Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 162 (Takdir)


__ADS_3

Di tempat lain, Adit sedang menginap di rumah Diky karena tugas mereka yang menumpuk harus di bantu oleh kepintaran sahabat mereka yang lain yaitu Abdi dan Rio.


Mereka melakukan video call untuk menyelesaikan tugas mereka, Abdi maupun Rio lumayan kesulitan karena jurusan mereka berbeda dari Adit dan Diky, tapi karena Abdi dan Rio orangnya sama-sama suka memecahkan masalah jadi mereka berusaha sebisa mungkin untuk membantu Adit dan Diky.


Di tengah-tengah pembelajaran mereka, Adit mengingat dirinya melihat Leo dan Clara di sebuah restoran tadi siang.


"Oh iya, gue baru inget," ucap Adit tiba-tiba.


Diky maupun Abdi dan Rio serentak kaget mendengar pekikan Adit. Plakk! Sontak Diky memukul kepala Adit.


"Apaan sih lo, ngagetin aja," bentak Diky.


"Inget apaan lo?" Abdi tidak marah dan malah bertanya.


"Waktu gue nganterin Bunda gue ke restoran, gue liat Leo sama Clara ada di restoran itu juga," ucap Adit membuat ketiga laki-laki itu terbelalak.


Bunda Adit memang sering ke restoran untuk berkumpul dengan teman-teman arisannya, tapi tadi siang ketika Adit mengantar bundanya, Adit melihat Leo dan Clara yang duduk di satu meja.


Adit penasaran tapi mengingat Leo dulu meninggalkan Karamel lalu menjalin hubungan dengan wanita lain, Adit jadi pergi meninggalkan restoran itu.


"Clara," ketiga laki-laki itu serentak memekik kaget, auto Adit melotot kala di serbu pekikan ketiga sahabatnya itu.


"Ho'oh Clara," sahut Adit.


"Lo nggak buta, Dit?" tanya Diky tiba-tiba.


Mendengar itu sontak Abdi dan Rio menatap ke arah Diky, mereka berfikir di mana-mana jika orang tidak percaya itu akan mengatakan 'Lo nggak salah lihat' tapi kali ini Diky mengganti kosa kata itu dengan kata-kata yang lebih menohok.


"Enggak lah," pekik Adit jengkel.


"Sejak kapan Leo deket sama Clara?" tanya Rio.


"Udahlah nggak penting, toh kehidupan dia dari dulu emang suka gonta-ganti cewek 'kan," ucap Diky.


"Lo masih marah sama Leo?" tanya Abdi.


"Gue kecewa berat sama dia," sahut Diky.


"Sama, gue juga!" timpal Adit.

__ADS_1


"Bukannya Leo punya tunangan ya?" tanya Rio.


"Bodo, gue nggak peduli," sahut Diky.


"Udahlah, kalo kita bahas so'al Leo mulu, due takut bakal ngomong jorok tentang Leo dan di atas sana Karamel bisa marah sama gue," ucap Adit membuat Abdi terbelalak.


Abdi tidak tahu apa-apa tentang Karamel jadi Abdi sangat kaget ketika Adit mengatakan Karamel ada di atas sana.


"Maksud lo apa?" tanya Abdi.


Ketiga sahabat Abdi terdiam, mereka baru ingat bahwa Abdi tidak di beritahu so'al kematian Karamel.


"Jadi gini ...." Adit dan Diky mencoba untuk menjelaskan kejadian-kejadian yang terjadi pada Karamel sebulan yang lalu.


........................


...Kediaman Clark Damyan...


"Papa ...." pekik Clara langsung memeluk Damyan yang baru saja pulang dari kantor, Damyan tertawa ketika puterinya menyambut dengan pelukan hangat.


"Wow wow ada apa ini, tumben tuan putrinya papa nyambut papa kayak gini?" tanya Damyan mencium puncak kepala sang anak.


"Aku seneng banget tauk Pah karena tadi siang Leo tiba-tiba nembak aku buat jadi pacar dia," ucap Clara dengan semangat.


"Ini, dia ngasih aku cincin ini tadi siang," Clara semakin semangat menunjukkan bukti bahwa Leo telah resmi menjadi kekasihnya.


Clark Damyan tersenyum bahagia melihat sang anak bisa tertawa bahagia karena orang yang sangat anaknya cintai itu.


"Kamu telah merubah dunia anakku, Leo!" batin Clark Damyan mengelus kepala Clara.


.......................


"Kejadiannya udah sebulan yang lalu tapi kalian gak ngasih tau gue?" sentak Abdi sangat marah sekaligus sedih.


Abdi merasa ada yang hilang dalam dirinya ketika Adit mengatakan Karamel di nyatakan telah meninggal dunia, bayangan sosok adik seperti Karamel yang selalu dekat dengan Abdi membuat sedih akan dirinya.


"Kita fikir kalian semua pada sibuk ...."


Adit ingin membela dirinya namun Abdi telah cepat memotong perkataannya.

__ADS_1


"Nggak ada alasan buat itu, Dit." ucap Abdi sinis.


"Kalian tau gue dekat banget sama Karamel, terus berkat Karamel gue bisa ngejar Firgy sampe sini, kalo Firgy tahu soal ini, dia pasti bakal marah besar." ucap Abdi lirih.


"Ya maaf," lirih Adit terdengar tidak tulus.


"Karamel, dia ... aghh ...." tiba-tiba Abdi memutuskan sambungan video call.


"Abdi marah, lo berdua harus tanggung jawab," ucap Rio membuat keduanya saling pandang dan menelan saliva mereka dengan susah payah.


"Lo sih telat ngasih tau," Adit menyalahkan Diky.


"Lah kok gue, orang lo yang salah," seru Diky.


"Eh lo 'kan Abang, jadi lo yang harus angkat bicara lah," balas Adit menunjuk Diky


"Nggak ada hubungannya sama yang tua-mudah, pokoknya lo yang salah," ucap Diky.


"Elo lah yang salah," Sahut Adit.


"Elo lah,"


"Dih! Nggak mau ngalah,"


"Bodo amat,"


"Ngeselin lo ya,"


"Ngaca woy!"


"Lama-lama gue cekik lo," ancam Adit mulai kesal dan menaikan tangannya untuk mencekik Diky.


"Gue ngehidar lah, tolol," sahut Adit santai.


Di sela-selanya terjadi perdebatan, Rio merasa dirinya tidak di anggap dan terus menatap jengah ke arah dua sahabatnya itu hingga pada akhirnya Rio lebih memilih untuk mematikan sambungan video callnya dari pada harus menyaksikan perdebatan receh mereka.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2