
Ternyata tinggal di Bandung sangat menyenangkan, seminggu tinggal di Bandung Karaeml lebih banyak menyibukan diri di sawah, di kolam, di perkebunan dan lainnya juga.
Di sana Karamel sering di sebut sebagai anak kampungan karena mainnya di tempat kumuh tapi saat mereka melihat Karamel berjalan bersama kakek Hans dan di kenalkan kakek sebagai cucunya, mulut para penggosip langsung membungkam dan tak berani mengatai Karamel lagi.
"Kara mau keluar," pamit Karamel ada janji dengan Biyan serta teman-temannya.
"Mau ke mana?" tanya kakek Hans.
"Jalan dong," ucap Karamel cepat.
"Sama siapa?" tanya nenek Hanna
"Astaga, Kara mau pergi ke alun-alun Bandung sama temen Kara," jelas Karamel agar tidak di tanya lagi.
"Tidak mau menunggu kakakmu sama abangmu datang dulu, baru kalian jalan bersama," ucap kakek Hans.
"Hem! Mereka mau ke sini?" tanya Karamel, yeah beberapa hari yang lalu Karamel memberitahu Faza dan kekasihnya bahwa dirinya ada di Bandung, tidak menyangka mereka akan ke sini. Semoga saja kekasihnya juga ikut! Harap Karamel.
"Iya," jawab kakek Hans.
"Kalo gitu Kara ketemu temen Kara bentar, sekalian beli banyak makanan juga, abis itu Kara langsung pulang," ucap Karamel kemudian pergi.
namun sebelum dirinya naik ke dalam mobil, wanita itu mendapatkan notifikasi pesan dari kekasihnya, di mana yang ia harapakan ternyata menjadi kenyataan.
My Lion ( 10 : 15 )
Lagi pada siap-siap mau berangkat, Yang. Tunggu di rumah ya, jangan ke mana-mana atau aku bakal mutilasi kamu
^^^Karamel ( 10 : 17 )^^^
^^^Keluar bentar Sayang, mau cari cemilan^^^
^^^enggak boleh emang?^^^
Karamel terkekeh senang karena kaskihnya juga akan datang ke Bandung, wanita itu masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia menjalankan mobilnya menuju alun-alun Bandung.
...........
Semua orang sudah siap akan berangkat ke Bandung, termasuk para sahabat Aldy yang ikut pergi ke Bandung. Sebagian ada yang memakai kendaraan mobil, sebagian lagi ada yang memakai kendaraan motor besar.
"Lo yakin sama keputusan lo buat milih tinggal di sini tanpa adanya nyokap sama bokap lo?" tanya Kenzi membuat Leo yang tersenyum tipis membaca pesan kekasihnya, beralih menatap Kenzi.
"Gue masih bisa ketemu sama Mama walau harus diam-diam sama Papa tapi buat ninggalin Kara, gue nggak bisa tinggalin orang yang gue sayang," ucap Leo.
Pilihan Leo memang sangat berat, mungkin besok saat dia pulang dari Bandung mama dan papanya sudah tidak ada lagi di Jakarta.
"Ya udah, kita berangkat sekarang," ucap Kenzi tidak mau membuat Leo larut dalam kesedihannya lagi.
Mereka pun pergi ke Bandung bersama, mobil yang di tumpangi Glenn dan Santi memimpin di depan sedangan di belakang mobil iyua ada rombongan SALF BADRAD yang menggunakan motor besar mereka masing-masing.
Dua jam kemudian mereka semua sampai di kota Bandung namun ketika mereka masuk ke lingkungan tempat tinggan kakek Hans dan nenek Hanna, ada begitu ramai orang yang terlihat penasaran dengan suara dentuman knalpot sembilan motor besar itu dan ketika mereka masuk ke halaman rumah kakel Hans, anak-anak SALF BADRAD membuka helm full face mereka sehingga tanpa di duga ada banyak mata gadis-gadis jelita yang memandang para pemuda tampan itu.
"Oalah ***, banyak mata memandang," ucap Adit merasa seperti arti saja karena para gadis-gadis bahkan para tetangga keluar memandangi mereka.
"Penasaran doang, jangan ge'er," ucap Abdi.
"Cari bini di sini yuk," ajak Bobby merasa tertarik pada gadis-gadis jelita yang memang kagum mereka, namun dirinya langsung mendapatkan pukulan di kepala oleh Dito.
"Tujuan kita di sini buat Kara bukan cari bini, Gentong," ucap Dito.
"Assalamualaikum, Ayah–Bunda," ucap Glenn dan Santi bersamaan sehingga anak-anak SALF BADRAD berjalan ke arah Glenn dan Santi
"Waalaikumsalam," sahut sang ayah Hans keluar menyambut kedatangan mereka semua kemudian bunda Hanna mengajak semua orang untuk masik dan duduk di ruang tamu bersama.
Glenn dan ayah Hans asik mengobrolkan tentang bisnis di Malaysia sedangkan Santi dan bunda Hanna membicarakan masalah kehidupan Malaysia dan lainnya.
Di sela-sela obrolan antara Santi dan bunda Hanna, Kenzi menepuk tangan sang nenek hingga sang nenek menoleh ke arahnya.
"Ada apa, cucuku?" tanya nenek Hanna.
"Oma, is Kara hier? Waar is zij nu?" tanya Kenzi membuat para sahabatnya terperangah kecuali Faza yang tahu artinya apa. m
(Nenek, apa Kara ada di sini? Di mana dia sekarang?)
"Keluar tadi, katanya ke alun-alun Bandung," jawab sang nenek.
"Met wie, Oma?" tanya Faza pula.
"Tidak tahu," jawab sang nenek lagi.
Faza dan Kenzi saling melempar pandangan lalu serentak mereka menatap para sahabatnya yang ternyata para sahabatnya menatap mereka berdua juga.
"Ngapain lo pada natap kita berdua kayak gitu? Homo lo pada?" tanya Faza sinis karena tatapan mata para sahabat mereka sangat lekat.
"Itu bahasa Belanda ya?" tanya Dito, Kenzi dan Faza hanya memanggukkan kepala saja sebagai tanggapan.
"Maksud nenek lo keluar ke alun-alun Bandung tadi apaan? Nyuruh kita main ke sana?" tanya Diky.
"Bukan tapi makaud nenek, Kara pergi ke alun-alun Bandung," jawab Faza.
"Sendirian?" tanya Leo cepat.
"Nenek tadi bilang nggak tahu," sahut Faza.
__ADS_1
"Gue mau nyusul dia," ucap Leo hendak pergi.
"E eh! Kita tunggu Kara pulang aja," ucap Kenzi mencegah Leo.
"Nggak bisa, gue udah kangen sama dia," ucap Leo tanpa rasa malu.
Dengan cepat Leo keluar dari rumah namun ketika Leo sudah naik ke atas motornya, tiba-tiba handphonenya berdering. Leo sempat mengangkat teleponnya lalu Leo pergi ke tempat Karamel di alun-alun Bandung.
"Temanmu mau ke mana itu?" tanya sang nenek.
"Biasa pacarnya Kara, Nek." jawab Faza sehingga nenek Hanna sedikit melebarkan matanya.
"Kara pacaran? Sejak kapan?" tanya nenek Hanna membuat para sahabat Kenzi dan Faza kebingungan karena melihat ekspresi wajah nenek Hanna.
"Udah empat bulan, Nek." jawab Kenzi.
Kenzi tersenyum melihat wajah-wajah sahabatnya itu, "Jangan kaget, nenek Hanna nanya kayak gitu, itu karena seumur hidup Kara nggak pernah pacaran." ucap Leo.
"Leo pacar pertama Kara." sambung Kenzi lagi.
.............
...Alun-alun Bandung....
Karamel, Biyan, Kevin dan juga Rendi tengah berkumpul di lapangan alun-alun Bandung, sore-sore seperti ini sungguh sangat mengasikan untuk berkumpul, bernyanyi dan bersenang-senang bersama apalagi suasana alun-alun Bandung sangat ramai.
"Ganti lagu dong," pinta Karamel pada Kevin selaku pemain gitar.
"Lagu bidadari tak bersayap aja, gimana?" tawar Kevin menatap Karamel.
"Setuju," ucap Karamel dan Biyan serentak lalu Kevin mulai meminkan senar gitarnya.
...Bidadari tak bersayap datang padaku...
...Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu...
...Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu...
...Sungguh tenang kurasa saat bersamamu...
...Sederhana namun indah kau mencintaiku...
...Sederhana namun indah kau mencintaiku...
Kemudian Kevin membuka suara untuk bernyanyi dengan penuh perasaan yang mendalan hingga suara pria itu begitu indah saat masuk ke telinga siapapun yang mendengar suaranya. Jrengg!
...Sampai habis umurku...
...Sampai habis usia...
...Maukah dirimu jadi teman hidupku?...
...Kaulah satu di hati, kau yang teristimewa...
Mereka berempat kompak menyanyikan reff daru lagu itu bahkan ada beberapa orang juga ikut serta bernyanyi bersama mereka.
...Diam-diam aku memandangi wajahnya. Tuhan, ku sayang sekali wanita ini. Tuhan, ku sayang sekali wanita ini...
Kambali Kevin yang bernyayi sendirian dengan mata yang tidak lepas menatap ke arah Karamel sedangkan Karamel memperhatikan jari-jemari Kevin yang memetik senar gitarnya. Jrengg!
...Sampai habis nyawaku...
...Sampai habis usia...
...Maukah dirimu jadi teman hidupku?...
...Kaulah satu di hati, kau yang teristimewa...
...Katakan 'Yes I do'...
...Jadi teman hidupku....
Kini bukan hanya mereka berempat saja yang menyanyikan reff lagunya tapi dari lebih dari sepuluh orang ikut bernyayi dengan keras. Prokk! Prokk! Prokk! Semuanya bertepuk tangan sangat meriah.
"Haus nih, beli minuman yuk," ucap Rendi.
"Beli sono, gue nitip," ucap Kevin.
"Yee, masa iya gue sendirian, berdua lah." dengus Rendi dan Kevin hendak menyuruh Biyan namun sudah keduluan oleh Biyan yang merampas gitar dari Kevin.
"Kevin aja lah," ucap Biyan
"Semangat kak Kevin," jerit Karamel membuat Kevin tersenyum dan mau membelikan minuman untuk mereka.
"Kar, lo orangnya mudah peka apa nggak sih?" tanya Biyan membuat Karamel mengernyit aneh.
"Maksud lo?" tanya Karamel.
"Kevin suka sama lo," ucap Biyan.
"Enggak mungkin lah," sentak Karamel.
"Gue sahabatnya jadi gue tahu dari tatapan mata dia ke elo itu dalem banget, dia suka sama lo," ucap Biyan lagi sehingga Karamel tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kalaupun bener Kak Kevin suka sama gue, gue nggak akan bisa balas perasaan dia karena gue udah punya pacar jadi sekeras apapun kak Kevin suka sama gue, gue nggak akan bisa terima dia." ucap Karamel jujur.
"Seganteng apa sih pacar lo itu?" tanya Biyan.
"Bukan cuma ganteng doang tapi dia itu cowok teristimewa banget tahu enggak, lo mau lihat ...."
Bukk! Bukk!
"Buset! Kepala gue," pekik Karamel memegangi kepala depannya yang terbentur dengan kapala Biyan.
"Lo nggak apa-apa? Sakit ya?" tanya Biyan menatap wajah Karamel sembari Biyan memegangi kepala Karamel, jarak wajah Karamel dan Biyan sangat dekat hingga Karamel di buat terkejut.
"Kena bola di bagian belakang terus kebentur kepala lo yang kerasa di bagian depan, ya sakitlah dodol," ketus Karamel membuat Biyan tersenyum lalu ia mengangkat kepalanya dan mengelus kepala Karamel hingga wanita itu tersenyum menikmati belaian tangan Biyan.
"Udah sembuh," ucap Biyan.
"Makacih Kak Biyan, tapi mana bola yang kena kepala gue tadi ya," gumam Karamel mencari keberadaan bola itu.
"Ngapain di cari, itu udah di ambil sama mereka," ucap Biyan menunjuk rombongan anak remaja yang bermain bola dengan anak-anak kecil.
"Ck! Nyebelin banget, udah ngelempar bola sembarangan, enggak minta maaf terus sekarang ... "
"Nih minuman kalian berdua," ucap Rendi tiba-tiba datang sehingga Karamel tidak jadi melampiaskan omelannya.
"Lo kanapa?" tanya Kevin pada Karamel.
"Nggak apa-apa," ketus Karamel
Biyan tersenyum mengelus kepala Karamel lalu ia menceritakan kejadian di mana Karamel sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada bola yang terkena kepala wanita itu dari belakang hingga kepala Karamel dan Biyan terbentur.
...........
...Kediaman keluarga Ramo....
Pada akhirnya Karamel bagaikan lupa waktu, ia telat pulang hingga di sore hari menjelang malam namun terlihat di luar rumah ada berjejer motor-motor besar SALF BADRAD,
"Jadi enggak sabar pengen ketemu pacar," gumam Karamel berjalan masuk ke dalam rumah seraya mengucap salam dan di sahuti oleh beberapa orang, di mana mereka adalah para anak-anak SALF BADRAD.
"Baru pulang?" tanya Kenzi menghampiri karamel dan Karamel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Leo mana?" tanya Rio membuat Karamep menaikan sebelah alisnya.
"Kok malah nanya ke gue sih, harusnya 'kan gue yang nanya, mana yayang Leo gue?" tanya Karamel bucin.
"Tadi dia nyusul lo ke alun-alun Bandung, emang lo nggak ketemu sama dia?" tanya Kenzi.
"Enggak," jawab Karamel membuat mereka semua mengerutkan dahi aneh.
"Jangan-jangan Leo kesasar lagi." ucap Karamel.
"Ngadi-ngadi lo, Leo paling hafal sama jalanan Bandung jadi mana mungkin dia kesasar," ucap Adit membuat Karamel terdiam.
"Terus dia di mana sekarang, ini udah mau maghrib masa iya belum balik juga," ucap Karamel mengeluarkan handphone dan hendak menelepon kekasihnya itu tapi sebelum itu, Karamel membuka notifikasi pesan dari Leo.
My Lion (13: 22)
Kara, maafin aku Sayang
Karamel cepat-cepat menghubungi nomor kekasihnya itu, apa maksud dari kata maaf kekasihnya itu? Jangan katakan kekasihnya sedang dalam masalah! Tidak tidak, Karamel tidak boleh berfikir buruk tentang kekasihnya, namun sungguh menyebalkan beberapa Karamel menghubungi nomor kekasihnya, tidak satupun yang di respon oleh Leo.
"Nggak di angkat, Kak," gumam Karamel menggigit bibir atasnya mulai khawatir.
^^^Karamel (17 : 57)^^^
^^^Kamu di mana sekarang? Jangan buat pacar kamu khawatir atau aku tusuk kamu pake belati kesayangan aku.^^^
Setelah mengirim pesan, Karamel kembali menghubungi nomor Leo tapi hasilnya tetap tetap tidak bisa, terkadang sambungannya masuk tapi tidak di angkat oleh kekasihnya itu, kadang juga di luar jangkauan bahkan sibuk juga.
^^^Karamel (18 : 08)^^^
^^^Leo, aku penggal ya kepala kamu kalo enggak bales pesan aku^^^
^^^Karamel (18 : 10)^^^
^^^Sayang, kamu di mana?^^^
Karamel menghela napas panjang saat melihat beberapa pesan yang ia kirimkan tak kunjung di baca dan balas oleh kekasihnya itu.
"Bang ...."
"Mungkin Leo ada urusan di luar, kita tunggu bentar lagi, dia pasti balik ke sini." ucap Faza.
"Beneran?" tanya Karamel.
"Udah, mandi dulu sana," ucap kenzi.
"Kenapa perasaan gue jadi nggak enak gini ya," batin Karamel berjalan menuju kamarnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...