Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 198 (Takdir)


__ADS_3

"Bos," pekik Becca menembak orang yang ada di samping Karamel yang bersiap akan menembak Karamel tadinya.


"Woy! Lo ngelamun ya, Bos?" pekik Becca mendapatkan tatapan membunuh dari Karamel karena berani bertariak kepada sang nona bos.


Plak! Becca memukul bibirnya sendiri.


"Sorry Bos, refleks tadi," ucap Becca menelan salivanya dengan susah payah.


Karamel mengangkat dua pistolnya ke arah Becca hingga tubuh Becca menegang di buatnya.


"Ampun Bos! Bos Bos Bos jangan bercanda ah, enggak lucu tauk Bos," ucap Becca memejamkan matanya sembari mengangkat kedua tangannya ke udara.


Dorr! Dorr! Dorr! Dorr! Karamel menembak dengan penuh amarah, bukan Becca sasarannya tapi orang yang ada di belakang Becca lah yang menjadi target Karamel.


Ctak! Karamel menjitak kening Becca,


"Bukan cuma ada di samping atau belakang kita doang tapi bahkan di setiap tempat ada banyak musuh kita dan lo harus fokus Becca, gue enggak akan bunuh lo tapi kalo lo enggak fokus terpaksa gue bunuh lo sekarang juga, paham lo!" sentak Karamel membuat Becca langsung membulatkan matanya.


Seperdetik kemudian Becca di kejutkan oleh tindakan Karamel yang menarik kepala Becca untuk menunduk lalu Karamel menembak beberapa kali ke musuh yang tadinya ingin menebak Becca.


Dorr! Dorr! Dorr! Dari samping kiri Karamel juga Becca menembak para musuh yang mengarahkan senjata ke arah mereka berdua.


Dorr! Dorr! Leo sudah di geluti amarah yang memuncak, dirinya tidak perduli lagi akan nyawa para musuh-musuhnya, dengan sengaja Leo menembak tepat di bagian jantung dan kepala para musuhnya agar mereka semua langsung mati di tempat.


Dorr! Dorr! Begitu juga dengan Jeffry yang kini sudah membabi buta menembak ke semua anak buah Damyan hingga mati di tempat.


Dari kejauhan Clara mengeraskan rahangnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, terlihat jelas bagaimana para anak buah papanya dengan mudah bisa di kalahkan oleh orang-orang yang membantu Karamel maupun Leo.


Clara merasa marah sekaligus gelisah karena melihat pemandangan di depannya sudah menunjukkan tanda-tanda kekalahan mereka.


"Kenapa semua ini ...."


"Kemungkinan Leo udah tau rencana kita," ucap Damyan membuat Clara terkejut.


"Leo tau rencana ... mana mungkin Leo tau rencana yang udah kita persiapin dengan ...."


"Kita ngelupain kejadian di restoran waktu mata-mata suruhan Papa yang tiba-tiba jadi lumpuh semua, Clara." potong Damyan.


Saat itu Damyan tidak memperdulikan kejadian para mata-mata suruhannya menjadi lumpuh, Damyan mengira ada orang yang membantu Leo secara diam-diam tapi Damyan merasa dengan jumlah anak buahnya yang sedikit wajar Leo bisa lolos namun jika dengan jumlah anak buahnya yang banyak, Leo maupun Karamel pasti akan sangat mudah untuk di taklukkan.


"Leo udah taau semuanya, Papa yakin itu," ucap Damyan sangat yakin.

__ADS_1


Di lihat dari para anak buahnya yang hampir habis, Damyan sangat yakin kalau Leo sudah mempersiapkan diri untuk melawan dirinya dan anaknya.


"Jadi kemungkinan Leo tau semua ini bakal terjadi?" tanya Clara dan Damyan mengangguk cepat.


"Kalo Leo udah tau, aku aku aku ... enggak, gimana kalo Leo benci sama aku? Leo Leo gak boleh benci sama aku, di-dia gak boleh benci sama aku." seketika tubuh Clara menjadi lemas.


Kembali ke Karamel yang mengarahkan kedua pistolnya ke musuh yang ingin menembak dirinya namun sialnya peluru Karamel habis hingga saat musuh itu menembakkan timah panas dari pistolnya, Karamel hanya bisa menghindar lalu dengan cepat Karamel mengisi pelurunya kembali dan menembakkannya ke arah musuh itu hingga musuhnya jatuh ke tanah.


Setelah musuhnya jatuh, pandangkan mata tajam Karamel melihat dua orang yang sedang berdiri di depan mobil hitam, mereka seperti sedang memantau kegaduhan malam ini.


Sudut bibir sebelah kanan Karamel terangkat.


"Ternyata lo ada di sini," gumam Karamel berjalan mendekati Becca dengan masih terus menembak para musuh tentunya.


"Becca," panggil Karamel di iringi banyaknya suara tembakkan dan ringisan.


Dorr! Dorr!


"Lihat ke arah luar gerbang," pekik Karamel masih fokus dengan aksinya yang menembak.


Becca mengikuti perintah Karamel dan seketika Becca merasa senang karena ternyata dua orang yang di incar muncul dengan sendirinya.


"Becca pergi dulu bos," ucap Becca perlahan melangkahkan kakinya ke belakang rumah itu.


Becca mengambil jarum dari jaketnya lalu Becca menembakkan kedua jarum itu ke tengkuk Damyan dan Clara hingga mereka menepuk tengkuk mereka seakan-akan ada nyamuk yang mengigit kulit mereka.


"Wah, Bos pasti bangga punya anak buah cerdik kayak gue." batin Becca berbangga diri karena berhasil menancapkan jarum bius yang di perintahkan Karamel ke tubuh Damyan dan Clara.


Plak! Becca tersentak kaget bahkan hampir berteriak kala Jeffry menepuk pundaknya tapi untungnya Jeffry langsung membungkam mulut Becca hingga Becca hanya bisa memelotot kaget saja.


"Ngapain lo di sini?" tanya Becca berbisik.


"Lord menyuruhku untuk menangkap Tuan Damyan beserta anaknya." sahut Jeffry juga ikut berbisik.


"Lo enggak liat ada gue di sini," bisik Becca.


"Apa kau mengira aku ini buta," sengit Jeffry entah kenapa membuat Becca langsung bungkam.


Di halaman depan kediaman keluarga Kwadero, Karamel melihat aksi Becca yang menancapkan jarum bius ke tubuh Damyan dan Clara bahkan Karamel tersenyum tipis ketika melihat Jeffry ada bersama Becca juga.


Becca melihat arloji di tangannya.

__ADS_1


"Tunggu sepuluh menit dari sekarang," desis Becca.


"Kau menembakkan apa tadi?" tanya Jeffry.


"Jarum bius," sahut Becca ketus dan Jeffry hanya ber'oh' ria.


Lima belas menit kemudian Becca berdiri di atas atap mobil Damyan dan Clara.


"Wahai para orang-orang bod*h, bos kalian ada di tangan gue, lepasin senjata kalian atau gue bunuh bos kalian sekarang juga." pekik Becca menggunakan speaker megaphone.


Semua orang menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Damyan maupun Clara ada pada genggaman Jeffry dan Becca yang menyodorkan pistolnya ke arah kepala keduanya.


Serentak para anak buah Damyan menjatuhkan senjata mereka ke tanah lalu mengangkat kedua tangan mereka semua ke udara.


Karamel dan Leo bisa bernapas lega karena Damyan dan Clara sudah ada di tangan kedua anak buah mereka berdua.


Karamel dan Leo saling tatap lalu mereka berdua berjalan pelan untuk mendekat.


"Aku capek," ucap Karamel dengan jarak yang masih jauh.


"Gak ada alasan apapun, kamu tetap bakal dapet hukuman dari aku, Nyonya Rendra." sahut Leo membuat langkah Karamel terhenti.


"Apa kamu tega ngehukum aku?" tanya Karamel.


"Tentu, kenapa enggak! Istri yang gak patuh sama omongan suaminya emang seharusnya di hukum bukan, biar kedepannya bisa nurut," ucap Leo masih berjalan mendekati Karamel yang masih berdiri di tempatnya.


Dan tiba-tiba saja di saat Karamel dan Leo bicara, salah satu anak buah Damyan yang sudah tergeletak di tanah mengangkat pistolnya dengan tangan yang bergetar.


Dia mengarahkan pistolnya ke arah jantung Karamel lalu seperdetik kemudian ....


Dorr ....!


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...


Vote vote vote jangan lupa ya semua.

__ADS_1


komen komen komen, author pengen baca komentar kalian.


like like like, biar author makin semangat jangan lupa like ya.


__ADS_2