Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 173 (Takdir)


__ADS_3

"Hehe! Aku gak bermaksud ...."


Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Leo sudah membungkam mulut Karamel dengan b****nya.


Leo tidak memejamkan matanya sehingga ketika Karamel membulatkan matanya Leo memaparkan senyumnya nakalnya, iarena malu bertatapan dengan sang suami, Karamel langsung memejamkan matanya. Begitu juga Leo yang secara perlahan memejamkan matanya


Namun kemesraan keduanya berakhir karena suara Fico yang membuat keduanya terkejut dan Karamel langsung mendorong tubuh Leo agar menjauh.


"Aihh! Lagi-lagi pemandangan ini," pekik Fico langsung keluar lagi.


Fico tidak habis fikir kenapa kejadian seperti ini bisa terulang lagi, dulu ketika Karamel menjadi kakak iparnya. Fico melihat Henry dan Karamel ingin berciuman lalu kali ini juga ketika Fico ingin menyampaikan kabar baik pada Karamel, Fico malah melihat jelas cumbuan Leo dan Karamel.


"Apa kalian yang di dalam sudah selesai," pekik Fico jengkel, Fico sangat anti melihat kemesraan orang lain, dirinya akan mudah terbawa nafsu birahi maka dari itu Fico benci melihat orang lain bermesra-mesraan di depannya.


Karamel duduk berjauhan dari Leo, sungguh Karamel merasa sangat malu karena Fico melihat jelas cumbuannya dengan sang suami.


"Masuklah," titah Leo jengkel.


Ketika itu juga Fico masuk dengan wajah melasnya, Fico menatap tajam ke arah Leo namun lain halnya ketika menatap Karamel raut wajah Fico berubah 180 derajat.


"Manis" panggil Fico mendekati Karamel sehingga Karamel langsung saja mendongakkan kepalanya.


"Apa kau ingin mendengar kabar baik?" tanya Fico duduk di sofa tepat di samping Karamel.


"Apa rencananya berhasil kau lakukan?" Karamel langsung saja bertanya.


"Sttt!! Bagaimana ya ...." Fico seperti sengaja ingin mempermainkan Karamel.


"Bisakah kau tidak membuat istriku menunggu lebih lama lagi, kau bahkan datang terlambat dan sekarang kau ingin mempermainkan istriku." ucap Leo tampak kesal dengan Fico.


"Lihatlah suamimu itu, Manis. Dia sangat tidak sopan dengan orang yang lebih tua darinya." adu Fico pada Karamel.


"Aku akan bersikap sopan jika itu dengan orang lain," balas Leo sengit.


"Lalu maksudmu denganku tidak?" tanya Fico dengan nada nyolot.


"Tentu bocah freak," ejek Leo.


"Kali...." ucapan Karamel langsung di sela Fico.


"Hei, aku lebih tua delapan tahun darimu anak muda jadi bersikap sopanlah denganku atau aku akan membunuhmu sekarang juga," ancam Fico.


"Hei bisakah ka ...." lagi-lagi ucapan Karamel di dahului oleh Leo.


"Ck! Sudah tau usia tidak muda lagi tapi masih saja bersikap seperti anak kecil di depan istriku," ejek Leo, sejujurnya Leo sangat cemburu dengan Fico yang selalu memanggil istrinya dengan panggilan ' si manis'

__ADS_1


"Uuuhh! Kau cemburu rupanya," ejek Fico.


"Cih! Cinta Kara hanya untukku jadi mana mungkin aku cemburu denganmu," elak Leo.


"Bagaimana jika aku mengambil si manis darimu?" Fico memancing amarah Leo.


"Fico ...." sepertinya tidak ada kesempatan untuk Karamel bicara.


"Jika kau berani melakukannya, maka jangan salahkan aku bila hidupmu akan ku buat menderita," ancam Leo memelototi Fico sehingga Fico ikut memelotot ke arah Leo.


"Apa kau kira aku ...."


"Stop it!" pekik Karamel menggelegar.


"Jangan membuang-buang waktu hanya untuk berdebat hal yang tidak penting," sengit Karamel menatap Fico dan Leo secara bergantian.


Fico yang tadinya ingin bicara langsung membungkam, sedangkan Leo yang tadinya memelototi Fico langsung tertunduk ke bawah.


"Dasar anak kecil," umpat Karamel menatap tajam kedua laki-laki itu.


"Biarkan aku tahu tentang aset tanah itu dulu, lalu setelah itu kalian boleh bertengkar sepuas hati kalian," pinta Karamel tidak tahan berada di tengah-tengah perdebatan kedua laki-laki itu.


Karamel langsung menatap ke arah Fico, "Ba-baiklah-baiklah, aku akan memberitahunya," ucap Fico gelagapan bahkan tangan Fico menjadi gemetaran saat membuka map yang ia bawa.


"Bini gue kalo lagi marah, emang agak nyeremin sih," batin Leo tidak memungkiri betapa menyeramkannya jika Karamel sudah marah.


Karamel melirik ke arah samping kiri, di lihatnya sang suami yang sedang menahan tawanya. Karamel menarik dagu Leo ke atas agar wajahnya bisa menghadap dirinya.


"Ada yang lucu sampai kamu nahan tawa kayak gini hem?" tanya Karamel dengan alis yang terangkat sebelah dan Leo melotot kaget karena ternyata sang istri memperhatikan dirinya.


"Gak ada," elak Leo cepat.


"Manis, ini sertifikat yang kau minta," ucap Fico mengalihkan pandangan Karamel ke dirinya.


"Kau berhasil mendapatkannya?" tanya Karamel tiba-tiba tersenyum sumringah.


"Apa aku mengatakan aku gagal?" ucap Fico ikut bahagia melihat Karamel tersenyum.


"Oh Fico, thank you so much. Kau memang penyelamat hidupku, aku mencintaimu Fico—muah ...." ucap Karamel mencium telapak tangannya dan di arahkannya ke Fico, kayak sun jauh gitu.


Karamel langsung mengambil sertifikat itu dari tangan Fico, sungguh bahagianya Karamel karena rencananya telah berhasil di tuntaskan.


Saking bahagianya, Karamel sampai tidak sadar akan ucapannya barusan dan lihatlah Leo menjadi terperangah mendengar ucapan Karamel yang mengatakan 'aku mencintaimu Fico' dan lagi Karamel juga memberikan sun pada Fico.


"Sama-sama manis, aku juga mencintaimu," balas Fico membuat Leo mengepal tangannya sembari mengeraskan rahangnya. Di tatapnya Fico dengan tatapan tajam lalu di alihkannya tatapannya ke arah Karamel yang terus saja tersenyum melihat sertifikat yang baru saja Fico berikan itu.

__ADS_1


"Ehem! Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya manis," pamit Fico.


"Oke, hati-hati." sahut Karamel masih dengan senyum sumringahnya.


"Baiklah, selamat malam. Bye!" entah kenapa Fico terlihat sangat terburu-buru ingin pulang.


"Oh Fico, kau memang orang yang sangat hebat." puji Karamel menatap kepergian Fico.


"Kamu liht 'kan ...."


Karamel menghentikan ucapannya karena tatapan tajam Leo membuat Karamel memudarkan senyumannya, ada apa dengan suaminya itu? Tadi bukankah suaminya terlihat ketakutan dengan Karamel? Lalu kenapa sekarang malah karamel yang ketakutan melihat ekspresi wajah suaminya itu.


"Ke-kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Karamel gelagapan.


"I saw you, Kara," ucap Leo.


"Liat apa?" tanya Karamel menaik turunkan kepalanya kebingungan.


"Aku mencintaimu Fico—muah." ucap Leo tanpa ekspresi apapun.


Napas Karamel tiba-tiba berhenti kala baru menyadari ucapannya dengan Fico tadi, "Mamp*s!" batin Karamel pasrah saja mengahadapi amarah suaminya itu.


..............................


Di luar rumah Leo, Fico tampak berlari ke arah mobilnya dengan buru-buru, Fico masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang ketakutan.


"Untung selamat," guman Fico.


Fico mengingat kembali bagaimana dirinya menyadari perubahan raut wajah Leo saat si manisnya mengucap kata 'Aku mencintaimu Fico—muah' lalu tanpa pikir panjang Fico membalas ucapan Karamel dengan mengatakan 'Aku juga mencitaimu, Manis'


Aura dingin Leo semakin menakuti bulu kuduk Fico, hingga Fico takut terkena amukan Leo maka Fico cepat-cepat pamit pulang dengan Karamel.


"Oh maafkan aku manis, wajah suamimu terlalu menyeramkan," ucap Fico berlalu pergi dari kediaman keluarga Mahendra.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Hem-hem pada penasaran ya?


Ayo dong! Dukung author cici dengan terus vote, like dan komen juga. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.

__ADS_1


__ADS_2