Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 249 (Takdir)


__ADS_3

Sore hari, Leo dan Karamel keluar rumah untuk jalan-jalan sore namun bukan memakai kendaraan melainkan jalan kaki. itu juga atas paksaan Karamel yang katanya si adeknya yang mau keluar jalan kaki di luar rumah.


Keempat bodyguard Leo yang mengikuti mereka dari belakang, selalu di minta Karamel untuk tidak mengikuti mereka karena dirinya hanya ingin berduaan saja dengan suaminya namun Leo menolak keras karena akan sangat berbahaya bagi istrinya jika keempat bodyguard itu tidak di perolehkan untuk ikut.


"Pegel juga ya," ucap Karamel menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Istirahat dulu di sini," sahut Leo lalu mereka berdua duduk di kursi panjang pinggir jalan dekat taman komplek itu.


"Ini pertama kalinya aku jalan kaki keluar rumah kamu sore-sore gini, rame juga ya ternyata." ucap Karamel tersenyum melihat betapa banyaknya orang-orang yang berjalan kaki, jogging, bahkan bermain sepeda juga ada.


"Tapi berisik," sahut Leo dengan malas, pria itu lebih suka ketenangan menyendiri dari pada keramaian.


"Mau di anterin ke hutan?" tanya Laramel merasa jengkel karena suaminya itu tidak suka keramaian.


"Kita udah nikah Sayang, ngapain moj*k ke tengah hutan segala." sahut Leo menyalah artikan maksud ucapan istrinya.


"Dasar otak mesum, maksud aku itu nganterin kamu ke hutan sendirian." ucap Karamel.


"Kenapa gitu?" tanya Leo.


"Katanya kamu enggak suka berisik, hidup di hutan aja sana." ketus Karamel membuat Leo terdiam.


Setelah beberapa menit mereka istirahat, Karamel mengerutkan dahinya seraya memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. Leo yang melihat ekspresi wajah istrinya, mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Kamu kenapa hem?" tanya Leo pelan.


"Aku mau es krim," ucap Karamel tiba-tiba menatap perutnya, Leo mengerutkan dahinya lalu menatap ke sekeliling mereka tidak ada yang namanya es krim namun kenapa istrinya malah memintanya?


"Enggak enggak, bukan aku yang mau es krim tapi adek bayinya yang mau es krim." ralat Karamel menatap Leo yang masih mengerutkan dahinya aneh.


"Kenapa? Ada yang aneh di muka aku?" tanya Karamel dan Leo menggelengkan kepalanya cepat.


"Kesehatan kamu lagi enggak memungkinkan buat makan es krim yang dingin itu, sayang." ucap Leo mengingatkan istrinya akan kesehatannya.


"Tapi adeknya yang mau es krim," lirih Karamel mengelus perutnya.


"Adeknya atau Mamanya yang mau es krim?" tanya Leo menyipitkan matanya curiga, siapa tahu istrinya itu sedang berbohong 'kan.


"Adeknya bukan Mamanya, kalo enggak percaya tanya aja langsung." tunjuk Karamel ke arah perutnya. Leo membungkukkan badannya agar wajahnya bisa sejajar dengan perut buncit istrinya.


Cup ....


Leo mencium perut buncit itu sekilas sebelum berkata, "Anak kesayangan Papa benaran mau es krim ya, Dek?" tanya Leo mengelus perut istrinya itu.


Dugg ....


Leo sedikit tersentak dan terpaku saat anaknya menendang di dalam perut Karamel, Leo mengangkat kepalanya menatap sang istri. Karamel terkekeh melihat wajah datar suaminya saat anak mereka menjawab dengan menendang perutnya barusan.


"Bukannya tadi katanya ngidam jalan-jalan di luar rumah, terus kenapa sekarang malah berubah mintanya es krim, hem? Lagian juga kita 'kan lagi di luar dan es krimnya 'kan ada di rumah, Sayang." ucap Leo dengan pelan namun Karamel langsung mengerucutkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya cepat.


"Adek bayinya mau es krim, Papa." ucap Karamel dengan raut wajah memelas.


Leo menghela napas kasar, dirinya tidak bisa melihat raut wajah menyedihkan itu. Merayu dengan raut wajah memelas demi mendapatkan keinginannya dengan menggunakan anak mereka sebagai senjata utamanya dan anaknya juga sama menyebalkannya seperti istrinya, Karamel maupun anaknya benar-benar sangat pintar membuat seorang Cleo Rendra Agata menjadi tak berdaya.


"Ya udah kita pulang sekarang ya," ucap Leo dan raut wajah Karamel berubah tersenyum, kemudian mereka bangkit dari tempat duduk untuk kembali ke rumah.


Setelah sampai di rumah, Leo menuntun Karamel untuk duduk di sofa lalu dirinya berjalan menuju dapur. Huft! Helaan napas Leo kian terdengar saat dirinya tidak mendapati ada es krim di dalam kulkas.


"Bik, kenapa enggak ada es krim di kulkas?" tanya Leo bertanya pada pelayan rumah yang sedang memasak.


"Sepertinya sudah habis Tuan muda, Nyonya muda selalu memakan es krimnya di malam hari." ucap salah satu pelayan rumah itu, Leo mengangguk paham lalu menyuruh pelayan itu untuk kembali bekerja sedangkan dirinya kembali berjalan menghampiri istrinya.


"Es krimnya udah habis, sayang." ucap Leo duduk di kursi samping Karamel.


"Hem aku tahu! Aku selalu makan es krim empat bungkus dalam semalam, enggak heran di kulkas stoknya udah habis." sahut Karamel dengan santai memakan buah anggur persediaan di meja makan.


"Apa? Empat bungkus?" pekik Leo membulatkan matanya.


"Itu sebabnya kamu sakit kepala, mual-mual bahkan sakit di bagian perut kamu juga, kamu makan es krim empat bungkus dalam semalam." omel Leo namun pria itu tidak meninggikan suaranya.


Seharusnya Leo marah sekarang karena istrinya sudah keterlaluan memakan es krim empat bungkus dalam semalam bahkan itu ia lakukan di setiap malam tapi rasakan hati Leo berat untuk melakukannya, cintanya lebih besar dan terlalu dalam dari pada egonya.


"Salahin anak kamu, dia yang selalu ngidam es krim, coklat sama keju di setiap malamnya." ucap Karamel seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Lagian aku juga enggak mau makan yang manis-manis kalo bukan anak kamu yang minta, aku itu sukanya yang asin-asin tapi anak kamu selalu muntah kalo makan-makan kesukaan Mamanya tapi ada satu makanan asin yang dia suka, cuma keju doang." ucap Karamel membuat Leo memijat hidungnya pusing, istrinya ini terlalu banyak pembelaan dan tidak mau di salahkan.


"Oke tapi es krim yang kamu mau udah habis, nanti suruh ...."


"Adeknya mau Papanya yang beliin!" ucap Karamel memotong perkataan suaminya.


Leo terdiam sejenak menatap istrinya sebelum tersenyum masam dan berkata, "Mama ...."


"Iya Papa, adeknya mau di beliin sekarang. Katanya mau es krim rasa vanilla, banana sama strawberry terus stok coklat sama keju dia juga udah menepis di kamar, katanya mau di beliin yang banyak juga." sahut Karamel cepat hingga raut wajah Leo berubah menjadi datar.


"Dan jangan lupa! Semenjak usia kandungan aku masuk angka tujuh bulan, aku jadi suka ngiler sama makanan yang ada di iklan TV. Oreo yang di puter, di jilat terus di celupin. Emh! Beliin juga tapi pengen yang rasa original aja, kata Adeknya." ucap Karamel dengan penuh semangat, apakah tidak ada kata kenyang untuk ibu hamil? Kenapa semenjak istrinya itu hamil, banyak sekali makanan yang di minta.


"Besok aja ya, matahari udah mau tenggelam loh sayang," ucap Leo, raut wajah pria itu sengaja ia rubah semenyedihkan mungkin agar istrinya itu merasa kasihan.


"Tapi Adeknya mau sekarang, aku temenin ya ya ya ya." sahut Karamel sungguh tidak dapat mengerti raut wajah menyedihkan suaminya.


"Capek!" rengek Leo seperti anak kecil hingga Karamel terkekeh di buatnya.


"Cih! Aku aja yang setiap hari jalan bawa anak kamu kuat kok, masa iya kamu yang cuma punya perut six pack aja gampang cape, dasar cowok lemah." ejek Karamel membuat Leo menyipitkan matanya tidak suka di sebut sebagai laki-laki lemah.


"Lagian Papa enggak kasian apa sama Adeknya, tadi 'kan waktu di taman Adeknya udah respon pertanyaan Papanya terus sekarang enggak mau di turutin kemauannya, nanti kalo adeknya ileran, gimana coba?" tanya Karamel dengan nada suara anak-anak.


"Okay, fine! Kita beli sekarang." ucap Leo pada akhirnya namun raut wajah pria itu menyimpan kekesalan atas perkataan istrinya yang mengatakan dirinya lemah barusan.


Karamel lebih dulu bangkit dari tempatnya duduknya, "Let's go Papa," ucap Karamel membuat Leo menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis sebelum ikut bangkit dari tempat duduknya, kemudian mereka berdua berjalan menuju garasi untuk membeli apa yang di inginkan istrinya atau mungkin anaknya.

__ADS_1


.........


Malam hari setelah makan malam, Karamel meminta izin suaminya untuk menghubungi Adit dan Leo mengizinkannya.


"Malam Karamelnya Adit," pekik Adit saat mengangkat video call dari Karamel.


"Oh my god! Kalian lagi ngapain rame-rame, lagi pesta ya?" tanya Karamel menatap tempat Adit yang begitu ramai orang di sekitarnya.


"Cuma kumpul-kumpul antar keluarga sama sahabat-sahabat aja," ucap Adit membuat Karamel merasa ingin sekali ikut berkumpul namun itu hanyalah angan-angannya saja.


"Gimana sama kesehatan lo, udah baikkan sekarang?" tanya Adit, sebelum dirinya pergi ke Bali, Adit sempat datang ke rumah Leo dan melihat Karamel yang terbaring lemah di kamarnya.


"Udah baikan kok, malahan udah baikan banget." ucap Karamel seraya matanya melirik ke arah depan di mana suaminya sedang duduk di depannya seraya sibuk pada laptopnya.


"Bohong," sahut Leo tahu jika istrinya itu sedang menatapnya.


"Pftt! Gue tahu lo pengen lihat pernikahannya Niky sama Diky secara langsung tapi berhubung lo sakit jadi kesembuhan lo itu jauh lebih penting." ucap Adit seakan-akan mendukung Leo untuk tidak mengizinkan Karamel pergi ke Bali.


"Iya, kali ini gue enggak keras kepala." sahut Karamel memutar bola mata jengah.


"Udah ah jangan buat gue kesel, sekarang yang lain di mana? Lagi pada ngapain mereka?" tanya Karamel membua Adit menganggukkan kepalanya.


"Lagi pada bakar-bakar sama cekakak-cekikik ala ala mak lampir, tuh." ucap Adit mengganti kamera belakang lalu mengarahkannya pada rombongan SALF BADRAD yang di mana hanya Leo dan Kenzi yang tidak ada di sana lalu ketiga sahabat Karamel yaitu Niky, Mika dan Firgy, kekasih abangnya yaitu Alleta juga ada di sana. Masih banyak lagi sahabat-sahabat mereka yang lain sedang berkumpul di sana.


"Woy Dit, lagi ngapain lo? Mau fotoin kita?" tanya Dito berteriak, Adit memutar bola mata jengah lalu dia memutar kameranya ke kamera depan.


"Bentar dong, gue gaya dulu." pekik Bobby sehingga yang lainnya juga ikut bergerak memasang gaya mereka masing-masing.


"Kurang kerjaan gue foto muka-muka jelek lo pada," ucap Adit membuat Karamel terkekeh kemudian Adit berjalan mendekati mereka semua.


"Nih, Kara video call." ucap Adit mengarahkan layar handphonenya ke arah mereka, di mana Karamel tersenyum seraya melambaikan tangannya dengan 'say hi' ke mereka semua.


"Ya ampun Karamel," Mika berteriak dan langsung merampas handphone Adit.


"Bumil lagi sakit ya, keadaan lo gimana sekarang? Masih sakit kepalanya? Atau udah mendingan? Masih mual-mual enggak?" tanya Mika dengan raut wajah sedih, wanita itu sangat ingin bertemu Karamel namun ketika mendapatkan kabar dari Adit bahwa Karamel sedang sakit, Mika berjanji akan ke Jakarta menjenguk Karamel setelah empat hari menginap di Bali.


"Udah baikkan kok tapi masih sedikit pusing sih," sahut Karamel jujur, dan Leo tersenyum sinis melihat istrinya yang aneh itu. Tadi dengan Adit bilangnya sudah sangat baik namun di depan Mika malah mengeluh masih pusing.


"Padahal gue berharap banget lo bisa hadir di pernikahan gue sama Diky." ucap Niky membuat Diky mencium kilas pelipis calon istrinya yang bersedih karena salah satu sahabat baiknya tidak bisa datang.


"Bukan cuma Niky tapi gue juga berharap banget lo bisa dateng sama Leo tapi lihat keaadan lo yang lagi sakit kayak gini, gue cuma bisa do'ain c**epet sembuh aja ya bumil," ucap Diky dan Karamel menganggukkan kepalanya seraya mengucap kata terima kasih.


Satu jam, Dua jam hingga empat jam kemudian Leo merasa lelah menunggu istrinya yang belum juga mematikan video callnya. Sesekali istrinya tertawa dan sedih namun juga seketika berubah menjadi senang kala mendengar cerita Figy yang di mana sekarang Abdi telah resmi menjadi kekasihnya namun pria itu begitu kaku saat mengungkapkan perasaannya.


Lalu tawa Karamel kembali memenuhi kamar mereka saat melihat Adit dan Niky menari di tengah-tengah keramaian.


"Sayang!" panggil Leo pelan setelah menghampiri istrinya di ranjang.


"Bentar ya," ucap Karamel pada Faza.


"Iya, kenapa Mas?" tanya Karamel menatap Leo yang duduk di pinggiran ranjang.


Leo menunjuk ke arah jam dinding, "Udah empat jam kamu video callan sama mereka," ucap Leo pelan, agar para sahabatnya tidak mendengar suaranya.


"Udahan dulu ya, besok lagi di lanjutinnya." pinta Leo lembut. Sejujurnya pria itu sedikit kesal dengan istrinya karena istrinya itu telah mengabaikannya selama empat jam.


"Tapi ...."


"Kenapa Kar?" tanya Adit kala melihat perubahan raut wajah Karamel.


"Oh enggak ada apa-apa, itu cuma ...."


"Karamel butuh istirahat, Dit. Lo bisa matiin video callnya sekarang." potong Leo menatap tajam istrinya itu. Gluk! Karamel tersentak kaget.


"Oh ya udah kalo gitu ...."


"Eh tunggu ...."


Sebelum Karamel selesai bicara, Leo sudah lebih dulu merampas handphone Karamel membuat Karamel terbelalak kaget. Klik! Pria itu mematikan sambungan video callnya lalu mematikan layar handphonenya juga dan langsung ia letakkannya di atas nakas samping ranjangnya.


"Ih kok langsung di matiin sih," gerutu Karamel mengerucutkan bibirnya cemberut.


"Mau protes?" tanya Leo menikkan sebelah alisnya, pria benar-benar di buat gereget oleh istrinya itu.


"Papa ...."


"Iya Mama! Sekarang udah jam sebelas malem, udah waktunya buat tidur." sahut Leo tersenyum lebar, sang istri menghela napas pasrah lalu membaringkan tubuhnya di kasur.


Leo ikut berbaring di samping Karamel lalu pria itu meletakkan tangannya ke perut buncit sang istri, Leo mengelus lembut perut itu seraya menampilkan senyuman tipis di kedua sudut bibirnya, tiga menit sudah Leo mengelus perut buncit istrinya namun raut wajah Leo seketika berubah kala apa yang ia harapkan tidak terjadi juga.


"Kok Adeknya enggak nendang?" tanya Leo menatap istrinya.


Karamel menghela napas kasar ketika dugaannya tidak melesat sama sekali, "Kamu mau di tendang? Sini, biar aku yang nendang kamu." ucap Karamel masih merasa kesal rupanya, membuat Leo menarik tangannya dari perut sang istri.


"Kalo sama kamu mah jangan di tendang dong, sayang," ucap Leo dengan malas.


"Terus di apain?" tanya Karamel menaikkan sebelah alisnya, Leo tersenyum miring menatap istrinya lalu ia menunjuk pipinya sendiri sebagai jawaban.


"Di tonjok?" tanya Karamel pura-pura tidak paham, raut wajah suaminya seketika berubah datar. Segitu kesalnya kah istrinya terhadap dirinya?


"Mau minta di hamilin lagi kamu!? Dasar pura-pura polos." ketus Leo membuat Karamel terkekeh melihatnya.


"Hmm! Kode keras ya, Papa." ucap Karamel mencolek dagu suaminya dengan genit sehingga Leo tersenyum geli.


"Pinternya, istri siapa sih ini?" balas Leo mencubit pelan hidung Karamel dengan gemas.


"Istri raja iblis dong." ucap Karamel membuat Leo mengerutkan dahinya aneh.


"Aku?" tanya Leo menunjuk dirinya sendiri dan dengan polosnya Karamel menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dasar istri durhaka ngatain suaminya raja iblis," umpat Leo namun Karamel hanya tersenyum seraya mengedikkan bahunya tidak perduli.


"Ya udah, sekarang tidur dulu ya ratunya iblis." ucap Leo membuat Karamel terkekeh sambil menganggukkan kepalanya patuh, lalu keduanya memejamkan mata untuk tidur.


.........


Di tempat lain, kediaman keluarga Blende. Josh Blende serta istrinya sedang pergi ke California kala di sana ada urusan bisnis yang harus di tangani langsung oleh Blende hingga kini di kediaman itu hanya ada Keisha dan Zoeya yang sedang berada di dalam ruangan yang redup.


Ruangan rahasia yang sebelumnya tidak pernah di ketahui oleh Zoeya, kini Keisha membawa adik tirinya itu untuk berkunjung ke ruang rahasia itu.


Perlahan mata coklat milik Zoeya terbuka namun karena kepala wanita itu terasa pusing, pandangan matanya sedikit kabur, sulit sekali baginya untuk memperjelas pandangan matanya.


"Aghh!" ringisnya saat tersadar dari tidur nyenyaknya, sedetik kemudian Zoeya membelalakkan matanya kala tangannya terikat di belakang kursi begitu juga dengan kedua kakinya.


Kepala wanita itu bergerak menyusuri ruangan gelap yang hanya di terangi dua cahaya obor di dinding, tempat yang begitu familiar bagi Zoeya. Seketika mata wanita itu terbelalak kaget saat menyadari di mana dirinya berada sekarang.


"Tempat ini ...."


"Wah wah wah! Siluman ular udah bangun ternyata," suara keras seorang laki-laki membuat Zoeya semakin membelalakkan matanya.


"K-Kak Keisha!?" panggil Zoeya dan pria itu tersenyum sinis menatap keterkejutan adik tirinya.


"Kenapa kaget? Gue ganteng ya, emang udah bawaan lahir sih." ucap Keisha dengan sombongnya, lalu pria itu berjalan mendekati adik tirinya itu.


"Apa yang kak Kei lakuin ke aku?" tanya Zoeya merasa merinding karena dirinya tahu kakak tirinya itu tidak pernah menyukainya dan selalu ingin membuatnya menderita.


"Cuma mau ngobrol aja," sahut Keisha kemudian ia menarik kursi kayu untuk ia duduki tepat di depan adik tirinya itu.


"Tapi kenapa tangan aku harus diikat kayak gini? Dan kenapa harus di ruangan gelap ini?" tanya Zoeya lirih, Keisha bukanlah pria baik-baik bagi Zoeya, dirinya pernah melihat kegilaan Keisha dalam menyiksa orang lain dan Zoeya takut dirinya akan menjadi sasaran kakak tirinya itu untuk di siksa juga.


"Jangan takut Zoeya, gue enggak akan buat lo mati kok." ucap Keisha menggerakkan jari telunjuk sebelah kanannya untuk menyusuri pipi sebelah kanan Zoeya hingga Zoeya memejamkan matanya takut sambil menolehkan kepalanya ke samping untuk menghindari tangan kekar kakak tirinya itu.


"Tapi gue bakal buat lo ngerengek minta di bunuh," bisik Keisha dingin, membuat mata Zoeya langsung terbelalak kaget sambil menatap mata kakak tirinya.


"Kenapa Kak Kei ngelakuin ini sama aku, apa salah aku ke Kakak?" tanya Zoeya dengan mata berkaca-kaca, tubuh wanita itu bergetar ketakutan. Keisha tersenyum sinis, hanya dengan ucapan saja wanita itu merasa sangat ketakutan hingga ingin menangis.


"Gue benci sama lo," ucap Keisha datar.


"Selama ini aku enggak pernah ngusik kehidupan Kak Kei karena aku tahu Kak Kei enggak pernah suka sama aku tapi kesalahan apa yang aku lakuin sampai Kak Kei ngikat aku kayak gini?" tanya Zoeya dengan mulut bergetar.


Selama bertahun-tahun Zoeya hidup sebagai adik tirinya Keisha, dirinya tidak pernah berani mendekati atau bahkan sekedar menatap mata kakak tirinya itu karena Keisha sendiri pernah memperingati dirinya untuk jangan dekat-dekat dengannya dan jangan mengusik hidupnya atau apa yang pernah wanita itu lihat saat Keisha menyiksa orang lain, akan terjadi juga pada wanita itu.


Makanya selama bertahun-tahun juga, Zoeya tidak pernah merasa takut atau was-was saat dirinya di tinggal sendirian bersama kakak tirinya di rumah oleh kedua orang tuanya. Toh dirinya tidak pernah mengusik hidup kakak tirinya, dan kakak tirinya pun tidak pernah melakukan hal-hal buruk kepadanya.


Namun kini Zoeya berada di ruangan gelap yang hanya di teriangi oleh dua cahaya obor, sama persis dengan tempat yang ada di California, tempat di mana dirinya melihat kakak tirinya itu menyiksa orang lain dengan sangat brutal. Maka dari itu Zoeya bertanya-tanya kesalahan apa yang ia lakukan kepada kakak tirinya hingga membuat kakak tirinya itu mengikatnya di ruangan yang menakutkan itu.


"Lo enggak inget?" tanya Keisha melipat kedua tangannya di perut, Zoeya berusaha memutar ingatannya namun hasilnya dia tetap tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat pada kakaknya.


"Aku mohon Kak, aku enggak tahu hal apa yang udah aku lakuin sama Kak Kei sampai buat Kak Kei ngikat aku di ruangan ini." ucap Zoeya lirih, air mata wanita itu turun begitu saja membasahi pipinya.


"Bukan ketenangan gue yang lo ganggu tapi ketenangan sahabat baik gue yang udah lo ganggu," ucap Keisha dengan serius.


"Aku enggak tahu siapa sahabat baik Kak Kei," ucap Zoeya jujur karena selama ini dirinya tidak pernah tahu tentang Keisha bahkan di saat dirinya penasaran dan ingin tahu pun, wanita itu tetap tidak ada keberanian untuk mencari tahu tentang Keisha, dirinya terlalu takut dengan Keisha.


"Cleo Rendra Agata dan ... yeah istrinya juga Karamel Listra Najasi Aramoy," ucap Keisha membuat Zoeya terkejut namun sedetik kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku berani bersumpah! Sebelum aku tahu siapa Karamel yang sebenarnya, aku emang udah lancang ngehina dia tapi setelah a-aku aku tahu dia siapa, aku enggak pernah mau ganggu dia lagi, sumpah demi apapun aku bener-bener enggak akan berani ngusik hidup mereka lagi." ucap Zoeya cepat, dan Keisha menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis.


Ternyata Zoeya sudah menyelidiki identitas Karamel yang jauh lebih berkuasa di bandingkan dirinya yang hanya sebatas anak tiri dari keluarga Blende, dan ternyata wanita itu juga masih punya yang namanya urat malu untuk mengganggu kehidupan Leo dan Karamel lagi.


"Aku mohon Kak Kei, aku enggak akan ganggu Leo sama Karamel lagi." lirih Zoeya menundukkan kepalanya.


"Tapi kenapa dua hari yang lalu gue lihat lo ketemuan sama mantannya Leo?" tanya Keisha menyipitkan matanya curiga.


"Aku sama sekali enggak kenal sama dia tapi dia yang datengin aku, dia ngajak aku buat kerja sama ngehancurin rumah tangganya Leo sama Karamel tapi aku nolak dia. Aku aku enggak mau berurusan sama Leo maupun Karamel lagi, Kak." ucap Zoeya lirih, air mata wanita itu semakin deras.


Keisha menghela napas panjang menatap datar wajah menyedihkan Zoeya, ada rasa ngilu saat melihat wanita itu menangis.


Keisha tahu kenapa adik tirinya itu menjadi jahat. Penyebabnya ada pada ayah kandung, ibu kandung serta ayah tiri bahkan Keisha sendiri tidak pernah memberikan kasih sayang apapun pada wanita malang itu.


Dalam hidup wanita itu hanya ada kekosongan, dirinya selalu kesepian namun Keisha tetap tidak bisa menyayangi adik tirinya itu, sudah terlalu dalam Keisha membenci wanita itu karena ibu dari wanita itu telah menjebak ayahnya demi bisa masuk ke dalam keluarganya.


Bahkan Zoeya juga pernah melakukan kesalahan, walau itu di lakukan karena terpaksa di suruh oleh ibu kandungnya tapi Keisha membenci wanita itu karena terlalu bod*h mematuhi perkataan ibu kandungnya yang licik itu.


"Lo tahu kenapa gue benci lo?" tanya Keisha dan Zoeya menganggukkan kepalanya tahu.


Kesiha bangkit dari tepat duduknya lalu dia melepas tali yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki adik tirinya, setelah melepas tali di bagian kaki Zoeya, dalam keadaan berjongkok Keisha mendongakkan kepalanya menatap wajah sendu Zoeya lalu pria itu mengangkat dagu Zoeya agar mau menatap matanya juga.


"Pewaris utama Daddy ada di depan mata lo sekarang dan lo bakal jadi tanggung jawab gue, apapun yang lo lakuin di luar sana, gue yang bakal lo hadapin duluan. Paham !!!" ucap Keisha, ada sebuah makna tersembunyi di dalam kata-katanya. Jika Zoeya bisa mengerti, itu akan membuatnya berfikir dua kali untuk bersikap sombong atau berbuat jahat namun jika tidak memahaminya maka Zoeya yang dulu akan tetap menjadi Zoeya yang banyak di benci orang-orang.


Zoeya menganggukkan kepalanya lalu Keisha memberikan sebuah kapsul pada Zoeya, "Telan!" titah Keisha membuat Zoeya menelan salivanya dengan kasar.


Apakah itu racun? Apakah kakak tirinya begitu sangat membencinya sampai benar-benar ingin membunuhnya sekarang juga? Zoeya merasa ragu untuk melakukan perintah kakak tirinya, dirinya memang banyak melakukan kesalahan. Mungkin semua orang ingin dirinya cepat-cepat musnah dari bumi ini tapi dirinya belum siap untuk mati sekarang. Sekali lagi Zoeya menangis di depan kakak tirinya.


"Telan !!!" gertak Keisha memelotot dan tidak peduli dengan tangisan Zoeya, hingga Zoeya cepat-cepat mengambil kapsul itu lalu dengan tangan bergetar dirinya masukkan kapsul itu ke dalam mulutnya untuk ia telan.


Glukk ....


Beberapa detik setelah menelan kapsul itu, pandangan mata Zoeya menjadi kabur namun kepala maupun tubuhnya tidak merasakan sakit apapun, apakah ini yang di namakan mati cepat tanpa merasakan sakit? Zoeya berusaha mengedip-ngedipkan matanya agar pandangannya menjadi jelas namuan tidak bisa, semakin lama pandangan matanya semakin memudar. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata sebelah kirinya sebelum kedua mata itu tertutup sempurna.


Keisha yang sejak tadi hanya melihat bagaimana adik tirinya itu berusaha keras untuk menyadarkan dirinya, kini tangan kekar milik Keisha bergerak menghapus air mata adik tirinya itu, "Seandainya lo enggak bod*h kayak nyokap lo." gumam Keisha dingin namun seperti ada sebuah harapan di dalamnya, harapan yang tidak tahu apakah mungkin bisa terjadi atau bahkan mungkin mustahil terjadi.


Keisha berdiri dari posisi jongkoknya lalu kedua tangannya bergerak untuk menggedong tubuh mungil Zoeya ala bridal style dan membawanya keluar dari ruangan itu.


.


.


.

__ADS_1


::: Bersambung :::


Lihat gimana hidupnya Zoeya! Kira-kira ada yang berharap Zoeya jadi baik nggak ya?


__ADS_2