
"Andai gue bisa peluk lo kayak gitu, Kar." gumam Kevin menatap Leo dan Karamel dari jarak jauh.
"Karena kenyataan sangat mustahil untuk bisa mewujudkan keinginanmu maka teruskanlah berandai-andai sampai kau puas anak muda," pekik Becca dari arah belakang Kevin hingga Kevin memelotot kaget dan pastinya langsung menoleh ke arah belakang.
"Lo ...."
"Hay kakak Vin, apa kabar?" tegur Becca melambaikan tangan sebelah kanannya.
"Nih bocah masih umur enam belas tahun, tampilannya kenapa bisa sedewasa ini ?" batin Kevin tanpa sadar menelan salivanya dengan kasar.
"Mikir apa sih gue, ngaco ni otak." Batin Kevin namun tatapan matanya tidak lepas dari memandangi tubuh Becca dari bawah sampai atas hingga bertatap muka dengan Becca.
"Terpesona lagi dia," cicit Becca memalingkan matanya dengan kedua tangan di silang ke perut.
Kevin di buat salah tingkah hingga berpura-pura batuk demi menetralkan detak jantung dan wajahnya yang panas.
"Ehem ehem! Berapa sih umur lo bocah, ngerasa udah dewasa aja lo," ucap Kevin.
Di benak Becca meski usianya masih 16 tahun tapi dirinya telah di latih keras oleh sang nona bosnya untuk menjadi dewasa, pola pikir yang cerdas adalah panutan utama yang harus Becca pahami.
"Emang situ usianya berapa? Sok-sokan ngerasain yang namanya patah hati," balas Becca menohok.
Walaupun begitu Karamel tidak pernah melarang Becca untuk jatuh cinta atau berpacaran, karena bagaimanapun juga Becca harus menemukan seorang lelaki yang tepat untuk masa depannya kelak.
Tapi nyatanya Becca tidak pernah tertarik akan percintaan yang akan membuang-buang waktunya saja, terlebih lagi untuk merasakan patah hati, Becca tidak akan membiarkan itu terjadi pada hidupnya.
Jlebb! Paku berkat menusuk jantung Kevin, sungguh mulut Becca membuat Kevin geram ingin memberinya pelajaran agar bisa bungkam saja.
Kevin tersenyum miring kala mendapatkan ide untuk mengerjai si bocah tengil yang ada di depannya itu.
"Dari awal kita ketemu, lo kayaknya sengaja banget mancing-mancing gue buat terpesona sama lo," ucap Kevin perlahan berjalan mendekati Becca membuat Becca kaget dan berjalan mundur untuk menjauhi Kevin.
"Ah! Kak Vin mau goda Becca ya," tunjuk Becca paham akan kata-kata Kevin.
"Lo tau gue suka sama siapa 'kan," sinis Kevin seakan-akan memberitahu Becca bahwa Kevin hanya akan menyukai nona bosnya seorang.
"Tapi cewek yang lo sukai itu udah punya suami, Kak Vin. Haaah! Jangan-jangan lo mau jadi pebinor dalam hubungan mereka ya?" tuduh Becca membuat langkah Kevin terhenti begitu juga dengan Becca.
"Dasar bocah," geram Kevin tiba-tiba memperbesar langkahnya kemudian menarik pinggang Becca dan seperdetik kemudian Kevin mencium pipi sebelah kiri Becca.
"Mencintai bukan berarti harus memiliki, Karamel bakal selalu ada di hati gue tapi perempuan masa depan gue, bisa jadi itu elo." bisik Kevin tepat di telinga sebelah kiri Becca membuat mata Becca melebar sempurna karenanya.
Kevin tersenyum puas ketika melihat ekspresi wajah Becca yang tampak terkejut kemudian Kevin pergi meninggalkan Becca untuk ikut bergabung dengan anak-anak yang lain.
"Be-berengs*k !!!" entah kenapa bibir Becca menjadi kaku hingga mengumpat saja sampai tergagap.
.........
"Mas, aku enggak apa-apa sendirian di sini, kamu keluar sana gabung sama yang lain." oceh Karamel seakan-akan tidak menerima keberadaan Leo di sana.
"Enggak ada yang jagain kamu, Kara." dengan penuh kesabaran Leo berbicara lembut dengan sang istri.
__ADS_1
"Di sini enggak ada penjahat, kamu takut apa sih Mas?" tanya Karamel.
"Kalo kamu butuh sesuatu, aku bisa bantu kamu 'kan sayang." sahut Leo duduk di pinggiran ranjang.
"Enggak Mas! Aku enggak butuh apa-apa, aku cuma mau istirahat aja." imbuh Karamel membuat Leo mendengus.
"Kamu ngusir aku karena kamu risih liat aku ya?" tanya Leo menyipitkan matanya.
"Aku enggak ngomong gitu ya," ucap Karamel dengan nada tinggi, enak saja dirinya di tuduh begitu.
"Tapi cara kamu nunjukin kalo kamu itu ...."
"Mas, kamu itu jarang kumpul sama SALF BADRAD, enggak kangen apa sama mereka?" potong karamel bertanya namun Leo malah menggelengkan kepalanya.
"Istri aku lebih penting dari mereka," ucap Leo entah kenapa jantung Karamel di buat berdetak sangat kencang bahkan kini kedua pipi Karamel terasa panas di buatnya.
"Ehem! Ta-tapi 'kan aku ...."
"Enggak ada tapi-tapian, sekarang kamu istirahat dan aku bakal jaga kamu di sini!" seru Leo membuat Karamel memijat pelan pelipisnya.
"Tuh 'kan kepala kamu jadi sakit, sini aku pijat." oceh Leo salah sangka dan langsung menarik tangan Karamel lalu memijat kening Karamel dengan penuh kelembutan.
"Enggak Mas ...."
"Udah diem," potong Leo.
"Aku mau baringan," pinta Karamel lalu Leo menuntun Karamel untuk berbaring dan kembali memijat kening sang istri dengan lembut.
"I love you, Sayang." ucap Leo mencium kening Karamel lalu setelah itu Leo keluar dari kamar untuk ikut bergabung dengan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Gimana Ara?" tanya Faza ketika Leo sudah duduk bersama rombongan mereka.
"Lagi istirahat, kecapean kayaknya," sahut Leo dengan nada suara lemah.
"Kenape lo? Kebanyakan beban idup makanya muka lo jadi kusut gitu," pekik Bobby heran dengan raut wajah menyedihkan Leo.
"Gue mikirin bini gue," ucap Leo membuat semuanya semakin menatap Leo dengan heran.
"Kenapa Kara?" tanya Faza.
"Enggak tau kenapa udah semingguan lebih tingkah langku Kara tiba-tiba berubah jadi aneh," ucap Leo seketika membuat yang lainnya membenarkan posisi duduk mereka kala penasaran akan cerita Leo.
"Gimana-gimana?" tanya Dito.
"Aneh gimana?" tanya Kenzi pun penasaran akan keanehan apa yang terjadi pada adik tercintanya.
"Setiap kali gue pulang kerja, yang biasanya dia selalu ada buat nyambut kepulangan gue di ruang tamu tapi akhir-akhir ini dia enggak pernah lagi kayak gitu, malahan waktu gue nyamperin dia ke kamar bukannya happy atau gimana gitu, enggak! Dia malah langsung bentak-bentak gue 'Mas, jangan deket-deket! Aku enggak tahan nyium bau badan kamu, mandi dulu sana.' Itu bukan Kara banget." ucap Leo bercerita dengan serius.
"Haaah! Ya kali lo baru pulang kerja mau asal nempel-nempel sama bini lo," cibir Adit.
"Bau keringet lo, siapa yang tahan coba," timpal Bobby pula.
__ADS_1
"Bukan itu doang, Kara juga tiba-tiba berubah sikap, sering banget ngomelin gue kayak gue anak dia!" ucap Leo malah membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.
"Bayi gede lo," ejek Diky sembari tertawa.
"Kurang didikan kali, makanya di omelin mulu sama Mamak Karamel," tambah Adit semakin pecah tawa mereka mengejek Leo.
"Ck! Brengs*k lo semua malah ketawain penderitaan gue," ketus Leo namun tidak menghentikan tawa mereka.
"Lo enggak usah kebanyakkan mikir, mungkin emang lagi mood-nya Kara aja kayak gitu." ucap Kenzi membuat Leo hanya menghembuskan napas pasrah.
"Tiga puluh menit lagi jam dua belas malam, akan ada pertunjukan dari langit ...."
Aryan datang dengan memberitahu sesuatu namun ucapan Aryan sungguh membingungkan hingga sebelum Aryan selesai bicara semua anggota SALF BADRAD langsung berteriak.
"Hah?!" serentak mereka semua terkejut.
"Pertunjukan dari langit gimana maksudnya?" tanya Adit mengerutkan dahinya bingung.
"Turun dari langit gitu?" tanya Bobby.
"Hahaha ... di sana akan ada sebuah pertunjukan, Bobby." jawab Aryan menertawai kelakukan mereka.
"Oooh! Kalo ngomong yang jelasan dikit kali Kak, biar kagak salah paham kita." ucap Bobby.
"Wah! Bakal seru nih," sahut Dito.
"Palingan juga kembang api," timpal Rio.
"Sotoy lo, gimana kalo pertunjukannya lumba-lumba terbang," ucap Bobby langsung di pukul kepalanya oleh Diky.
"Yang ada kiamat dunia kalo lumba-lumba bisa terbang di langit, gi*a." ucap Diky geram.
"Tunggu beberapa menit lagi, pertunjukannya akan segala di mulai," kata Aryan.
"Oke Kak, makasih." ucap Faza kemudian Aryan pergi untuk memberitahu tamu yang lain juga.
"Ah lama, masih dua puluh tujuh menit lagi." ucap Adit melihat jam tangannya.
"Sabar cumi," cibir Bobby.
Dua puluh lima berlalu tiba-tiba saat dua menit lagi pertunjukan akan segera di mulai Leo berdiri dari tempat duduknya.
"Eh mau ke mana lo?" tanya Diky pada Leo
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1