Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part _ 146


__ADS_3

Karamel duduk di atas meja yang membelakangi pintu, sehingga saat Leo masuk tanpa mengeluarkan suara apapun, Karamel tetap di posisinya tanpa tahu di ruangan itu kini bukan hanya ada dirinya seorang.


"Melamun?" batin Leo seraya berjalan pelan mendekati Karamel hingga berdiri tepat di depan Karamel yang ternyata sedang memejamkan matanya.


Leo tersenyum memandangi wajah sang mantan tercinta, Leo ingat dulu ketika masih berpacaran dengan Karamel, Leo sering memeluk Karamel di saat Karamel sedang berdiri, duduk ataupun berjalan.


Tapi kini ....


"Kara," panggil Leo pelan, ternyata Leo tidak berani melakukan tindakkan nekat memeluk Karamel seperti dua tahun yang lalu.


Karamel refleks membuka matanya, dan seketika pula mata Karamel memelotot kaget.


"Kamu ... se-ejak kapan kamu di sini?" tanya Karamel gelagapan.


"Lima menit yang lalu, mungkin." sahut Leo membuat Karamel mengerutkan dahinya.


"Lagi mikirin apa?" tanya Leo membuat Karamel semakin melebarkan matanya.


"A em nggak ada, aku nggak lagi mikirin apa-apa," elak Karamel turun dari meja dan menjauh dari Leo dengan berdiri membelakanginya.


Melihat gelagat Karamel yang tidak biasa, Leo tersenyum jahil menatap punggung Karamel.


"Aku serius sama omongan aku tadi, Kara. Aku bakal berusaha buat kamu cinta lagi sama aku," ucap Leo dengan tatapan tajamnya.


Deggg! Detak jantung Karamel langsung merespon dengan sangat cepat, sehingga refleks Karamel memegangi dadanya.


"Ck! kenapa Leo malah bahas so'al itu sih," batin Karamel merasa gugup.


Leo berjalan mendekati Karamel dan Karamel membalikkan badannya untuk menghadap Leo. Dan kini mereka berdua berhadapan dengan saling memandang satu sama lain.


"Kara," panggil Leo lembut.


"Maafin aku Leo, dulu aku ngeraguin kamu yang seharusnya enggak ... huftt, aku enggak pantes bersanding sama kamu karena ...."


"Aku salah karena ninggalin kamu dan ngebiarin kamu bersanding sama laki-laki lain sampai kita terpisah jauh, Kara. Tapi aku nggak pernah ngerasa kehilangan kamu, aku yakin takdir pasti bakal mempersatukan kita lagi." potong Leo cepat.


"Gimana mungkin aku pantas buat kamu sedangkan aku udah di sentuh sama laki-laki lain, Leo." sahut Karamel lirih.


"Kamu segalanya buat aku! Meski kamu mengandung anak Henry, aku bakal tetap nerima kamu, menyayangi dan juga menjaga kalian berdua, Kara." ucap Leo serius.


Karamel melebarkan matanya, apa yang ucapkan Leo tadi? Meski dirinya mengandung anak laki-laki lain, Leo akan tetap menerimanya.


Karamel ingin merintihkan air matanya, betapa bod*hnya Karamel dulu yang percaya bahwa Leo meninggalkannya karena sudah tidak mencintainya lagi, buktinya sekarang Leo masih mencintainya dan ingin menerimanya meski ia mengandung anak Henry.


"Maafin aku Leo," lirih Karamel menundukkan kepalanya, sungguh Karamel sedang berusaha keras untuk tidak cengeng di depan Leo.


"Maaf karena aku enggak bisa menjaga kesucian aku." sambungnya lagi.


Leo berjalan selangkah lalu Leo menggapai kedua tangan Karamel dan menggenggam erat kedua tangan itu.


"Kamu nyerahin mahkota berharga kamu sama suami kamu yang sah di mata hukum dan agama Kara," ucap Leo lembut.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang minta maaf karena aku biarin kamu jadi tawanan Henry," ucap Leo membuat Karamel mendongak.


Leo menghela napas menatap netra Karamel yang menggenang ingin tumpah, hati Leo sakit saat melihat mata indah Karamel ingin menumpahkan air matanya.


"Semua udah berakhir, jangan pernah berfikir aku bakalan ngerasa jijik sama kamu, Kara. Karena itu nggak akan pernah terjadi." ucap Leo tersenyum tipis.


"Aku sayang sama kamu dan cinta sama kamu sejak dulu, sejak aku kenal kamu sebagai Tania yang cupu," sambung Leo mengusap pipi Karamel.


Karamel tersenyum mengangguk lalu Leo memeluk Karamel dan Karamel membalas pelukan hangat Leo.


Lama mereka berpelukkan Leo membuka matanya dengan terus mengelus puncak kepala Karamel.


"Jadi, persiapin diri kamu besok ya, kita bakal nikah di mansion Fico dengan di saksikan oleh mantan suami kamu juga." ucap Leo membuat Karamel terbelalak kaget.


"Nikah? Besok? Gimana caranya? Papa aku aja ...."


"Setelah pemakaman Nenek Bertty sama Tante Sofi selesai, Om Sanjaya bakal dateng ke Kanada," ucap Leo sehingga Karamel melepas pelukkannya.


"Apa ini enggak terlalu buru-buru, kita 'kan baru aja mulai semuanya jadi ...."


"Kamu sendiri yang bilang di depan Henry besok adalah hari pernikahan kita terus kenapa sekarang kamu bilang ini sangat terburu-buru?" tanya Leo membuat Karamel tersenyum cengengesan.


"Aku, aku, orang aku tadi cuma ngikutin permainan kamu aja kok." elak Karamel.


"Tapi tadi aku lagi enggak main-main loh sama ucapan aku ... oh, jadi kamu enggak bersungguh-sungguh mau nikah sama aku tadi. Aku kira kita bakal benar-benar nikah besok tapi ... huftt." Leo berpura-pura sedih di depan Karamel.


"Kok kesannya di sini gue yang jahat ya?" batin Karamel dengan wajah kesal.


"Bu-bukan gitu maksud aku ...."


"Ja-jadi kamu serius mau nikahin aku?" tanya Karamel membuat Leo menyipitkan matanya lalu ia mendongakan kepalanya.


"Aku serius mau nikah sama kamu tapi keputusannya 'kan ada di tangan kamu, aku nggak akan maksa kamu buat nerima aku," ucap Leo menatap dalam manik mata Karamel membuat jantung Karamel berdebar tak karuan.


"Karena lebih baik aku ngeliat kamu bahagia hidup sama laki-laki lain yang kamu cintai dari pada kamu harus terpaksa nikah sama aku demi buat Henry menderita," sambung Leo serius.


Entah kenapa Karamel merasa sakit jika Leo harus melepas dirinya bersanding dengan laki-laki lain, itu artinya Leo akan mencari perempuan lain untuk menjadi pengganti seorang Karamel di hati Leo?


Membayangkan itu Karamel menjadi, ah entahlah, rasa-rasanya ia tidak akan bisa menerima kenyataan itu.


"A-aku cuma ngerasa kayak, apa aku pantes bersanding sama cowok sebaik kamu?" lirih Karamel membuat Leo menaikan sebelah alisnya.


Leo suka ini, di puji sebagai laki-laki baik oleh Karamel? Woah, kesempatan Leo untuk menyombongkan diri siap beraksi.


"Cowok baik? Oh iya, harusnya sih kamu ngerasa beruntung karena cowok sebaik aku bakal jadi suami kamu," ucap Leo merapikan rambutnya.


Karamel mengerjapkan matanya beberapa kali, kenapa jadi sombong tah si Leo ini?


"Ah iya, aku belum ngomong mau 'kan ya nikah sama kamu, jadi apa perlu aku ngomong 'enggak' biar urusan aku sama kamu selesai sampai di sini." ucap Karamel membuat Leo membelalakan matanya.


"Kara," panggil Leo namun Karamel malah mengangkat kepalanya dengan angkuh.

__ADS_1


"Kamu gak bener-bener mau nolak aku 'kan?" Leo menyipitkan matanya membuat Karamel menahan tawanya.


"Maybe ...."


"Cukup! Aku nggak mau denger," ucap Leo membalikkan badannya membelakangi Karamel, lalu setelah itu Leo melangkahkan kakinya hendak pergi namun sebelum itu.


Karamel lebih dulu mendekati Leo dan menarik tangan Leo untuk bisa membalikkan badannya menghadap Karamel lagi.


"Apa?" tanya Leo sewot.


"Ck! Mau ngomong," ucap Karamel berdecak sebal yang di buat-buat.


"Hem, aku dengerin," ucap Leo sok angkuh memalingkan wajahnya ke samping dengan menyilang kedua tangannya di perut.


"Jadi besok aku mau pake gaun warna coklat," ucap Karamel membuat Leo langsung menatap wajah Karamel yang tersenyum lebar.


"Apa itu artinya ...."


"Gak mau tau, pokoknya besok harus pake warna coklat," ucap Karamel langsung berjalan pergi melewati Leo yang tengah berfikir.


"Tunggu, jadi besok kita ...." pekik Leo membalikkan badannya menghadap Karamel yang ternyata wanita itu sudah tidak ada di ruangan itu lagi. Itu artinya Karamel tadi berlari pergi!


****! Leo belari keluar ruangan itu, lalu ia mencari keberadaan Karamel namun ia kalah cepat karena Karamel sudah masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan markasnya.


..............


...Ruang tawanan....


"Karaku, Kara tidak akan mungkin menikah dengan laki-laki brengs*k itu. Kara masih istriku, dia tidak akan meninggalkanku." gumam Henry lirih dengan air mata yang bercucuran.


"Kara aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku Kara aku mohon maafkan aku sayang hiks ... hiks ...." pekik Henry.


"Karaaaa ....!!!" jerit Henry terdengar sangat menyedihkan.


Di balik pintu Jessy mendengar racauan Henry yang menyebut Karamel terus-menerus.


"Kenapa kata-kata cinta yang selalu kau ucapkan untukku dulu harus di gantikan oleh nama wanita lain, Henry," gumam Jessy memegangi dadanya yang sesak.


..............


...Los Angeles....


Setelah pemakaman Berrty dan Sofia selesai, semua anggota keluarga kembali ke mansion Berrold.


Sepanjangan Berrold, Sanjaya dan Kenzi terus menangis karena kehilangan sang istri, dan sang mama, begitu juga Hans, Hanna, Glenn, Santi dan Faza yang merasa sedih atas kehilangan sang anak, sang kakak, kakak ipar dan juga sang tente.


Ketika itu juga Sanjaya mendapat pesan dari nomor yang tidak di kenal, Sanjaya membuka pesan itu dan tiba-tiba saja raut wajahnya berubah menjadi serius.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2