Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 115


__ADS_3

...Cafe Gourmet....


"Kamu masih inget sama tempat ini?" tanya Leo menatap sekeliling cafe yang selalu jadi tempat berkumpulnya anak-anak muda.


"Hem," jawab Karamel.


"Penampilan Kara beda banget sekarang, aura kecantikannya makin bertambah berkali-kali lipat," batin Leo senyum-senyum sendiri.


"Kara," panggil Leo.


"Hem?"


"Dua tahun yang lalu siapa cowok yang deket sama kamu waktu di alun-alun Bandung?" tanya Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya lalu bola matanya menurun ke bawah.


"Tiga cowok?" gumam Karamel karena yang ia ingat hanya ada tiga laki-laki yang dekatnya di kota Bandung.


"Bukan, satu cowok yang kamu tatap dan kamu nikmatin elusan tangannya," ucap Leo.


"Kak Biyan," ucap Karamel pelan kemudian ia mendongak menatap Leo.


"Kenapa sama Kak Biyan?" tanya Karamel.


"Siapa dia?" tanya Leo.


"Kakaknya Mika," jawab Karamel singkat.


"Kenapa dia bisa deket sama kamu?" tanya Leo.


"Aku, Kak Kenzi, Kak Biyan sama Mika itu temanan sejak kecil, kita berdua Kak Kenzi sering ke Singapura tempat Kak Biyan sama Mika tinggal," jawab Karamel tanpa ekspresi.


"Kenapa kamu nggak kasih tau aku sebelumnya, Kara?" tanya Leo.


"Buat apa aku kasih tahu kamu ...." perkataan Karamel berhenti kala mengerti maksud dari ucapan Leo, mata Karamel langsung menatap tajam mata Leo.


"Jangan bilang dua tahun yang lalu karena ngeliat aku sama Kak Biyan di alun-alun Bandung, kamu jadi cemburu trus pergi ninggalin aku," ucap Karamel berharap apa yang ia katakan tidaklah benar.


"Kamu pergi ke Bandung tanpa ngasih kabar ke pacar kamu dan di saat aku nyusul kamu, ternyata kamu lagi mesra-mesraan sama cowok lain padahal kamu tau aku pengen ke Bandung, aku yang kangen sama kamu malah dapet kejutan yang nyakitin hati aku, Kara." sengit Leo.


"J-jadi kamu ninggalin aku karena kamu ngira aku selingkuh?" batin Karamel sedih.


Karamel merasa dirinya juga bersalah karena tidak memberi kabar pada siapapun, tapi dia juga merasa benar karena dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Biyan.


"Aku sama Kak Biyan nggak punya hubungan apa-apa, kita berdua cuma sebatas kakak sama adik." ucap Karamel datar.


"Tapi interaksi kalian berdua terlalu berlebihan Kara," ucap Leo membuat Karamel mengepal tangannya.


"Jadi kamu nuduh aku selungkuh?" tanya Karamel menyipitkan matanya, lagi-lagi dirinya berharap Leo tidak akan sejahat itu menganggap dirinya telah berkhianat.


"Gimana aku enggak befikiran kayak gitu, ngeliat tingkah dan kedekatan kalian berdua udah pasti banyak orang yang ngira kalo kalian berdua itu punya hubungan spesial," ucap Leo seraya tangannya terkepal kuat.


"Aku salah karena nggak ngasih kabar ke kamu sama tingkah yang berlebihan, terus gimana sama kamu? Kenapa kamu nggak nyamperin aku trus nanya sama aku, siapa cowok yang bareng sama aku di sana? Kenapa kamu malah pergi ninggalin aku, Leo?" tanya Karamel dengan nada tinggi.


"Bukannya kamu bahagia ...."


"Bahagia? Iya waktu itu aku ngerasa bahagia tapi setelah kamu pergi, apa kamu tau gimana keadaan aku?" sengit Karamel menunjuk dirinya sendiri dengan geram.


"Aku selalu kesepian karena kamu nggak ada di sisi aku, Leo, aku ngerasa kehilangan kamu asal kamu tau," batin Karamel tidak berani mengungkapkannya pada Leo.


"Semurahan itukah aku di mata kamu, Leo?" tanya Karamel tidak menyangka Leo akan berfikiran buruk tentang dirinya.

__ADS_1


"Bilang ke aku, semurahan itukah aku di mata kamu?" pekik Karamel dengan mata berkaca-kaca.


Emosi Karamel meluap ketika Leo mengatakan saat itu dirinya bahagia padahal dirinya sangat-sangat menderita karena di tinggal begitu saja oleh pria itu.


"Aku nggak pernah punya niatan buat selingkuh dari kamu, kamu aja susah buat dapatin kepercayaan aku tapi dengan mudahnya kamu ngira aku bakalan duain kamu," lirih Karamel masih menahan air matanya.


"Kalo semisalkan aku yang ada di posisi kamu, mungkin aku yang akan pergi karena kamu emang di kenal laki-laki playboy sejak dulu, tapi enggak, aku nggak bod*h! Apapun yang udah jadi milik aku, aku bakal pertahanin itu." pekik Karamel dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


Leo tertunduk ketika melihat Karamel menangis di depannya, hati Leo berdegup kencang saat mendengar teriakkan pilu Karamel.


"Maaf," kata itu yang keluar dari mulut Leo.


"Kamu yang buat aku bahagia tap kamu juga yang buat aku menderita, kamu bilang kamu sayang sama aku, kalo kamu sayang sama aku, kamu pasti bakal mempertahanin aku sebagai milik kamu bukan ngerelain aku sama yang lain, Leo." lirih Karamel berlinang air mata.


Karamel tidak tahu kenapa dia harus menangisi masa lalunya, tapi mungkin dia marah karena Leo menuduhnya selingkuh atau dia marah karena Leo pergi karena masalah sepele, atau lagi dia marah karena Leo datang di saat Karamel sudah mulai membuka hatinya untuk laki-laki lain.


"Bod*h, dulu aku ngira kamu marah karena aku ninggalin kamu di Jakarta sendirian atau kamu mungkin milih kedua orang tua kamu buat pergi ke luar negeri tanpa sempat ngabarin aku. Aku berharap kamu bakal kembali tapi ternyata aku malah dapet kabar tentang seorang pengusaha muda dari Irlandia yang udah bertunangan sama model terkenal negara Inggris." ucap Karamel mengungkap semuanya.


"Kalo bukan karena seseorang yang ngasih tau soal kamu di Irlandia, mungkin sampai sekarang aku masih jadi orang bod*h yang terus berharap akan kembalinya kamu." lirih Karamel mengingat setiap pertemuannya dengan sang suami, kemudian Karamel menghela napas lalu ia menghapus air matanya.


"Gimana, apa kamu puas buat aku jadi orang bod*h? Apa kamu puas sama penjelasan aku?" tanya Karamel menatap Leo yang masih menunduk.


"Kalau begitu aku permisi ...."


"Aku enggak punya perasaan apa-apa sama Jessy," ungkap Leo membuat Karamel tidak jadi berdiri.


"Apa gunanya kamu ngomong kayak gitu ke aku sekarang, Leo. Kamu mau minta kesempatan dari aku? Itu mustahil! Karena aku udah punya suami yang jauh lebih baik dari kamu, jadi enggak akan ada kesempatan buat kita bisa kembali lagi kayak dulu," batin Karamel bisa menebak maksud dari ucapan Leo namun Karamel tidak menjawab dan hendak berdiri.


"Aku masih cinta sama kamu, Kara," ucap Leo mencekal tangan Karamel sehingga Karamel melepas paksa genggaman tangan Leo,


"Kamu udah pernah dapetin kesempatan dari aku, Leo. Sekarang udah enggak ada lagi kesempatan buat kamu jadi tolong jauhin aku," pinta Karamel berdiri dan pergi meninggalkan Leo sedangkan Leo hanya bisa mengepalkan tangannya kuat seraya mata pria itu berkaca-kaca.


............


"Sebesar apapun penyesalan kita di masa lalu, semuanya nggak akan bisa balik lagi kayak dulu, Leo." batin Karamel memejamkan matanya.


"Kita udah selesai sekarang," lirih Karamel.


Setelah sampai rumah, Karamel langsung berari menuju kamarnya, tidak perduli ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangab Karamel, wanita itu tetap berlari kencang.


"Kenapa gue harus marah sama dia? Kenapa gue harus nangisin dia lagi. Akhh! Gue benci ini, gue benci," pekik Karamel membenamkan wajahnya di bantal.


Tak lama dari meluapkan kekesalannya pada diri sendiri, Karamel pun tertidur hingga di sore hari Karamel bangun dan masak sesuatu untuk sang suami.


"Bik," panggil Karamel.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya asisten rumah tangga Henry yang paling tua di sana.


"Kara mau masak buat Mas Henry, bibik bantu Kara ya," pinta Karamel.


"Baik, Nya." patuh sang pelayan.


"Makanan kesukaan Mas Henry apa, Bik?" tanya Karamel seraya membuka kulkas.


"Apa saja bisa, Nyonya. Asal jangan telalu berminyak, Tuan tidak suka." ucap sang pelayan.


"Oke, mari kita mulai," ucap Karamel mulai memasak hingga satu jam kemudian Karamel sudah selesai dengan empat hidangan dan juga dua makanan penutupnya.


"Semoga Mas Henry suka," ucap Karamel pergi ke kamarnya dan memberisihkan dirinya di kamar mandi.

__ADS_1


..............


...Kediaman keluarga Mahendra _ Malam...


"Aku cinta sama kamu, Kara." racau Leo meneguk wine di ruang tengah kediaman keluarga Mahendra.


"Aku meninggalkan kekasihku dan membuat dia menderita," gumam Leo mulai tidak sadar.


"Kara, apa kamu nggak bisa maafin aku? Ya, Jangan, jangan pernah maafin aku karena aku udah buat kamu menderita," racau Leo lagi.


"Tuan, anda sudah terlalu banyak minum." ucap Jeffry.


"Anda harus menjaga kesehatan anda, Tuan." ucap Jeffry hendak mengambil gelas dari tangan Leo.


Ini yang kedua kalinya Jeffry melihat sang bos minum sampai habis beberapa botol.


Leo mendorong Jeffry hingga jatuh ke lantai.


"Dia menyuruhku untuk menjauh, dia tidak mencintaiku lagi," pekik Leo dalam keadaan sudah mabuk.


"Aku tahu Anda sangat mencintai Nona Karamel, Tuan, tapi ini sudah menjadi resiko dari keputusan Anda untuk meninggalkannya dulu." batin Jeffry.


"Apa perlu saya menelepon Nona Jessy, Tuan?" tawar Jeffry.


Prankkk! Leo melempar gelas yang ia genggam ke lantai, membuat Jeffry terperanjat kaget.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menelepon wanita itu, Hah?!" pekik Leo pada Jeffry.


"Maaf Tuan." ucap Jeffry menunduk.


Leo memegangi kepalanya frustasi, bayang-bayang wajah Karamel tiba-tiba terekam semua di benak Leo.


"Akhhh ...." teriak Leo kemudian pergi ke kamarnya.


Brakk! Leo menutup kasar pintu kamarnya.


"Maafin aku Kara, a-aku udah nyakitin kamu," lirih Leo terduduk di lantai bersandar di pintu kamarnya itu.


..............................


Henry pulang jam tujuh lewat dua puluh menit, ia berjalan ke kamarnya dan melihat sang istri yang sedang tersenyum di depan meja riasnya.


Wajah Henry tampak tidak bersahabat sekarang, "Apa kau bahagia, Baby Girl?" tanya Henry datar.


Karamel semakin tersenyum melihat suaminya dari pantulan kaca, "Tentu aku bahagia, Mas. Aku sedang membaya ...." ucapan Karamel terpotong.


"Sedang membayangkan pertemuanmu dengan mantanmu tadi siang," sengit Henry membuat Karamel melebarkan matanya kaget.


"Bagaimana ...."


Henry mendekati Karamel, "Kau membohongi suamimu, Kara," sentam Henry membuat Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya.


"Aku ...."


GREPP....


Henry mencekik leher Karamel, tatapan tajam dan dingin dari Henry membuat Karamel ketakutan setengah mati. Henry sangat marah karena istrinya bahagia oleh laki-laki lain, dan laki-laki itu adalah mantan kekasih yang pernah Karamel cintai.


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2