Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 151 (Takdir)


__ADS_3

Ketika Karamel keluar dari kamar mandi, Karamel melihat Leo yang masih setia membaca setiap lembar diary Karamel. wanita itu memandang raut wajah Leo yang tampak sedih, Karamel tahu suaminya itu pasti sedang merasa bersalah karena di setiap kata yang Karamel tulis di buku itu tidak lepas dari menyebutkan nama Leo.


Dulu Karamel sangat-sangat berharap akan kembalinya Leo dan sekarang pria itu ada di depan matanya.


"Aku tau dulu kamu juga ngerasain hal yang sama kayak aku tapi ini harus aku lakuin, aku harus kasih kamu hukuman biar kamu tau aku enggak suka sama yang namanya kekecewaan." batin Karamel lirih, wanita itu ingin memberi ketegasan pada Leo agar tidak menyakiti hati wanita itu lagi.


Karamel berjalan mendekati Leo, "Ayo kita makan malam dulu," ajak Karamel membuat Leo menatap ke arah Karamel yang berdiri di seberangnya.


"Aku jahat, Kara?" ucap Leo membuat Karamel mengernyitkan dahinya, Karamel tidak menyangka Leo akan mengatakan dirinya jahat di depan Karamel.


"Aku nyakitin perasaan kamu lagi lagi dan lagi," lirih Leo membuat Karamel tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.


"Dulu aku janji sama diri aku sendiri buat jadiin kamu cuma milik aku seorang tapi aku malah nyakitin kamu sampai kamu ...." perkatan Leo terpotong.


"Cukup!" Karamel berucap pelan lalu ia duduk di atas ranjang.


"Inget sama kata-kata aku dulu waktu kamu mutusin hubungan kita gara-gara wallpaper handphone aku di basecamp SALF BADRAD, 'kalo kita jodoh kita pasti bakal di persatuin lagi, aku mohon sama kamu jangan maksain kehendak kamu yang bakal buat kamu makin jauh dari apa yang kamu inginkan,' Ingat! Jangan memaksakan kehendak." ucap Karamel mengulang perkataannya yang dulu. (Part 60)


"Takdir udah buktiin semuanya, kamu mencoba buat melepas semua yang menjadi milik kamu dan takdir membalasnya dengan mempersatukan kita." sambung Karamel.


"Aku bukan ngelepas semuanya tapi aku mencoba untuk mempertahankannya sampai aku ...."


"Dengan cara ngelepasin kekasih sama sahabat kamu bukan," potong Karamel.


"Aku udah kehilangan segalanya," gumam Leo.


Karamel tersenyum menggelengkan kepalanya namun air mata wanita itu menetes, "Selagi cinta itu masih ada di dalam hati kamu, enggak akan ada namanya kehilangan segalanya Leo!" lirih Karamel.


"Kamu ngelakuinnya karena cinta jadi aku mohon jangan ngomong kamu jahat lagi ke aku." pinta Karamel membuat Leo menatap buku diary Karamel.


"Enggak, Kara. Tiga ratus lima puluh lima hari dengan air mata seribu seratus tujuh. Aku udah buat luka di hati kamu sampai kamu nangis sebanyak ini." lirih Leo membuat Karamel menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Leo.


Karamel menghapus air matanya, "Aku kecewa karena kamu nggak jujur sama aku, aku kecewa karena selama kamu pergi aku di jadiin mainan oleh Henry dan kamu tau itu." ucap Karamel mengutarakan kekecewaan yang sesungguhnya.


"Kara, aku ...."


"Udah cukup! Jangan di bahas lagi, biarin rasa kecewa ini hilang dengan sendirinya." ucap Karamel beranjak pergi. Sejujurnya Karamel merasa sangat sedih harus mengingat penantiannya terhadap Leo, kebohongan Leo dan juga kebenaran bahwa dirinya hanyalah tawanan Henry.


Leo turun dari ranjang lalu Leo berjalan mendekati Karamel yang hendak pergi, "Aku bakal berusaha buat ngilangin rasa kecewa kamu ke aku." ucap Leo sembari memeluk tubuh Karamel dari belakang.


Karamel menghela napas berat lalu Karamel mengangguk, "Kita makan malam dulu, oke!" ucap Karamel melepas tangan Leo yang melingkar di perutnya lalu Karamel beralih merangkul tangan Leo dan turun ke ruang makan bersama.


..............................


...Apartemen Leo (Kanada)....


Setelah Fico, Aldy dan Faza selesai makan malam, kini mereka berkumpul bersama si ruang tengah.


"Kita nggak kasih kabar ke yang lain so'al penik ...."

__ADS_1


"Jangan dulu!" potong Aldy tahu apa yang ingin di sampaikan Faza.


"Leo bilang ke gue, dia mau ketemuin Kara sama kedua orang tuanya dulu ...."


"Hah?! Maksud lo, Leo belum minta restu dari nyokap-bokapnya gitu?" tanya Faza cepat.


"Nyokap sama bokap Leo bukan di Irlandia tapi di Asia lebih tepatnya masih di Singapura." ucap Aldy.


"Kok bisa gitu? Bukannya bokap Leo ngajak dia ke Irlandia ya?" tanya Faza.


Aldy menghela napas, "Makanya kemarin malam jangan tidur duluan, jadi sudah 'kan gue buat jelasinnya lagi ke elo." kesal Aldy pada sepupunya itu.


Kemarin malam Leo menceritakan tentang kehidupan dirinya ketika jauh dari Karamel dan para sahabatnya pada Aldy dan Faza namun sayangnya Faza memilih tidur duluan sehingga jadilah Aldy seorang yang mendengarkan cerita Leo.


"Namanya juga cape," sahut Faza santai.


"Leo di ajak ke Irlandia karena Leo mau di jadiin CEO baru di perusahaan utama Binondra Group milik bokapnya." ucap Aldy.


"Buat nyokap–bokapnya masih tinggal di Indonesia dan sekarang tinggal di Singapura karena mamanya Leo ada tugas di rumah sakit sana." sambung Aldy dan Faza mengangguk-anggukkan kepala pelan.


"Gimana kalo nyokap-bokap Leo nggak ...."


"Jangan tanya itu lah Za, gue juga nggak bakal tahu jawabannya apa," potong Aldy cepat.


Sejak tadi Fico terdiam menatap dua insan yang bercerita tanpa menghiraukan dirinya yang jelas-jelas ada di depan mata mereka berdua.


"Apa aku di anggap sebagai patung?" batin Fico merasa terabaikan oleh Aldy dan Faza.


..............................


Sejak tadi handphone Jessy membisingkan kamar yang akan Jessy tempati hingga Jessy keluar dari kamar mandi pun, handphonenya tetap tidak berhenti berdering.


Jessy mengambil handphonenya di ranjang lalu ia melihat siapa orang yang berani mengganggu dirinya ketika ia sedang merasa lelah.


"Zoeya," gumam Jessy menyipitkan matanya tidak suka dengan nama yang keluar di layar handphonenya itu, dasar Zoeya si pengganggu! Jessy melempar handphonenya di kasur namun lagi-lagi handphone Jessy berdering.


"Menyebalkan," dersis Jessy mengambil handphonenya lalu menekan tombol hijau dengan kasar.


"Ada apa?" Jessy langsung bertanya, suara wanita itu sedikit menyentak.


"Apa kau sengaja menghindar dariku?" tanya Zoeya berteriak.


"Aku akan menyusun pertemuan Fico ...."


"Tidak perlu," potong Zoeya tiba-tiba.


"Aku akan segera bertunangan dengan laki-laki yang tak kalah hebat dari Tuan Fico, asal kau mau tahu Jessy. Calon suami yang akan di jodohkan denganku itu lebih muda, tampan dan juga kaya jadi kau tidak perlu mempersiapkan pertemuanku dengan Tuan Fico." ucap Zoeya membuat Jessy mengerutkan dahinya.


"Kita batalkan kesempatan kita," sambung Zoeya.

__ADS_1


"Oh iya! Aku jadi penasaran, siapa laki-laki buta yang ingin bertunangan dengan wanita spertimu Zoeya!" ejek Jessy menyeringai.


"Jaga bicaramu, Jessy!" pekik Zoeya.


"Ah iya, kau baru akan di jodohkan bukan? Ugh! Sepertinya itu akan gagal karena melihat wajahmu yang materialistis itu saja sudah di pastikan laki-laki manapun tidak akan tertarik denganmu, Zoeya." ejek Jessy lagi.


"Kau akan lihat bagaimana aku membalas penghinaanmu itu, Jessy!" pekik Zoeya langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Jessy tersenyum miring, "Kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi, Zoeya." gumam Jessy menghela napas berat.


..............................


...Seminggu kemudian...


Pagi-pagi Aldy dan Faza pergi ke mansion Fico, sedangkan Fico langsung pergi ke perusahaan GV Del Nixon Internasional yang akan di ganti dengan nama perusahan baru yaitu Trixon Internasional.


Sesampainya di mansion Fico, Karamel langsung menyambut mereka berdua dengan sarapan yang di buat oleh Karamel sendiri.


"Lo buat makanan Indonesia, Dek?" tanya Aldy tak percaya karena sebelumnya Karamel hanya bisa memasak masakan ala barat saja.


"Gue 'kan jarang masak di rumah jadi lo nggak tahu deh gue bisa buat masakan Asia." sahut Karamel duduk di samping Leo.


"Oh iya, kerjaan lo 'kan rebahan mulu di rumah," ejek Aldy membuat Faza cekikikan.


"Mama nggak mau Kara terluka karena pisau, Mama nggak mau Kara kecapean, Mama nggak mau buat susah Kara jadi Mama nggak izinin Kara buat bsntuin Mama masak, Kak!" batin Karamel merasa sedih mengingat kenangan sang mama yang selalu berteriak melarang Karamel untuk memasak.


"Jangan pegang pisau itu nanti tangan kamu terluka, Sayang."


"Mama bisa sendiri, kamu duduk aja lihat Mama masak ya."


"Biar Bik Asih yang melakukannya, Sayang."


"Sayang, kamu tunggu di meja makan saja ya. Nanti Mama sama Bik Asih siapin makananya."


"Mama akan masak menu ayam yang banyak buat kamu tapi kamu duduk manis aja ya, Sayang."


Karamel mengingat kata-kata yang sering mamanya ucapkan, Kecuali ada banyak tamu penting, Karamel baru di minta tolong untuk membantu sang mama di dapur.


"Mah, Kara kangen Mama." batin Karamel mengepal tangannya menahan air matanya agar tidak jatuh.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


...Lah bukannya udah tamat ya? Ini kenapa lanjut?...

__ADS_1


...Jawabannya adalah, males buat yang baru jadi lanjut sini aja, thor mau buat sampai baby G lahir alisa anak Karamel sama Leo lahir...


__ADS_2