Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part .. 66


__ADS_3

Setelah banyak mengobrol dengan Faza yang super menyebalkan, Tania pamit ke kamar karena beralasan ingin istirahat padahal sesampainya di kamar Tania tidak bisa tidur dan tidak betah berbaring di kasur, fikiran wania itu masih kacau hingga untuk tidurpun tidak bisa.


"Tuhan, aku tahu dulu aku pernah berbuat dosa dengan menjadi leader mafia, dan maaf untuk kali ini aku tidak bisa berjanji untuk tidak terjerumus lagi. Mereka yang jahat banyak mengintai yang tak bersalah, aku yang pernah menyaksikan kematian para anak buahku saat perebutan kekuasaan dulu sangat tidak terbayangkan jika hari ini atau besok mungkin banyak yang mati karena sebuah perebutan kekuasaan lagi. Aku tahu, aku tidak akan bisa menghentikan kejahatan di seluruh dunia ini. Tapi setidaknya aku bisa menghukum orang-orang licik dan jahat seperti Dark Cobra." batin Tania duduk di sofa kamar itu.


Dark Cobra! Musuh lama yang di pimpin oleh Alex Moziganza, Dark Cobra dulunya pernah menjadi musuh terbesar Aldy.


Dulu saat Aldy sedang liburan ke Amerika, kabar markas Aldy di serang oleh kelompok Dark Cobra pun mumcul dan itu adalah kesenangan bagi Aldy untuk menghabisi para musuhnya


Singkat cerita The Shadow Of The King berhasil menjadikan mereka tawanan dan di siksa hingga sebagian anggotanya banyak yang lumpuh dan mungkin mati, dari kejadian itu The Shadow Of The King juga berhasil memusnahkan Dark Cobra dari dunia kemafiaan dengan membunuh kedua tangan kanan Alex namun mengapa Alex tidak di bunuh? Sayang sekali saat itu Aldy mengasihani Alex dan membebaskannya begitu saja.


Sejak kebebasan Alex, Dark Cobra sudah tidak di anggap lagi karena seluruh markas dan anggotanya sudah di renggut oleh The Shadow Of The King.


Tapi malam itu di mana Tania dan Faza di cegat, Tania melihat lambang kobra bermata dan lidah merah milik Dark Cobra di lengan dan baju para preman itu.



"Alex, beberapa anggotamu telah berani muncul di hadapanku," gumam Tania seraya menggertakkan giginya marah.


Tania merasa sangat kesal dan marah karena penyerangan dirinya dan Faza malam itu di sebabkan oleh anggota Dark Cobra.


Jika bukan karena kejadian lama dan mamanya, Tanua pasti tidak akan melepaskan dunia mafianya dan akan membantu Aldy membubarkan Dark Cobra selamanya, walau Tanua tak sesadis kakknya yang berani membunuh musuh tapi Tanua bisa membuat para musuhnya memohon-mohon kematian mereka.


"Kalo gue kembali lagi kayak dulu, apa Mama nggak bakalan benci sama gue?" gumam Tania mengjela napas kasar seraya wanita itu memejamkan matanya.


.........


Pagi ini setelah sarapan Tania dan Faza duduk di gazebo belakang sembari menikmati udara di pagi hari dengan di temani minuman hangat americano.


Namun sudah 45 menit yang lalu Faza izin pergi sebentar dengan Tania hingga saat ini Faza belum juga kembali ke gazebo belakang.


"Faza," panggil Tania masuk ke dalam rumah mencari keberadaan abang sepupunya itu.

__ADS_1


"Ke mana si tuh anak," guamam Tania kesal karena di setiap sudut rumah tidak ada tanda-tanda akan keberadaan Faza hingga Tania keluar dari rumah.


"Za, Aza gilak," pekik Tania keras.


"Apa Ara bar-bar?" ucap Faza mnucul dari belakang Tania.


"Anji*g lo kampr*t," latah Tania kaget.


"Cih! Anji*g sama kampr*t beda kalik, Ra." ucap Faza membuat Tania menatap tajam dirinya, bisa-bisanya Faza menghilang tanpa jejak dan muncul secara tidak wajar seperti hantu menbuat Tania ingin sekali memukul sepupunya itu.


"Ngeselin lo, dari mana sih lo?" tanya Tania.


"Keluar, beli makanan!" ucap Faza menunjuk kantong belanjaan.


"Kalo lo terus-terusan ngilang abis itu lo muncul secara tiba-tiba, gue yakin seratus persen lo itu hantu gentayangan," tunjuk pada wajah Faza kemudian ia mengambil kantong bawaan Faza.


"Tapi ganteng 'kan," goda Faza.


"Cih! Adek Araku yang terbar-bar, gue juga enggak ngarep dapet pengakuan dari lo, toh lo juga enggak mungkin jadi pasangan gue," balas Faza menjulurkan lidahnya.


"Terserah lo," sentak Tania berjalan duluan meninggalkan Faza, oh ayolah berjalan saja masih pincang kenapa Tania seperti orang sehat yang bisa meninggalkan Faza begitu saja.


"Pftt! Kalo jalan itu kayak gini," ucap Faza menunjukkan cara berjalannya yang tegap.


"Kalo gue udah sembuh juga jalannya kayak gitu," ketus Tania membua Faza yang berjalan mendahului Tania langsung mundur lagi.


"Ya ya ya, sini gue bantu," ucap Faza menggenggam kedua bahu Tania dan menuntun Tania berjalan sampai ke gazebo belakang.


"Za, bisa nggak lo nggak usah panggil gue Ara," pinta Tania ketika mereka sudah duduk di gazebo.


"Mau gue panggil Karamel atau Ara?" tanya Faza seraya mengeluarkan isian yang ada di kantong.

__ADS_1


"Kalo yang lain dengar lo manggil nama itu, bisa-bisa katahuan kalo nama asli gue itu Kara." ucap Tania.


"Gini aja deh, lo boleh manggil gue Aza terus gue manggil lo Ara, impas 'kan." ucapnya tidak menyelesaikan masalah.


"Gue manggil lo Aza karena nama lo emang Faza, pe'a." pekik Tania.


"Lah gue manggil nama lo Ara karena apa? Karena nama lo Kara 'kan," balas Faza membuat Tania terdiam karena apa yang di katakan Faza itu benar.


"Bang ...."


"Apa Ara?" potong Faza.


"Semua orang 'kan tahunya nama gue Tania bukan Kara," ucap Tania.


"Anggap aja kita berdua punya panggilan sayang karena nama Ara itu artinya tempat perlindungan, jadi anggap aja gue buat nama Ara itu sebagai tempat perlindungan gue ke elo," ucap Faza.


"Gue bukan payung," ketus Tania.


"Ribet banget sih, gue tu nggak mau kayak yang lain manggil lo dengan nama samaran lo, biar gue yang ingetin lo sama nama asli lo dengan gue manggil nama lo Ara, udah selesai." ucap Faza malas berdebat dengan Tania.


"Kalo mereka nanya kenapa lo manggil gue Ara, lo harus jawab sendiri ya," ucap Tania.


"Iya, bawel!" ucap Faza membuat Tania mengembungkan kedua pipinya.


.......


.......


.......


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2