
"Jangan-jangan ...." Karamel tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena handphonenya berdering lagi.
Tringg ....
"Aish, dia nelepon lagi?" gumam Karamel.
Karamel mengangkat teleponnya namun ia tidak mau mengeluarkan suaranya, "Halo ....!!!" suara yang tidak asing di telinga Karamel.
"Kara?" panggilnya.
"Leo?!" ucap Karamel.
"Kamu masih inget sama suara aku." ucapnya membuat Karamel langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kenapa setelah gue nggak mau berhubungan sama dia lagi, dia malah datang dan ganggu gue terus." kesal Karamel.
Tringg ....
"Masya Allah, mau apa lagi sih Leo?! Gue itu udah punya suami jadi tolong jangan ganggu gue lagi." celoteh Karamel pada handphonenya.
Karamel menelepon Diky untuk datang ke rumahnya, namun ternyata kelas Diky dan Adit sedang banyak tugas jadi mereka tidak bisa bolos hari ini.
"Apa gue pulang ke rumah aja ya?" gumam Karamel.
"Oke gue ... aihh, Mas Henry pasti marah kalo gue keluar nggak izin dulu sama dia." ketus Karamel.
Ayolah! Karamel tidak akan betah berlama-lama di rumah, dua puluh menit saja sudah membuatnya bosan apalagi jika sampai menunggu suaminya pulang. Oh tidak Karamel tidak akan tahan.
........................
...Kediaman keluarga Mahendra (Indonesia)...
Leo menghela napas berat kala teleponnya tidak di angkat lagi oleh Karamel, mungkin rasa kecewa wanita itu terhadap dirinya sangat besar dan pastinya itu akan sulit untuk Leo mendapatkan kepercayaan Karamel lagi.
"Tiga ratus lima puluh lima hari, itu hari di mana kamu berhenti nungguin ... apa kamu cemburu karena aku tunangan sama Jessy? Kalo bener, itu artinya kamu masih cinta sama aku," ucap Leo.
"Kalo semua bukti yang aku cari udah ada di tanganku, aku pasto bakal jelasin semuanya sama kamu. Jadi, tunggu sebentar lagi, aku pasti bakal nyelesaiin semuanya biar kita bisa balik lagi kayak dulu." ucap Leo.
Leo menelepon Jeffry yang sedang pergi ke bandara untuk kembali ke Irlandia.
"Setelah semua rekaman suara dan rekaman CCTV yang di berikan oleh Morgan ada di tanganmu, kau harus menyekap Morgan dan juga Jessy, kurung mereka di mansionku," titah Leo to the point.
"Baik, Tuan." patuh Jeffry.
Setelah menyampaikan itu, Leo langsung mematikan sambungan telepon.
"Cukup sabar aku menghadapi ancamanmu Jessy, sebentar lagi aku akan membongkar semua kebusukanmu dan juga kekasih iblismu itu," gumam Leo menggenggam erat handphonenya.
................
...Kantor GV Del Nixon Internasional....
"Apa sekertaris Zoeya sudah masuk kantor hari ini?" tanya Henry pada Andi.
Zoeya adalah sekertaris Henry dari perusahaannya yang di Amerika lebih tepatnya di San Francisco (California), sudah lama Zoeya bekerja menjadi sekertaris Henry dan sekarang Henry menyuruh Zoeya untuk datang ke Indonesia karena ada kendala yang harus di bantu oleh Zoeya.
Tok ... tok ... tok ....
__ADS_1
Henry dan Andi menoleh ke arah pintu, "Masuk!" titah Henry.
"Permisi Tuan, saya ingin mengantarkan proposal yang anda minta." ucap Zoeya.
Henry mengangguk lalu ia mengambil proposal yang di serahkan Zoeya.
"Kau memang sekertaris yang hebat, Zoe." puji Andi.
"Thank you, Andi." ucap Zoeya tersenyum pada Andi.
"Tentu, aku harus menjadi orang yang pandai di andalkan agar bisa mengambil hati dari Tuan Henry Del Nixon, Andi." batin Zoeya menatap lekat Henry yang sibuk memeriksa proposalnya.
"Bagus, kita akan langsung melakukan rapat sekarang." ucap Henry.
"Tapi jadwal pagi ini, Anda ada briefing penting dengan Tuan Blende, Bos." ucap Andi.
Degg ....
Zoeya melebarkan matanya, "Daddy?!" batin Zoeya terkejut kala Andi menyebut nama 'Tuan Blende,'
Henry memijat pelan pelipisnya, Henry baru ingat pagi ini dia ada pertemuan dengan Tuan Josh Blende, Henry tidak mungkin mengundurnya atau membatalkan setiap pertemuan dengan rekannya begitu saja.
"Baiklah, Zoeya ...."
"Aaaakhhh em ...." Zoeya berpura-pura meringis kecil agar bisa di dengar oleh Henry dan Andi.
"Kau kenapa, Zoe?" tanya Henry datar.
"Sebenarnya saya sedang tidak enak badan, Tuan. Tapi tidak apa saya akan ...."
"Tapi Tuan ...."
"Kau sudah bekerja keras mengurus proposal ini, jadi aku memberimu cuti sampai sakitmu sembuh." potong Henry lagi.
"Baik Tuan, Terima kasih." ucap Zoeya menundukan kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan." ucap Zoeya pergi dari ruangan Henry.
"Kita pergi sekarang." ucap Henry pada Andi.
"Baik Tuan." patuh Andi.
Mereka berdua pun pergi menuju basement melalui lift pribadi Henry.
..............................
Mansion Henry.
Karamel benar-benar tidak tahan berdiam diri di rumah, ia menelepon sang suami untuk meminta izin pergi ke rumahnya namun nomor Henry selalu gagal di hubungi membuat Karamel kesal setengah mati.
"Jika nomornya saja tidak aktif, akan percumah bagiku mengirim pesan kepadanya." monolog Karamel melempar handphonenya di kasur.
"Astaga, kau salah mengurungku di rumah, Mas. Aku bukanlah anak rumahan! Seperti kata Bang Aza, aku ini anak bar-bar yang tidak tahan berdiam diri di rumah." celoteh Karamel sendirian.
Karamel memutar fikirannya lalu ia mendapatkan ide cemerlang, di raihnya handphone yang ia lempar tadi dan di letakannya di telinga kanannya.
"Halo Mah," Karamel.
__ADS_1
"(.....................)"
"Baik Mah, Mama sama Papa gimana kabarnya?" tanya Karamel balik.
"(.....................)"
"Iya, Karamel pengen ketemu Mama. Mama di mana sekarang?" tanya Karamel.
"(.....................)"
"Kantor Mama?" gumam Karamel.
"(.....................)"
"Oke, Karamel ke sana sekarang." ucap Karamel antusias.
"(.....................)"
"Oke, Mamaku sayang." sahut Karamel.
Setelah sambungan telepon terputus Karamel langsung beranjak dari kasur untuk bersiap-siap pergi keluar.
"Aku pergi karena di suruh Mama, Mas. Jadi kau tidak punya alasan untuk marah denganku." gumam Karamel langsung meraih kontak mobilnya.
Di garasi bawah tanah Karamel menatap mobil BMW i8 yang sudah lama tidak ia pakai, Henry mengizinkan Karamel untuk membawa mobilnya ke mansion Henry namun Karamel tidak boleh sering-sering memakai mobil itu. Karena Henry sudah bertekad kemanapun Karamel pergi, Pak Maulana (Supir pribadi Karamel) atau Luhan akan mengantarkannya.
Karamel menghidupkan mesin mobilnya lalu ia mengeluarkan mobilnya dari garasi, "Buka gerbang." titah Karamel.
"Maaf Nyonya ...."
"Aku sudah minta izin dengan Tuan kalian." ucap Karamel bohong.
"Jika kalian tidak percaya aku akan menelepon Tuan kalian lalu mengatakan kalian menghalangiku untuk pergi bertemu dengan Mama mertuanya, Bagaimana." sengit Karamel menakut-nakuti bodyguard Henry.
"Baik Nyonya, kami akan membuka gerbangnya." ucap empat bodyguard itu.
"Bod*h." batin Karamel.
Setelah gerbang itu terbuka Karamel menjalankan mobilnya sedikit dan berhenti tepat di tengah gerbang itu, "Jangan ada satu bodyguardpun yang mengikutiku atau aku akan menyuruh suamiku untuk membelah leher kalian satu-persatu." tukas Karamel langsung menancapkan gasnya untuk pergi ke kantor sang mama.
Glukk ....
Keempat bodyguard Henry terpaku mendengar ancaman sang Nyonya besar.
"Pantas saja Tuan mau menikahi Nyonya, ternyata sifat kedua majikan kita sama-sama kejam." gumam salah satu bodyguard itu.
"Kau benar." sahut dua bodyguard lainnya.
"Sssttt, jangan bicara sembarangan. Ingat, dinding dan tumbuhan di sekeliling kalian banyak yang memata-matai gerak-gerik se isi mansion ini." ucap salah satu bodyguard lainnya mengingatkan ada banyak CCTV yang memantau mansion itu.
.
.
.
::: Bersambung :::
__ADS_1