
"Dua hari yang lalu kau bilang di rumah sakit, kau akan berusaha melupakannya tapi kenapa sekarang kau masih memikirkannya, Hah?!" pekik Henry.
"Melupakan siapa?" tanya Karamel.
"Apa yang kau fikirkan tadi hingga kau tidak menghiraukan aku yang sedang berbicara denganmu?" tanya Henry menggertakan giginya.
"Aku ...."
"Jawab, apa yang kau fikirkan tadi." pekik Henry padahal Karamel belum selesai bicara tapi Henru sudah mendesak duluan.
"Aku lelah, aku tidak fokus, maaf jika aku tidak menghiraukanmu," ucap Karamel membuang mukanya sehingga Henry menarik dagu Karamel dengan kasar.
"Aku bertanya apa yang kau fikirkan tadi, Kara!" sentak Henry tepat di depan wajah Karamel membuat tubuh Karamel semakin bergetar.
"Aku tidak memikirkan ...."
"Bohong, kau tadi sedang memikirkan Leo 'kan? Terbukti saat aku bertanya tadi," bentak Henry menghempaskan wajah Karamel membuat Karamel terbelalak.
Bukk! Henry memukul setir mobilnya.
"Kau benar-benar membuatku gila, Kara!" pekik Henry bagaikan manusia yang tengah frustasi.
Tess! Karamel meneteskan air matanya bukan karena wanita itu takut dengan Henry tapi karena ia memang sedang memikirkan Leo, memikirkan dirinya akan kehilangan Leo untuk selama-lamanya.
"Leo, cowok mesum ini kasar banget sama aku," rengek Karamel dalam hatinya.
__ADS_1
Degg! Henry terkejut melihat Karamel merintihkan air matanya, sedetik kemudian Henry menarik Karamel dan memelukannya.
"Maafkan aku, Baby Girl." lirih Henry menyesal sudah membentak wanita yang ia cintai itu.
"Maafkan aku sayang, maaf." ucap Henry memejamkan matanya seraya mengelus rambut panjang Karamel.
"Maaf membuatmu takut, Sayang. Maafkan aku," ucap Henry benar-benar merasa bersalah.
"Aku mohon berhentilah menangis, Sayang." pinta Henry terus mengelus puncak kepala Karamel hingga bermenit-menit lamanya, Karamel berhenti menangis.
"Maafkan aku, Baby Girl," lirih Henry mengusap pipi Karamel dan Karamel memejamkan matanya lalu menganggukkan kepalanya saja.
"Apa yang membuatmu marah tadi?" tanya Karamel tanpa membuka matanya.
"Beberapa kali aku berbicara denganmu tapi kau menjawabnya dengan keadaan yang tidak fokus sampai aku bertanya apa yang sedang kau fikirkan, kau malah menyebut nama Leo," jelas Henry membuat Karamel membuka matanya untuk menatap Henry yang juga sedang menatap dirinya.
"Aku memang sedang memikirkan Leo ...." Karamel menggantung perkataannya karena Henry mengalihkan pandangannya ke depan dengan tangan yang terkepal.
"Tapi apa kau tahu, Leo adalah pacar pertamaku, dia adalah orang pertama yang aku terima untuk menjaga hatiku, dia adalah laki-laki pertama yang menyatakan cinta yang tulus padaku, aku berfikir selain Leo apa aku bisa membuka hatiku lagi untuk orang lain?" jelas Karamel membuat Henry kembali menatap Karamel sedangkan Karamel menyandarkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke depan.
"Aku pernah punya harapan untuk bisa bertemu dengan dia yang dulu pernah membuat aku tertawa bahagia, aku stuck pada satu harapan yang aku yakini akan membuahkan hasil yang baik untukku. Ternyata tidak, aku malah mengenal rasa yang tidak pernah aku bayangkan lagi sebelumnya, yakni kekecewaan." lirih Karamel merintihkan air matanya, ini adalah kedua kalinya Leo mengecewakan Karamel.
"Baby ...."
"Biarkan aku menangis untuk meluapkan semua isi hatiku, Henry." pinta Karamel.
__ADS_1
"Biarin tangisan ini jadi yang terakhir buat cowok yang gue sayang," batin Karamel.
Agh! Hati Karamel menjadi sakit harus mengatakan bahwa dirinya akan menangis untuk yang terakhir kalinya untuk Leo, karena dirinya tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.
"Aku tidak menyesal karena sudah mengenal cinta, hanya saja aku belum terbiasa dengan keadaan terpurukku seperti sekarang. Kau lebih dewasa dariku, tentu kau tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang di cintai." ucap Karamel semakin banyak meneteskan air mata.
"Aku pernah nyaman dan percaya dengan seorang laki-laki yang sangat dekat denganku dulu dan aku pernah mengagumi seorang laki-laki yang di pandang hebat oleh semua orang tapi untuk mencintai, hanya Leo yang pernah aku cintai." tutur Karamel.
"Semua tentang Leo masih belum bisa aku lupakan tapi mungkin aku sudah mulai terbiasa tanpa dirinya ...." ucap Karamel pelan lalu ia menatap ke arah Henry.
"Karena kehadiranmu selalu mengusik semua fikiranku, Henry." lirih Karamel.
Karamel berkata jujur, akhir-akhir ini ia memikirkan Henry yang mencintai dirinya secara diam-diam dalam waktu panjang.
"Apa itu artinya ...."
"Tidak,! Maksudku, Maaf tapi aku tidak mencintaimu," ucap Karamel membuat hati Henry sakit karena cintanya tidak terbalaskan.
"Tapi mari kita coba untuk mengenal satu sama lain," ucap Karamel belum bisa memberikan posisi Leo di hatinya pada pria lain termasuk Henry yang selama lima tahun mencintai dirinya, tapi dirinya bisa mencoba untuk pendekatan terlebih dahulu.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersamabung :::...