
(18++)
Harap yang di bawah umur jangan kepo sama masalah orang dewasa, tolong kebijakannya ya wak-wak readerku. Ini bahaya bagi kalian yang masih di bawah umur.
Skip >>>
Skip >>>
Skip >>>
.
.
.
.
.
Di bawah umur harap skip ....
.
.
.
.
.
Author ingatin lagi di bawah umur harap skip....
.
.
.
.
.
Author takutttt ....
.
.
.
"Ceritakan semuanya." pinta Henry mengelus puncak kepala Karamel.
Amarah Henry semakin bertambah besar saat Karamel mengatakan bahwa Karamel lupa akan statusnya dan punya niatan untuk berbohong dengan Henry.
Tapi Henry mencoba untuk tetap tenang dan tidak marah pada Karamel, maka dari itu Henry meminta Karamel untuk menceritakan kesehariannya di luar hingga baru pulang malam ini.
__ADS_1
"Gue harus cerita tentang apa, soal bolos dari kampus? Ketemu sama Leo lagi? Jalan bareng Adit sama Diky? Ketemu penindas gila si Zoeya? Trus punya rencana konyol buat berpura-pura abis kena rampok preman biar suami iba sama gue? Tapi pada akhirnya gue gak berani bohong karena takut ketauan sama dia? Berakhirlah gue nangis di depan dia tadi?" batin Karamel sakit kepala memikirkan kebodohannya itu.
Seketika Henry bangun dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela kamar mereka dan menghentikan langkahnya dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku si kanan dan kiri celananya.
"Apa kau bertemu dengan dia lagi?" tanya Henry tanpa membalikkan badannya alias memunggungi Karamel.
"Siapa?" batin Karamel.
"Aku jalan dengan Adit dan Diky keliling Jakarta ...."
"Yang aku tanyakan apa kau bertemu dengannya lagi?" tanya Henry mengulang perkataannya.
"Dia datang ke kampusku tapi aku tidak berbicara sepatah katapun dengannya, aku langsung ...."
"Mulai besok kau tidak perlu pergi ke kampus lagi," tegas Henry membuat Karamel terkejut.
"Apa maksudmu, Mas. Bukankah kita sudah membuat kesepakatan aku menikah denganmu dan kau tidak boleh melarangku untuk menyelesaikan pendidikanku lalu kenapa sekarang ...."
"Bukankah kau bosan kuliah?" tanya Henry kini membalikkan badannya menghadap sang istri.
"Jika kau bosan untuk apa lagi kau kuliah! Hah?" bentak Henry.
Henry tahu semua kegiatan Karamel hari ini namun Henry terus menahan kesabaran dengan tingkah sang istri yang melupakan statusnya yang sudah menikah.
Apa pantas seorang wanita yang sudah menikah pulang di jam sembilan malam?
"Be*o banget sih gue, suami gue 'kan pinter. Aduh, dia pasti tau kalo gue bolos kuliah." batin Karamel merutuki kebodohannya lagi.
"Bosan bukan berarti harus berhenti 'kan," desis Karamel pelan membuat Henry geram dan berjalan mendekati istrinya itu.
"Kau harus di beri hukuman Kara," sengit Henry ingin mencium bibir Karamel, dengan cepat pula Karamel menutupi mulutnya mrnggunakan tangannya lalu ia menggelengkan kepalanya seraya memelotot.
Henry merasa kesal kala istrinya masih menolak dirinya, Henry melepaskan Karamel dengan pergi meninggalkan Karamel. Brakk! Henry membanting pintu kamar.
"Perasaan dia marah-marah mulu deh? Gak takut darah tinggi apa tu suami," desis Karamel.
............
Di kamar tamu Henry merasa frustasi karena harus menahan hasratnya lagi dan lagi.
Tidur satu ranjang dengan sang istri saja sudah membuatnya tersiksa apalagi jika sudah menyentuhnya, Henry mengacak-acak rambutnya sendiri.
Henry berfikir akan mencoba untuk meminta haknya pada Karamel tanpa paksaan.
"Aku harus mencobanya," ucap Henry hendak kembali ke kamarnya.
"Tidak, aku bisa menerkamnya jika dia menolak sekarang." ucap Henry mengurungkan niatnya.
Henry memejamkan matanya, sepuluh menit berlalu Henry semakin frustasi karena memikirkan masalah kesabarannya menghadapi sang istri, "Persetan dengan penolakanmu, Baby Girl. Kau selalu membuatku takut akan kehilanganmu jadi biarkan aku melakukannya secara paksa sekarang." tegas Henry sudah tidak tahan lagi.
Henry berlari kecil menuju kamarnya lagi, Henry tidak menemukan istrinya di dalam kamar itu.
Cklekk ....
Karamel keluar dari kamar mandi dengan di baluti handuk yang menutupi bagian dada dan pahanya saja.
Karamel melebarkan matanya melihat sang suami berada tepat di depannya.
__ADS_1
Henry menatap datar sang istri lalu ia mendekati istrinya dengan penuh gairah.
"Mas ka-kau ...." Karamel tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena Henry memotongnya.
"Kau milikku, Baby Girl. Hanya milikku." sengit Henry menatap dalam netra Karamel.
Karamel mundur beberapa langkah untuk menghidari Henry hingga Henry berhenti dan mengernyit bingung mentap Karamel, "Kau menghindariku?" sengit Henry menyipitkan matanya.
"Maaf Mas, aku tidak bermaksud menghindar tapi aku hanya belum siap ...."
"Sampai kapan?" sentak Henry mendekat membuat Karamel terperanjat kaget.
"Sampai kapan kau berkata belum siap, Hah?!" sentak Henry lebih keras.
Karamel bergeming, ia tidak tahu sampai kapan dirinya tidak siap melakukan hubungan antar suami dan istri.
"Aku suamimu, Kara. Aku berhak atas dirimu." pekik Henry membuat Karamel menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Apa aku salah karena belum siap melakukan kewajibanku?" batin Karamel bingung sendiri.
"Mas, tolong beri aku waktu." pinta Karamel.
"Kau tidak pernah memikirkan so'al kita, Kara. Jujur padaku kau tidak pernah memikirkannya 'kan." sengit Henry mencengkeram kedua bahu Karamel.
Karamel speechlees, "Aku terlalu asik dengan duniaku, apa benar aku tidak memikirkan so'al hubunganku dengan suamiku?" Karamel pun bertanya-tanya apa dia seacuh itu dengan suaminya.
"Apa aku terlalu egois dengan suamiku sendiri?" batin Karamel.
Lama Henry menunggu, tidak ada jawaban dari Karamel, "Baiklah, aku tahu jawabannya sekarang ...."
"Do it now ....!!!" potong Karamel membuat Henry speechlees menatap sang istri.
Karamel mendongakan kepalanya, "Maafkan aku, Mas. Aku sadar aku terlalu egois tidak pernah memikirkan perasaanmu." lirih Karamel merasa bersalah.
Fikirkanlah, Henry bersabar mencintai Karamel selama lima tahun tanpa Karamel ketahui, Henry bersabar menjalin hubungan dengan Karamel yang belum sepenuhnya melupakan Leo, Henry menikahi Karamel lalu Leo datang lagi di kehidupan Karamel, Henry bersabar menahan hasratnya demi tidak membuat Karamel takut tapi Karamel terus menolak melakukan kewajibannya dengan alasan 'Belum siap.'
"Suatu saat aku pasti akan melakukannya juga, jadi untuk apa aku menghidar lagi." batin Karamel.
Karamel menyentuh pipi kiri Henry, "Do it now ....!!!" ucap Karamel lagi.
Karamel melingkarkan tangannya ke leher Henry lalu ia memejamkan matanya dan mulai mencumbu si b**** sang suami.
Henry ikut memejamkan matanya, dan menikamti permainan Karamel hingga Henry semakin agresif dan menggigit kecil b**** mungil Karamel.
Henry mulai menyusuri beberapa bagian tubuh Karamel hingga merasakan tubuh sang istri yang bereaksi kegelian, Henry langsung melepas pangutannya dan mengelus lembut wajah sang istri.
"Aku mencintaimu, Kara." bisik Henry menuntun Karamel untuk berbaring di tengah-tengah ranjang.
Kemudian terjadilah apa yang seharusnya terjadi di antara pasangan suami istri yang sudah sah di mata hukum dan agama.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1
Wak-wak readerku jangan lupa like, komen dan vote ya. Author kadang nggak semangat kalo nggak ada jejak komentar kalian.