Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 142


__ADS_3

Mohon kebijakan kalian saat membaca! Di part ini ada banyak konten kekejaman yang sekiranya tidak pantas di baca, boleh di skip aja ya wak-wak reader ....


...HAPPY READING TO EVERYONE ....!...



.


.


"Aku katakan sekali lagi lepaskan tanganmu dari wajah daddyku, Bit*h." pekik Henry lagi dan cukup sudah Karamel membiarkan Henry berbicara.


Srettt ....


"Aghhhh ....!" ringis Rega Ananda.


Semua yang ada di ruangan itu terperangah kaget ketika Karamel bergerak sangat cepat dan hasilnya darah segar menempel di tangan Karamel.


"Daddyyy ...." pekik Henry kaget karena Karamel menyayat pipi kanan Rega Ananda dan hampir mengenai bibirnya.


"Beruntung aku belum membelah bibirmu Rega Ananda," ucap Karamel sumringah.


"Kau, Jal ...."


"Setiap kata yang tidak aku sukai keluar, itu akan menjadi tetesan darah yang mengalir dari tubuh daddymu " sengit Karamel membuat para Mafioso Vic's Bloody Wolf dan The Shadow Of The Queen menelan saliva mereka.


Dan untuk Henry tentu dia langsung mengurungkan perkatannya barusan karena tidak mau melihat sang daddy di siksa lagi oleh Karamel.


"Siapa kau sebenarnya, apa keuntunganmu menyiksa kami! Hah?" pekik Rega Ananda.


"Ternyata luka yang ku berikan terlalu kecil sehingga mulutmu masih bisa berteriak kepadaku, Rega Ananda." ejek Karamel.


"Hahaha .... apa kau lupa kejadian empat tahun yang lalu saat kau memerintahkan pionmu Alex untuk membunuhku?" tanya Karamel cepat.


"Leader The Shadow Of The Queen," ucap Karamel pelan dan itu berhasil mengejutkan Rega Ananda.


"Karena perintahmu, Alex menjadi salah sasaran dan malah membunuh tangan tanganku yang di mana tangan kananku adalah kakak kandung dari polar prince." sarkas Karamel membuat bulu kuduk Rega Ananda merinding.


Di depan mereka saat ini ada Leo yang tengah duduk di kursi kebesaran milik Karamel, sembari memainkan jemarinya, Leo menatap tajam ke arah Rega Ananda.


"Dan aku akan membuatmu menderita setelah ini, Rega Ananda," ucap Leo semakin membuat Rega Ananda kaget karena ternyata kedua leader itu punya hubungan dekat, bahkan sekarang bersekongkol untuk membalas dendam kepada dirinya.


"Akhhhh kau ... bod*h kau Alex, kau membuatku dalam masalah besar karena berurusan dengan dua leader terkuat ini," pekik Rega Ananda dalam hati.


"Siapa Alex, aku tidak mengenal ... Aghh ...."


Rega Ananda tidak dapat menyelesaikan perkataannya dan malah meringis karena Karamel menampar pipi kanannya yang terluka.


"Masih mau mengelak rupanya," sengit Karamel


"Kau breng ...."

__ADS_1


"Lady queen panggil aku lady queen atau kata yang tidak aku sukai akan menjadi luka bagi Rega Ananda," pekik Karamel membuat Henry melotot.


Henry mengeraskan rahangnya membuat Karamel senang bukan main, ia berhasil membungkam Henry dengan kelemahannya.


"Apa yang kau inginkan! Hah?" pekik Rega Ananda.


"Apa kau mau aku membuatmu di ambang kematian," sengit Karamel, sejak tadi Rega Ananda terus saja berteriak kepadanya, dan telinganya risih di buatnya.


"Kau ...." ucapan Henry berhenti kala Karamel mendaratkan belatinya pada pipi kiri Rega Ananda.


Srett! Belati itu menyayat pipi Rega Ananda sampai mengenai bibir pria itu.


"Aghh ....!" ringis Rega Ananda kesakitan.


"Brengs*k, kenapa kau melukai daddyku lagi!" pekik Henry memberontak.


"Robek baju Rega Ananda sekarang." titah Karamel pada bawahannya.


"Apa yang akan kau lakukan, Jala*g." pekik Henry, sontak Karamel menatap tajam dirinya.


"Ambilkan cambuk!" titah Karamel dan Daniel langsung bergegas mengambil cambuk untuk Karamel.


Ce-tar! Ce-tar! Ce-tar! Karamel mencambuk tubuh Rega Ananda sebanyak tiga kali.


"Karena dua kali kau tidak memanggilku lady queen dan satu kali kau masih mengucapkan kata bit*h, jangan salahkan aku menghukum Rega Ananda karena ulahmu sendiri, Henry Del Nixon," sengit Karamel membuat Henry memelototinya.


"Jika kau ingin membalas dendam, lebih baik kau bunuh saja aku," pekik Rega Ananda dengan menahan perih di bibirnya.


Lagi, Karamel mencambuki tubuh Rega Ananda sampai teriakkan kesakitan Rega Ananda memenuhi ruangan luas itu.


"Hentikan! Aku mohon jangan siksa Daddyku, Queen," pekik Henry terpaksa membuat Karamel membuang cambuknya dan tersenyum menghampiri Henry.


"Ini sulit di percaya, demi Rega Ananda, kau rela berteriak memohon kepadaku ... kau, sang penguasa hebat, apa seberharga itu Rega Ananda bagimu?" tanya Karamel.


"Dia adalah Daddyku, Daddy kandungku. Aku tidak akan mungkin rela melihat dia terluka karena siksaan dari kalian ...."


"Wow, aku sangat terharu mendengarnya, kau tidak rela melihat Daddymu terluka seperti ini tapi kau rela membunuh ibu kandung yang melahirkanmu dan membunuh ibu tiri yang sangat menyayangimu. Apa pantas kau berkata seperti itu kepadaku?" ucap Karamel membuat Henry dan Rega Ananda terbelalak kaget karena rahasia lama yang mereka kubur, bisa di ketahui oleh Karamel.


"Bagaimana dia bisa tau tentang kematian Mommy Selena dan Mommy Agnes," batin Henry.


"Siapa kau? Bagaimana bisa kau tau tentang masa lalu kami?" pekik Rega Ananda.


Karamel mengeraskan rahangnya karena dalam keadaan lemah Rega Ananda masih bisa terus saja berteriak kepadanya.


Pada akhirnya Karamel berjalan mendekati Leo, kerutan di dahi Karamel bisa Leo lihat dengan jelas jika wanitanya iti sedang merasa kesal.


"Siksa dia sekarang," bisik Karamel membuat Leo tersenyum lebar, dengan senang hati Leo menganggukkan kepalanya.


Karamel duduk di tempat Leo tadi, sedangkan Leo berjalan mendekati Rega Ananda dengan mengeluarkan belati kecilnya.


"Apa yang mau kau lakukan, Brengs*k." pekik Rega Ananda pada Leo yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Menyiksamu," ucap Leo mendekatkan belati kecilnya ke tangan Rega Ananda.


Srettt ....


Srettt ....


"Kau ... Aghh ....!" ringis Rega Ananda membuat Leo semakin memperbanyak lukisan di tangan Rega Ananda.


Melihat darah segar yang keluar dari kulit Rega Ananda, senyum Karamel terpatri sangat indah di wajahnya sehingga bayangan Vian tiba-tiba muncul di benak Karamel, seketika itu juga tangan Karamel terkepal kuat serta rahangnya juga ikut mengetat.


"Mereka pantas mendapatkan siksaan ini, Vian," gumam Karamel menatap penuh kebencian pada Henry yang terus saja berteriak karena melihat daddynya di siksa mati-matian oleh Leo.


Sekilas Leo menatap Henry, lalu Leo menggapai telapak tangan kiri Rega Ananda dan memotong satu-persatu jari tangannya, melihat itu Henry memberontak tak karuan.


"Cukup, hentikan ... jangan siksa daddyku, Brengs*k." Pekik Henry namun tidak di hiraukan oleh Leo.


Leo melanjutkan penyiksaannya brutalnya, sampai bayangan sang kakak yang tersenyum kepada Leo lewat begitu saja di benak Leo, kebrutalan Leo semakin menjadi-jadi.


"Ambikan air garam," titah Leo mambuat Rega Ananda dan Henry terkejut.


"Jang-an, ja ... agh-ngan lak ... jang ... ha-an." ucap Rega Ananda sulit untuk bicara karena merasakan perih di bagian mulutnya.


Daniel membawa air garam dan memberikannya pada Leo, tanpa berbasa-basi Leo langsung menyiram penuh semua luka yang ada di tubuh Rega Ananda hingga Rega Ananda meringis dan berteriak histeris–merasakan perih dan sakit.


"Ambilkan toya rotan," titah Leo.


Leo menerima toya rotan yang di berikan oleh Daniel, "Ini hukuman karena kau telah menjadi pemimpin yang jahat, Rega Ananda." ucap Leo memukul kaki Rega Ananda.


Buk ... akhh, ringisan Rega Ananda membuat Henry berteriak memohon agar berhenti.


"Ini hukuman karena kau telah memerintahkan Alex untuk membunuh leader The Shadow Of The Queen dan malah kakakku yang terbunuh." ucap Leo memukul kaki Rega Ananda lagi.


Buk ... akhh, Rega Ananda meringis kesakitan lagi dan Henry memberontak sembari berteriak memanggil sang daddy.


"Ini hukuman karena kau punya niat jahat pada keluarga kekasihku dan membuat kekasihku menderita sampai kekasihku kehilangan anggota keluarganya," pekik Leo kembali memukul kaki Rega Ananda hingga Rega Ananda meringis lagi dan lagi.


Henry berhenti memberontak dan mengernyit menatap Leo yang terus-menerus mengatakan 'kekasihku' lain halnya dengan Karamel yang memelotot kaget dengan detak jantung yang perpacu sangat cepat.


"Ke-kekasih?" gumam Karamel pelan.


Deg! Deg! Perasaan ini, perasaan apa yang sedang Karamel alami saat ini, kenapa sangat familiar? Rasanya ini pernah ia alami saat ia menjadi murid putih abu-abu. Jantungnya kembali tertarik seperti dulu, kembali merespon seperti saat pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta.


"Enggak mungkin," gumam Karamel ingin menyangkal apapun yang tengah ia fikirkan saat ini


.......


.......


.......


...::: Bersambung :::...

__ADS_1


__ADS_2