Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 116


__ADS_3

"Ma – ak – as," napas Karamel mulai habis kala cengkraman kuat dari tangan Henry.


"Kau berani berbohong pada suamimu, Kara." gertak Henry memelototi Karamel.


"Maafkan aku Mas, tapi aku tidak bermaksud membohongimu." batin Karamel.


Karamel memejamkan matanya dengan sangat kuat kala dirinya tidak bisa menahan napas lagi. Melihat wajah sang istri yang pucat, Henry langsung melepas cengkeraman tangannya dan membalikan badannya untuk membelakangi Karamel.


"Hah ... hah ... hah ....!!!" Karamel memegangi lehernya yang terasa perih dan panas.


"Kau menyakitiku, Mas." batin Karamel.


"Mas ...."


Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Henry langsung pergi meninggalkannya.


"Kenapa kau sangat marah, Mas. Aku tidak berbohong, aku memang berniat jalan dengan teman-temanku tapi Leo terus memaksaku hingga dia mengorek tentang masa lalu kami dan aku ... aku bod*h karena ikut dengannya. Maafkan aku, Mas." lirih Karamel merasa bersalah.


Karamel terduduk di sofa sembari menangis mengingat Henry mencekik lehernya tadi.


Tubuh Karamel jadi bergetar kuat kala mengingat tatapan tajam Henry tadi.


Fikirannya kacau kala Henry membentaknya tadi.


"Maafkan aku," lirih Karamel.


........................


Henry mengajak Luhan dan Andi untuk pergi ke bar, dan sekarang mereka ada di bar milik Luhan yang di beri oleh Henry. Mereka berada di ruangan khusus di bar, yaitu ruangan VVIP yang hanya boleh di pakai oleh Henry, Fico, Andi, Luhan dan Alfa.


"Apa kau ada masalah dengan istrimu, Bos?" tanya Andi pada Henry.


"Jangan bahas masalah rumah tanggaku, malam ini kita bersenang-senang saja." kesal Henry terus meneguk winenya.


"Apa kau mau di temani ...."

__ADS_1


"Tidak, kecuali istriku wanita manapun tidak boleh menyentuhku," tolak Henry mentah-mentah.


"Oh hoho ... baiklah, Bos." ucap Andi menaikan kedua tangannya ke udara.


"Bos benar-benar sudah berubah sekarang," batin Luhan entah kenapa ia merasa senang karena bosnya itu sudah menemukan pujaan hatinya yang tepat.


"Kau hanya milikku, Baby Girl. Tidak akan aku biarkan orang lain memilikimu selain dariku," batin Henry mengepal tangannya.


...Jam 12 : 08 AM....


Henry sudah sangat mabuk tapi dia masih sedikit sadar hingga jalan pun Henry masih bisa tegap, tidak sempoyongan seperti Andi.


Andi sangat mabuk berat, sedangkan Luhan tidak di izinkan untuk bermabukan seperti Andi karena Luhan harus membawa mobil untuk mengantar Henry pulang.


Henry menyuruh dua orang kepercayaannya untuk menginap di rumahnya, dan mereka berdua tidur di kamar yang memang sudah biasa mereka tempati saat menginap di rumah Henry.


Lalu Henry berjalan menuju kamarnya.


Ceklek! Mendengar suara pintu yang terbuka, Karamel langsung berdiri dari tempat duduknya di kasur.


Ctekk! Henry mengunci pintu kamar dan berbalik menghadap Karamel, pria itu menatap sang istri lalu ia mendekati istrinya dengan langkah pelan.


"Apa kau belum mencintaiku?" tanya Henry dengan suara berat.


"Aku ... aku ...."


Kelu! Karamel tidak sanggup mengeluarkan suaranya karena merasa takut dengan Henry.


"Jawab ....!!!" bentak Henry membuat tubuh Karamel bergetar kuat.


"Mas kenapa kau ...." Karamel tidak menyelesaikan perkataannya karena merasa ada yang tidak beres dengan suaminya itu.


Karamel mencium aroma alkohol yang sangat menyengat hingga Karamel melangkah mundur menjauh dari Henry, dan Henry tersenyum getir kala melihat istrinya menjauhi dirinya.


"Answer me, baby Girl." sengit Henry membuat Karamel membungkam mulutnya.

__ADS_1


"Mas, ak-aku aku...." Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Henry sudah menggenggam tangan Karamel dan menghempaskannya di kasur.


Brugg ....


"I wanna you tonight, Baby Girl," bisik Henry tanpa menatap wajah sang istri.


Deggg! Jantung Karamel berdegup kencang karena sang suami meminta kewajibannya sebagai seorang istri.


"K-kau tahu, aku belum ...." ucapan Karamel terpotong.


"Jangan menolak atau aku akan kasar denganmu, Baby Girl." sengit Henry menatap netra Karamel yang sudah memerah


Karamel menggeleng kepalanya, seketika air matanya jatuh mengalir membasahi pelipisnya.


Karamel terus menatap mata Henry, dari tatapan itu Karamel seperti mengatakan 'Jangan lakukan itu' pada Henry. Karamel yakin jika Henry mencintainya pasti Henry tidak akan memaksanya.


"Kenapa kau harus menangis, Sayang?" batin Henry merasa sakit melihat air mata yang jatuh dari pelupuk mata Karamel.


Lama mereka berdua saling tatap, Henry menghela napas guser, ia tidak bisa melihat istrinya menangis. Cupp! Henry mencium lama kening Karamel lalu ia menghapus air mata sang istri dengan sangat lembut.


"Maafkan aku membuatmu takut, Sayang." ucap Henry membaringkan tubuhnya di samping Karamel dan menutup tubuh mereka berdua dengan selimut.


Karamel bernapas lega namun Karamel juga merasa tidak enak dengan sang suami yang pasti menahan hasratnya demi tidak membuat dirinya takut.


Karamel membalikan tubuhnya untuk mengahadap Henry dan Henry langsung memeluk Karamel hingga niat Karamel ingin berbicara dengan Henry pun ia urungkan.


"Tidurlah atau aku akan memakanmu, Sayang." ucap Henry sehingga Karamel mengangguk kecil lalu ia memejamkan matanya.


"Maafkan aku karena belum bisa mengendalikan emosiku, Sayang." batin Henry mengecup sekilas kening sang istri lalu menyusul sang istri untuk tidur juga.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2