Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ,, 129


__ADS_3

Semua keluarga Karamel datang ke Kanada, dan benar yang mereka lihat di mansion Henry adalah wajah cucu, anak dan adik mereka yang sudah tidak bernyawa lagi.


Semua keluarga Karamel menangis tersedu-sedu, hingga Sofi dan Santi pingsan di tempat kala tidak tahan menahan sesak atas kehilangan sang anak dan keponakan.


Kenzi tak henti-hentinya menangis hingga ia berdiri dan menghampiri Henry yang duduk lemah di tangga.


"Apa yang terjadi, kenapa adek gue bisa kayak gini! Hah?" pekik Kenzi mencengram kerah Henry.


Henry menunduk tidak menjawab pertanyaan Kenzi, membuat Kenzi semakin marah dan memukul wajah Henry. Bug!


Luhan dan Andi ingin bergerak membantu Henry namun Henry memberi kode untuk melarang mereka.


"Brengs*k lo nggak bisa jagain adek gue." pekik Kenzi memukul Henry sampai ia puas.


Kenzi sangat marah ketika mendapatkan kabar bahwa adiknya meninggal, dan sekarang ia semakin marah ketika berita itu benar adanya.


Adik yang selalu menjadi tempat ternyamannya telah pergi meninggalkannya, Kenzi tidak ikhlas, sungguh dirinya tidak akan bisa mengikhlaskan kepergian adiknya.


"Kenzi, cukup ...." pekik grandma Bertty merasa terpukul melihat cucu laki-laki menghajar Henry habis-habisan.


Bug! Bug! Bug! Tidak ada kata cukup, Kenzi terus menghajar Henry, ia melampiaskan segala emosinya kepada orang yang tidak pernah ia sukai itu hingga Sanjaya turun tangan memaksa Kenzi untuk berhenti. Barulah pria itu berhenti menghajar Henry dan kembali duduk di dekat jasad adiknya.


"Kara, lo marah ya sama kakak karena gak bisa jagain lo padahal selama ini kakak selalu bilang sayang sama lo tapi ... nyatanya kakak lo gak becus buat jagain lo," lirih Kenzi.


"Jangan pergi hiks ...." tangis Kenzi membuat semua anggota keluarganya semakin gencar menangis.


"Lo gak boleh tinggalin kakak. Kakak mohon jangan pergi Kara, kakak mohon aaaagh hiks ...." racau Kenzi semakin terisak seraya memeluk jasad adik tercintanya.


"Ra, ini enggak lucu, lo engak mungkin tinggalin kita semua 'kan, lo gak mungkin ...." bahkan Faza tidak bisa menahan perasaan sesak di dadanya hingga air mata itu semakin deras.


...........


...Markas Vic's Bloody Wolf _ Irlandia....


Polar prince mendengar kabar bahwa Karamel sudah meninggal dunia di rumah sakit Rehoolt Medical Center Canada.


"Apa? Ka-Kara meninggal?" ucap Leo dan sang tangan kanan mengangguk pelan.


"Sejak satu jam yang lalu, Lord." perjelas sang tangan kanan.


Leo tidak bisa berkata apa-apa lagi, lidahnya kelu dan kaku rasanya ketika mendengar berita menyakitkan itu, rencananya baru akan di mulai namun berita kepergian Karamel membuat Leo merasa tidak berdaya.


"Aku akan membunuhmu, Henry Del Nixon." pekik Leo mengepal tangannya.


Tanpa Leo sadari air matanya menetes membasahi pipinya, dadanya terasa sakit saat mengingat dulu mereka terpisah oleh jarak yang begitu jauh, kini mereka harus terpisah oleh alam yang berbeda.


"Kenapa kamu ninggalin aku, Kara? Enggak, aku enggak percaya kamu pergi gitu aja. Kamu... aku perlu bantuan The Shadow Of The Queen buat ngebunuh Henry sama Rega Ananda. Dan kamu ... enggak aku enggak percaya ini Kara." batin Leo mengucapkan kata yang ia yakini bahwa Karamel tidak mungkin meninggalkannya.


"Lady queen menyuruh sahabat kakakku, Daniel untuk mengurus gangsternya bukan?" tanya Leo masih dengan air mata yang belum ia hapus.


Sang tangan kanan menaikan kedua alisnya, "Be-benar, Lord." jawab sang tangan kanan.

__ADS_1


"Undang dia datang ke sini, aku ingin meminta bantuan untuk membunuh Henry dan leader mafia Dark Cobra Rega Ananda berserta seluruh anggotanya." perintah Leo penuh penekanan.


Sang tangan kanan polar prince mengangguk lalu sang tangan kanan keluar dari ruangan untuk menyuruh salah satu mafioso Vic's Bloody Wolf datang ke Los Angeles, lebih tepatnya datang ke markas utama The Shadow Of The Queen dengan tujuan mengundang Daniel sang tangan kanan lady queen.


..............


Karamel ingin di bawa ke Indonesia namun Henry meminta untuk di kuburkan di Kanada saja, walau mereka sekarang sudah beda alam tapi Henry tetap tidak mau jika harus berjauhan dari Karamel.


Kenzi dan Faza memberontak tidak terima tapi Sanjaya mengizinkan itu karena kata Sanjaya, 'Karamel sudah menjadi hak Henry sepenuhnya jadi apapun keputusan Henry mereka akan menurutinya'


Jadilah Karamel di kuburkan di Kanada, setelah selesai penguburan semua keluarga kembali ke mansion Henry.


"Aku ingin kembali ke Los Angeles." ucap Kenzi marah akan keputusan sang papa tadi.


"Gue ikut lo, Ken." timpal Faza ikut marah.


Henry melebarkan matanya karena Kenzi dan Faza akan pergi ke Los Angeles, "Tinggallah di sini untuk beberapa hari saja, Ken. Tidak baik setelah penguburan Karamel, kalian langsung pergi." ucap Henry membujuk secara halus.


"Benar, Nak. Tidak baik kalian pergi sekarang." timpal Sofi.


"Sorry, Mah. Ken sama Faza enggak di butuhin di sini jadi kita bakal tetap pergi." ucap Kenzi.


"Benar tante, lebih baik kita berdua pergi dari sini." timpal Faza.


Tak lama kemudian Ken dan Faza pergi dengan menggunakan taxi menuju Bandara Internasional Pearson Toronto.


Di dalam taxi Kenzi melamun akan kenangan-kenangan bersama sang adik tercinta bagitu juga dengan Faza yang melamun akan kepergian sang adik sepupunya itu.


...Flashback on...


"Ini itu sambutan tergokil dari Kakak." ucap Aldy menghampiri Tania.


"Hiiyaaa ...." Tania yang di dekati oleh Aldy langsung melepar tepung ke wajah sang kakak.


"Huaaah ... Mama tolongin Aldy." jerit Aldy berlari mendekati mama Sofi dan bersembunyi di belakang sang mama.


"Kita mandi tempung sekarang." pekik Tania melempar tepung ke wajah Sofi dan Sanjaya.


...Flashback off...


Kenzi tersenyum tipis mengingat hari pertama Karamel stay di Indonesia dan dia menjahili adiknya dengan tepung dulu, tawa ceria adiknya yang selama ini menjadi candunya terekam jelas di benaknya.


...Flashback on...


"Kenapa? Enggak mau duduk bareng cogan ya?" tanya Aldy sedikit mengejek.


Brugg ....


"Aawwww ...." pekik Aldy memegangi kaki kirinya yang di injak oleh sang adik.


"Ada apa Aldy?" tanya buk Novi

__ADS_1


"Gak ada apa-apa Buk cuma ada kecoa yang cium tangan Aldy makanya jadi refleks deh." jawab Aldy.


"Ughhh ... di cium kecoa ya? Pftt." ejek Tania mengulurkan lidahnya.


...Flashback off...


Kenzi kembali tersenyum menahan tangisan ketika mengingat hari pertama Karamel sekolah dan dia mendapatkan injakan dari sang adik.


Kenzi memejamkan matanya, bayangan ketika Karamel dan Kenzi sedang bermain game. Teriakan yang heboh, tawa yang menggelegar, amarah yang memuncak bahkan lelah luar biasa mereka rasakan ketika sedang bermain bersama. Pada akhirnya Kenzi tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Kenapa lo ninggalin kakak lo sendirian, Kara, gue di sini sendirian asal lo tau. Hidup gue sepi dek kalo gak ada elo, lo tau 'kan gimana terpukulnya gue waktu Sasya meninggal ... dan sekarang, sekarang lo juga ninggalin gue." batin Kenzi lirih.


..........


...Dua hari kemudian....


...Cabang Markas Vic's Bloody Wolf (Irlandia)....


Leo menghela napas panjang kala sang tangan kanan lady queen menerima undangan dari Lro namun mereka menunda pertemuan itu karena mereka ada urusan penting yang tidak bisa di ganggu oleh hal lain termasuk undangan dari polar prince.


"Ketika undangan dari kita sampai, Daniel langsung menerimanya tapi Daniel meminta untuk menunggu waktu yang tepat untuk bertemu, Lord." ucap sang tangan kanan.


"Aku tidak bisa menunggu lagi, Avido." kata Leo tapi sang tangan kanan hanya bisa menunduk tanpa bisa berucap lagi.


"Lanjutkan aktivitasmu," ucap Leo dan di ruangan yang sama sang tangan kanan melanjutkan latihannya melempar pisau ke papan target.


"Aku harus bagaimana sekarang, Kak." gumam Leo menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.


"Lady Queen kami sangat mengagumi dirimu, Leo. Sang polar prince yang pandai memimpin ribuan mafioso yang di mana seluruh dunia tidak mengetahui identitas setiap anggotanya ataupun leader dan juga tangan kanannya."


Leo mengingat kata-kata dari sang kakak yang pernah menjadi tangan kanan lady queen. Namun na'as kakaknya sudah meninggal karena menyelamatkan nyawa lady queen.


"Kak Vian ....!" gumam Leo


"Aku harus membunuh Henry dan juga Rega Ananda karena dulu perintah Rega Ananda yang ingin membunuh leader The Shadow Of The Queen, Alex melesetkan pelurunya ke jantungmu hingga kau meninggal dunia, dan sekarang karena dendam lama Rega Ananda kepada kakek Berrold, Henry membuat orang yang aku cintai meninggal dunia," ucap Leo penuh rasa amarah dan benci yang mendalam.


"Aku akan membunuh mereka ...."


Brakkk! Leo tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena pintu ruangnnya di tendang oleh seseorang.


Leo berdiri dari tempat duduknya, dengan cepat orang yang menendang pintu itu mendorong tubuh Leo hingga ke dinding lalu orang itu mengarahkan pistol ke kening Leo.


Avido yang melihat nyawa sang leader terancam langsung mendekat dan menyodorkan pistolnya ke kepala orang asing itu namun tanpa di duga di kepala belakang Avido ternyata ada pistol yang di arahkan oleh orang asing lainnya juga.


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


Maaf ya wak-wak readerku, author lama up karena masalah gangguan sinyal di Sumatera Selatan. Author nggak tahu kenapa dari kemarin sinyalnya selalu lemot, jadi author nunggu sinyal deh baru bisa up.


Mohon di mengerti ya wak-wak readerku. Selamat membaca ya.


__ADS_2