Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 47


__ADS_3

Aldy dan Tania keluar dari sekolah dan masuk ke dalam mobil milik Tania, kemudian Tania bertanya hal apa yang ingin di sampaikan kakaknya itu.


"Mama tadi nelepon gue katanya Grandma udah sadar dari komanya," ucap Kak Aldy.


"Beneran?" tanya Tania.


"Iya Grandma udah sadar tapi kata Mama kondisi Grandma belum bisa di bilang sembuh total karena waktu Grandma sadar tekanan darah Grandma menurun drastis," jelas Aldy.


"Grandma masih inget kita 'kan?" tanya Tania dengan hati-hati.


"Masih," ucap Aldy membuat Tania tersenyum senang karena ternyata kemungkinan grandmanya akan hilang ingatan, itu tidak terjadi.


"Ohya! Tadi maksud lo apa bilang kalo gue cuma pacaran doang sama Leo? Lo udah setuju gue pacaran sama Leo?" tanya Tania menyelidik.


"Terserah deh lo mau pacaran sama siapa aja, itu bukan urusan gue, tapi lo harus inget ...." Aldy menggantung perkataannya.


"Inget apa?" tanya Tania penasaran.


"Ck! Tanpa restu, lo nggak akan bisa bersatu sama pacar lo," ucap Aldy membuat Tania bungkam.


.........


Setelah sekian lama berada di mobil, Tania dan Aldy kembali masuk ke sekolahan, mereka berdua berjalan beriringan tapi saat melewati koridor kakak-adik itu melihat ke arah lapangan, yang begitu ramai.


"Leo, go Leo."


"Leo, saranghae."


"Bebeb Leo, ganteng banget sih."


"Kipasin gue sekarang, buruan gue panas lihat pangeran Cleoku tersyang."


Jeritan dan juga pujian yang di lontarkan oleh murid-murid perempuan sangat memekakan telinga Tania karena mereka meneriaki nama kekasihnya, sedangan Aldy pergi begitu saja meninggalkan Tania entah ke mana.


"Ck!" Tania berdecih kemudian ia pergi ke arah kelasnya namun saat akan menaiki tangga wanita itu tidak sengaja melihat sang ketua osis sedang duduk sembari memejamkan matanya.


Tania tersenyum jahat sebelum ia berjalan pelan mendekati Faza hingga saat berada tepat di samping pria itu, Tania pun melakukan aksi jahilnya.


"Kebakarannnn, tolong kebakaran." pekik Tania tepat di telinga Faza hingga tanpa Tania sadari beberapa siswa-siswi melihat kejahilan Tania.


"Kebakaran, mana kebakaran, buruan tolongin!" pekik Faza berlari ke arah toilet, mungkin pria itu ingin mengambil air menggunkan ember.


"Pfttt, bhahahaa !! " Tania tertawa jahat karena melihat tingkah Faza kemudian Tania berlari menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas, Tania tidak melihat ada satu orang pun di dalam kelasnya. Ck! Wanita itu berdecih kemudian ia berjalan ke atas rooftop hingga bermenit-menit lamanya.


I need somebody to heal


Somebody to know


Somebody to have


Somebody to hold


It's easy to say


But it's never the same


I guess I kinda liked the way you numbed all the pain


Now the day bleeds


Into nightfall


And you're not here


To get me through it all

__ADS_1


I let my guard down


And then you pulled the rug


I was getting kinda used to being someone you loved.


Tania bernyanyi lagu someone you loved.


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I ....


Ehem ....


"Ay ... astaghfirullahaladzim," pekik Tania.


"Astaga! Gilak kali ya ni or – ang." ucapan Tania memelan di akhir kalimatnya karena dirinya melihat seorang laki-laki berdiri memandangi dirinya dengan sangat tajam.


"Eh, ketos." ucap Tanua cengengesan.


"Impas," ucapnya dan tentu Tania paham akan kata-kata 'impas' si pak ketos.


"Iya, impas," dengus Tania.


"Galau lo?" tanya Faza terdengar mengejekku.


"Nggak," ucap Tania.


"Suka banget bohong lo ya," ucapnya duduk di samping Tania.


"Tunggu," cegah Tania cepat sehingga Faza menghentikan pergerakannya lalu menatap Tania dengan tanda tanya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Tanua dengan raut wajah serius tapi Faza hnya diam saja.


"Tentang kalian," ucap Tania dan pria itu tetap saja diam dan hanya mengernyitkan dahinya saja.


"Duduk dulu Pak ketos," geram Tania menarik Tanua Faza untuk duduk kembali di sampingnya.


"Apa?" tanyanya melepas genggaman Tania.


"Em! Gue mau minta tolong dong, ceritain sama gue tentang masa lalu kalian," ucap Tania tanpa basa-basi.


"Apa?" tanyanya.


"Gue tahu kok lo sama Aldy – Leo itu dulunya sahabatan 'kan tapi sekarang ...."


"Lo tahu dari mana kalo dulu kita bertiga pernah sahabatan?" tanyanya memotong perkataan Tania membuat Tania tersentak.


"Tania, lo sebenarnya siapa?" tanya Faza mengintimidasi Tania.


"Gu-gue ya Tania," ucap Tania.


"Lo lagi nyari tau masa lalunya Aldy sama Leo buat apa?" tanya Faza.


"Ada deh pokoknya," ucap Tania.


"Nggak, lo nggak harus tau masa lalu mereka berdua ataupun gue," tolak Faza spontan.


Buset! – batin Tania kaget.


"Ayolah! Demi Kak Sasya," ucap Tania berpura-pura memelas, dirinya sedang mengaku sebagai adiknya Sasya jika Faza peka.

__ADS_1


"Sasa?" ucap Faza ternyata peka.


"Iya," jawab Tania bohong.


Semalam Tania menyuruh seseorang untuk mencari segala informasi tentang Sasya hingga ketika ia sudah mendapatkan informasinya, ia ingat Sasya memiliki seorang adik kandung yang tidak di ketahui wajahnya oleh para sahabat Sasya.


"Benaran lo Sasa?" tanya Faza lagi dan Tania menganggukkan kepalanya pelan, wanita terpaksa berbohong karena dirinya ingin mengorek segala masalah kakaknya bersama para sahabatnya.


"Bantu gue, Aldy sama Leo suka sama Kak Sasya tapi Kak Sasya ...." ucapan Tania terpotong oleh Faza.


"Mencintai Aldy," ucap Faza.


"Gue percaya lo adik Sasya, itu karena cerita ini cuma para sahabat Sasya yang tahu dan sekarang lo tahu masa lalu kita, gue yakin Sasya banyak cerita sama lo." ucap Faza.


"Kenapa lo jarang ketemu Kakak lo?" tanya Faza.


"Gue sekolah dan tinggal di Palembang jadi gue jarang ke Jararta," ucap Tania mengingat bahwa Sasa dan Sasya pisah karena kedua orang tuanya yang bercerai, Sasya ikut dengan sang Ibu di Jakarta sedangkan Sasa ikut dengan sang ayah di Palembang.


"Gue tahu lo di Palembang tapi Sasya selalu bilang lo nggak akan pernah dateng buat ketemu sama dia lagi karena lo udah bahagia di tempat lo," ucap Faza.


Sasya begitu memendam rasa sedihnya sendirian, tak ada yang tahu wajah adik Sasya dan tak ada yang tahu bahwa Sasa sudah tiada sejak dini.


"Gue nggak punya waktu buat ketemu dia jadi gue bilang sama dia kalo gue bahagia di Palembang tanpa mau balik lagi ke Jakarta," ucap Tania semakin besar kebohongannya.


"Waktu Sasya meninggal ...."


"Gue nggak di sana tapi satu tahun kepergian Kak Sasya gue datang ke Jakarta buat cari tahu tentang Kak Sasya, gue ngerasa kayak anak sama adik durhaka tapi mau bagaimana lagi bocap sama nyocap pisah waktu umur gue masih delapan tahun dan gue nggak berani ketemu nyokap gue yang udah lama nggak pernah ketemu sama gue," ucap Tania dengan manta menggenang kala dirinya mengingat malam di mana ia membaca semua tentang Sasya.


"Jangan nangis Sa, atau kakak lo bakal sedih lihat lo nangis," ucap Faza lembut.


"Gue sedih, Za. Perempuan tangguh kayak Sasya harus menahan beban derita yang sangat pahit dalam hidupnya dan penderitaannya selalu dia pendam sendirian," batin Tania seraya langsung menghapus air matanya yang menetes.


"Gue bakal cerita semuanya sama lo tapi lo harus janji jangan nangis lagi. Oke?!" ucap Faza tersenyum pada Tania dan Tania menganggukkan kepalanya.


"Gue nggak nangis lagi," ucap Tania tersenyum menampakkan deretan gigi palsunya.


"Anak pintar," ucap Faza mengelus puncak kepala Tania membuat Tania tersenak karena sejak awal dirinya mengenal Faza baru kali ini Faza bersikap lembut padanya. Apa itu karena dirinya menyamar jadi adiknya Sasya?


"Lo tahu 'kan Aldy sama Leo itu cinta banget sama Kakak lo, mereka rela ngelakuin apapun demi Sasya, sebenarnya kita semua para sahabat Sasya itu perduli dan selalu menomor satukan dia tapi yang lebih perhatian sama Sasya itu Aldy sama Leo," ucap Faza mulai bercerita.


"Lo emang beruntung, Sya. Punya sahabat yang selalu menomor satukan lo." batin Tania.


"Za?!" panggilku.


"Kenapa?" tanyanya.


"Boleh gue tahu semua tentang persahabatan kalian?" tanya Tania.


"Tentu, gue bakal cerita semuanya sama lo tapi nggak sekarang karena gue harus turun, soalnya anggota OSIS harus kumpul sekarang." ucap Faza.


"Terus kapan dong ceritanya?" tanya Tania.


"Besok 'kan hari minggu, kita ketemuan di cafe Gourmet sekitar jam sepuluh atau jam sebelas, Gimana?" tawar Faza dan Tania mengangguk kemudian Faza pergi dari rooftop.


Tania sibuk memainkan handphonenya sampai akhirnya ada dua pesan masuk dari Apk linenya, Tania pun membuka pesan itu .


"Aku rindu," gumam Tania membaca pesan pertama.


"Apa kabar little girl Karamoy?" baca Tania lagi membuat Tania tersentak kaget dan terperangah.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...... Bersambung ......


__ADS_2