Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 258 (Takdir)


__ADS_3

Berlari dalam keadaan hamil besar tidak lah mudah bagi Karamel, baik kening, leher maupun bagian tubuh Karamel yang lain sudah di penuhi oleh keringat, dirinya merasa sangat lelah namun dirinya tidak bisa berhenti berlari atau dirinya akan tertangkap oleh pria jahat itu. Sesekali Karamel menoleh ke arah belakang hingga,


Brukk ....


Karamel menabrak tubuh seseorang di depannya hingga wanita itu jatuh ke tanah, "Akhh !!" ringis Karamel pelan karena tangan wanita itu tergores duri tumbuhan.


"Sudah aku katakan tadi, permainannya telah berakhir bukan lalu kenapa kau masih berani melarikan diri dariku, Hah?!" pekik Zayn berjongkok dan mencengkeram kuat kedua pipi Karamel, mata wanita itu langsung membulat kaget kala dirinya melihat wajah Zayn yang di terangi oleh cahaya rembulan.


"Zayn !!" batin Karamel.


"Oh, aku membuatmu takut ya?" tanya Zayn dengan seringaian jahatnya, Karamel mengeraskan rahangnya kesal lalu. Cuih! Tanpa rasa takut wanita itu langsung meludahi wajah Zayn membuat pria itu refleks menutup matanya tersentak kaget.


"Dalam kamusku tidak ada yang namanya rasa takut apalagi dengan pria bajin*an sepertimu." sengit Karamel tajam, Zayn mengusap wajahnya pelan lalu pria itu menatap tajam manik mata Karamel. Benar-benar wanita pemberani, yeah dialah lady queen! Fikir Zayn.


Plakk ...


Zayn menampar wajah Karamel dengan kasar hingga kepala wanita itu tertoleh ke samping, selama ini tidak ada wanita manapun berani menatap mata Zayn dengan sangat berani dan tajam seperti Karamel, pria itu kesal karena Karamel tidak merasa takut dengan dirinya bahkan berani meludahi dirinya juga.


"Bawa dia ke gudang!" titah Zayn pada anak buahnya sehingga kedua anak buahnya mengangkat paksa tubuh Karamel agar berdiri.


"Lepaskan aku, berengs*k." pekik Karamel meronta kala kedua anak buah Zayn lancang menyentuh dirinya.


"Kau pikir setelah aku mendapatkan mangsaku, aku akan melepasnya begitu saja?" tanya Zayn tersenyum miring, wanita itu hanya diam dan mengepal tangannya kuat.


Zayn melangkahkan kakinya duluan di depan lalu di susul oleh kedua anak buahnya yang membawa Karamel, kedua anak buah Zayn tampak mengerutkan dahinya aneh kala Karamel tidak memberontak dan malah berjalan santai mengikuti langkah mereka, mungkin wanita itu sudah menyerah dan pasrah! Pikir kedua anak buah Zayn.


Namun yang sebenarnya Karamel menganggap percumah juga memberontak sekeras apapun karena itu akan membuang-buang tenaganya saja, ujung-ujungnya Zayn tidak akan mungkin melepaskannya begitu saja.


"Mas Leo !!" batin Karamel berharap semoga suaminya bisa menyelamatkannya.


Sesampainya di gudang, tubuh Karamel langsung di dorong kasar ke lantai. S*it! Karamel mengepal tangannya kala hampir saja perutnya tergores kaca yang ada di lantai.


"Aku kira kau tidak akan berhasil menangkapnya," ucap Widia menyilang kedua tangannya di perut.


"Hanya wanita lemah saja, bagaimana aku bisa gagal menangkapnya." ucap Zayn tersenyum miring sambil mendekati Karamel.


"Owh! Aku suka warna matamu, ternyata kau jauh lebih cantik di lihat langsung dari pada yang ada di foto saat kau mengenakan pakaian se*si, apalagi saat ini kau sedang dalam keadaan hamil, kecantikanmu menjadi bertambah dua kali lipat, Kara " ucap Zayn setelah berjongkok dan menatap penuh menampilkan Karamel yang duduk di lantai, walau Karamel menunjukkan raut wajah marah namun wanita itu malah terlihat lebih cantik dan mempesona, pria normal manapun pasti akan menelan salivanya karena naf*u kala melihat tubuh se*si Karamel saat ini.



"Apa maumu sebenarnya, kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Karamel dengan tajam, suara wanita itu terdengar dingin.


"Arrg! Kau sangat terburu-buru sekali ingin mengetahui intinya, sungguh tidak mengasikkan." ucap Zayn merasa tidak asik dengan wanita itu.


"Lebih tepatnya aku tidak suka berbasa-basi," sengit Karamel mengangkat kepalanya seakan-akan wanita itu sedang menantang Zayn.


"Untuk apa kau mengajaknya bicara panjang lebar, sekarang lebih baik kita siksa saja wanita jala*g ini." sengit Widia sangat tidak sabaran ingin menyiksa Karamel.


"Kau yakin mau menyiksaku?" tanya Karamel menatap tajam ke arah Widia yang berdiri di belakang Zayn, Widia menelan salivanya kasar, aura membunuh Karamel berhasil membuat bulu kuduk Widia menjadi merinding.


"K-kenapa tidak, aku ...."


"Wanita lemah seperti dia kau bawa-bawa ke sini, kenapa tidak kau letakkan saja wajahmu di pa*tat para anak buahmu, memalukan. Ck!" ejek Karamel tersenyum miring menatap Zayn.


Plakk ....


Zayn melayangkan satu tamparan ke pipi Karamel yang menghasilkan sobekan di sudut bibir wanita itu lalu Zayn menjepit kedua pipi Karamel dan mengangkatnya kasar ke hadapannya.


"Aku tidak akan segan-segan membunuh siapapun termasuk seorang wanita, selagi kau masih menyayangi nyawamu, jaga ucapanmu di depanku, bit*h." sengit Zayn dengan tatapan penuh kebencian karena Karamel berani menghinanya di depan para anak buahnya.


"Lepaskan tangan kotor mu dari wajahku," sengit Karamel namun Zayn malah semakin mencengkeram pipi wanita itu membuat wanita itu kesal dan. Cuih! Lagi-lagi Karamel meludahi wajah Zayn membuat Widia dan para anak buah Zayn yang lain tersentak kaget.


Plakk ....


Sekali lagi Zayn melayangkan tamparan keras di pipi Karamel membuat tubuh Karamel terpental ke lantai sehingga sobekan yang ada di sudut bibir Karamel semakin lebar dan dalam, Zayn merasa geram dengan Karamel yang sangat berani meludahi dirinya untuk yang kedua kalinya lalu Zayn menjambak kuat rambut Karamel namun wanita itu tidak meringis sedikit pun dan malah menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis.


"Beraninya kau meludahi wajahku lagi, pelac*r sialan." pekik Zayn mengeraskan rahangnya marah karena Karamel malah tersenyum senang.


"Selanjutnya akan ku potong masa depanmu ...."


Plakk ....


Plakk ....


Zayn menampar kiri dan kanan pipi Karamel dengan sangat kuat sehingga darah segar yang ada di sudut bibir Karamel mengalir ke dagu dan lehernya.


"Tutup mulutmu atau ku buat anakmu keluar dari perutmu sekarang juga, pelac*r sialan." pekik Zayn membuat detak jantung Karamel berdegup dua kali lebih cepat. Tidak! Karamel tidak akan membiarkan anaknya terluka oleh iblis itu.


Zayn bardiri lalu menatap ke arah Widia, "Sekarang kau puas?" tanya Zayn pada Widia.


"Apa maksudmu aku sudah puas? Sebelum aku menyiksa langsung wanita sialan itu, aku tidak akan merasa puas." ucap Widia berjalan ke arah Karamel dan langsung menjepit pipi Karamel.


"Lihatlah dirimu yang sekarang, jala*g. Lemah tak berdaya," ejek Widia menghempas kasar wajah Karamel ke samping.


"Akhirnya aku bisa menyiksamu sepuas hatiku sekarang," ucap Widia kini menjambak rambut Karamel dengan sangat kuat lalu Widia melakukan aksinya untuk menyiksa Karamel dengan cara menampar dan memukul wajah Karamel hingga Karamel merasa kesal karena mulut Widia bagaikan ayam yang berkokok di pagi hari. Sangatlah membisingkan!


Bukk ....


Karamel cukup sekali saja membogem wajah Widia sehingga tubuh wanita itu terjatuh ke lantai dan menutup matanya perlahan lalu pingsan.


"Luar biasa, Lady Queen!" Zayn bertepuk tangan karena Karamel membuat Widia pingsan hanya dengan sekali pukulan saja. Karamel membulatkan matanya kala Zayn menyebut julukkan nama gelapnya.


"Kenapa kau harus terkejut seperti itu Kara, aku 'kan hanya memujimu sedikit saja." ucap Zayn sembari tertawa kecil lalu pria itu berjalan mendekati Karamel.


"Kau mau tahu apa mauku bukan?" tanya Zayn tersenyum miring sembari mengeluarkan handphonenya dari saku.


"Dengarkan aku menelepon kakakmu, Kenziro atau ... siapa ya? ah K-King." ucap Zayn menggoyangkan handphonenya di depan wajah Karamel.


Ternyata Zayn sudah mengetahui siapa Karamel dan Kenzi yang sebenarnya tapi tahu dari mana pria itu? Fikir Karamel berfikir keras siapa yang telah membocorkan rahasia gelapnya.


"Halo K-King, bagaimana kabarmu selama tinggal di Los Angeles?" sapa Zayn dengan lembut seakan-akan mereka adalah sahabat dekat.


Di seberang sana, Kenzi membulatkan matanya kaget, siapa yang menghubunginya ini, kenapa orang itu tahu dirinya adalah pimpinan mafia The Shadow Of The King yaitu K-King.


"Siapa kau?" tanya Kenzi menyelidik. Karamel tersentak mendengar suara kakaknya, Zayn benar-benar menghubungi kakaknya.


"Biar aku perkenalan siapa diriku, aku adalah Zayn, kakak kandung Dante yang pernah kau buat lumpuh dulu." ucap Zayn membuat Kenzi membelalakkan matanya kaget karena Zayn sudah menemukan keberadaannya.


Dante adalah adik kandung Zayn yang pernah mencari masalah dengan Kenzi karena rasa iri, di mana Kenzi selalu menjadi kebanggaan semua orang bahkan Kenzi menjadi pujaan hati para wanita-wanita di kota LA sedangkan Dante sangat menginginkan posisi itu. Padahal mereka tidak saling kenal tapi Dante malah tidak suka dengan Kenzi.


Dante telah keterlaluan mengajak para teman-temannya untuk mengeroyok Kenzi saat di LA dulu, jika bukan karena Dante yang lancang menggores luka di wajah Kenzi, Kenzi juga tidak akan membuat Dante lumpuh seumur hidup.


"Untuk apa kau menghubungiku, untuk memintaku mengembalikan kaki Adikmu yang tidak berfungsi itu lagi. Ck! Itu tidak akan pernah terjadi." sengit Kenzi pedas.


"Apa kau tahu, Adikku membunuh dirinya sendiri karena perbuatan kejimu, K-King." sengit Zayn mengeraskan rahangnya marah sehingga Karamel jadi mengerti sekarang, Zayn mencari keberadaan K-King karena Zayn ingin membalas dendam atas perbuatan kakaknya yang pernah melumpuhkan adik pria itu.


Mengetahui dirinya tidak bisa berjalan lagi, Dante tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya akan menjadi lumpuh untuk seumur hidupnya, pria itu merasa malu dan tidak pantas hidup lagi kerena ketidak sempurnaannya hingga akhirnya pria itu diam-diam meminum racun agar dirinya bisa mati dan tidak merasa malu karena menjadi pria lumpuh


Namun sebelum pria itu bunuh diri, pria itu meninggalkan pesan lewat surat yang di mana isi surat itu menjadi alasan Zayn sangat membenci mafia hebat yang di juluki sebagai K-King. Dante mengatakan siapa orang yang membuatnya lumpuh, dia adalah K-King namun dirinya tidak tahu nama aslinya.


"Memang sudah sepantasnya Adikmu pergi ke neraka sana," sahut Kenzi santai sehingga jari-jari Zayn membentuk kepalan tangan lalu Zayn mengatur helaan napasnya agar tidak terpancing emosi.


"Maka aku ingin memberitahumu sesuatu yang sangat penting, Adik kesayanganmu ada padaku sekarang, bagaimana jika aku kirimkan juga dia ke neraka sana?" tanya Zayn membuat Kenzi membulatkan matanya kaget, bagaimana Zayn bisa tahu Kenzi punya adik? Pikir Kenzi.


"Ck! Adik siapa yang kau maksud." ucap Kenzi, pria itu tidak akan percaya begitu saja karena di sisi Karamel ada Leo yang pastinya akan melindungi adik perempuan itu.


"Ayolah K-King kenapa kau harus berpura-pura seperti ini, kau tidak akan bisa bersembunyi lagi karena aku sudah tahu semuanya." ucap Zayn membuat Kenzi diam.


"Dunia begitu sempit ternyata, Mommyku membenci ibumu karena Daddyku, lalu aku juga membencimu karena adikku." ucap Zayn tidak sungkan-sungkan bercerita pada Kenzi tentang kebencian mommynya pada nyonya Sofia.

__ADS_1


"Aku suka permainan takdir ini, aku mencari keberadaan K-King tapi ternyata K-King itu adalah dirimu, Kenziro Syaputra Ramoya Sinaja anak Sofia Lavana Aramoy yang sangat di benci oleh Mommyku." ucap Zayn membuat detak jantung Kanziro maupun Karamel berdegup kaget.


Tiba-tiba saja Kenzi memikirkan perkataan Zayn yang sebelumnya mengatakan adiknya ada di tangan pria berengs*k itu.


"Kara, dia enggak mungkin ada di tangan Zayn." batin Kenzi meyakinkan dirinya untuk tidak percaya dengan kata-kata Zayn.


"Panggil Kakakmu sekarang, cantik." titah Zayn namun hanya ada kesunyian dari mulut wanita itu membuat Zayn geram dan melakukan hal kejam yaitu menusuk sedikit perut Karamel menggunakan belati membuat Karamel membulatkan matanya kaget. Pria itu benar-benar sudah gila!


Karamel menggenggam belati itu hingga tangannya di penuhi darah, sungguh Karamel tidak rela anaknya di lukai oleh iblis itu namun Zayn semakin mendorong belati itu hingga menimbulkan goresan luka di perut Karamel.


"Tidak !! Kakak," pekik Karamel dengan keras membuat Kenzi membulatkan matanya kaget, Karamel ingin menangis kala perutnya terasa perih dan sakit.


"Apa yang kau lakukkan pada adikku, bajin*an." pekik Kenzi murka, pria itu memukul meja saking tidak bisa mengontrol emosinya. Zayn tersenyum senang kala Kenzi akhirnya terpancing emosi.


"Aku suka kau patuh seperti ini cantik," ucap Zayn karena Karamel menuruti perintahnya, meski harus di paksa dengan kekajaman dulu kemudian pria itu menjauhkan belatinya dari perut Karamel.


"Lepaskan Adikku ...."


"Tidak semudah itu, K-King. Jika kau ingin Adikmu selamat, aku tunggu kau di Indonesia dalam waktu tiga hari." ucap Zayn kemudian pria itu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Sial! Kakakmu membuat telingaku sakit," ucap Zayn mengumpat sambil menatap Karamel namun Karamel tidak menghiraukan pria itu karena justru wanita itu lebih fokus membersihkan luka yang ada di perut buncitnya.


"Maafin Mama, Sayang. Mama enggak bisa jagain kamu dengan baik." batin Karamel menggigit bibirnya kala menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kenapa sejak tadi wanita ini tidak mengeluarkan air mata juga padahal perutnya hampir saja terbelah olehku tadi bahkan tangannya terluka parah! Apakah wanita ini tidak tahu caranya menangis? Ck!" kesal Zayn dalam hati karena Karamel tak kunjung menangis juga padahal wanita itu sudah mendapatkan kekerasan yang luar biasa dari Widia dan juga dirinya, di tambah lagi luka baru di tangan dan perut wanita itu.


Keisha berdiri dan berbalik menatap para anak buahnya yang ada di sana, "Jaga wanita ini dengan baik," titah Keisha lalu pria itu berjalan keluar dari ruangan itu.


.........


Di tempat lain, jalanan kota menjadi macet karena Leo membawa puluhan bahkan ratusan mobil yang berisi para mafioso Vic's Bloody Wolf miliknya, di dalam mobil Leo ingin melacak sesuatu lewat handphonenya namun ia menjadi terkejut kala ada 74 panggilan tak terjawab dari Zoeya dan ada 8 pesan juga dari wanita itu.


Zoe's.


Jakarta _ 19 : 35 PM


Kau ada di mana berengs*k!


Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku, hah. Tunggu sampai istrimu mati di tangan penjahat itu baru kau akan menyesal karena mengabaikan panggilan dariku.


Cepatlah kembali, Kak Keisha dan Karamel sedang dalam bahaya sekarang, mereka sedang di kejar oleh anak buah penjahat itu.


Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau tidak secepatnya kembali, berengs*k.


Zoe's


Jakarta _ 20 : 20 PM


Leo, aku mohon di mana dirimu? Angkatlah teleponku sekali saja, istrimu dan kakakku sedang dalam bahaya, bajin*an gila.


Mereka sedang berada di hutan sekarang, apa kau tidak khawatir dengan istrimu?


Zoe's


Jakarta _ 20 : 50 PM


Zayn adalah pria gila yang akan melakukan apa saja demi bisa memenuhi keinginannya, jika kau tidak cepat menyelamatkan istrimu dan kakakku, aku yakin Zayn akan lebih dulu menemukan mereka lalu setelah itu istrimu hanya akan tinggal nama saja di bumi ini termasuk kakakku, bod*h.


Itu tidak boleh terjadi, aku tidak mengizinkan siapapun membunuh kakakku. Kau akan mati di tanganku jika sampai terjadi sesuatu pada kakakku.


Leo terpaku membaca pesan dari Zoeya, kenapa Leo merasa sikap Zoeya seakan-akan sangat perduli dengan Keisha, bukankah Zoeya pernah ingin membunuh kakaknya? Pikir Leo mengingat Keisha pernah menceritakan tentang kejahatan adik tirinya Keisha yang pernah ingin membunuh Keisha dengan cara mendorongnya ke laut.


"Zoeya, apakah sebenarnya kau bukan orang jahat?" gumam Leo tiba-tiba membuat Jeffry mengerutkan dahinya aneh kala tuannya itu menyebut nama wanita lain.


"Tambahkan kecepatanmu, Avido." sengit Leo menyebut julukkan dunia gelap Jeffry sehingga Jeffry langsung menancapkan gas mobilnya penuh.


"Aku akan membunuhmu Zayn," sengit Leo menggenggam kuat handphonenya hingga. Krekk! Layar kaca handphone Leo menjadi retak.


Jeffry menelan salivanya kasar ketika mendengar suara retakkan kaca, apalagi ketika Jeffry menatap wajah tuannya dari kaca depan, Jeffry langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannya merinding kala melihat tatapan membunuhkan tuannya itu.


.........


Brakk ....


Zayn menendang pintu ruangan lain, di mana isi ruangan itu ada seorang pria yang sedang terikat di kursi kayu serta ada beberapa anak buah Zayn yang menjaganya juga.


"Ternyata kau sudah sadar, Kakak ipar." ucap Zayn berjalan mendekati Keisha yang menatap datar ke arah Zayn.


"Berhenti memanggilku kakak ipar, bajin*an." sengit Keisha merasa tidak senang dengan Zayn yang selalu memanggilnya 'kakak ipar'


"Sudah aku katakan sebelumnya, aku dan Zoeya akan segera menikah jadi ...."


"Bermimpilah setinggi langit karena kenyataannya Zoeya tidak akan pernah menjadi istrimu," ejek Keisha memotong perkataan Zayn membuat Zayn mengepal tangannya kuat.


Bukk ....


Zayn memukul wajah Keisha dengan kepalan tangannya sehingga sudut bibir pria itu langsung berdarah, Keisha tersenyum sinis menjilati goresan lukanya.


"Sejak awal aku memang tidak pernah suka padaku, Keisha. Kau adalah penghalang hubunganku dengan Zoeya," pekik Zayn marah sembari dirinya kembali memukul wajah Keisha beberapa kali.


Brukk ....


Brukk ....


Terlintas dalam benak Zayn tentang kejadian saat Zoeya mend***h akibat di lecehkan oleh Keisha beberapa waktu lalu, pria itu melampiaskan kekasalannya dengan memukul, menendang bahkan menginjak-injak tubuh Keisha hingga darah segar berucucan di seluruh tubuh Keisha.


"Kau terlihat kesal pasti karena kau tidak bisa menerima kenyataan so'al Zoeya yang tidak mencintaimu ...."


"Tutup mulutmu, berengs*k" pekik Zayn menginjak perut Keisha hingga pria itu mengeluarkan batuk darah.


Uhuk ... uhukk ... !!


"Hah! Bahkan jika kau membunuhku sekarang juga, Zoeya tetap tidak akan pernah mau bersanding bersama pria jahat sepertimu." ucap Keisha tertawa mengejek padahal tubuh dan wajah pria itu sudah hampir hancur.


"Ide bagus! Jika kau mati sekarang, artinya tidak akan ada lagi penghalang hubunganku dengan Zoeya." ucap Zayn tersenyum sinis mengeluarkan pistolnya sedangkan kedua anak buahnya membenarkan kursi Keisha agar bisa berhadapan dengan Zayn.


"Aku dan Zoeya akan hidup bahagia bersama selamanya!" ucap Zayn tersenyum senang membayangkan kehidupannya bersama wanita itu.


"Itu tidak akan pernah terjadi," ucap Zayn menahan rasa sakit di tubuhnya.


Hahaha !!!


"Kalau begitu kita buktikan, aku akan membunuhmu sekarang juga." pekik Zayn mengangkat tangannya untuk menyodorkan pistol ke arah wajah Keisha.


.........


Mata biru Karamel melirik ke arah kanan dan kiri, wanita itu menghitung ada berapa anak buah Zayn yang menjaga dirinya. Delapan! Karamel bergumam pelan.


"Sekarang kamu akan melihat bagaimana Mama melawan mereka semua, sayang." gumam Karamel menundukkan kepalanya, wanita itu sedang berbicara pada anaknya.


"Maafkan aku Vian, komitmen kita yang tidak akan membunuh manusia seumur hidup kita harus aku ingkari sekarang juga!" batin Karamel lirih karena malam ini dirinya akan melakukan tindakkan kejam dan itu melanggar prinsip Karamel serta tangan kanannya, Vian.


Karamel meletakkan tangannya di perut buncitnya, demi keselamatan anaknya, Karamel rela mengingkari komitmennya bersama Vian dulu. Dirinya terpaksa harus membunuh semua anak buah Zayn.


"Agh aaawww !!" ringis Karamel berpura-pura berteriak kesakitan sembari mencengkeram perutnya yang buncit.


Seperti sedang memberi kode untuk memeriksa apa yang terjadi pada Karamel, mata para anak buah Zayn saling melirik satu sama lain hingga tak lama kemudian salah satu di antara mereka mendekati Karamel.


"Ada apa?" tanyanya sok ganas, ia kira Karamel akan merasa takut.

__ADS_1


"Perutku sakit, sepertinya aku akan segera melahirkan." ucap Karamel membuat mata mereka semua membulat kaget.


"Akhh tolong! Sakit! " pekik Karamel sengaja mengeluarkan ait mata palsu membuat kedelapan anak buah Zayn menjadi panik.


"Panggil Bos ...."


"Dasar bod*h? Memanggil bos kalian akan membutuhkan waktu yang sangat lama jingga aku bisa langsung mati karena menunggu kalian, bod*h. Bawa aku ke tempat bosmu saja. Cepat!" pekik Karamel dan tanpa fikir panjang tiga anak buah Zayn mendekati Karamel dan membantu Karamel untuk bangun dari tempat duduknya.


Saat Karamel di bantu bangun, Karamel berpura-pura terpeleset hingga dengan sigap mereka menangkap tubuh Karamel dan Karamel pun mengambil kesempatan untuk mengambil belati di pinggang salah satu anak buah Zayn.


Srett ....


Srett ....


Srett ....


Di mulai dari kanan, kiri lalu di belakang, Karamel menyayat leher ketiga anak buah Zayn dengan sekali hentakkan hingga lima anak buah Zayn yang lain membelalakkan matanya kaget. Ketiga aank buah Zayn telah tewas dan kini hanya tinggal lima orang lagi, bersiaplah untuk menmui maut kalian!


Mereka hendak mengeluarkan senjata api namun Karamel langsung memutar tubuhnya hingga dirinya berada tepat di belakang salah satu anak buah Zayn, wanita itu meletakkan belatinya ke arah leher pria itu hingga keempat anak buah Zayn yang lain tersenak kaget.


"Dia mati atau buang senjata api kalian," ancam Karamel membuat keempat anak buah Zayn mengeluarkan pistol mereka dan mereka letakkan di lantai, setelah itu mereka mengangkat kedua tangan mereka ke atas kepala.


Karamel melirik sebelah kanannya lalu. Srett! Karamel menyayat leher pria yang ia tahan kemudian wanita itu berlari hingga beralih ke pria yang berdiri di samping kanannya. Tsukk! Wanita itu menusuk leher pria itu, namun di belakang Karamel ada dua orang yang hendak menyerang Karamel.


Karamel terpaksa menahan rasa sakit di perutnya dan berjongkok lalu memutar tubuhnya dengan kaki kanan yang ia luruskan hingga kakinya tepat menimpa kaki kedua pria itu dan Brukk! Mereka berdua jatuh ke lantai kemudian Tsukk, Tsukk! Karamel menusuk leher kedua pria itu dengan ganas. Beres membunuh tujuh orang, kini tinggal sisa satu lagi.


"Buang senjata tajammu atau aku tembak sekarang juga," ancam satu pria yang tersisa seraya menyodorkan pistolnya ke arah Karamel membuat Karamel mendongakkan kepalanya pelan.


"Zayn!" panggil Karamel membulatkan matanya saat melihat ke arah belakang pria itu sehingga dengan bod*hnya pria itu menolehkan kepalanya ke belakang, dan ketika pria itu menatap ke arah Karamel. Brukk! Karamel memukul hidung pria itu hingga jatuh ke lantai.


"Bye bye babu!" ucap Karamel. Tsukk! Wanita itu menancapkan belatinya ke leher pria bod*h itu hingga berhasil merenggut nyawa pria itu.


"Saatnya kita kabur!" ucap Karamel membuang belatinya kemudian tanpa basa-basi wanita itu melangkahkan kakinya menuju pintu, ia sempat mengintip sedikit untuk memastikan tidak ada anak buah Zayn yang berjaga di luar ruangan itu. Dan Karamel langsung membuka lebar pintu ruangan itu karena tidak ada siapa-siapa yang berjaga di luar ruangannya.


Tapi sayangnya di luar gudang itu ada banyak sekali anak buah Zayn membuat Karamel sedikit kesusahan untuk mencari celah hingga pada akhirnya Karamel berhasil melewati para anak buah Zayn dengan bersembunyi di semak-semak, di tong sampah bahkan di mobil juga.


Karamel merasa seperti maling saja karena harus mengendap-endap saat ingin kabur. Ck!


.........


Karamel bernapas lega saat dirinya sudah berada di tengah-tengah hutan, wanita itu merasa sangat lelah karena di tubuhnya sudah di penuhi banyak luka, Karamel hendak beristirahat sebentar di salah satu pohon yang rindang namun tiba-tiba saja. Dorr! Karamel membulatkan matanya kaget saat mendengar suara pistol itu.


Tangan Karamel bergerak menyentuh dadanya yang sakit, ternyata seseorang menembak dadanya dari depan. Siapa dia? Fikir Karamel seraya tubuhnya merosot jatuh ke tanah.


"Mati kau jala*g sialan. Hahaha !!!" pekik seorang wanita dengan sangat lantang sambil tertawa jahat. Wanita itu berjalan pelan mendekati Karamel hingga saat Karamel mendongakkan kepalanya, dirinya sangat terkejut ketika melihat wajah wanita itu dari pencahayaan bulan.


"Clara?!" lirih Karamel sangat terkejut karena wanita yang pernah ia penjarakan di Afrika, kini ada di depan matanya dan wanita itu juga yang menembak dada Karamel.


"Hai Kara, apa kabar?" tanya Clara tersenyum jahat sambil membungkukan tubuhnya mendekati wajah Karamel.


"Akhirnya malam ini aku bisa membunuhmu juga, semoga kau mendapatkan siksaan api neraka jahanam, Karamel Listra." ucap Clara tidak perlu menyiksa Karamel lagi dan langsung menyodorkan pistolnya ke kening Karamel.


"Benar-benar wanita gila yang jahat!" batin Karamel merasa tidak sanggup melawan lagi karena tenaga wanita itu sudah terkuras habis, di tambah lagi luka tembak di dada wanita itu semakin membuat lemah tubuh Karamel.


Dugg , dugg .... !!


Karamel tersentak saat anaknya menendang dua kali perutnya, wanita itu merasa dirinya mendapatkan semangat dari anaknya untuk tetap bertahan hidup.


"Mama bakal coba buat tetap bertahan." batin Karamel mengelus perut anaknya pelan.


"Selamat tinggal Karamel Listra," ucap Clara bersiap untuk menembak Karamel, sedetik kemudian Karamel mengambil tanah dan melemparkannya ke mata wanita jahat itu sehingga Clara memejam kuat matanya yang perih.


Dengan cepat Karamel bangkit dan berlari menjauh dari Clara, "Mama berhasil, sayang." gumam Karamel lirih sembari berusaha menjauh dari pandangan Clara.


"Agh! Dasar jala*g murahan, berani-beraninya dia kabur dariku." pekik Clara murka saat dirinya berhasil membersihkan matanya dari butiran-butiran tanah dan melihat Karamel sudah tidak ada di hadapannya lagi.


Clara berjalan untuk mencari Karamel, "Ke mana jala*g murahan itu pergi!?" umpat Clara menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri hingga saat matanya melihat ke arah depan, dirinya melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum penuh kemenangan.


Bahkan cahaya rembulan juga lebih berpihak pada Clara dari pada Karamel, Clara bisa melihat bayangan tubuh seseorang yang bersembunyi di balik batu, ia yakin itu adalah Karamel.


"Kara! Oh Kara, kau bersembunyi di mana? Aku bisa melihatmu, kau tidak akan bisa lari ke mana-mana lagi sekarang." kata-kata itu di ucapkan bernanda seperti lagu tapi lagu horor.


"Kara! Oooh Kara," panggilnya lagi dengan tersenyum licik karena langkah kaki wanita itu semakin mendekat.


Karamel menelan salivanya kasar, ia bersiap akan memukul wanita gila itu dengan batu saat mendekat namun sayangnya Karamel tidak tahu Clara melihat pergerakannya lewat bayangannya.


"Apa kau tahu Kara, selama ini hidupku tidak pernah bahagia, apa yang aku inginkan tidak bisa aku gapai seperti Leo contohnya." ucap Clara berpura-pura sedih.


"Aku merasa dunia ini tidak adil, aku sangat menginginkan Leo sejak bertahun-tahun lamanya tapi Leo tidak pernah sekalipun melirikku sedangkan kau, baru beberapa bulan kau menjadi murid baru tapi kau sudah bisa mendapatkan hati Leo." ucap Clara membuat tubuh Karamel bergetar.


"Dan sekarang kau mengandung anak Leo!" sengit Clara marah.


"Biar ku bunuh kau dan anakmu sekarang agar aku bisa menggantikan posisimu sebagai Nyonya Rendra." ucap Clara membuat Karamel memeluk perutnya possessive.


Dorr ....


Dorr ....


"Sial !!" umpat Clara ketika melihat ke arah belakangnya, ada banyak sekali sinar senter yang sepertinya mereka adalah orang-orangnya, firasat wanita itu.


"Kara ...." pekik Leo dengan keras membuat Clara membulatkan matanya kaget karena ternyata rombongan itu adalah milik suami Karamel.


Clara menatap ke arah batu besar tempat Karamel bersembunyi tadi. Sial! Clara merasa kesal karena Karamel sudah melarikan diri dari tempatnya.


"Clara?!" panggil Leo membuat tubuh Clara menegang karena pria itu berada di sampingnya, tanpa ba bi bu Clara langsung berlari menjauh dari Leo sehingga Leo langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengejar wanita itu.


Leo juga hendak berlari mengejar Clara namun langkah pria itu berhenti seketika saat mendengar suara lirih wanita yang ia cintai memanggil dirinya.


"M-mas Leo," panggil Karamel ternyata tidak pergi dari batu besar itu, bumil itu tergeletak di tanah dalam keadaan setengah sadar, tubuh wanita itu semakin lemah hingga pada akhirnya mata wanita itu tertutup rapat.


.........


Dengan satu penerang flash handphone, Zoeya terus berlari menyusuri hutan yang gelap itu, sesekali wanita itu mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


"Tidak boleh, aku tidak akan memaafkanmu jika kau melukainya, Zayn." ucap Zoeya terus berlari dan berlari.


Beberapa menit kemudian wanita itu sampai di tempat tujuannya, Zoeya tampak terkejut karena melihat puluhan orang pingsan di luar gudang itu, apakah Leo sudah lebih dulu datang menyelamatkan Karamel dan keisha? Entahlah! Zoeya harus memastikannya sendiri, segera wanita itu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gudang, saat sudah masuk ke dalam gudang, wanita itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri kala dirinya bingung harus ke mana.


Hahaa ... !!


Suara tawa yang terdengar dari arah depan membuat Zoeya membulatkan matanya kaget, wanita itu sangat mengenal pemilik tawa jahat itu, segera wanita itu berlari ke arah sumber tawa jahat itu.


"Kalau begitu kita buktikan, aku akan membunuhmu sekarang juga." pekik Zayn mengangkat tangannya untuk menyodorkan pistol ke arah wajah Keisha.


"Hentikan semua ini! Aku tidak akan membiarkanmu menembak kakakku, Zayn." pekik Zoeya berdiri tepat di depan kakak tirinya, napas wanita itu terengah-entah karena berlari.


"Z-Zoeya?!" gumam Zayn terkajut akan kehadiran wanita itu, tatapan mata pria itu berubah menjadi lembut saat berhadapan dengan Zoeya.


Zoeya menolehkan kepalanya ke belakang, rasanya air mata ingin menetes saat melihat tubuh kakak tirinya di penuhi darah bahkan wajah tampan itu berubah menjadi sangat konyol karena di penuhi luka-luka pukulan.


"Maaf, aku datang terlambat." batin Zoeya tidak mampu mengeluarkan suaranya di depan kakak tirinya, Keisha membalas tatapan Zoeya membuat hati Zoeya semakin pedih.


.


.


.


::: Bersambung :::

__ADS_1


...Like dan komennya mana ini? 4300 kata loh ini!...


...Di part ini Karamel keren enggak nih?...


__ADS_2