
Tania menelepon sang papa lalu di lospekerkannya panggilan mereka dan di tempelkannya di atas mic, "Hallo, Daddy." sapa Tania.
"Yes darling, don't they trust you?" tanya Sanjaya to the point.
"I don't know about that, Dad. But if Daddy ask how is the current school situation? I will answer, very sad. The situation here is very sad, Dad." ucap Tania lirih.
"What happened there? tanya Sanjaya dengan nada yang sangat tinggi. Semua orang tampak terkejut karena sentakkan dari sang pemilik sekolahan.
"Banyak hal buruk yang terjadi di sini hingga aku tidak berminat sekolah di sini lagi, Pah." ucap Tania membuat sang papa terkejut termasuk semua orang yang Tania kenal pun ikut terkejut.
"Kenapa sayang? Apa yang membuatmu sangat tidak nyaman?" tanya Sanjaya.
"Kepala sekolah di sini, Pah. Dia tidak tegas dan tidak jujur bahkan dia juga menerima sogokan dari para murid sekolahan. Papa tau aku tidak suka itu, jadi aku tidak nyaman sekolah di sini." jelas Tania.
"What? Agus menerima sogokan dari para murid?" pekik Sanjaya membuat pak Agus ketakutan setengah mati.
"Yes, Daddy." jawab Tania
"Berikan ponselmu pada Agus, Sayang." ucap Sanjaya menambah rasa gugup pak Agus.
"Bicaralah sekarang, Pah. They all heard it." ucap Tania dengan senang hati.
"Agustian, apa anda sadar dengan apa yang sudah anda lakukan pada sekolahan saya, anda sudah mempermalukan saya yang sudah memilih anda sebagai pimpinan Eton Company High School, sekarang anda angkat kaki dari sekolahan saya karena Azril Mike Seno yang akan menangani anda nanti." sentak Sanjaya.
"Maafkan saya Tuan hiks hiks ...." lirih pak Agus.
"Satu lagi untuk anak anda, saya akan ...."
"Daddy, biarkan Tania yang mengurus masalah itu," pinta Tania sekilas menatap Zea dan Sindi.
"Baiklah sayang. kamu boleh menentukan semuanya," ucap Sanjaya kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Adi Lasmana, Spencer Alric, Clara Olivia, Zea Sabina, Sindi Olaka, Eka putri, Atika Maheswari, dan Lilis Hudia, delapan orang yang menjadi pencemar nama baik sekolahan harus segera di keluarkan dari sekolahan ini," pekik Tania dengan sangat lantang hingga suara keras wanita itu mampu membuat tubuh semua orang merasa merinding.
Lagi, Tania kembali menunjukkan video kelakuan delapan orang itu di layar billboard tanpa sensor, semua orang tentu di buat ngeri karena perbuatan mereka tidk bisa di bilang seperti manusiawi lagi.
Mereka menindas sampai mengeluarkan darah bahkan Tania tak segan menunjukkan video para perempuan menjijikan yang menjual diri pada para tua bangka, hingga ramai yang merasa mual dengan lakukan para predator buruk itu.
"Sangat memalukan bukan," ucap Tania sinis.
"Dan terakhir, kalian mengenal saya sebagai Tania tapi untuk hari ini dan seterusnya jangan pernah panggil saya dengan nama Tania lagi karena nama saya yang sesungguhnya adalah Karamel dan untuk Kakak adalah Kenziro." jelas Tania membuat para murid speechlees.
"Saya tidak mau mengulang perkataan saya lagi karena telinga kalian pasti masih normal 'kan," sambung Tania datar.
"Silahkan lanjutkan lomba kalian," ucap Tania beranjak pergi dari lapangan.
__ADS_1
Semua orang memperhatikan Tania berjalan sampai ke lantai dua dan lantai tiga lalu menghilang karena sudah naik ke tangga rooftop sekolah.
"Lomba Tarik tambang kita akan di mulai dari kelas bla bla bla ...." ucap sekertaris osis yaitu Tika melanjutkan lomba.
............
...Rooftop sekolah....
Tania duduk di sebuah sofa yang ada di bawah kanopi, "Semua udah selesai, sekarang gue harus benar-benar siap buat jalanin hidup gue sebagai Kara." gumam Tania.
"Jadi Tania adalah Kara dan Kara adalah Tania?" gumam seorang pria dari pintu rooftop sehingga Tania langsung menghampiri orang itu.
"Kamu nggak marah 'kan sama aku?" tanya Tania namum Leo menatap datar wajah sang pacar.
"Kenapa baru sekarang?" tanya Leo.
"Ada alasan penting kenapa aku sembunyiin identitas asli aku," lirih Tania.
"Please dengarin dulu penjelasan aku," pinta Tania cepat karena takut Leo pergi tanpa mau mendengar penjelasannya, pria itu menghela napas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepala setuju, kemudian mereka berdua duduk di sofa.
"Oke, aku pernah bilang ada rahasia yang nggak bisa aku ungkapin sama siapapun termasuk kamu dan ... dan ini rahasia aku." ucap Tania menggigit bibir bawahnya.
"Selain Faza siapa aja yang tahu identitas asli kamu sebelumnya?" tanya Leo.
Leo ingin marah, tapi untuk apa? Semua sudah terjadi. Dia hanya ingin Tania mengungkapkan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.
"Kak Aryan," gumam Leo mengingat Tania memanggil Aryan dengan panggilan Babas.
"Kalo Aldy itu Kakak kamu terus Kak Aryan siapa kamu?" tanya Leo menatap dalam mata Tania.
"Babas adalah sahabat masa kecil aku waktu di Amerika," lirih Tania membuat Leo memijat pelan hidungnya dengan tangan kananm
"Aku masih bingung, sebenarnya ...."
Dengan cepat Tania menggenggam tangan kiri Leo, "Aku bakal jelasin pelan-pelan," ucap Tania.
"Aku sama Kak Aldy dulu tinggal di Amerika sedangkan Mama sama Papa tinggal di Indonesia, Papa bilang kita berdua Kak Aldy harus jauh dari mereka karena keberadaan kita berdua selalu di incar oleh musuh bisnis Papa, nama kelahiran kita berdua yang asli itu Kara sama Kenzi tapi karena rasa takut Mama yang berlebihan. So, Mama buat nama samaran Tania sama Aldy biar para musuh papa enggak mudah dapetin informasi tentang kita." ucap Tania menelan salivanya lalu mengeratkan genggaman tangannya.
"Delapan tahun aku sama Kak Aldy tinggal di Amerika sampai suatu saat kita berdua buat ulah yang fatal banget, kita buat lumpuh salah satu teman sekolah kita," ucap Tania.
"Yeah! Kita berdua emang nakal tapi kejadian itu pertama kalinya buat kita ngelakuin kesalahan fatal, sampai Mama mutusin buat pisahin kita berdu, Kak Aldy di Indonesia dan aku tetap di Amerika," ucap Tania.
"Selama kita pisah aku selalu sendirian karena Babas ngilang waktu umur aku delapan tahun, sahabat terdekatku cuma Firgy, Justin sama Niky itu juga kita jarang ketemu karena aku selalu sibuk latih bela diri, memanah, menembak bahkan ...."
"Menembak?!" potong Leo menatap Tania membuat Tania tersenak kaget.
__ADS_1
"I-iya," sahut Tania sehingga Leo langsung mengalihkan pandangannya ke depan.
"Terusin," ucap Leo datar.
"Sebagai leader mafia aku emang harus banyak berlatih bukan?" ucap Tania.
"Mafia?! Jadi kamu ...."
"Bukannya kamu udah denger semua omongan aku waktu di pohon besar belakang sekolahan ini?" ucap Tania dan Leo baru ingat itu.
"Waktu itu aku kenal kamu sebagai Kara, jadi aku fikir Tania itu bukan Kara," ketus Leo.
"Aku sama Kak Aldy jadi mafia sampai umur kita empat belas ...."
"Wait wait wait, Aldy?!" gumam Leo.
"Ya, Kak Aldy sama aku adalah mafia tapi ketahuilah sayang aku enggak pernah sekalipun ngebunuh manusia kayak Kak Aldy." ucap Tania membuat Leo speechlees.
"Aku sama Kak Aldy punya musuh besar di dunia mafia ...." ucap Tania terus bercerita tentang pengkhianatan Alex, kehilangan tangan kanan Tania bahkan larangan sang mama untuk tidak masuk ke dunia gelap itu lagi.
"Mama sama Papa nggak ngizinin kita buat pakai nama asli kami kita takut para musuh lama kita masih ngincar kita, sampai di hari minggu kemaren aku, Kak Aldy sama salah satu teman sniper Kak Aldy berhasil musnahin leader Dark Cobra, leader yang di kenal paling kejam di dunia udah kuta musnahin," ucap Tania namun entah kenapa Leo mengeraskan rahangnya ingin marah saat mendengar cerita kekasihnya.
Setiap kali Tania mengingat dunia gelapnya, akan selalu ada bayangan Vian yang menghampiri benaknya.
"Jangan di lanjutin ...."
"Enggak, aku mau lanjut cerita." potong Tania.
"Aku sama Kak Aldy ngasih tahu Papa kalo kita berdua Kak Aldy udah berhasil bunuh Alex dan Papa bilang 'Yes, semuanya dan juga Paman Lucas udah ngeliat mayat Alex' dan mereka makamin mayat Alex di hari itu juga," ucap Tania.
"Hari ini sebenernya enggak ada rencana buat pembongkaran identitas aku tapi karena Adi ...."
"Aku bener-bener marah hari ini," potong Leo datar membuat Tania mendongak menatap wajah menyeramkan Leo.
"Maafin aku ...."
"Marah sama Adi Lasmana," ucap Leo seraya menggenggam erat tangan Tania namun tatapan mata pria itu menerawang jauh ke depan sana.
"Dia udah berani bersikap kurang ajar sama pacar aku di ...."
"Ala la la la ... tangan gue sakit," pekik Tania kesakitan karena genggaman Leo yang sangat kuat.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...