Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 218 (Takdir)


__ADS_3

Malam pun tiba, Karamel masih bersiap-siap di dalam walk-in closet sedangkan Leo sudah selesai bersiap dengan pakaian tuxedo berwarna hitam dan dasi pita berwarna silver dan tinggal menunggu Karamel selesai bersiap, mereka akan pergi ke restoran yang sudah di persiapkan oleh Leo.


Di dalam walk-in closet Karamel memakai keyhole sheath dress berwarna putih dengan di padukan anting-anting mutiara dan juga kalung emas yang memiliki inisial nama C, untuk sepatunya sendiri Karamel memakai black strappy high heels brand ternama yang juga dua hari yang lalu di belikan oleh Leo.


Karamel keluar dari walk-in closet dan berjalan menuju meja riasnya, sebelum berpakaian Karamel sudah merias wajahnya tapi belum dengan rambutnya, selesai dengan menata rambut dengan gaya kuncir setengah, Karamel langsung berdiri dan hendak keluar menghampiri sang suami yang menunggu di ruang tengah.


"Sayang ...." belum sempat Karamel keluar, Leo sudah lebih dulu menghampiri Karamel di dalam kamar. Leo terpaku melihat tampilan Karamel yang cantik dan em se*y di matanya.


"Jelek ya?" tanya Karamel dengan wajah memelas karena melihat tatapan Leo yang aneh.


"Pakaiannya enggak cocok ya sama aku?" tanya Karamel lagi tapi Leo masih bergeming menatap tampilan Karamel dari atas sampai bawah.


"Atau, atau aku ganti aja pakaiannya?" tanya Karamel dan Leo tatap diam sembari berjalan mendekati Karamel.


"Kalo di tanya itu di jawab dong," gerutu Karamel merasa kesal akan sang suami yang tidak merespon satu pun pertanyaannya.


Leo menarik pinggang Karamel hingga tubuh mereka menempel satu sama lain, Leo mengangkat tangannya untuk membelai wajah Karamel.


"You look so perfect tonight and of course always perfect everyday," bisik Leo di dekat daun telinga Karamel.


"Give me a kiss, baby," pinta Leo membuat kedua alis Karamel terangkat ke atas.


"I want a kiss from you," pinta Leo menatap manik mata Karamel dengan penuh harapan.


"Just one kiss," ucap Karamel dan Leo hanya tersenyum tipis.


Perlahan Karamel mendongakkan kepalanya lalu kaki Karamel sedikit berjinjit untuk bisa mendekatkan wajahnya dengan wajah sang suami hingga jarak lips mereka hampir menempel, Leo langsung menarik kepala Karamel dan mencium lips Karamel yang basah karena lip gloss berwarna merah jambu.


Tok ... tok ... tok ....!


"Tuan, mobil sudah siap di bawah, apakah Nyonya masih belum selesai juga?" teriakkan Jeffry dari luar membuat aksi mesra pasangan suami-istri itu berhenti.


"Brengs*k !!" Leo mengumpat kala asistennya itu berani mengganggu aktivitas dirinya dengan sang istri.


"Ayo kita pergi," ajak Karamel melepas pelukkannya dari Leo kemudian Karamel merapikan riasannya yang berantakan karena ulah suaminya yang terlalu agresif.


Setelah selesai merapikan makeup-nya Karamel berjalan mendekati Leo lalu Karamel menggandeng tangan Leo, "Yuk !!" ajak Karamel hendak berjalan namun langkah Karamel berhenti kala Leo tidak ikut jalan.


"Sayang!?" Karamel menatap heran ke arah Leo.

__ADS_1


Leo menghela napas berat, rasanya ada yang sesak di bagian bawah sana haruskah Leo keluar kamar di saat dirinya sedang dalam mode on.


"Ada apa?" tanya Karamel mengerutkan dahinya, Leo yang merasa jengkel langsung menarik Karamel ke dalam pelukannya.


"Leo ...."


"Diem bentar, aku lagi butuh pelukan kamu sekarang." ucap Leo memotong perkataan Karamel.


"Tapi kita mau pergi ...." Karamel tidak menyelesaikan perkataannya dan langsung terbelalak kaget karena Leo mendekatkan bagian bawahnya dengan tubuh sang istri.


"Sekarang kamu diem atau kita lanjutin yang tadi," ucap Leo membuat Karamel bungkam, diam-diam Karamel tersenyum dan membalas pelukkan sang suami.


Setelah tiga menit, Leo melepaskan pelukkannya lalu Leo mencium kening Karamel, tanpa mengatakan apa-apa Leo menggenggam tangan Karamel untuk keluar dari kamar.


Di luar kamar, Leo menatap tajam ke arah Jeffry namun setelahnya Leo dan Karamel berjalan menuju mobil yang sudah menunggu sejak tadi.


"Sepertinya hanya perasaanku saja?" gumam Jeffry merasakan ada yang aneh dengan tatapan tajam sang bos namun Jeffry berpositive thinking bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apa-apa.


Leo dan Karamel masuk ke dalam mobil begitu juga Jeffry lalu di ikuti para bodyguard Leo yang masuk ke dalam mobil mereka yang ada di belakang mobil Leo. Setelah semua siap, Jeffry langsung menjalankan mobilnya menuju jalan raya di ikuti dua mobil yang berisi para bodyguard Leo.


Setelah beberapa menit, ketiga mobil itu sampai di loby hotel mewah di Jakarta. Leo keluar bersama Karamel di ikuti juga oleh para bodyguard Leo kemudian mereka di sambut langsung oleh manager hotel.


"Ini semua khusus buat kamu, Sayang." bisik Leo mengajak Karamel berjalan di atas karpet merah menuju meja yang sudah di hias dan di tata rapi dengan menu makanan mewah.


"Apa kamu suka?" tanya Leo setelah mereka duduk di kursi mereka yang saling berhadapan.


Karamel melihat ke sekelilingnya. Dari tempat mereka duduk, Karamel bisa melihat Kerlap-kerlip lampu rumah, gedung dan juga kendaraan yang ada di bawah sana.


Karamel tersenyum menatap Leo, "This is a surprise for me, of course I like it." ucap Karamel.


"Kalo kamu suka, aku bisa bawa kamu ke sini setiap hari." sahut Leo menggapai tangan Karamel lalu mencium punggung tangan Karamel.


"Tapi aku menolak karena biaya sewaan tempat ini pasti mahal 'kan." sahut Karamel.


"Asal kamu bahagia uang enggak jadi masalah buat aku, Sayang." ucap Leo membuat Karamel tersipu.


"Makasih buat pengorbanan kamu selama ini dan makasih juga buat cinta kamu, Mas." ucap Karamel membuat Leo sedikit tersenak.


"W-what? What do you call me?" tanya Leo mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Mas Leo." ucap Karamel membuat Leo cengo.


"Ulangi," pinta Leo dan Karamel tersenyum.


"Mas Leo." ucap Karamel lagi.


"Lagi," pinta Leo.


"Mas Leo," ucap Karamel.


"Sekali lagi," pinta Leo penuh harapan.


"Ih! Kok minta di ulang-ulang mulu sih, capek ah." kesal Karamel cemberut.


"One more time, please." pinta Leo.


"Mas Cleo Rendra Agata." ucap Karamel lagi dan kini Leo tersenyum merekah.


Leo merasa sangat senang karena malam ini Karamel sudah mulai memanggil dirinya dengan panggilan 'Mas,' sudah sejak lama Leo ingin mendengar Karamel memanggilnya dengan panggilan itu tapi Leo menahan diri untuk tidak menegur Karamel karena Leo ingin agar Karamel sendiri lah yang berinisiatif memanggil dirinya dengan panggilan itu.


"Makasih sayang, makasih," ucap Leo mencium punggung tangan Karamel lalu bangkit dari tempat duduknya dan mencium kening Karamel kemudian Leo mengajak Karamel untuk menikmati makan malam bersama mereka.


"Kamu cobain makanannya," ucap Leo dan Karamel menganggukkan kepalanya.


Karamel memotong daging salmon yang sudah di olah oleh koki terbaik di hotel itu namun entah kenapa Karamel merasa tidak mood makan padahal salmon adalah makanan yang sering Karamel rindukan untuk ia makan.


Leo memperhatikan Karamel memotong salmon, tampak Leo menunggu Karamel untuk memakan salmonnya.


Karamel mengangkat salmonnya untuk ia makan namun ketika Karamel mencium bau salmon itu, seketika garpu yang bersisi salmon itu jatuh ke piringnya.


Hoek ....


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2