
Pagi hari Karamel lebih dulu bangun dari pada Henry, Karamel terkejut kala di depannya ada seorang laki-laki.
Karamel mendongakkan kepalanya, "Henry?!" batin Karamel memanggil nama sang suami.
Karamel tersenyum jahil melihat wajah sang suami, "Aaaaaaaa ...!!!" teriak Karamel di telinga Henry.
Seketika Henry tersentak dan terbangun, "Ada apa sayang? Apa ada maling? Atau kau kenapa?" tanya Henry tapi memegangi telinga kanannya.
Karamal tersenyum cekikikan lalu ia tertawa terbahak-bahak, "Pfftt–hahahaha ... aahaha ....!!!" tawa Karamel tidak berhenti sampai Henry kebingungan di buatnya.
Beberapa detik kemudian Henry baru sadar jika sang istri sudah mengerjainya dengan berteriak di telinganya.
"Rupanya kau ingin bermain-main denganku, Baby." sengit Henry membuat tawa Karamel berhenti.
Glukk....
"Ma*i gue." batin Karamel.
"Sepertinya aku ...."
Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Henry sudah memeluk pinggang sang istri.
"Aku .... " Karamel kembali tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena tangan Henry sudah berkeliaran di pinggangnya.
"Ahaaa hahaha ... hentikan ... aku–hahaha ... Maaf ... aku hanya ...." Karamel tertawa geli karena Henry menggelitiki perut dan pinggangnya.
"Hahaha ... Mas, hentikan!!!" ucap Karamel membuat Henry berhenti menggelitiki Karamel.
"Hufft ... hufft ....!!!" napas Karamel tidak stabil karena Henry. Dan Henry tentu merasa puas karena sudah memberi pelajaran pada istri nakalnya itu.
Cup ....
Henry mencium kening sang istri, "Aku mau mandi." ucap Karamel.
"Bagaimana jika kita mandi bersama?" tawar Henry menaik turunkan alisnya.
"Maaf tidak bisa suamiku, aku ingin cepat-cepat mengejar waktu untuk berangkat ke kampus." ucap Karamel membuat Henry mengernyit.
"Kampus?!" pekik Henry.
"Kita baru saja menikah kemarin, Sayang. Aku bahkan memberikan urusan kantorku pada Fico jadi kau ...."
"Siapa? Siapa yang harus aku suruh untuk menggantikan diriku?" tanya Karamel membuat Henry speechlees.
"Izinkan aku kuliah, Mas. Aku tidak akan tahan berdiam diri di rumah terus." pinta Karamel dengan wajah seimut mungkin.
Sejujurnya Karamel benci bertingkah manja namun ia tahu suaminya adalah orang yang sangat pemarah besar.
"Bisakah kau menurut dengan suamimu, Baby." sengit Henry tatap tidak mau jika Karamel kuliah hari ini.
"Bisakah kehidupanku sebebas anak muda pada umumnya?" gumam Karamel tanpa menatap sang suami.
"Kau sudah menikah, Kara." sentak Henry.
"Aihh! Nih mulut kenapa bisa kelepasan sih." batin Karamel menggerutui kebodohannya.
"Aku tahu, tapi aku ingin meneruskan pendidikanku agar cepat selesai, Mas." ucap Karamel lembut.
Karamel benci di bentak dan di marahi, tapi ia masih punya kesabaran untuk menghadapi masalah kecil.
Harapan Karamel hanya satu, semoga stok kesabarannya tidak habis.
"Aku bilang tidak, ya tidak." bentak Henry lebih lantang lagi.
"Baiklah, kau bosnya di sini dan aku harus mengikuti keinginanmu saja." sengit Karamel beranjak pergi meninggalkan Henry ke kamar mandi.
..............................
Setelah selesai mandi Karamel melihat suaminya masih di atas ranjang dengan wajah yang tidak berubah.
Karamel menghela napas panjang, "Aku ke bawah duluan, Mas." ucap Karamel.
__ADS_1
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke kampus." ucap Henry menghentikan langkah Karamel.
Karamel membalikan badannya, "Seriously?" tanya Karamel.
"Bersiaplah atau aku akan berubah fikiran." tegas Henry.
"Wajahnya seperti tidak rela aku akan pergi, beri hadiah satu saja mungkin bisa membuatnya tersenyum." batin Karamel.
Karamel mendekati sang suami, "Ada apa? Aku sudah ...."
Cupp ....
Seketika Henry terdiam saat Karamel mencium pipi kanannya, "Thank you, Suamiku." ucap Karamel langsung pergi bersiap.
Benar kata Karamel, Henry tersenyum menyentuh pipi kanannya sekarang, "Istriku mulai nakal sekarang." batin Henry beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah semua sudah siap, Henry dan Karamel turun ke bawah untuk sarapan bersama.
Selama mereka sarapan, baik itu Fico, Henry, Luhan, Andi dan Alfa tidak ada yang berani mengeluarkan suara sedikitpun, karena takut Karamel marah lagi seperti kejadian yang lalu.
Semuanya sudah selesai sarapan dan sekarang Fico, Luhan dan Alfa pergi ke kantor sedangan Andi, Henry dan Karamel pergi ke kampus Bina Nusantara.
Beberapa menit berlalu mobil Henry sampai di kampus Karamel, "Ada berapa kelas hari ini?" tanya Henry.
"Hanya satu." jawab Karamel.
"Baiklah aku akan menjemputmu." ucap Henry.
Sebenarnya Karamel ingin menolak tapi tidak mungkin, Henry pasti akan marah kepadanya.
"Oke." sahut Karamel.
Karamel mencium punggung tangan Henry lalu Henry mencium kening Karamel, setelah itu Karamel keluar dari mobilnya menuju kelas.
~Skip kelas selesai.
"Kara, kita jalan bareng kuy." ajak Rina, teman kelas Karamel.
"Cie! Kenalin dong pacarnya sama kita-kita " ucap Erika menggoda Karamel.
Karamel tersenyum dengan ucapan teman kelasnya yang mengatakan Henry adalah pacarnya, "Kapan-kapan aja kalo ada waktu luang." sahut Karamel.
"Ya udah, gue duluan ya." pamit Karamel pada para temannya.
"Oke, hati-hati." sahut para teman-teman Karamel.
karamel berjalan menuju tempat di mana Henry tadi menurunkannya, "Henry." gumam Karamel melihat punggung Henry di depan mobilnya.
"Ehem ....!!!" tegur Karamel di belakangnya.
Senyuman Karamel berubah, matanya melebar sempurna kala melihat laki-laki yang ia kira adalah suaminya itu adalah mantan pacarnya.
"Leo," gumam Keramel melangkah mundur.
"Long time no see, Karamel Listra." ucap Leo pelan membuat Karamel terpaku di tempatnya.
Pria yang ia rindukan, pria yang sangat ingin ia temui sejak dua tahun yang lalu, kini ada di depan matanya, namun siapa Leo sekarang? Kekasihnya? Bukan, pria itu adalah masa lalunya.
"Ini bukan mimpi 'kan? Leo? Dia kembali tapi huftt! Tenang Kara, dia udah jadi masa lalu lo, yeah cuma masa lalu ... lo harus bisa bersikap biasa aja di depan dia." batin Karamel agak ragu untuk mengatakan 'bersikap biasa biasa saja.'
"Karamel," panggil Leo.
"Kenapa?" sahut Karamel tanpa ekspresi.
"Apa kamu terpesona sama ketampanan aku?" goda Leo tersenyum lebar.
Kapan terakhir Karamel melihat senyuman itu? Senyuman yang selalu membuat jantungnya berdebar, senyuman yang berhasil membuat Karamel menggila karena merindukan pemiliknya, bahkan saat ini debaran jantungnya tidak bisa di katakan normal-normal saja.
"Enggak Kara, dia cuma masa lalu lo doang," batin Karamel tidak boleh terpesona dengan Leo.
"Biasa aja." jawab Karamel singkat namun mata wanita itu berpaling seakan-akan ia tengah menutupi kebohongan.
__ADS_1
"Dia bohong," batin Leo menyipitkan matanya.
"Kara, apa kamu ada waktu? Apa kita bisa ...."
"Maaf, aku lagi nunggin jemputan." potong Karamel melihat ke sembarang arah.
"Sebentar aja, Kara." pinta Leo.
"Enggak bisa," jawab Karamel.
"Aku mohon, cuma sebentar." pinta Leo mengatupkan kedua tangannya.
"Aku ...."
Tringg! Karamel mengambil handphonenya di dalam tas, dan ternyata yang meneleponnya adalah suaminya, Henry.
"Halo."
"................................"
"Tidak perlu, aku juga ingin jalan dengan teman-temanku hari ini. So, apa kau mengizinkan aku ....."
"..............................."
"Thank you," ucap Karamel.
"................................"
Karamel tersenyum, "Aku juga." balas Karamel mematikan sambungan teleponnya.
"Kara?!" panggil Leo.
"Emm!!!" tanpa sadar Karamel menyahuti ucapan Leo dengan senyuman manisnya.
"Eh!" Karamel langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Aku mau ngomong sesuatu yang penting sama kamu, aku mohon ikut sama aku sebentar aja ya," pinta Leo.
"Aku ada urusan sama temen-temen aku, jadi aku enggak bisa ikut sama kamu," alibi Karamel membalikan badannya hendak pergi meninggalkan Leo, namun Leo menarik lengan Karamel hingga tubuh Karamel langsung menghadap Leo.
"Sebentar aja," pinta Leo memaksa Karamel.
"Lepas!" ucap Karamel datar sehingga Leo melepas cekalan tangannya dari lengan Karamel.
"Aku mohon, Kara." pinta Leo.
"Kamu tau aku enggak suka di paksa, Tuan Rendra." ucap Karamel membuat Leo diam.
"Kenapa kamu kaget? Apa ada yang salah sama ucapan aku barusan?" tanya Karamel mengintimidasi Leo.
"Kamu bahkan kaget waktu aku manggil nama tengah kamu yang gak pernah di panggil oleh orang lain, kamu bener-bener sengaja ngejauh dari aku, Leo. Kamu bener-bener buat aku ngerasa kehilangan kamu." batin Karamel mengepal tangannya.
"Enggak ada yang perlu kita bahas lagi ..."
"Aku mau meminta penjelasan kamu tentang cowok yang deket sama kamu di masa lalu, Kara." sengit Leo membuat Karamel menyipitkan matanya.
"Cowok yang deket sama aku di masa lalu? Siapa? " batin Karamel bingung.
"Ikut aku sebentar, Kara. Aku mohon!" pinta Leo membuka pintu mobilnya.
Karamel ragu untuk ikut dengan mantan pacarnya itu namun perkataan Leo membuat Karamel penasaran apa yang terjadi di masa lalu, Karamel menggigit bibir atasnya lalu ia melangkah masuk ke dalam mobil Leo.
Leo menutup pintu dan berlari ke samping untuk menyetir mobilnya. Setelah masuk, Leo menghidupkan mesin mobil lalu ia menancapkan gasnya ke tempat yang ia ingin membawa Karamel.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1