
Sementara itu di tempat lain seorang pria sedang duduk di kursi sambil kedua kakinya ia angkat dan ia letakkan di atas meja, mata pria itu menatap layar laptop yang sedang menampilkan foto seorang wanita.
"Katakan !!" ucapnya ketika tangannya sudah menekan alat yang ada di telinganya sebelah kirinya, mata pria itu terpejam saat bawahannya memberikan sedikit informasi yang ia minta.
"Baiklah Leo dan Keisha, kalian pasti tidak akan mengira di antara banyaknya anak buah Leo yang berjaga di halaman rumah itu, ada satu bawahanku yang berhasil menyelinap dan menyambar di sana." batin Zayn tertawa di dalam sana karena baru saja anak buahnya mengatakan sesuatu yang tidak terduga.
"Apa aku sebod*h itu hingga kalian mengira rencana kalian untuk membawa Karamel pergi tidak akan aku ketahui? Ck!" sengit Zayn meremehkan Leo dan Keisha yang memang sangat pintar namun mereka kurang waspada terhadap sekitarnya.
Klik ....
Zayn memutus komunikasinya dengan bawahan yang ada di kediaman Leo lalu Zayn menatap dua anak buahnya yang berada di depannya.
"Ini adalah foto mobilnya, cegat mereka dan bawa keduanya ke gudang." titah Zayn melempar dua foto mobil serta plat mobil Keisha kepada dua anak buahnya itu.
"Lakukan sekarang!" titahnya sambil menampilkan senyuman sinis, segera kedua anak uah Zayn mengambil foto itu dan pergi melaksanakan perintah bos mereka.
"Permainan sudah di mulai." ucap Zayn mengingat beberapa hari yang lalu pria itu mengirimkan sebuah kotak ke kediaman Leo, dan Karamel membaca isi kotak itu. Di mana wanita itu kira kotak itu di buat oleh Leo padahal yang sebenarnya Zayn lah yang mengirimnya lewat satu anak buahnya yang berhasil menyamar di kediaman itu.
"Selamat menikamti permainannya, Karamel Listra atau Lady Queen. Hahaha!" ucap Zayn tertawa keras khas tawa orang jahat, eh jiwa pria itu memanglah jahat. Oops!
.........
Di kesunyian malam yang hanya di terangi oleh rembulan dan bintang-bintang, Karamel terus menatap ke arah luar kaca, di mana kini mereka sedang melewati hutan-hutan yang rimbun. Sebenarnya Keisha ingin membawa Karamel ke mana? Kenapa begitu lama sekali mereka bepergian.
"Keisha!" penggil Karamel menoleh ke arah Keisha yang sejak tadi tidak bosan-bosannya memainkan tabletnya.
"Kenapa cantik?" tanya Keisha menatap ke arah Keramel.
"Sebenernya lo mau bawa gue ke mana sih? Udah satu jam loh ini tapi kok kita enggak sampe-sampe juga, kira-kira berapa jam lagi kita sampai ke tujuan kita?" tanya Karamel mulai jenuh karena perjalanan mereka sangat panjang.
Karamel sempat meminjam handphone Keisha untuk menonton video-video yang ada di youtube namun lama-kelamaan wanita itu merasa bosan juga lalu Karamel mencoba untuk memejamkan matanya agar bisa tidur namun dirinya tidak bisa juga hingga dirinya benar-benar jenuh, dirinya ingin tahu berapa lama lagi mereka akan sampai ke tujuan mereka.
"Bentar lagi kita sampe kok, pokoknya gue bakal bawa lo jauh dari perkotaan biar lo aman dan enggak di kejar-kejar sama tikus liar." ucap Keisha membuat Karamel mendengus, tak lama dari itu Keisha mendapatkan telepon dari adik tirinya namun pria itu menggeser tombol merah.
Di saat seperti ini, Keisha tidak mau di ganggu oleh siapapun termasuk adik tirinya itu namun anehnya Zoeya tidak menyerah dan terus saja menghubungi Keisha membuat Keisha mengeraskan rahangnya marah karena adik tirinya itu semakin berani mengganggu dirinya.
"Angkat aja dulu, mungkin ada hal penting yang mau dia omongin sama lo, lagian berisik tauk denger nada dering lo yang keras banget itu." omel Karamel membuat Keisha tepaksa mengangkat telepon dari adiknya itu.
"Halo ...."
Dorr ....
Dorr ....
Dari arah belakang suara tembakkan itu begitu menggelegar, baik Keisha maupun Karamel sama-sama di buat kaget oleh suara tembakkan itu hingga tanpa sadar Keisha menjatuhkan handphonenya.
"Kei," panggil Karamel dengan mata membola saat dirinya melihat ke arah belakang, ada banyak sekali mobil hitam yang mengikuti mereka.
"Sial! Kita ketahuan, mereka pasti orang-orangnya si berengs*k itu." umpat Keisha membuat Karamel mengerutkan dahinya, ternyata dugaan wanita itu benar, ada musuh yang sedang mengincar Karamel maka dari itu suaminya sangat khawatir padanya.
"Tapu bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaan kita?" gumam Keisha mengerutkan dahinya.
"Ini tidak mungkin hanya kebetulan semata Tuan, pasti ada seseorang yang mengetahui rencana kita sebelumnya." ucap supir pribadi Keisha membuat Keisha menyipitkan matanya, pria itu memutar otaknya untuk berfikir keras.
"Ya, mata-mata!" gumam Keisha sudah menyadari kenapa mereka bisa sampai ketahuan oleh Zayn.
"Di rumah Leo pasti ada mata-mata," ucap Keisha mengeraskan rahangnya marah.
"Siapa mereka, Kei?" tanya Karamel membuat Keisha tersentak karena baru saja dirinya keceplosan bicara di depan istri sahabatnya itu.
"G-gue juga enggak tahu tapi lo tenang aja, anak buah gue pasti bisa cegah mereka." ucap Keisha kemudian pria ita berbicara para semua bawahannya untuk menyerang para mobil-mobil hitam yang ada di belakang mereka.
Karamel menoleh ke arah samping kanan dan kirinya, di mana dua mobil yang di kemudi oleh anak buah Keisha sedikit merapat demi bisa melindungi mobil yang di tumpangi Karamel dan Keisha begitu juga dua mobil yang ada di belakang mereka yang saling merapat menutupi mobil mereka hingga kini posisi mobil Keisha berada di tengah-tengah keempat mobil anak buahnya.
Dorr ....
Dorr ....
Karamel memejamkan matanya, entah kenapa dirinya merasa takut saat mendengar suara tembakkan para anak buah Keisha dan musuh mereka itu, wanita itu memeluk perutnya dengan tubuh bergetar.
"Kara, lo kenapa?" tanya Keisha menatap cemas ke arah Karamel yang memejamkan matanya, wanita itu menggelengkan kepalanya cepat.
"Gue enggak apa-apa ...."
Brukk ....
Salah satu mobil milik anak buah Keisha yang ada di belakang di tabrak paksa oleh mobil musuh namun mobil itu hanya lecet sedikit saja, Karamel dan Keisha serentak menoleh ke arah belakang lalu.
Duarr ....
"Peledak !!" pekik Keisha dan Karamel bersamaan kala mobil yang di tabrak itu tiba-tiba meledak di belakang sana hingga mobil yang berada di sampingnya juga ikut terkena sambaran apinya.
"S*it! Tinggalkan mereka, Abill." pekik Keisha pada supirnya sehingga supirnya menginjak gas penuh sembari supir itu berusaha menghindari tembakkan dari para musuhnya juga.
Karamel semakin memeluk perutnya yang tiba-tiba mengencang, sakit rasanya namun Karamel berusaha berkomunikasi dengan anaknya lewat batin agar anaknya tidak merasa khawatir dan membuatnya menjadi panik.
Dorr ....
Dorr ....
"Akhhh !!!" pekik Karamel refleks karena kaca mobil di bagian belakang itu retak karena di tembak oleh musuh.
Kilatan mata Keisha begitu tajam, pria itu langsung mengeluarkan pistolnya dan membuka kaca mobilnya untuk menembaki musuh-musuh yang ada di belakang mereka.
Dorr ....
Dorr ....
Dorr ....
"Mereka terlalu banyak, Tuan. Akan sulit bagi kita untuk mengalahkan mereka." ucap Abill karena mereka hanya di kawal empat mobil saja sedangkan musuh yang mengejar mereka lebih dari dua kalipat.
"Dia bener Kei, jumlah mereka jauh lebih banyak dari kita." ucap Karamel menimpali juga.
Keisha memasukkan kepalanya dan menutup kaca mobilnya, "Kalo gitu kita berdua harus ke hutan," ucap Keisha menatap mata Karamel dan tanpa ragu wanita itu langsung menganggukkan kepalanya setuju.
Keisha langsung memerintahkan anak buahnya yang ada di mobil lain untuk mencegah para mobil musuh agar tidak mengejar mereka lalu setelah itu Abill menancapkan gasnya penuh meninggalkan dua mobil anak buah Keisha yang di perintahkan untuk menghalangi mobil musuh.
"Mereka udah enggak ada di belakang," ucap Karamel karena jarak mereka dengan mobil para musuh itu sudah sangat jauh.
"Hentikan mobilnya, Bill !!" titah Keisha sehingga Abill menghentikan mobilnya lalu Keisha dan Karamel keluar dari mobil menuju hutan sedangkan Abill di petintahkan Keisha untuk terus menjalankan mobilnya sehingga para musuh itu tidak akan curiga nantinya.
"Akh! Kei ini ...."
"Ssttt!" ucap Keisha membungkam mulut Karamel dengan tangannya lalu ia menarik Karamel untuk bersembunyi di semak-semak kala mobil-mobil para musuh itu lewat tepat saat mereka baru saja akan berlari.
"Mereka enggak ngeliat kita 'kan?" tanya Karamel ketus pada Keisha yang menenggelamkan kepala wanita itu di bawah ketiaknya, Karamel sebenarnya ingin marah namun situasi genting seperti ini sungguh tidak baik jika dirinya harus marah-marah dengan Keisha yang sangat tidak sopan meletakkan kepalanya di bawah ketiak pria itu.
__ADS_1
Dasar Keisha sialan !!
"Keyaknya enggak!" ucap Keisha namun tiba-tiba saja dari kejauhan salah satu mobil musuh itu berhenti mendadak membuat Keisha terbelalak kaget.
Tanpa meminta izin, Keisha langsung menggedong tubuh Karamel dan membawa wanita itu masui kedl dalan hutan yang gelap dan hanya di terangi oleh bulan saja.
"Lo ngapain ...."
"Sstt! Lo enggak lihat mobil mereka berhenti, itu artinya mereka ngeliat kita," ucap Keisha membuat Karamel diam dan menggulungkan tangannya di leher Keisha, wanita itu tidak berani membantah kala nyawanya sedang terancam.
Bulan memancarkan cahaya yang cukup terang untuk melihat pohon-pohon di sekitar. Langit ditaburi bintang-bintang yang berkilauan menghiasi indahnya langit malam, angin kencang menerpa pohon-pohon dan dedaunan. Satu-satunya suara adalah kicauan jangkrik yang terus-menerus dan sesekali suara burung hantu. Selain itu, tidak ada apa-apa.
Pria itu terus melangkahkan kakinya untuk berlari sejauh yang ia bisa sampai bermenit-menit lamanya, kaki pria itu mulai terasa lemas karena dirinya berlari sembari menggendong bumil itu tidaklah enteng.
"Berat badan lo berapa sih, bebe? Kok berat banget." ucap Keisha membuat Karamel memukul dada pria itu dengan pelan.
"Enggak lihat lo, gue hamil besar kayak gini? Lo itu sama aja kayak lagi gendong dua orang sekaligus tahu enggak." omel Karamel dengan kesal membuat Keisha terkekeh karena dirinya membuat sedikit lelucon yang berhasil membuat Karamel kesal, semoga Karamel tidak merasa tegang dan takut. Harap Keisha.
Lama Keisha berlari jauh, Karamel menatap wajah Keisha yang samar-samar bisa ia lihat karena cahaya rembulan, pria itu sudah mulai merasa lelah namun pria itu hanya diam saja demi bisa melindungi Karamel dan anaknya.
"Istirahat dulu aja, Kei." ucap Karamel merasa kasihan dengan Keisha karena keringat pria itu jatuh mengenai tangannya bagaikan hujan rintik-rintik, dirinya pasti sangat berat. Fikir Karamel.
"Enggak apa-apa, gue masih kuat kok gendong bumil cantik kayak lo." ucap Keisha masih terus berlari, padahal kaki pria itu mulai merasa keram.
Dorr ....
Keisha dan Karamel sedikit tersentak kala mendengar suara pistol dari jarak yang lumayan jauh, mereka yakin itu adalah musuh yang mengejar mereka tadi.
"Sial!" umpat Keisha mempercepat langkahnya hingga sudah cukup jauh, Keisha menurunkan Karamel di dekat batu besar yang di kelilingi oleh semak-semak.
"Gue enggak yakin jumlah mereka ada sedikit, lo harus tetap diem di sini. Biar gue keluar ...."
"Apa-apaan lo! Enggak ada enggak ada, lo mau cari mati apa?" tolak Karamel menggenggam tangan Keisha, wanita itu bukan takut di tinggal sendirian tapi wanita itu tidak mau Keisha mati sia-sia demi menyelamatkan dirinya dan anaknya.
"Kara ...."
"Asal lo tahu aja, gue pernah ada di posisi kayak gini dan lo tahu, orang terdekat gue mati karena ngelindungin gue." ucap Karamel mengingat dulu Vian mempertaruhkan nyawanya demi Karamel. Dan walaupun Keisha tidak terlalu dekat dengan Karamel, tetap saja wanita itu tidak mau peristiwa lama itu terjadi lagi pada Keisha.
"Gue enggak mau itu terjadi lagi, gue mohon." pinta Karamel hingga Keisha menghela napas kasar lalu pria itu menganggukkan kepalanya patuh.
"Tunggu! Kenapa gue bisa patuh kayak gini ya sama Karamel? Biasanya juga sama Leo sering gue bantah, apa karena dia cewek kali ya." batin Keisha mengerjapkan matanya beberapa kali, selama ini Keisha tidak pernah kenal atau dekat dengan seorang wanita manapun kecuali dirinya hanya kenal dengan Zoeya, itu juga karena Zoeya adalah adik tirinya.
Keisha adalah orang yang keras kepala dan egois, apapun yang ia putuskan akan sangat sulit sekali untuk mengubah keputusan pria itu namun kali ini anehnya Karamel menyuruhnya untuk tetap berada di sisi wanita itu, dan Keisha langsung mengangguk setuju saja.
.........
Di dalam mobil, Zoeya berusaha menelepon seseorang kala dirinya ingin memberitahu orang itu tentang sesuatu yang penting bahkan sangat sangat penting.
"Ayolah Leo, aku mohon angkat teleponku sekali ini saja." desis Zoeya menggigit kukunya kala wanita itu merasa sangat-sangat panik.
"Akh! Seharusnya aku tidak mengikuti egoku dan berhenti mengikuti kak Keisha tadi." ucap Zoeya mengingat di kantor kakak turinya tadi sore, wanita itu melihat kakak tirinya keluar dari kantor namun pada saat Zoeya mengikuti Keisha hingga setengah perjalanan, wanita itu menjadi malas untuk mengikuti kakak tirinya lagi karena arah jalan yang di tuju kakak tirinya itu adalah kediaman Leo.
"Bod*h !" umpat Zoeya mengumpati dirinya sendiri yang begitu bod*h dan egois.
Sudah betpuluh-puluh kali Zoeya menghubungi suaminya Karamel tapi tetap saja pria itu tidak mau mengangkat teleponnya, Zoeya bisa menebak kenapa Leo tidak mau mengangkat telepon darinya, itu pasti karena Leo tidak mau berurusan dengan Zoeya yang pernah menindas istrinya. Zoeya memejamkan matanya kesal karena pria itu sulit sekali untuk di hubungi.
"Kau bajin*an yang sangat menyebalkan, Leo." umpat Zoeya sudah menyerah untuk menelepon pria itu namun jari-jemari wanita itu sibuk mengetik sesuatu di layar handphonenya, walau tangan wanita itu bergetar kuat saat mengetik namun ia tetap menyusun setiap kata yang harus ia sampaikan pada Leo, lalu setelah itu Zoeya mengirim pesan itu pada Leo.
"Semoga Leo membaca pesanku, jika tidak aku akan membunuh pria sialan itu." umpat Zoeya meletakkan handphonenya lalu ia menancapkan gas mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.
.........
"Mereka berhasil melarikan diri ke hutan, Bos." lapor salah satu anak buah Zayn yang di tugaskan untuk mengejar Karamel dan Keisha.
"Ck menyusahkan! Sepertinya aku harus turun tangan sekarang." ucap Zayn mematikan komunikasinya dengan sang anak buah lalu Zayn bangkit dari tempat duduknya.
"Kau mau ke mana?" tanya Widia ikut bangkit dari tempat duduknya.
"Jika kau ingin menyiksa Karamel maka kau harus tetap berada di sini, aku akan segera membawa wanita itu ke hadapanmu." ucap Zayn tajam kemudian dirinya pergi dari gudang itu, di ikuti oleh para anak buahnya namun ada beberapa yang tinggal di gudang itu juga bersama dengan Widia.
"Apa ini yang di namakan kerja sama? Aku hanya di suruh diam menunggu saja," kesal Widia karena sejai awal Zayn tidak pernah memberinya tugas apapun.
Sementara itu Karamel dan Keisha tidak bisa apa-apa, mereka hanya bisa bersembunyi dari para anak buah Zayn hingga saat suara langkah kaki beberapa orang terdengar ada di sekitar mereka, Keisha lebih waspada pada sekitarnya.
Jika Keisha harus mati sekarang, pria itu rela mengorbankan nyawanya demi tugasnya untuk menyelamatkan istri sahabat sekaligus lordnya yaitu Leo.
"Gue enggak izinin lo pergi atau gue bakal marah sama lo, Kei." bisik Karamel membuat Keisha tersenyum miring lalu pria itu mengacak-acak rambut wanita itu.
Hati Keisha merasa hangat kala mendapatkan perhatian dari Karamel, dirinya tidak pernah menemukan wanita sebaik Karamel, mungkin ada namun Keisha tidak mengetahuinya.
"Lo pasti tahu dua pilihan ini Kara, kalau kita enggak nyerang musuh maka kita yang bakal di serang sama musuh." ucap Keisha membuat Karamel terdiam karena dirinya sangat familiar dengan kata-kata itu.
'Pertanyaanmu itu terlalu mudah untuk di jawab, Vian. aku tidak ... baiklah! Aku akan menjawabnya, aku lebih suka menatang dari pada di tantang. Sama seperti sebuah pilihan jika bukan kita yang menyerang musuh duluan maka musuh akan lebih dulu bergerak meyerang kita, dan Lady Queen lebih suka menyerang duluan.'
Karamel mengingat kata-katanya di masa lalu saat Vian masih hidup. Ya, wanita itu pernah mengucapkan kata-kata yang sama seperti Keisha saat dirinya mendapatkankan pertanyaan dari tangan kanannya dulu.
"Dan situasi ini, gue harus maju duluan buat nyerang mereka satu-persatu atau kalo gue diem di sini terus sama lo, kita berdua bakal ketangkap dan mati di tangan mereka." ucap Keisha membuat Karamel menghela napas panjang.
"Selama gue keluar ngehadapain mereka, gue mohon sama lo jangan keluar dari sini." pinta Keisha namun Karamel ragu untuk menyetujuinya, pasalnya bagaimana jika Keisha tidak selamat? Karamel pasti akan merasa bersalah lagi karena membiarkan orang lain mengorbankan nyawanya demi dirinya.
"Gue bisa ngatasin mereka, percaya sama gue." ucap Keisha dan Karamel menganggukkan kepalanya pelan lalu pria itu berjalan keluar dari semak-semak itu.
"Aku mohon selamatkan Keisha," gumam Karamel memejamkan matanya lirih.
Dorr ....
Dorr ....
Karamel semakin memejamkan matanya kuat kala mendengar suara tembakkan yang entah milik siapa itu, semoga bukan Keisha yang terkena tembakkan itu. Harap Karamel.
Berpuluh-puluh menit kemudian Keisha tak kunjung kembali juga , berapa lama lagi Karamel akan menunggu? Perasaan wanita itu menjadi tidak tenang, sekali lagi wanita itu berdo'a semoga Keisha baik-baik saja di luar sana.
"Kara ....!" panggil Keisha dengan suara lemah membuat Karamep berdiri dari tempatnya.
"Keisha, lo ...."
"Jumlah mereka semakin banyak, kita harus cepat pergi dari sini." ucap Keisha menggedong Karamel membuat Karamel membulatkan matanya kaget, pasalnya lengah sebelah kanan dan dada Keisha bercucuran darah segar.
"Kei lo turunin gue aja ya, gue bisa ...."
"Enggak baik bumil lari-lari." ucap Keisha tersenyum lebar, Karamel menatap sedih kala wajah Keisha ada banyak luka lebam, Karamel yakin Keisha pasti sempat baku hantam dulu dengan beberapa orang jahat itu.
Seorang pria mengarahkan pistolnya ke arah langit dan, Dorr !! Suara tembakkan itu tepat berada di depan Keisha dan Karamel.
"Hahahaa.... !!!" tawa jahat seorang pria ketika dirinya telah berhasil menemukan buruannya membuat Keisha tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi, karena pria itu berdiri tepat di depan mereka saat ini sedangkan semua anak buah pria itu mengepung mereka dari segala arah.
"Boom! Aku sudah berhasil menemukan kalian, permainanpun berakhir." ucap Zayn membuat Karamel menyipitkan matanya berusaha melihat siapa orang yang ada di hadapan mereka saat ini namun karena posisi mereka berada di tengah-tengah yang di terangi senter para anak buah Zayn, wanita itu tidak bisa melihat wajah Zayn.
__ADS_1
"Berengs*k!" pekik Keisha marah.
"Oh hai kakak ipar!" sapa Zayn membuat Karamel mengerutkan dahinya siapa yang di panggil kakak ipar oleh pria itu?
"Orang sepertimu tidak pantas menjadi adik iparku, berengs*k." sengit Keisha membuat bola mata Karamel membola, ternyata Keisha orangnya.
"Sayangnya sebentar lagi aku akan menjadi adik iparmu karena aku dan adikmu akan segera menikah!" ucap Zayn membuat mata Keisha memerah padam.
Karamel mengerutkan dahinya, apakah pria itu adalah kekasih Zoeya? Jika benar, apakah Zoeya bersekongkol dengan pria itu untuk menculik Karamel? Karamel mendongakkan kepalanya, Keiaha pasti mengetahui siapa pria itu!
"Ah ya! Kau dan Leo sangat bod*h karena tidak bisa melindungi wanita itu dengan baik, sekarang kalian berdua tidak ada harapan untuk bisa kabur lagi. Barikan wanita itu padaku maka kau akan aku bebaskan, Kakak ipar." ucap Zayn masih menghargai Keisha sebagai kakak yang di sayangi oleh wanitanya yaitu Zoeya.
"Jangan harap kau bisa menyentuhnya, berengs*k." pekik Keisha dengan ganas.
"Haha !! Kau benar-benar keras kepala sama seperti wanitaku." ucap Zayn melirikkan matanya pada anak buahnya untuk menyerang Keisha.
Swing ... sleupp!
Keisha membulatkan matanya kaget kala leher bagian kanannya di tusuk jarum, seketika wajah Keisha berubah memerah dan mata pria itu mengerjap beberapa kali kala pandangannya berubah kabur, perlahan kedua tangannya menurunkan tubuh Karamel.
"Keisha!?" panggil Karamel khawatir dan Keisha menggoyangkan kepalanya pusing. Sial! Anak buah Zayn pasti menusukkan jarum bius dengan dosis tinggi ke tubuhnya.
"Kara, lari !!" bisik Keisha sebelum mata pria itu tertutup sempurna.
"Enggak Kei, aku mohon buka mata lo." pinta menepuk pipi Keisha dengan pelan, mata Karamel menatap ke arah leher Keisha yang terdapat jarum suntik.
"Keparat !!" umpat Karamel menggenggam tangannya kuat marah, mata wanita itu melirik ke kanan dan ke kiri, Keisha menyuruhnya untuk berlari namun dari sisi mana wanita itu bisa melarikan diri? Karamel memejamkan matanya.
'Mata adalah kunci utama, jika kau ingin melarikan diri dari musuhmu, kau harus berusaha mengalihkan pandangan mata mareka agar tidak melihatmu, Lady.'
"Mata!" gumam Karamel membuka matanya ketika dirinya mengingat kata-kata Vian dulu saat mereka sedang membantai musuh. Karamel kembali melirikkan matanya ke sisi kiri dan kanan, ada sela di sisi kiri, wanita itu menganggukkan kepalanya pelan.
"Gue yakin lo pasti bakal baik-baik aja, Kei." ucap Karamel karena yang di incar oleh orang jahat iti adalah Karamel bukan Keisha.
"Mas Leo, aku di sini." pekik Karamel menatap ke arah depan, di mana Zayn berada hingga Zayn menoleh ke arah belakang dan tanpa Karamel duga para anak buah Zayn yang lain berlari ke arah Zayn untuk melindingi tuan mereka.
"Bod*h !!" desis Karamel kemudian kabur dari sana. Dorr! Saat Karamel berlari, ia mendengar suara tembakkan. Karamel yakin pria jahat itu sedang murka karena para anak buahnya mudah sekali tertipu olehnya.
"Di mana wanita itu, berengs*k?!" pekik Zayn kala Karamel sudah tidak ada di dekat Keisha lagi, sudah di pastikan wanita itu berhasil kabur.
"Pergi cari wanita sialan itu, bod*h!" pekik Zayn hingga semua anak buah Zayn berpencar untuk mencari keberadaan Karamel.
"Berani-beraninya dia menipuku, akan ku buat menyesal kau wanita sialan," sengit Zayn ikut melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Karamel.
.........
...Kediaman Keluarga Mahnedra...
Leo baru saja sampai di rumah, pria itu menatap setiap sudut rumah. Kosong! Istrinya pasti sudah di bawa oleh Keisha, Leo menghela napas lega karena istrinya aman bersama Keisha sekarang.
Namun baru saja pria itu akan naik tangga, tiba-tiba saja Leo mendengar suara keributan di luar rumahnya, pria itu menyipitkan matanya lalu ia berjalan keluar rumah. Ada beberapa orang yang hendak menerobos masuk ke gerbang rumah Leo membuat beberapa anak buah Leo kehilangan kesabarannya dan ingin menebak orang-orang itu.
"Simpan kembali sentaja kalian !!" pekik Leo mencegah para anak buahnya hingga mereka terpaksa memasukkan kembali senjata api mereka.
"Biarkan mereka masuk!" titah Leo sehingga keempat orang itu masuk ke halaman rumah Leo dan menghadap Leo.
"Bukankah kalian anak buahnya Keisha?" tanya Leo menyipitkan matanya kala dirinya mengenal satu di antara mereka berempat. Kenapa tubuh mereka di penuhi banyak luka dan darah? Fikir Leo bertanya-tanya.
"Benar Tuan! Mohon maaf sebelumnya Tuan, kami di sini ingin menyampaikan berita buruk," ucap seorang pria yang terluka parah di beberapa bagian tubuhnya termasuk perutnya yang berdarah, dia adalah Abill.
"Berita buruk apa?" tanya Jeffry mewakili Leo yang pastinya ingin tahu berita apa yang ingin di sampaikan para anak buahnya Keisha.
"Istri anda dan Tuan Keisha sedang di kejar oleh para mafioso The Black Tounge, Tuan." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
Degg ... degg !!!
Detak jantung Leo berdegup dua kali lebih cepat saat mendengar kata-kata pria itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya ?" pekik Leo murka sembari mengeraskan rahangnya ingin memukul para anak buah Keisha yang tidak becus menjaga istrinya.
"Kami telah menyusun rencana dengan sangat matang, mustahil orang lain bisa mengetahui rencana kami kecuali orang-orang yang ada di kediaman anda, Tuan." ucap Abill membuat Leo mengerutkan dahinya, pria itu berfikir apa maksud dari kata-kata Abill yang menyebutkan orang-orang yang ada di kediamannya?
"Mata-mata !!" sengit Leo langsung paham dengan kata-kata pria itu, mata Leo melirik ke sekeliling halaman rumahnya lalu pria itu menatap Jeffry.
"Bunuh semua anak buahku." pekik Leo memerintahkan Jeffry untuk membunuh semua anak buahnya.
Tidak! Semua mafioso milik Leo pasti mengerti perintah tuan mereka, jika tuan mereka memerintahkan Jeffry untuk membunuh semua anak buahnya maka para mafioso milik Leo akan mendekati tuannya dan menyerahkan nyawa mereka dengan suka rela. Walau itu tidak mungkin Leo lakukan!
Satu di antara ratusan anak buah Leo menjadi terkejut saat mendengar perintah Leo.
Semua anak buah Leo banyak yang berlarian begitu juga sang mata-mata itu namun. Dorr! Kaki sang mata-mata itu di tembak oleh Leo karena sang mata-mata itu berlari tidak searah dengan anak buahnya yang lain, semua anak buah Leo kompak berlari ke arah tuan mereka namun sang mata-mata itu malah berusaha kabur lewat gerang rumah.
Dorr ....
Dorr ....
Dorr ....
Leo berjalan sambil menembak si mata-mata itu dengan ganas, pria itu sengaja menembak di bagian-bagian kaki dan perut si mata-mata itu karena Leo ingin membuat si mata-mata itu menjadi tersiksa
Bukk ....
Bukk ....
Leo menghajar si mata-mata itu dengan sangat brutal hingga akhirnya Jeffry dan Abill menghentikan aksi tuan mereka yang menjadi gelap mata karena ulah si mata-mata itu, istri Leo menjadi di kejar-kejar oleh anak buah Zayn.
"Berengs*k apa untungmu menjadi mata-mata pria bajin*an itu, hah!" pekik Leo sangat murka.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku, aku bersumpah akan mengirimmu ke neraka bahkan jika kau memiliki keluarga sekalipun, akan ku kirim semua keluargamu sekalian ikut bersamamu, ******* !!" pekik Leo lalu pria itu pergi untuk mencari istrinya.
.........
"Kara! Oh Kara, kau bersembunyi di mana? Aku bisa melihatmu, kau tidak akan bisa lari ke mana-mana lagi sekarang." kata-kata itu di ucapkan bernanda seperti lagu tapi lagu horor.
"Kara! Oooh Kara ...."
.
.
.
::: Bersambung :::
...Adegan terakhir ada yang bisa bayangin aatu praktikin enggak nih? Itu harus benanda loh ngomongnya....
...Maaf kalo adegannya kurang gereget!...
__ADS_1
...Ohya ada hal yang tidak terduga di part selanjutnya, apakah itu?...