Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 104


__ADS_3

Sofia sudah sibuk menyajikan beberapa sarapan di meja makan sedangkan Sanjaya menunggu kedatangan tamunya yang sengaja ia di undang untuk sarapan bersama.


Ckitt! Ckitt! Ckitt! Beberapa mobil berhenti di depan rumah kediaman Sinaja, dan seorang pria yang di tunggu-tunggu keluar dari mobilnya.


"Salamat datang, Tuan Nixon." sambut Sanjay.


"Terima kasih sudah mengundang saya untuk sarapan bersama, Tuan." ucap Henry.


"Anggap ini pendekatan kita sebagai rekan dan juga sebagai calon suami anak saya, Tuan." ucap Sanjaya sedikit menggoda Henry.


"Anda bisa saja, Tuan." ucap Henry.


"Hahaha! Mari kita masuk, Tuan." ajak Sanjaya masuk ke dalam rumah dan duduk di kursu ruang makan.


"Maaf, Nyonya. Kenapa Kara tidak ikut sarapan juga?" tanya Henry membuat Sofia dan Sanjaya tersenyum.


"Bik Asih tadi bilang, Kara sedang menggoda om-om, Tuan." jawab Sofi membuat Henry terbelalak.


"Apa? Menggoda om-om?" beo Henry dengan nada tinggi.


"Em maaf Nyonya, s-saya ...."


"Anda tenang saja Tuan, itu memang yang di katakan Bik Asih kepada saya tadi tapi mungkin Bik Asih salah mengerti karena biasanya Kara berolahraga pagi bukan menggoda om-om, dan mungkin sebentar lagi dia akan kembali." ucap Sofia membuat Henry bernapas lega.


"Apa kita tidak menunggu kedatangannya dulu, Nyonya?" tanya Henry.


"Baiklah, Tuan." jawab Sanjaya.


Sepuluh menit ....


Dua puluh menit ....


Tiga puluh menit ....


"Sepertinya Kara sarapan di luar, Pah." ucap Sofia.


"Aku juga berfikir seperti itu, Mah." sahut Sanjaya.


Tanpa menunggu Kara pulang, Sanjaya segera mengajak Henry untuk sarapan, hingga setelah selesai sarapan Sanjaya dan Henry pergi ke kantor mereka masing-masing.


.................


...Perusahaan GV Del Nixon Internasional....


Di kantor Henry mengadakan meeting selama dua jam, setelah selesai Henry masuk ke dalam ruangannya untuk berkutat di depan laptopnya.


Ting! Ada pesan masuk di handphone Henry, tqpi pria itu mengabaikannya.


Ting! Ting! Kembali handphone Henry berbunyi dan itu membuat Henry sedikit menjauhkan ponselnya.


Tringg! Tringg! Tringg! Beberapa kali handphone Henry mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.


"Jika anda tidak mau mengangkatnya biar aku saja yang mengangkatnya, Bos." celetuk Luhan merasa risih dengan handphone bosnya.


"Tidak penting," sahut Henry masih tetap fokus pada laptopnya. Tringg! Lagi-lagi handphone bosnya berdering.


"Mengganggu saja," dengus Luhan.


Ting! Ting! Untuk ke sekian kalinya Henry muak mendengar ponselnya berbunyi.


Klik...


Henry membuka layar ponselnya lalu ia juga membuka pesan dari nomor yang tidak di kenal itu.


08×××××××××5 (10 : 13)


Apa kabar kakakku yang super sibuk tentunya


08×××××××××5 (10 : 13)


Apa kau masih ingat denganku? Adikmu Fico?


08×××××××××5 (10 : 13)

__ADS_1


Pastinya kau ingat kan Kak


08×××××××××5 (10 : 19)


Ayolah, apa kau tidak penasaran dengan pesanku ini, kenapa kau tidak membukanya juga


08×××××××××5 (10 : 19)


Aku menungggu responmu kakak


08×××××××××5 (10 : 30)


Akhirnya kau membuka pesanku juga, Kakak.


Henry masih membiarkan orang yang bernama Fico itu terus mengirimkannya pesan-pesan yang tidak penting dan tidak akan mungkin ia balas.


08×××××××××5 (10 : 30)


Aku ingin sedikit pamer denganmu kak, apakah boleh? Tentu boleh, aku akan mengirimkannya denganmu sekarang.


Henry merasa apa yang akan di pamerkan Fico tidaklag penting, alhasil pria iti mematikan layar handphonenya kamudian meletakkannya di atas meja.


Ting! Ting! Dua pesan masuk ke handphone Henry tapi Henry mengabaikannya.


.............


...Kediaman keluarga Sinaja....


Di ruang keluarga Sofia tampak tidak tenang dan terus mondar-mandir ke sana ke mari karena putri kesayangannya belum juga pulang padahal sekarang sudah masuk jam kuliah namun putrinya itu tak kunjung pulang juga.


Sofia mengambil handphonenya di atas meja kemudian menghubungi salah satu secutity gerbang utama rumahnya yaitu pak Idan untuk bertanya apakah Karamel sudah pulang dan pergi ke kampus tanpa di ketahui oleh Sofia, tapi pak Idan malah mengatakan sejak pagi Karamel belum juga kembali.


"Ke mana kamu, sayang?" gumam Sofia semakin di buat khawatir kemudian Sofia menghubungi suaminya dan memberitahukan kepada suaminya tentang Karamel yang belum juga pulang ke rumah.


.............


...Perusahaan Sinaja Company Grup....


Setelah mengakhiri panggilan dengan sang istri, Sanjaya langsung mencari kontak Henry dan juga langsung menelepon Henry.


"Selamat siang, Tuan Nixon." sapa Henry.


"................"


"Maaf jika saya mengganggu waktu anda, saya ingin bertanya apakah anak saya Karamel sedang bersama anda sekarang?" tanya Sanjaya.


"..............."


"Tidak, Tuan. Anak saya belum pulang ke rumah sekarang," ucap Sanjaya.


"..............."


"Baiklah, Tuan. Terima kasih." ucap Sanjaya mematikan sambungan telepon.


"Enggak biasanya Karamel keluar tanpa izin dulu sama mamanya atau sama papanya, ke mana kamu Kara?!" gumam Sanjaya.


............


...Perusahaan GV Del Nixon Internasional....


Henry menatap layar ponselnya yang masih menyala karena baru saja mengakhiri panggilannya dengan Sanjaya.


"Kau pergi ke mana Kara," gumam Henry sembari tangannya membuka pesan dari Fico.


Klik! Mata Henry membulat sempurna karena sebuah foto yang ia lihat jelas sekali bahwa itu adalah wanita yang sangat ia cintai.


"Kara," pekik Henry.


"Ada apa Bos?" tanya Luhan langsung berdiri dari sofa, pria itu terkejut mendengar teriakan bosnya.


"Berengs*k, kau berani menyentuh wanitaku, akan ku bunuh kau, Fico." pekik Henry hendak keluar dari ruangannya tapi tiba-tiba terhalang oleh Luhan yang sudah berdiri di depan pintu.


"Minggir, Luhab." sentak Henry.

__ADS_1


"Anda mau ke mana, Bos?" tanya Luhan.


"Aku bilang minggir, minggir Luhan." pekik Henry.


"Jika anda ingin bertemu Fico, anda tidak boleh pergi sendirian, Bos." ucap Luhan cepat.


Luhan tahu bosnya ini sedang marah sekarang tapi saat Luhan mendengar bosnya menyebut nama Fico, Luhan jadi takut jika Henry akan melakukan hal yang akan membahayakan dirinya sendiri.


"Anda harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin, Bos. Jangan mengambil tindakan yang akan membuat anda terluka lagi seperti kejadian di masa lalu, Bos." ucap Luhan merasa takut kejadian masa lalu terulang kembali.


Henry mengepal kedua tangannya lalu kembali ke meja kerjanya setelah itu ia mengacak berkas-berkas di mejanya hingga berjatuhan di lantai.


"Jika ada goresan sedikit saja pada tubuh Kara, aku tidak akan segan-segan membunuhmu Fico." pikik Henry menggila.


..............


...Gudang....


Fico tersenyum penuh kemenangan saat foto yang ia kirimkan pada Henry sudah di lihat oleh Henry dan pastinya kini pria itu sedang menggila karena wanitanya sedang Fico culik.


"Kau lihat manis, aku sudah mengirimkan fotomu dengan kakakku," ucap Fico pada Karamel yang duduk di lantai dengan tangan dan kaki di ikat rapat.


Fico adalah adik tiri Henry yang di mana sifat asli pria itu sangatlah lembut namun nakal, Fico terlahir dari seorang ayah yang sama dengan Henry namun beda ibu.


Fico memiliki dendam terdalam kepada orang yang telah membunuh kedua ibunya, yaitu Selena ibu kandungnya dan juga Agnes ibu kandung Henry.


"Sapa sih ni cowok," batin Kara.


Kara ingin marah dan memberontak tapi apa gunanya, pria jahanam itu tidak akan mungkin berbelas kasihan dan melepaskannya begitu saja.


"Apa tujuan anda menculik saya," tanya Karamel mencoba untuk tidak meninggikan suaranya.


"Kau bertanya aku akan menjawabnya, manis. Tujuanku menculikmu untuk memancing kakakku datang ke gudang ini." ucap Fico.


"Jika anda punya urusan dengan kakak anda, kenapa anda harus melibatkan saya?" kesal Karamel.


"Karena kau, kau adalah orang spesial yang di cintai kakakku," ucap Fico meninggikan suaranya.


"Siapa kakaknya?" gumam Karamel bertanya-tanya.


"Gadis manis, kenapa kau bertanya siapa kakakku? Apa kau amnesia sekarang?" tanya Fico sedikit menggoda Karamel namun Karamel hanya diam dan berfikir siapa kakaknya pria di hadapannya saat ini?


"Gadis ini, sejak tadi tidak takut ataupun menangis. Aku membentak, mengancam dan bahkan memukul wajahnya tapi dia tetap saja terlihat tenang, apa dia pasrah jika aku berbuat macam-macam dengannya? Ck! Gadis bodoh." batin Fico merasa ada gejolak di hatinya.


Sangat aneh bukan di saat keadaan sedang dalam bahaya, wajah Karamel tetap tenang tanpa perasaan sedih atau gelisah.


Fico yang melihat itu sangat geram, kesal dan marah, karena wanita yang ia sekap seperti tidak sayang dengan nyawanya saja.


"Henry Del Nixon, nama kakakku adalah Henry Del Nixon," ucap Fico membuat Karamel menaikkan sebelah alisnya aneh dan itu membuat Fico jengkel karena di wajah Karamel tidak ada keterkejutan sedikitpun.


"Jadi cowok ini adik tirinya si mesum itu?" batin Karamel mengingat saat Henry mengatakan ia mempunyai adik tiri.


"Jadi anda menculik saya untuk memancing pria mesum itu datang ke sini, cih! Anda salah sasaran, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan kakak anda," ucap Karamel membuat Fico geram setengah mati.


"Gadis ini terus menguji kesabaranku, jika bukan karena nyawa Henry, aku pasti sudah memperko**nya sekarang juga," batin Fico mengepal tangannya.


"Penyelidikanku tidak pernah salah, kau adalah baby girl kakakku," sentak Fico.


"Baby girl?" gumam Karamel merasa tidak asing dengan panggilan nama itu.


"Tunggu dan lihat saja, kakakku akan datang menyelamatkanmu tapi tidak, aku akan membunuhnya di depan matamu dan kau, kau akan menjadi wanitaku seutuhnya ... hahahaha," tawa jahat Fico begitu menyeramkan.


"Gila ni cowok pengen bunuh kakaknya sendiri tapi di depan mata gue, enggak enggak, gue nggak mau cowok mesum itu ngorbanin nyawa dia buat gue, gue nggak mau untuk yang kedua kalinya ada nyawa yang hilang demi gue," batin Karamel.


Tubuh Karamel sudah mulai bergemetar sekarang, mulutnya kaku untuk bicara, Karamel berusaha menguatkan dirinya sendiri tapi nyatanya tidak bisa, ia merasa takut dan trauma akan kejadian empat tahun yang lalu, saat Vian mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan nyawa Karamel.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2