
...Markas Utama The Shadow Of The Queen (Los Angeles)....
Daniel meletakkan sebuah benda berbentuk bulat di meja Lady Queen, "Ada pesan dari Polar Prince yang ingin mengundang kita untuk datang ke markas mereka di Irlandia." ucap tangan kanan Lady Queen atau Karamel yaitu Daniel Kirasaghi
"Polar Prince?" beonya duduk dengan membelakangi Daniel yang sedang berdiri.
"Benar," ucap Daniel.
"Bukankah seluruh dunia tahu The Shadow Of The Queen sudah tidak ada lagi lalu bagaimana bisa Polar Prince mengundang kita untuk datang ke markasnya? Apa dia tahu aku menyerahkan semua mafiosoku untuk kau jaga, Daniel?" tanyanya.
"Aku rasa dia tahu, dari pesannya saja dia meminta The Shadow Of The Queen untuk bergabung dengan mereka." ucap Daniel.
"Katakan kita menerima undangan dari Polar Prince namun kita akan menunda pertemuannya." titahnya dengan tegas.
"Bukankah ini kesempatan kita untuk meminta bantuan ...."
"Katakan saja begitu, Daniel." bentaknya membuat Daniel langsung mengangguk lalu ia keluar dari ruangan yang gelap dan di terangi oleh satu cahaya dari jendela dan satu lampu yang berada di atas tempat duduk Lady Queen.
"Polar Prince! Akhirnya aku bisa ketemu sama laki-laki yang aku kagumi selama ini, Vian." ucap Karamel membalikan kursinya hingga menghadap ke arah meja depan.
Setelah Daniel menyampaikan pesan ke mafioso Polar Prince, Daniel kembali lagi ke ruangan Lady Queen untuk menyampaikan bahwa pesan suratnya telah ia kirim pada mafioso Polar Prince.
"Siapkan penerbangan kita ke Irlandia sore ini juga," titah Karamel membuat Daniel melebarkan matanya, baru saja pria itu mengirimkan balasannya pada mafioso Polar Prince tapi pimpinannya itu malah berubah fikiran.
"Tapi Lady ...."
"Aku rasa kita bisa bertemu dengannya segera tapi aku ingin mereka yang membantuku terlebih dahulu baru kita yang akan membantu mereka." ucap Karamel dengan tatapan tajam, namun Daniel merasa pimpinannya itu sengaja mempermainkan Polar Prince.
"Baik, lady." sahut Daniel patuh saja.
.........
Setelah Karamel dan Daniel sampai di Irlandia, paginya mereka berdua langsung menuju lokasi markas Polar Prince, di ikuti oleh empat anak buah Karamel yang lain.
"Apa benar ini tempatnya?" tanya Karamel sembari melirikkan matanya ke sekeliling tempat itu kemudian ia memakai topengnya.
"Benar, Lady." sahut Daniel.
"Baiklah, kita ke sana sekarang," ucap Karamel lalu mereka berjalan hingga saat di depan markas yang dindingnya penuh dengan gambaran serigala, Karamel membaca nama mafia nomor satu di dunia yang selama ini tersembunyi identitasnya.
"Vic's Bloody Wolf," gumam Karamel lalu wanita itu mengeluarkan benda berbentuk bulat yang di berikan Daniel tadi lalu mengangkatnya ke atas kepala.
"Aku Lady Queen, leader The Shadow Of The Queen telah di undang secara resmi oleh Polar Prince ingin bertemu dengan pimpinan kalian sekarang," ucap Karamel dalam bahasa inggris pada para mafioso yang berjaga di luar markas.
Melihat benda yang ada di tangan wanita itu, para mafioso Vic's Bloody Wolf langsung mempersilahkan wanita itu serta tangan kanannya masuk ke markas untuk bertemu dengan Polar Prince sedangkan empat anak buah Karamel yang lain di perintahkan untuk menunggu di luar.
__ADS_1
Ketika masuk ke dalam markas Karamel dan Daniel merasakan aura yang mencekam, "Sangat berbeda dengan markasku," ucap Karamel merasakan aura markas itu lebih mengerikan di bandingkan miliknya.
Salah satu mafioso itu menunjuk pintu ruangan Polar Prince, "Thank you!" ucap wanita itu lalu mafioso itu pergi meninggalkan mereka berdua. Karamel dan Daniel berjalan menuju pintu ruangan Polar Prince.
"Aku harus bagimana sekarang, Kak?"
Degg! Langkah Karamel langsung berhenti tepat di depan pintu itu ketika telinganya tidak sengaja mendengar suara seseorang dari balik pintu itu.
"Ada apa, Lady?" tanya Daniel sehingga Karamel menatap Daniel dengan tajam, wanita itu mengenal pemilik suara itu namun ia ragu untung mengungkapkannya.
"Tidak, aku hanya merasa seperti mengenal suara itu saja," ucap Karamel lalu dirinya ingin membuka pintu itu, namun tiba-tiba ia mendengar nama yang di ucapkan oleh seseorang di dalam sana.
"Kak Vian!"
Degg! Karamel melebarkan matanya lalu ia menarik tangannya dari handle pintu itu, siapa yang ia dengar tadi? Vian? Nama Vian di sebut seseorang di dalam sana.
"Vian?" batin Karamel.
"Aku harus membunuh Henry dan juga Rega Ananda karena dulu perintah Rega Ananda yang ingin membunuh leader The Shadow Of The Queen, Alex melesetkan pelurunya ke jantungmu hingga kau meninggal dunia, dan sekarang karena dendam lama Rega Ananda kepada kakek Berrold, Henry membuat orang yang aku cintai meninggal dunia."
Karamel maupun Daniel sangat terkejut mendengar ucapan orang itu, kini Karamel sangat yakin bahwa orang yang ada di dalam itu adalah orang yang ia kenal.
"Leo," gumam Karamel sambil mengeraskan rahangnya lalu wanita itu menendang pintu ruangan itu, Karamel mendekati Polar Prince yang tampak terkejut lalu wanita itu mendorong tubuh Polar Prince hingga ke dinding, setelah itu Karamel menyodorkan pistol ke kening Polar Prince.
Dengan sigap Avido menyodorkan pistolnya pula ke arah Karamel, dan tanpa Avido sadari, Daniel juga menyodorkan pistolnya di kepala bagian belakang Avido.
"Bedebah !" pekik Karamel murka membuat Leo membulatkan matanya terkejut, mata keduanya bertemu satu sama lain.
"K-Kara?!" gumam pria itu tentu mengenali pemilik mata biru ke abu-abuan itu, Karamel melempar pistolnya ke sembarang tempat, entah kenapa dirinya tidak berani menembak pria bajin*an itu dan. Bugg! Karamel hanya bisa memukul wajah pria itu hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Kamu ... i hate you Cleo, i hate you." pekik Karamel membuat tangan kanan Polar Prince terbelalak kaget kala wanita itu tahu nama asli pimpinannya.
Pria itu berdiri lalu ia menghadap ke arah Karamel, "Kara, ini beneran kamu, k-kamu masih hidup, kamu nggak ninggalin aku, kamu ...."
Pria itu tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Karamel hendak pergi dari sana, dengan cepat pria itu memeluk tubuh Karamel dari belakang
"Enggak, jangan pergi. Aku mohon, aku mohon, aku mohon!" racaunya dengan tubuh bergetar, pria itu sangat takut di tinggalkan oleh wanita yang sangat ia cintai itu.
"Lepas," sengit Karamel.
"Aku bakal ngelepasin kamu tapi aku mohon dengerin penjelasan aku dulu, Kara. Aku mohon!" pintanya dengan lirih
"Apa yang perlu di jelasin ...."
"Semuanya, kamu pengen denger semuanya 'kan? Aku bakal jelasin semuanya ke kamu," potongnya. Avido yang melihat suasana yang tidak mengenakkan di pandang langsung membalikan badannya untuk pergi, Avido melebarkan matanya ketika sebuah pistol berada tepat di depan matanya.
Daniel yang melihat ekspresi itu langsung tersenyum meremehkan Avido.
__ADS_1
"Kau ... apa yang kau lakukan?" tanya Avido memelototi Daniel.
"Kau yang duluan menyodorkan pistolmu pada Lady Queen jadi aku ikut bertindak untuk melesetkan peluruku ke kepalamu," ucap Daniel santai membuat Avido semakin melebarkan matanya
"La-Lady Queen?" gumamnya.
"A-aku tidak tau jika itu adalah Lady Queen, kalian datang ...."
"Avido, bawa Daniel keluar," titah Leo.
"Kau dengar, singkirkan pistolmu sekarang dan kita keluar dari sini," ucap Avido.
"Tidak akan, bagaimana jika Lady Queen ...."
"Tidak akan terjadi apa-apa pada Lady Queen, Polar Prince kami tidak seburuk yang kau fikirkan," potong Avido.
Daniel menoleh ke arah Leo dan Karamel, melihat Karamel menganggukan kepala, Daniel langsung menyimpan pistolnya lalu pergi dari ruangan itu bersama Avido.
...........
...Los Angeles _ Ruang keluarga....
Ketika sampai di mansion, salah satu bodyguard grandpa Berrold memberi sebuah benda berbentuk bulat dan bergambarkan kepala serigala kepada Kenzi.
"Kenapa lo megang benda itu terus sih, Ken. Penasaran lo?" tanya Faza sembari memakan cemilan kentang goreng.
"Baca nih," tukas Kenzi memberi selembar kertas kecil dan Faza mengambil kertas itu.
"Keluarga kalian sedang dalam bahaya, datanglah ke tempat ini maka kalian akan tahu bahaya apa yang menimpa keluarga kalian." ucap Faza membaca isi kertas itu.
"Ngaco nih kertas," ucap Faza tidak percaya akan isi kertas itu.
"Lo tau Polar Prince?" tanya Kenzi dan di balas anggukan oleh Faza.
"Pesan ini dari Polar Prince." ucap Kenzi membuat Faza tersenyum mengejek.
"Mimpi lo ya dapet pesan dari Polar Prince," ejek Faza membuat Kenzi memutar bola matanya lalu Kenzi menyodorkan benda bulat yang ada di tangnnya itu.
"Polar Prince." pekik Kenzi menunjuk tulisan nama Polar Prince ada di benda itu.
Uhukk! Uhukk! Faza tersedak kentang goreng kala Kenzi berteriak sembari menyodorkan benda itu ke wajahnya.
"Set*n lo," umpat Faza berlari ke dapur untuk minum sebanyak-banyakknya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...