
Zoeya menatap tajam pria yang sedang berdiri di depannya saat ini, pria yang pernah Zoeya cintai sepenuh hati bahkan pria itu pernah menjadi tunangannya di masa lalu namun perasaan cinta itu telah hilang dan kini Zoeya sangat membenci pria yang hanya ingin memanfaatkan dirinya sebagai alat penghancuran hidup orang lain itu.
"Apa kau tidak akan menyambut kedatanganku, sayang?" tanya pria itu tersenyum, senyuman yang hanya di buat-buat agar terlihat tulus di depan mata Zoya.
Zoeya mengeraskan rahangnya, pria itu masih memanggilnya dengan kata 'sayang' dengan sangat mesra, ralat pura-pura mesra. Memangnya siapa mereka yang sekarang? Pasangan kekasih yang saling mencintai satu sama lain? Bulshit, bajin*an itu tidak pernah mencintai Zoeya sedikit pun.
"Akan aku katakan selamat datang di Indonesia, Zayn Xi Qinglichen!" ucap Zoeya seraya merentangkan kedua tangannya.
"Sudah 'kan? Kau boleh pergi sekarang," usir Zoeya sinis, wanita itu hanya ingin sendirian sekarang.
"Zoeya, aku masih mencintaimu sayang." ucap Zayn membuat hati Zoeya sakit, bayangan-bayangan di masa lalu kembali datang memenuhi otak Zoeya.
Rasanya Zoeya ingin berteriak 'tidak' dengan sangat keras namun untuk apa dirinya mengatakan itu? Untuk menunjukkan betapa patah hatinya Zoeya karena pria itu tidak petnah mencintainya? Zoeya menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil.
"Tujuanmu bukan untuk mengatakan itu, Zayn." ucap Zoeya sangat mengenal siapa pria yang ada di depannya itu. Setelah pembatalan pertunangan mereka beberapa bulan yang lalu dan mereka tidak pernah saling berhubungan lagi namun tiba-tiba seminggu yang lalu pria itu menghubungi dirinya. Pasti ada tujuan lain kenapa pria itu muncul di hadapannya sekarang.
Zoeya sudah menutup hatinya untuk pria itu hingga kemunculannya kali ini membuat Zoeya muak untuk bertatap muka dengan pria itu.
"Apa lagi jika bukan memintamu kembali kepadaku lagi, Zoeya!" ucap Zayn dengan raut wajah yang begitu menyedihkan, bagi Zoeya itu hanyalah topeng Zayn agar Zoeya menjadi luluh. Ck! Itu tidak akan pernah terjadi, Zoeya adalah orang yang licik bukan orang bod*h.
Zayn memang berasal dari keluarga yang kaya raya, Zoeya tidak akan rugi menikah dengan pria itu meski pria itu tidak mencintainya tapi Zoeya sangat mencintai pria itu, hatinya benar-benar terluka saat tahu pria itu hanya ingin menjadikannya sebagai alat saja.
Karena rasa sakit hati itu, Zoeya lebih memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan Zayn tapi kenapa Zayn tidak mau melepaskannya?
"Memintaku kembali menjadi alatmu lagi?" tanya Zoeya sinis lalu wanita itu menggelengkan kepalanya, sungguh sakit hati wanita itu. Ah tidak, Zoeya harus membuang jauh rasa sakit itu.
"Aku memang membenci semua orang tapi aku tidak akan melakukan tindakkan yang melampaui batasanku, aku adalah Zoeya yang hanya akan menindas bukan membunuh." sentak Zoeya memperingati Zayn bahwa dirinya memanglah jahat tapi kejahatannya tidak pernah sampai menghilangkan nyawa orang lain, seperti yang di minta oleh mantan tunangannya itu.
Zoeya tidak habis fikir, apa masalah mantan tunangannya itu, kenapa mantan tunangannya itu ingin melibatkannya untuk membunuh orang lain?
"Kau harus mencoba yang lebih ekstrem dari menindas orang lain, sayang." ucap Zayn berjalan mendekati Zoeya namun wanita itu tidak menghindar dan tetap di tempatnya.
Saat Zoeya melihat langsung bagaimana kakak tirinya menyiksa orang lain hingga mati, Zoeya benar-benar merasa ketakutan. Mengingat semalam Zoeya berfikir bahwa dirinya akan mati di tangan kakak tirinya, wanita itu hanya bisa berharap dirinya masih tetap hidup jadi logikanya, Zoeya saja tidak mau mati di bunuh apalagi orang lain, wanita itu tidak akan berani merenggut nyawa orang lain.
"Lo bakal jadi tanggung jawab gue, apapun yang lo lakuin di luar sana, gue yang bakal lo hadapin duluan. Paham!'
"Kenapa aku mengingat kata-kata Kak Kei!" batin Zoeya mengerutkan dahinya tak paham dengan jalan fikirannya sendiri.
"Kau mungkin iblis yang di utus dari neraka untuk membunuh orang lain tapi tidak dengan diriku," ucap Zoeya tepat saat Zayn berada satu langkah di depannya.
"Bukankah dulu kau setuju untuk membantuku, sayang?" tanya Zayn menaikkan sebelah alisnya.
"Terima kasih karena sudah mengingatkan kebod*hanku yang selalu patuh denganmu dulu," ucap Zoeya menatap manik mata Zayn dengan penuh kebencian.
Zayn menyipitkan matanya, wanita itu tidak lagi merasa gugup saat Zayn mendekatinya? Wanita itu tidak lagi tersipu saat menatap matanya? Tidak ada tatapan kelembutan lagi, tidak ada kata-kata manis lagi dari wanita itu dan di mata wanita itu tidak ada cinta lagi bahkan sekarang wanita itu mengeluarkan aura yang begitu dingin.
"Cinta tidak akan mudah untuk melupakan pujaan hatinya tapi kau secepat itu melupakan aku, apa selama ini kau tidak pernah mencintai aku Zoeya?" tanya Zayn lirih, jika saja Zayn tahu kebenarannya. Hati wanita itu sangat rapuh dan sakit, dulu satu-satunya orang yang menyayangi Zoeya hanyalah Zayn tapi ternyata pria itu menipu perasaannya.
Andai dulu Zayn benar-benar mencintainya walau hanya sebutir debu saja, Zoeya pasti akan mengenang kebersamaan mereka yang begitu membahagiakan dulu tapi sayangnya semua itu palsu, semua yang di lakukan Zayn tidak ada yang tulus, kebahagiaan dan harapan wanita itu hancur begitu saja saat Zayn mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mencintai Zoeya sedikit pun, tujuan pria itu mendekati Zoeya hanya ingin menjadikan Zoeya sebagai alat penghancuran hidup orang lain sehingga semua tindakkan yang akan di lakukan pria itu, Zoeya lah yang akan menjadi sasarannya. Zoeya benci niat busuk pria itu!
"Tidak sadarkah dirimu Zayn, selama ini aku hanya tertarik dengan uangmu saja." ucap Zoeya tidak mau menunjukkan bahwa dirinya pernah mencintai pria itu.
"Bohong!" ucap Zayn tajam, pria itu tidak terima akan pengakuan bohong Zoeya.
"Tidak ada gunanya juga kau percaya atau tidak dengan kata-kataku tapi aku ingin tekankan sekali lagi. Aku membenci dirimu Zayn!" ucapnya kemudian berjalan melewati Zayn, wanita itu ingin pergi menjauh dari Zayn namun sayangnya Zayn memeluk tubuh wanita itu dari belakang sehingga wanita itu di buat kaget olehnya.
Degg ....
"Mom meninggal seminggu yang lalu," ucap Zayn lirih, suara pria itu terdengar bergetar.
Ibunya Zayn telah meninggal? Itu artinya Zayn tidak akan melakukan kejahatan lagi bukan? Ya, Zoeya tahu akar permasalahannya ada pada ibunya Zayn, pria itu begitu menyayangi ibunya hingga semua perintah ibunya akan selalu di patuhi oleh pria itu.
Tapi entah kenapa Zoeya tidak merasa sedih dengan keadaan Zayn saat ini namun wanita itu hanya merasa kasihan saja, mungkinkah itu di sebabkan karena perasaan benci wanita itu yang terlalu dalam?
"Di saat-saat terakhirnya, mom ingin bertemu denganmu maka dari itu aku menghubungimu tapi kau tidak mau mengangkat teleponku ataupun membalas pesanku, jangankan membalas kau bahkan tidak membaca pesanku." ucap Zayn membuat Zoeya speechless. yang di katakan Zayn memang benar, Zoeya merasa dirinya tidak ada urusan apa-apa lagi dengan Zayn maka dari itu ketika seminggu yang lalu Zayn menghubunginya, Zoeya selalu mengabaikannya.
"Aku turut berduka atas kepergian Mommymu," ucap Zoeya tidak berniat memberontak karena wanita itu tahu, saat ini pria itu pasti sedang membutuhkan seseorang untuk menumpahkan segala rasa sedihnya.
"Maafkan aku Zoeya, di masa lalu aku selalu membohongi dirimu." ucap Zayn tulus, tentu hati wanita itu menjadi terenyuh karena pria kuat seperti Zayn berbicara sangat lembut kepadanya. Jarang sekali Zoeya mendengar suara lembut pria itu tapi Zoeya tidak tahu apakah pria itu terpaksa berbicara lembut kepadanya atau itu di lakukan tulus dari hati pria itu.
"Sudah aku maafkan!" ucap Zoeya datar.
"Terima kasih! Zoeya, jika aku katakan aku tidak pernah berbohong so'al perasaanku denganmu aku sangat mencintaimu, apa kau akan percaya denganku?" tanya Zayn membuat Zoeya memejamkaan matanya kuat.
Tentu Zoeya tidak tahu jawabannya apa, yang ia tahu sekarang dirinya tidak memiliki perasaan apa-apa lagi dengan pria itu.
"Aku bersungguh-sungguh mencintaimu. Aku tidak mau kau pergi lagi dari hidupku, aku mohon beri aku satu kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya, aku akan membuktikan kepadamu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku mohon, Sayang." pinta Zayn melepas pelukkannya lalu memutar tubuh Zoeya agar menatap dirinya.
Zoeya menatap manik mata Zayn, kata-kata pria itu memang terdengar serius, raut wajahnya juga terlihat sedih bahkan kedua mata itu memerah seperti ingin menangis tapi Zoeya tidak tahu kebenarannya, wanita itu bukan ragu untuk menolak Zayn melainkan dirinya tidak mau lagi terjerat ke dalam tipuan muslihat Zayn.
"Maaf, aku tidak bisa!" ucap Zoeya masih dengan mode datar lalu wanita itu melepas paksa tangan Zayn yang menggenggam kedua pundaknya.
"Aku yakin yang dia maksud tadi adalah dirimu, aku harap kau tidak akan melakukannya dan maaf aku tidak mau terlibat dalam masalahmu." ucap Zoeya kemudian pergi meninggalkan Zayn yang terdiam di tempatnya.
"Karena ini adalah perintah Mommy, Sayang!" seru Zayn ketika Zoeya sudah menghilang dari pandangannya.
.........
...Kediaman Keluarga Blende...
Zoeya pulang dengan membawa beberapa barang belanjaannya lalu semua barang itu ia bawa ke kamarnya, hingga ketika sampai di kamar Zoeya langsung melempar belanjaannya ke sofa lalu wanita itu menghempaskan tubuhnya di kasur. Zoeya memejamkan matanya dan tiba-tiba saja ....
__ADS_1
'Apapun yang lo lakuin di luar sana, gue yang bakal lo hadapin duluan. Paham!'
Zoeya langsung membuka matanya kaget, deru napas wanita itu menjadi tidak stabil akibat mengingat kata-kata yang pernah di ucapkan kakak tirinya itu. Kenapaa Zoeya malah mengingatkannya?
"Kata-kata Kak Kei semalam ...." Zoeya menggantung perkataannya, selama ini Zoeya tidak pernah perduli dengan peringatan-peringatan orang lain tapi entah kenapa kata-kata Keisha semalam menghantui fikirannya.
"Apapun yang aku lakuin di luar sana, Kak Kei akan menjadi orang pertama yang aku hadapi." gumam Zoeya mulai meresapi kata-kata yang pernah di ucapkan kakak tirinya itu.
"Apa itu maksudnya Kak Kei bakalan ngehukum aku kalo misalkan aku berbuat ulah di luar sana!?" gumam Zoeya menerka-nerka, apa maksud dari kata-kata Keisha semalam.
"Iya!" suara dingin seorang pria yang sangat Zoeya kenal membuat Zoeya langsung bangkit dari tempat duduknya, dirinya tidak menyangka kakak tirinya itu ada di dalam kamarnya sekarang.
"K-kak Kei udah pulang?" tanya Zoeya gelagapan, wanita itu menatap wajah Keisha sekilas lalu menunduk karena takut.
"Zayn memintamu untuk kembali bersamanya lagi?" tanya Kesiha begitu mengintimidasi, Zoeya menganggukkan kepalanya pelan. Wanita itu tidak terkejut ataupun panik karena wanita itu sudah menduga kakak tirinya itu pasti sudah lebih dulu mengetahui semua yang ia lakukan di luar sana.
"Mommy Zayn meninggal seminggu yang lalu itu sebabnya dia menemuiku karena ...."
"Dia bukan tunanganmu lagi, patuhi kata-kataku jauhi dia." titah Keisha memotong perkataan adik tirinya itu, Zoeya hanya menganggukkan kepalanya patuh lalu tanpa bicara apa-apa lagi Keisha keluar dari kamar Zoeya.
Zoeya mengela napas lega, selama ini Keisha akan memberi sedikit perhatian pada Zoeya lewat para pelayan rumah tapi Zoeya tidak pernah tahu itu karena menurut Keisha tidak penting bagi wanita itu mengetahui kebaikkannya namun kali ini, Zoeya di buat kaget karena kakak tirinya itu masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi lalu bertanya singkat dan memerintah singkat pula kepadanya.
"Aku adalah tanggung jawab Kak Kei!" gumam Zoeya menunjuk dirinya sendiri, Zoeya merasa hidupnya tidak akan bisa bebas lagi karena sekarang dirinya sudah menjadi tanggung jawab kakak tirinya bukan ayahnya lagi.
Ke esokkan harinya setelah Zoeya selesai mandi ada nomor yang tidak di kenal menghubungi dirinya namun Zoeya menyipitkan matanya curiga, siapa pemilik nomor itu? Zayn? Tidak mungkin itu adalah Zayn karena Zoeya hapal nomor Zayn walau ia tidak menyimpan nomor pria itu.
Zoeya ingin mengabaikan panggilan itu namun Zoeya penasaran siapa yang menghubunginya di pagi buta seperti sakarang? Tanpa fikir panjang Zoeya langsung menggeser tombol hijau.
"Siapa yang berani menggangguku di pagi hari seperti ini?" tanya Zoeya tanpa mengucap salam ataupun kata 'halo'
".........."
"Kau lagi? Tahu begitu aku tidak mengangkat telepon darimu," tukas Zoeya malas meladeni orang yang menghubunginya itu.
".........."
"Aku sibuk!" sahut Zoeya beralibi.
".........."
"Bernegosiasi? Denganmu? Aku tidak tertarik," ucap Zoeya sambil duduk di sofa dan meminum teh hangat yang baru saja di sajikan oleh kepala pelayannya.
".........."
"Ck! Berhentilah memaksaku, kau lebih baik urus saja semuanya sendirian dan jangan pernah mengajakku untuk terlibat dalam masalahmu itu." ucap Zoeya lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Cih! Orang itu terlalu banyak musuh di mana-mana," gumam Zoeya dengan malas lalu wanita itu keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama kakak tirinya.
.........
"Dia tidak mau datang," ucap sang wanita meletakkan handphonenya di atas meja lalu wanita itu bersandar di kursi dengan menyilang kedua tangannya di perut.
"Aku harap ini hanya perasaanku saja, sikapnya sudah berubah sekarang." ucap sang pria dengan rahang mengeras, pria itu mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, rasanya seperti tidak terima jika orang yang sedang mereka bahas saat ini sudah berubah sikap.
"Aku tidak perduli dengan urusan orang lain, yang aku inginkan adalah menjadi ...."
"Aku tahu! Tapi kau juga jangan lupa dengan janjimu untuk membantuku menculik wanita sialan itu," sentak sang pria sedikit memukul meja kala merasa kesal dengan wanita yang ada di hadapannya ini.
Wanita itu terlalu banyak menuntut keinginannya tanpa pernah perduli dengan keinginan orang lain, wanita itu juga yang meminta bantuan kepada sang pria tapi wanita itu selalu berbicara seakan-akan dirinya adalah seorang bos besar padahal wanita itu tahu, orang yang sedang ia hadapi saat ini bukanlah orang biasa.
"Setelah aku mendapatkan wanita itu, aku janji kau juga akan mendapatkan apa yang kau mau." ucap sang pria menatap tajam sang wanita. Glukk! Wanita itu merasa merinding kala melihat tatapan membunuh pria itu. Jelas dirinya merasa takut, pria itu adalah seoramg mafia yang haus akan darah!
"Secepatnya kabari aku," ucap sang wanita memakai kaca mata hitamnya lalu bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan pria itu.
.........
...Kediaman Keluarga Mahendra...
Dua minggu telah berlalu Leo semakin memperketat penjagaan rumahnya, mulai dari halaman luar bagian depan dan belakang rumah ada sekitar 70 mafioso Vic's Bloody Wolf yang berjaga dan di dalam rumah ada sekitar 30 bodyguard pria, sebenarnya Karamel merasa sedikit risih dengan ramainya para anak buah Leo di sekitar rumah namun Leo mengatakan keamanan rumahnya sangatlah penting demi keselamatan Karamel dan anak mereka.
Karamel tahu suaminya itu sangat mengkhawatirkan dirinya tapi tidakkah ini terlalu berlebihan? Hal besar apa yang sedang di takuti oleh suaminya itu? Bukankah selama ini yang selalu berjaga di rumah hanya sekitar 20 bodyguard saja, itu juga mereka berjaga di luar rumah bukan di dalam rumah.
Tok tok tok ....
"Masuk!" titah Leo tanpa menatap pintu karena dirinya sibuk membaca laporan yang di antarkan Jeffry ke rumahnya pagi ini.
"Mas, boleh kita bicara sebentar?" pinta Karamel masuk ke dalam ruang kerja suaminya sambil membawakan teh.
Leo menolehkan kepalanya ke arah sang istri lalu pria itu menatap Jeffry dan empat bodyguardnya, gerakkan kepala Leo memerintahkan mereka untuk keluar dari ruangan, segera mereka melangkahkan kaki mereka untuk keluar meninggalkan Leo dan Karamel sendirian di dalam ruangan itu.
"Ada apa sayang?" tanya Leo tersenyum lebar lalu merentangkan kedua tangannya agar istrinya itu mendekatinya. Karamel berjalan pelan menghampiri suaminya lalu ia meletakkan secangkir teh buatannya di meja.
"Masih pertanyaan yang sama, hal apa yang buat kamu harus memperketat penjagaan rumah kayak gini?" tanya Karamel tanpa basa-basi, wanita itu benar-benar sangat penasaran.
"Bukannya aku udah bilang dari beberapa hari yang lalu," ucap Leo lembut lalu menciumi perut Karamel.
"Apa ini karena cerita aku empat hari yang lalu?" tanya Karamel sambil memainkan rambut sang suami yang sedang sibuk menciumi perutnya.
...Flashback on...
Empat hari yang lalu adalah hari yang paling melelahkan bagi Leo karena dirinya baru saja kembali dari Irlandia tapi di malam itu juga Leo dan Jeffry masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang lain, di sepanjang malam kedua pria itu sibuk di ruang kerjanya namun Jeffry sudah tidak bisa menahan matanya yang pedas alhasil pria itu di suruh Leo untuk duluan tidur di kamar yang biasa Jeffry pakai sedangkan Leo sendiri masih belum mengantuk dan tatap melanjutkan pekerjaannya hingga tanpa sadar pria itu ketiduran di sana.
__ADS_1
Selimut yang membaluti tubuh pria itu menandakan bahwa semalam istrinya datang ke ruang kerjanya untuk memberikan selimut itu di tubuhnya.
Leo masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai pria itu turun untuk sarapan pagi karena Jeffry dan Karamel sudah menunggunya di ruang makan lalu ketiga orang itu sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan, ketiga orang itu berjalan menuju ruang tengah. Leo dan Jeffry sempat mengobrol so'al pekerjaan kantor sedangkan Karamel hanya menyimak pembicaraan kedua pria itu sampai ketika kedua pria itu selesai bicara, Karamel sedikit mengerutkan dahinya seperti ada hal yang ia ingat dan ingin ia tanyakan pada suaminya.
"Mas, aku mau nanya sesuatu ...."
"Enggak ada yang ngelarang kamu buat nanya apapun sayang, apa yang mau kamu tanyain hem?" ucap Leo memotong perkataan Karamel. Cepat sekali pria itu merespon!
"Di halaman belakang deket kolam ikan samping gazebo itu ada pintu apaan sih, Mas? Kok tadi malem aku lihat kebuka lebar gitu," tanya Karamel dengan raut wajah serius namun raut wajah Karamel menjadi bingung karena Leo dan Jeffry sama-sama melebarkan matanya kaget.
"Ada ap ...."
"Jeffry," panggil Leo tiba-tiba memotong perkataan Karamel, dan Jeffry langsung menganggukkan kepalanya mengerti akan panggilan tuannya.
Jeffry pergi begitu saja meninggalkan Leo dan Karamel, tentu itu membuat Karamel penasaran namun ketika wanita itu ingin bertanya pada suaminya, seketika Jeffry dan beberapa bodyguard dari luar rumah berlari menuju halaman belakang rumah, Karamel semakin mengerutkan dahinya penasaran. Kedua kaki mungkil wanita itu hendak mengikuti para anak buah suaminya namun Leo menggenggam tangan Karamel agar tetap duduk di tempatnya.
"Sebenarnya ada apaan sih Mas, kok mereka lari ke halaman belakang rumah semua?" tanya Karamel menatap penuh wajah suaminya yang tampak tegang itu.
"Bukan apa-apa sayang! Kamu tunggu di sini sebentar ya, jangan ke mana-mana dan jangan ngebantah." ucap Leo tegas, wajah pria itu sangat serius hingga Karamel hanya bisa mebgangguk patuh saja. Kemudian Leo pergi menuju halaman belakang rumah.
"Bagaimana Jeff, apakah benar dia orangnya?" tanya Leo menghampiri Jeffry yang sedang sibuk mengotak atik laptopnya.
"Sial! Sepertinya semua CCTV di halaman belakang rumah anda sengaja di rusak oleh seseorang, Tuan." umpat Jeffry membuat Leo mengepal tangannya dengan kuat.
"Maaf Tuan, siapa lagi yang berani melakukan ini jika bukan orang itu." ucap Jeffry membenarkan dugaan Leo selama ini tidak salah.
"Dari laporan yang aku berikan kepada anda beberapa waktu lalu, dia memang sudah mengetahui semuanya dan mungkin ini adalah awal dari pergerakkannya untuk menyerang anda, Tuan." ucap Jeffry lagi.
"Perketat keamanan rumah, bawa tujuh puluh mafioso Vic's Bloody Wolf untuk menjaga keamanan istriku dan anakku." titah Leo pada Jeffry. Glukk! Sudah lama Jeffry tidak melihat aura membunuh Lordnya itu, Jeffry menganggukkan kepalanya lalu ia pergi untuk melaksanakan perintah tuannya.
...Flashback off...
Leo terdiam, wanitanya itu memang sangat peka tapi Karamel sedang mengandung anak mereka, Leo tidak mau Karamel menjadi shock saat mendengar pengakuannya.
Leo mendongakkan kepalanya menatap dalam mata indah sang istri, "Ini demi kebaikkan dan keselamatan kamu sama anak kita, sayang." ucap Leo lagi-lagi tidak menjawab dengan pasti, Karamel memutar bola mata jengah, raut wajah wanita itu pun berubah menjadi ketus.
Bagaimana tidak? Dirinya di buat penasaran selama empat hari berturut-turut, setiap kali dirinya bertanya ada masalah apa sebenarnya. Leo selalu menjawab 'Ini demi kebaikkan dan keselamatan kamu sama anak kita' Karamel muak mendengar jawaban itu.
"Cih! Enggak ada gunanya Mama nanya sama Papa kamu yang jelas-jelas dari beberapa hari yang lalu enggak mau ngasih tahu Mama, rasa penasaran Mama enggak bakalan buat Papa kamu kasian sama Mama, ujung-ujungnya Papa kamu malah buat Mama kesel." gerutu Karamel menyentuh perutnya, wanita itu sedang berbicara pada anak yang ada dalam kandungannya. Leo menundukkan kepalanya dan terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
"Aku mau pergi ke kamar dulu, dasar Papa pelit," umpat Karamel menatap sinis ke arah Leo lalu wanita itu keluar dari ruang kerja suaminya.
Mata Karamel melirik beberapa bodyguard yang ada di sekitarnya lalu Karamel berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua, sepanjang dirinya berjalan, mata para bodyguard itu tidak lepas menatap Karamel. Waspada jika Karamel terpeleset dan jatuh, mereka akan siap siaga menolong Karamel.
Setelah Karamel pergi, Leo hanya bisa tersenyum kecut saja tanpa punya niatan untuk mengejar istrinya, takutnya jika Leo menghampiri Karamel dalam keadaan wanita itu sedang kesal dengannya, wanita itu pasti akan mendesak Leo untuk mengatakan yang sebenarnya dengan senjata ampuh milik istrinya yaitu menangis di depannya.
"Maafin aku sayang, aku cuma enggak mau kamu di bebani banyak fikiran." gumam Leo memejamkan matanya seraya menyandarkan kepalanya di kursi.
Sementara itu di dalam kamar, Karamel mengerutu tidak jelas karena ulah suamianya yang membuatnya penasaran setengah mati, ingin rasanya Karamel mencari tahu sendiri tapi wanita itu tidak tahu bagaimana caranya.
"Egh! Nyebelin banget sih, HP enggak ada, laptop juga di ambil, sebenernya ada apaan sih ini?" gerutu Karamel duduk di tepi ranjang.
Empat hari yang lalu handphone dan laptop Karamel sudah di ambil alih oleh Leo, pria itu sangatlah tahu istrinya bukan wanita yang polos dan bod*h, dengan adanya handphone dan laptop di tangan Karamel sudah pasti wanita itu akan mencari tahu kebenaran sesungguhnya.
Karamel menatap pintu kamarnya sinis, "Lihat 'kan Papa kamu enggak mau ngejar Mama, pasti Papa kamu sengaja ngehindarin Mama biar Mama enggak banyak tanya lagi sama Papa kamu." ucap Karamel pada anaknya.
"Dasar suami nyebelin!" umpat Karamel pada suaminya.
"Tapi 'kan Dek, Mama jadi di buat penasaran tauk. Huft! pasti ada yang enggak beres deh atau bisa jadi Papa kamu cuma khawatir berlebihan aja sama kita berdua?" gumam Karamel seraya mengelus-elus perut buncitnya.
"Tapi keamanan yang berlebihan Papa kamu buat ini 'kan terjadi setelah Mama cerita so'al pintu yang kebuka di halaman belakang rumah, jangan-jangan waktu itu ada penyusup masuk atau ada maling?" gumam Karamel dengan nada suara shock namun sedetik kemudian Karamel menggelengkan kepalanya tidak yakin.
"Masa iya sih, cuma maling doang Papa kamu sampai segitunya perketat keamanan rumah," ucap Karamel tidak masuk akal, sangat berlebihan sekali suaminya itu jika apa yang Karamel tebak barusan benar terjadi.
"Atau jangan-jangan ada musuh Papa kamu yang lagi ngincar kita berdua biar musuh Papa kamu bisa ngancem Papa kamu," ucap Karamel banyak sekali tebak-tebakan di otaknya itu.
"Mama pusing mikirin semua pertanyaan yang ada di otak Mama, enggak tahu yang mana yang bener." umpat Karamel kesal sendiri.
"Sebenarnya Mama ini leader mafia yang terkenal dan hebat loh sayang, walau Mama enggak sehebat Papa kamu tapi kepintaran Mama ini enggak jauh beda kok dari Papa kamu. Mama yakin ada hal serius yang lagi Papa kamu hadapin sekarang tapi Papa kamu enggak mau cerita sama Mama." ucap Karamel sombong sedikit di depan anaknya yang belum lahir itu.
"Menurut kamu, Mama harus cari tahu sendiri kebenarannya terus bantuin Papa kamu atau Mama harus patuh sama Papa kamu dan diem aja di rumah?" tanya Karamel masih dengan mengelus-elus perutnya.
Di ruang kerja, Leo menyipitkan matanya menatap layar tabletnya dengan sangat serius, wanita cantik yang ia perhatikan lewat layar tablet itu terus saja mengoceh dan menerka-nerka akan rasa penasarannya hingga pada saat wanita cantik itu bertanya akan dua pilihan yang ia sebutkan barusan, detak jantung Leo berdegup dua kali lebih cepat. Pria itu berharap wanita cantik itu tidak akan melakukan hal yang nekat hingga membuatnya tambah khawatir.
Karamel memejamkan matanya sebelum menarik napas dan mengatakan "Mama harus ...."
.
.
.
::: Bersambung :::
Hai hai semuanya ....
Ada yang inget nggak nih sama Zayn?
Mau thor rajin up? Asal ada vote dan hadiah dari kalian, thor pasti rajin up kok. Like dan komen jangan lupa juga.
__ADS_1