke-7 dan paling belakang ada kisaran 8/9 mobil.

__ADS_1


"Aku mau pulang," ucap Karamel dengan tatapan kosong, kala Clara sudah di antar pergi.


..................


...Los Angeles...


Sebelum pergi ke rumah sakit, Tessa sempat melamun sepanjangan di apartemennya hingga langit sudah mulai gelap, Tessa menyambar kontak mobilnya kemudian membawa mobilnya menuju rumah sakit.


Tessa masuk ke ruang perawatan Kenzi yang ternyata sudah ada Peter, Cesar dan James yang mengobrol di sofa.


"Hai, Tessa," sapa James.


"Hai," sapa Tessa pula.


"Apakah Kenzi sudah bangun?" tanya Tessa.


"Oh yeah tentu, dia sudah bangun," sahut Cesar cepat sehingga Peter dan Cesar tidak sempat menutup mulutnya.


"Cesar ...." pekik Peter dan James.


"Maaf kawan, aku tidak bisa berbohong," bisik Cesar hingga Tessa tidak bisa mendengarnya.


"Kenapa kalian tidak memberitahuku? Kapan Kenzi bangun? Apa keadaan dia baik-baik saja sekarang?" tanya Tessa menghampiri Kenzi yang tertidur lalu mengelus rambut Kenzi dengan lembut.


"Kenzi sudah bangun, dia hanya memejamkan matanya saja," ucap Cesar jujur dan itu membuat Kenzi mendengus karena Cesar tidak bisa menutup kebohongan sedikit saja.


Tessa membeku karena tangannya barusan refleks mengelus kepala Kenzi, Kenzi membuka matanya yang di mana di depan Kenzi sudah ada Tessa yang juga menatap mata Kenzi.


Degg! Tessa langsung manarik tangannya kemudian cepat-cepat berdiri tegap.


"Gimana keadaan lo, udah baikan?" tanya Tessa pelan dan Kenzi hanya menganggukkan kepalanya.


"Sorry, karena Ryan udah buat lo kayak gini," lirih Tessa tidak berani menatap Kenzi.


"Bisa duduk dulu," pinta Kenzi dan Tessa mendongakkan kepalanya.


"Gue bilang lo bisa duduk sekarang," ucap Kenzi membuat Tessa langsung duduk begitu juga Kenzi yang mengambil posisi duduk.


"Maksud lo apa minta maaf buat Ryan? Lo mau ngewakilin dia minta maaf sama gue?" tanya Kenzi terdengar tidak suka.


"Bukan gitu maksud gue ...."


"Terus apa maksud lo?" tanya Kenzi datar.


"Ryan enggak akan mungkin celakain lo kalo bukan karena gue jadi gue minta maaf sama lo karena gue, lo jadi di incar sama Ryan." ucap Tessa tulus.


"Lo minta maaf sama gue?" tanya Kenzi dan Tessa menganggukkan kepalanya.


"Apa kabar lo yang masih marah sama gue terus enggak mau maafin gue?" tanya Kenzi sengaja mengingat masa di mana Tessa masih belum memaafkan Kenzi.


"Gue emang marah sama lo tapi sebelum lo sadar gue udah bilang kalo gue enggak benci sama lo, karena gue ...." ucapan Tessa terhenti membuat Kenzi mengerutkan dahinya tidak suka.


"Kenapa berhenti, lo apa?" tanya Kenzi.

__ADS_1


"I-itu itu karena gue saking baiknya, gue udah maafin lo di malam itu juga," ucap Tessa tersenyum lebar, ia sedang menutupi rasa gugupnya.


Kenzi menyipitkan matanya, kata yang tertunda di ucapkan Tessa barusan membuat Kenzi curiga.


"Gue baik 'kan udah maafin lo," ucap Tessa memecahkan lamunan Kenzi.


"Em!" sahut Kenzi.


"Terus apa kabar lo yang belum maafin gue?" tanya Tessa membalikkan ucapan Kenzi tadi.


"Gue enggak pernah bilang lo salah jadi buat apa gue maafin orang yang enggak bersalah," ucap Kenzi membuat Tessa terdiam.


"Em makasih udah bantu gue," ucap Tessa tulus dengan senyuman tipis dari sudut bibirnya.


"Enggak usah bilang makasih, kita sama-sama sepakat buat pura-pura pacaran demi keuntungan kita masing-masing," ucap Kenzi.


"Dan kesepakatan kita harus berakhir sampai di sini," ucap Tessa membuat Kenzi membelalakkan matanya menatap Tessa.


"Gue di keluarin dari kampus jadi gue udah enggak bisa bantu lo lagi," sambung Tessa membuat Kenzi semakin tersentak kaget.


"Apa? Lo di keluarin dari kampus?" pekik Kenzi membuat ketiga teman Kenzi ikutan kaget.


"Hello, bisakah kalian mengobrol dengan nada rendah?" tegur Cesar kesal karena jantungnya hampir copot.


"Aku rasa telinga Tessa masih normal jadi kenapa kau harus berteriak sekeras itu! Mengganggu saja," umpat Peter pula.


"Bertengkar lagi?" tanya James jengah.


"Heh! Sabar Tessa, Kenzi memang seperti itu orangnya, pemarah!" ucap Peter mengejek Kenzi.


"Jika kau sudah tidak tahan lagi, kau boleh memukul mulutnya sampai puas," timpal Cesar membuat Kenzi mendengus kesal.


"How did you get kicked out of campus, Tessa?" tanya Kenzi sengaja mengucapkan dalam bahasa Inggris agar ketiga temannya itu membuka telinganya lebar-lebar, dirinya kaget karena Tessa di keluarkan dari kampus bukan karena sedang bertengkar.


(Bagaimana kamu bisa di keluarkan dari kampus, Tessa).


Yang benar saja, setelah Kenzi bertanya. Ketiga temannya itu langsung berdiri dan serentak berteriak 'What, Tessa di keluarkan dari kampus?'


"Jawab Tessa?" tekan Kenzi.


Melihat respon keempat laki-laki itu, jantung Tessa hampir saja copot tapi tak urung Tessa memberitahu alasan dirinya yang di keluarkan dari kampus.


"Tia ngancam gue buat jahuin elo atau gue bakal di keluarin dari kampus tapi gue berlagak enggak perduli dan bener aja tadi pagi gue tiba-tiba di keluarin dari kampus," ucap Tessa lirih.


"Tessa, English please?" pinta Peter dan Tessa menjelaskan lagi dalam bahasa Inggris.


"Maaf, gue udah enggak bisa jadi pacar pura-pura lo lagi," ucap Tessa pada Kenzi.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2