Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 71


__ADS_3

"Warna mata lo indah tapi kok bisa minus sih?" tanya Leo sepertinya penasaran kenapa mata biru Tania yang indah itu menjadi rabun.


"Faktor keturunan, dari Ibu." jawab Tania berbohong lagi, ah wanita itu menjadi kesal sendiri karena banyak berbohong dengan mantan kekasihnya itu.


"Maafin Tania, Pah–Mah." batin Tania merasa bersalah karena melibatkan orang tua.


"Oh jadi gimana, kita pesan minum dulu?" tawar Leo dan Tania hanya menganggukkan kepalanya saja kemudian Leo mengangkat tangannya lalu memanggil salah satu pelayan wanita.


Pria itu memesan minuman kesukaan Tania dan juga minuman untuk dirinya, sedangkan Tania hanya memandangi Leo yang tengah berbicara dengan pelayan cafe itu.


"Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?" tanya Leo menatap Tania ketika pelayan itu sudah pergi.


"Maaf," ucap Tania.


"Buat apa?" tanya Leo.


"Semuanya," lirih Tania hingga Leo menggenggam tangan Tania yang berada di atas meja.


"Gue nggak ngerti lo ngomong apa tapi yang jelas apapun yang pernah lo lakuin, jangan pernah ngerasa bersalah karena semuanya bukan salah lo. Oke !!" ucap Leo lembut.


"Lo belum bisa ngelupain gue," ucap Tania melepas genggaman tangan Leo, wanita itu berkata demikian karena dirinya juga masih ada rasa dengan Leo namun dirinya tidak mau mengungkapkannya karena kepercayaannya terhadap Leo sudah hampir tidak ada lagi.


"Kalo ngelupain lo harus secepat angin, itu artinya gue harus mati," ucap Leo.


"Ya udah mati aja sana," ketus Tania membuat Leo terkekeh.


"Gue belum mau mati karena gue masih mau kejar impian gue," sahut Leo namun Tania hanya diam saja.


Hingga beberapa menit kemudian pelayan wanita datang membawakan minuman yang di pesan Leo tadi.


"Minum dulu, lo pasti haus 'kan," ucap Leo kemudian mereka berdua sama-sama minum sebelum Tania mendongakkan kepalanya dan bertanya pada Leo.

__ADS_1


"Gimana keadaan lo sekarang?" tanya Tania.


"Kayak yang lo lihat sekarang, Cleo udah sembuh apalagi setelah ketemu elo makin sembuh total jadinya," ucap Leo seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Ck, gombal mulu," ejek Tania mengalihkan pandangannya ke jus sirsaknya.


"Tania?!" panggil Leo dengan raut wajah serius sehingga Tania mendongakkan kepalanya menatap Leo.


"Apa gue udah nggak punya harapan lagi buat jadian sama lo?" tanya Leo membuat jantung wanita itu berdegup kaget.


"Mungkin lo cuma natap gue sebagai cewek satu-satunya buat lo, tapi gue ...."


"Lo nggak," ucap Leo memotong perkataan Tania.


"Gue nggak mau ngasih lo harapan karena gue pribadi nggak tahu isi hati gue itu kayak gimana, emang! Kadang gue ingat sama lo, kadang juga gue nolak buat ingat sama lo, bahkan kadang gue lupa sama lo. Gue pernah coba maksain diri gue buat cinta lagi sama lo tapi gimana ya? Gue ngerasa ada dorongan kalo gue pengen sendirian tanpa mikirin masalah percintaan atau sejenisnya gitu," ucap Tania.


"Ngerti nggak sih?" tanya Tania.


"Berarti gue masih punya harapan dong," ucap Leo tersenyum tipis.


"Mungkin koridor hati gue udah ketutup rapat jadi jangan kecewa kalo semua usaha lo bakal gagal," ucap Tania membuat Leo menajamkan tatapannya lalu ia mengangguk seraya tersenyum pada Tania.


..........


Hari senin, hari yang penuh ketegangan karena hari ini sudah masuk ujian semester, semua murid mulai mengisi satu-persatu pertanyaan dari mata pelajaran mereka sekarang hingga semua selesai, saatnya pulang sekolah.


Seperti yang sudah-sudah Tania/Karamel sangat bosan dengan dirinya yang menjadi culun, maka dari itu Tania selalu siap sedia mambawa pakaian serta alat makeup untuk merubah tampilannya menjadi dirinya sendiri yaitu Karamel.


Di sebuah pohon besar di balik belakang dinding sekolahan ECHS, Tania/Karamel duduk di bawah pohon itu sembari menikmati lagu dari handphonenya.


Kebiasaan barunya, yang bisa membuatnya tenang menikmati tumbuh-tumbuhan dan pepohonan di sana, udara yang jauh dari polusi membuatnya merasa sejuk saat duduk di bawah pohon itu.

__ADS_1


On the first page of our story


The future seemed so bright


Then this thing turned out so evil


I don't know why I'm still surprised


Even angels have their wicked schemes


And you take that to new extremes


But you'll always be my hero


Even though you've lost your mind


Just gonna stand there and watch me burn


But that's all right because I like the way it hurts


Just gonna stand there and hear me cry


But that's all right because I love the way you lie. I love the way you lie


Tania/Karamel bernyanyi sembari memejamkan matanya, mungkin ia kira tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya tapi tanpa wanita itu ketahui, dari atas pohon ada seseorang pria yang duduk manis sembari memandang dan mendengar suara Tania/Karamel yang begitu merdu.


"Galau ni cewek, sama kayak gue," gumam pria itu menghela napas gusar.


.......


.......

__ADS_1


.......


..... Bersambung ....


__ADS_2