
Setelah tiga hari Karamel sadar dari komanya, keadaan Karamel bisa di bilang sudah membaik namun luka tembak wanita itu masih belum sembuh sempurna, butuh sekitar seminggu atau dua minggu lagi agar luka itu sembuh.
"Kapan aku bisa membawa istri dan anakku pulang, Dok?" tanya Leo ketika dokter Anggika memeriksa keadaan Karamel.
"Anakmu masih harus di rawat di sini selama seminggu lagi bagitu juga dengan istrimu." ucap dokter Anggika membuat Leo memelas.
"Aku tidak suka dengan rumah sakit, tidak bisakah besok aku membawa mereka pulang?" tanya Leo ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
"Bisa saja jika kau ingin anakmu kenapa-kenapa. Dia lahir prematur, jangan lupakan itu, tubuh anakmu masih harus berada di dalam tabung itu agar terhindar dari segala jenis penyakit." ucap dokter Anggika sekenanya saja karena orang pintar seperti Leo pasti bisa mengerti apa maksud dari perkataan dokter Anggika.
"Tapi aku ingin bermain dengan anakku di rumah, tidak bisakah tabung itu di bawa ke rumah?" tanya Leo membuat Karamel terkekeh.
"Heh bod*h, gue tahu lo itu bos besar ya tapi bisa enggak sih lo nurut aja sama omongan dokter, ini juga demi kebaikkan anak lo." bentak Kenzi pusing mendengar rengekkan Leo yang ingin cepat-cepat pulang.
"Ck! lo kapan sih mau balik ke Amerika?" tanya Leo pada Kenzi membuat Kenzi mengerutkan dahinya tidak suka mendengar pertanyaan sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Kenapa? Enggak suka lo gue di sini? Atau jangan-jangan lo iri karena keponakan gue lebih suka main sama gue dari pada sama lo?" tanya Kenzi spontan pasalnya sudah tiga hari ini ketika Karamel sudah sadar, beberapa kali baby Greydon di keluarkan dari tabung inkubator dan di gendong oleh Karamel hingga kedua pria itu senang sekali mengajak baby Greydon berbicara dan bermain-bermain sampai membuat baby Greydon tertawa kecil namun tak jarang juga menangis kencang karena ulah mereka berdua yang jahil mencubit gemas pipi baby Greydon, bahkan mereka berdua juga sering berebut ingin menggendong baby Greydon.
"Enggak ada ceritanya anak gue lebih suka sama lo dari pada sama Papanya," ucap Leo merasa bahwa anaknya lebih suka dirinya dari pada dengan om-nya itu.
"Buktinya dia nangis mulu waktu lo gendong," ucap Kenzi mengejek Leo yang selalu membuat baby Greydon menangis karena pria itu terlalu kebanyakan mengerutu tak jelas seperti, 'Seriusan Kara, aku enggak nyaman gendongnya kayak gini, gimana kalo aku gendong kayak tadi aja?' atau 'Ini kok Greydon kecil banget sih badannya, kamu ngasih asinya seberapa banyak sih, Sayang' atau lagi 'Aduh duh duh, kayaknya Greydon pup ini deh sayang tapi bentar, kayaknya enggak deh' dan masih banyak lagi kehebohan yang di timbulkan si Papa baru itu.
"Lo sendiri gimana baru juga di gendong udah enggak betah aja tuh anak gue sama lo," balas Leo mengejek Kenzi yang tidak ada bedanya dengan Leo tapi Kenzi bukan heboh mengomel seperti Leo melainkan Kenzi terlalu banyak mencium wajah baby Greydon hingga baby Greydon merasa risih dan menangis.
"Heh! Udah tiga kali keponakan gue ketawa gara-gara gue cium ya, jangan salah lo." ucap Kenzi berbangga diri.
"Halah dua kali di pipisin aja bangga lo," ucap Leo mengingat hal buruk Kenzi yang di pipisi oleh baby Greydon.
"Dari pada lo gendong bayi aja ribet." ucap Kenzi tak mau kalah mengejek Leo.
Dokter Anggika yang baru selesai memeriksa keadaan Karamel tertawa kecil melihat kedua pria itu saling mengejek satu sama lain.
"Ternyata di ruangan anda bukan hanya ada satu bayi saja tapi ada dua bayi besar lainnya juga, Nyonya." ucap dokter Anggika membuat Karamel terkekeh kecil.
"Anda benar Dok!" ucap Karamel menatap suami dan kakaknya yang masih sibuk mengejek satu sama lain.
"Ini obatnya, Nyonya." ucap perawat memberikan beberapa obat untuk Karamel minum.
"Udah lah, cape gue ribut mulu sama lo." umpat Leo berjalan keluar dari ruangan perawatan istrinya itu.
"Tahan ya lo punya suami kayak dia," ucap Kenzi menatap adiknya yang sedang meminum obat.
"Lo sama suami gue itu sama aja tahu enggak." ucap Karamel membuat Kenzi mendengus sebal, dirinya di sama-samakan adiknya dengan Leo. Ck! Jauh beda kali ya.
"Dari segi apapun masih mendingan gue lah dari pada suami kekanak-kanakkan lo itu." sahut Kenzi membuat Karamel menggeleng-gelengkan kepalanya aja, ia tidak mau menjawab ucapan kakaknya itu lagi atau akan ada banyak pembelaan lainnya dari kakaknya itu.
Sementara di luar ruang perawatan Karamel, Leo duduk di kursi panjang dengan memasang raut wajah kesal hingga semua anak buah Leo yang berjaga menelan saliva mereka takut.
"Apakah ada informasi dari Jeffry?" tanya Leo tiba-tiba mengejutkan semua anak buah Leo karena suara pria itu begitu keras.
"Pesan yang di sampaikan Mr. Jeffry, Keempat tawanan sudah ada di markas tersembunyi kita, Lord!" ucap salah satu anak buah Leo yang berdiri di dekat Leo.
"Bagaimana dengan keadaan Keisha, apakah Jeffry memberitahu keadaannya bagaimana sekarang? " tanya Leo dengan tangan terkepal dan rahang memgeras.
"Mr. Keisha masih belum sadar dari komanya, Lord!" ucapnya lagi hingga membuat Leo bangkit dari tempat duduknya.
"Kita ke markas tersembunyi, sekarang." ucap Leo melirik dua anak buahnya, tanda mereka berdua akan ikut dengan Leo kemudian mereka bertiga pergi dari sana menuju markas tersembunyi mereka.
.........
Markas tersembunyi Vic's Bloody Wolf, tepatnya di tengah hutan yang tidak pernah ada siapapun yang berani menginjakkan kakinya di sana karena tempat itu terdapat binatang berbisa yang sengaja di sebarkan oleh Leo agar hanya dirinya dan para anak buahnya saja yang menguasai hutan itu.
Saat Leo dan kedua anak buahnya sudah sampai di markas tersembunyi itu, semua anak buah Leo yang berjaga di sana memberi hormat pada lord mereka.
Krekk ...
Pintu di buka oleh anak buah Leo dan masuklah Leo ke dalam salah satu ruangan yang menjadi tempat para tawanan manusia tak berguna akan di eksekusi di sana.
"Leo, kamu dateng sayang." panggil Clara dengan girangnya, ekspresi wajah Leo datar saat melihat empat orang di dalam ruangan itu, mereka adalah Zayn, Clara, Widia dan mata-matanya Zayn.
Leo tidak memperdulikan Clara dan berjalan menuju mantan pacarnya yang tidak pernah ia anggap dulu, ternyata apa yang di katakan Jeffry benar, Widia juga terlibat.
"Ternyata kau tidak menyerah juga denganku, Widia." ucap Leo dengan bahasa yang berbeda membuat Widia merintihkan air matanya, wanita itu sedang berteriak di dalam hatinya sangat menyesal karena tidak mengetahui tentang sisi gelap Leo.
"Kau fikir dengan cara kau bekerja sama dengan si brengs*k ini, kau bisa menyingkirkan istriku dan mendapatkan aku dengan mudah?!" ucap Leo terlihat berbeda dan terasa asing di mata kedua wanita itu.
Prokk ... prokk ... prokk ....
Leo bertepuk tangan dengan keras di depan Widia hingga pria itu berdiri, kedua tangan pria itu tidak henti-hentinya bertepuk tangan di depan mereka berempat.
__ADS_1
"Permainan kalian benar-benar hebat," ucap Leo sengit tanpa menghentikan tepukkan tangannya.
"Bunuh dia," titah Leo tiba-tiba menunjuk mata-mata Zayn yang duduknya paling ujung, salah satu anak buah Leo bergerak mendekati mata-mata Zayn dan. Dorr, dorr, dorr!! Ia menembak semua isi yang ada di dalam pistolnya hingga mata-matanya Zayn tewas di tempat.
Widia yang tidak pernah melihat kekejamam di depan matanya menjadi sangat ketakutan karena untuk pertama kalinya, tepat di samping wanita itu, tubuh mata-mata itu di penuhi darah yang mengalir hingga menyentuh pakaian yang di kenakan Widia.
"Leo !" lirih Widia dengan mulut bergetar, ia merasakan ketakutan luar biasa sekarang.
"Ini 'kan yang kau mau? Melihat istriku di bunuh seperti ini 'kan yang kau mau?" pekik Leo membuat Widia menggelengkan kepalanya kuat, Widia tidak pernah menginginkan Karamel mati tapi Widia ingin Karamel pergi dari hidup Leo.
"Oh! Aku tahu kau hanya ingin menyiksanya dan menyingkirkannya saja 'kan, Widia." ucap Leo tersenyum miring menatap Widia lalu mata pria itu beralih pada Clara yang menundukkan kepalanya menatap lantai coklat ruangan itu.
Tak ... tak ....
Leo berjalan mendekati Clara hingga ketika pria itu tepat berada di hadapan Clara, perlahan wanita itu mendongakkan kepalanya. Plakk! Leo tidak mengizinkan Clara untuk melihat wajahnya dan langsung menampar pipi wanita itu dengan kuat.
"Clara, Clara, Clara! Bagaimana rasanya bermain di lingkarkan kematian, Clara?" tanya Leo dengan seringaian jahatnya namun Clara hanya diam, ia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Leo.
"Kau yang menginginkan nyawa istriku bukan?" sengit Leo menginjak kaki Clara membuat Clara berteriak histeris.
"Aghhh! Leo, sakit ...."
"Zayn begitu baik mau mengeluarkanmu dari penjara Clara, harusnya kau berfikir untuk menjauh dari kehidupan rumah tanggaku bukan malah datang dengan tujuan sama ingin menyingkirkan istriku," sengit Leo sangat dingin hingga pria itu tidak bisa menahan emosinya lagi, pria itu menendang wajah Clara hingga berdarah. Widia membulatkan matanya kaget, ia tidak menyangka Leo akan melakukan kekerasan pada wanita.
"Kau tahu siapa istriku dan kau tahu siapa aku, kau fikir lady queen dan polar prince hanya sekedar nama yang tidak berani berbuat apa-apa? Kau salah Clara, penguasa dunia gelap tidak pernah pandang bulu. lawannya pria ataupun wanita, jika berani berurusan denganku maka dia akan mati di tanganku." sengit Leo membuat tubuh Clara merinding begitu juga dengan Widia.
"Leo, enggak Leo. A-aku aku cinta sama kamu, aku aku ngelakuin semua ini karena aku cinta sama kamu, sayang." ucap Clara berderai air mata menatap Leo yang berdiri di depannya.
"Sepanjang malam aku mikirin kamu, aku menjamah diri aku sendiri sambil bayangin kamu, cuma kamu sayang. Aku aku ...."
"Menjijikkan," sentak Leo menjauh dari Clara dan duduk di kursi tepat di depan mereka bertiga.
"Aku tidak akan mengotori tanganku untuk menyiksa kalian karena aku tidak mau menodai tubuh anakku dengan bekas darah kotor kalian," ucap Leo sebenarnya sangat ingin menyiksa ketiga orang itu namun Leo tidak mau menodai anaknya dengan tangan kotornya yang menyiksa manusia-manusia keji itu.
"Tunggu sampai tangan kananku sembuh, kematian Zoeya akan terlampiaskan dengan cara menyiksa dan membunuh kalian." ucap Leo tersenyum miring menatap Zayn yang menatap tajam dirinya.
"Kecuali kau Clara." ucap Leo beralih menatap Clara dengan ekspresi yang tidak terbaca.
Apa maksud perkataan Leo? Apakah Leo akan membiarkan Keisha menyiksa Zayn dan Widia saja? Sedangkan Clara bagaimana? Apakah Leo akan menyiksa Clara menggunakan tangannya sendiri? Fikiran-fikiran buruk muncul di benak Clara.
"Siapa yang akan kau salahkan, Zayn. Zoeya mati karena ulah siapa?" tanya Leo membuat Zayn mengeraskan rahangnya marah.
"Kau tidak bisa menjawabnya? Baiklah, aku akan menjawabnya, Zoeya mati karena wanita yang ada di sebalah kirimu itu." ucap Leo ingin memprovokasi Zayn agar pria itu menyalahkan Clara, sangat menyenangkan jika wanita itu di cabik-cabik oleh Zayn.
"Coba kau bayangkan jika wanita itu lebih dulu memberitahumu bahwa aku adalah polar prince dan Keisha adalah tangan kananku, apakah kau masih mau berurusan dengan kami?" tanya Leo membuat fikiran Zayn berputar dua kali lebih cepat. Benar, jika Clara memberitahu kebenaran tentang siapa Leo sebenarnya, Zayn pasti tidak akan berurusan dengan penguasa dunia gelap itu.
Zayn langsung menatap tajam ke arah Clara membuat Clara menelan salivanya kasar, wanita itu menggelengkan kepalanya cepat, berharap Zayn tidak akan terpengaruh dengan kata-kata Leo.
"T-tidak Zayn, aku ...."
"Benar yang dia katakan, kau selalu mengancamku dengan rahasia Leo yang ada di tanganmu." sengit Zayn mengingat ucapan-ucapan Clara yang selalu mengatakan dirinya punya satu rahasia lagi tentang Leo tapi wanita tidak mau mengatakannya sebelum Zayn berhasil menyingkirkan Karamel. Ya, wanita itulah penyebab semua yang terjadi pada kekasihnya.
"Apa yang kau katakan Zayn, aku aku tidak ...."
"Jika saja kau mengatakan rahasia Leo adalah penguasa dunia gelap, polar prince. Aku pasti tidak akan menculik istrinya." pekik Zayn membuat tubuh Clara bergerak mundur.
"Tapi permintaan Mommymu ...."
"Persetan dengan permintaan Mommyku, polar prince bukanlah tandinganku, jala*g. semua anggotaku tidak berarti apa-apa di bandingkan milik polar prince, apa kau tahu itu, bod*h!" pekik Zayn murka.
Sebelumnya Zayn tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan berhadapan dengan penguasa dunia gelap yaitu polar prince, jika saja dirinya tahu lebih awal tentang Leo adalah polar prince, persetan dengan petmintaan ibunya, ia lebih memilih untuk tidak menepati janjinya pada ibunya dari pada harus berhadapan dengan polar prince yang anggotanya mencapai ribuan orang.
"Aku tidak tahu ...."
"Kau tidak tahu apa-apa so'al dunia mafia, jika lawanmu tidak sepadan denganmu maka kau akan mati di tangan mereka, Bod*h." pekik Zayn membuat Clara memejamkan matanya takut, Clara tidak tahu tentang dunia mafia itu seperti apa. Ia kira mafia itu sama seperti gangstar sekolahan dan hanya adu kehebatan dengan berkelahi namun tidak sampai saling membunuh.
Zayn berani melawan Karamel dan Kenzi karena semua anggota miliknya sama seperti milik kedua kakak-beradik itu, kekuatan mereka juga sama hebatnya namun jika di bandingkan dengan semua anggota polar prince yang tidak di ketahui identitas orangnya itu, jauh lebih banyak dan hebat.
"Haha !! Sekarang kau sudah tahu Clara, Zayn tidaklah berarti apa-apa bagiku." ucap Leo tertawa keras khas tawa jahat.
"Pindahkan wanita itu ke ruangan lain," titah Leo menunjuk Clara agar di bedakan ruangannya dari Zayn dan Widia.
"Gunakan waktumu untuk bernapas selama tiga hari karena setelah itu kematian akan datang padamu, Clara." ucap Leo dengan seringaian jahatnya.
"Tidak Leo, jangan lakuin itu, jangan bawa aku pergi. Lepasin aku!" wanita itu terus saja memberontak dan berteriak saat dirinya di bawa keluar dari ruangan itu.
"Aku sangat dendam padamu, Zayn. Di masa lalu kau memerintahkan anak buahmu untuk menjadikan istriku sebagai tahananmu, dia di siksa bersama dengan sahabatnya yaitu Justin, aku akan membalas semuanya lewat Keisha yang akan menyiksamu lebih parah dari istriku dapatkan di masa lalu," ucap Leo mengepal tangannya kuat. Zayn teridam, melawan juga percumah karena dirinya pasti akan mati juga.
'Di penjara bawah tanah dengan kedua tangan yang di borgol, bukan benda tajam tapi alat yang mereka gunain untuk menyiksa adalah cambuk rotan. Bukan air panas atau air garam tapi cairan untuk membuat luka-luka semakin perih adalah alkohol.'
__ADS_1
Leo mengepal tangannya saat mengingat cerita istrinya beberapa bulan yang lalu, Leo betsumpah Zayn harus membayar siksaan yang istrinya dapatkan di masa lalu.
.........
Hanya keheningan yang ada di dalam ruangan dua pasien sekarat itu, padahal di dalam sana ada dokter Aldert, dokter Barrak selaku dokter pribadi di dunia gelap milik Leo, ada Jeffry dengan satu anak buahnya yaitu Shane serta ada dua anak buah Keisha yaitu Abill dan Ardan.
Mereka semua diam, dokter Aldert dan dokter Barrak sedang mengecek keadaan Zoeya, kedua dokter hebat itu telah mendengar cerita dari dokter pribadi keluarga Blende yaitu dokter Jason tentang riwayat kesehatan Zoeya yang sudah beberapa kali menghadapi ambang kematian.
Jeffry tidak membuka suara sejak beberapa jam yang lalu, dirinya terlihat melipat kedua tangannya seraya bersadar di dinding dekat pintu memandangi brankar sahabatnya dan juga adik tiri sahabatnya itu dengan cemas, lama ia lihat, tidak ada pergerakan apapun dari keisha ataupun Zoeya. Entah ke mana alam bawah sadar mereka berdua sekarang, Jeffry tidak pernah melihat keadaan Keisha sampai koma seperti ini, Zayn benar-benar sudah gila menyiksa Keisha hingga mampu membuat kesadaran Keisha menghilang selama seminggu ini.
Begitu juga dengan keadaan Zoeya, Jeffry sampai menggeleng kepala saat dirinya mengetahui fakta tentang Zoeya yang ternyata riwayat kesehatan wanita itu luar biasa mengerikan, mulai dari gejala paru-paru karena tenggelam, luka sayatan di leher, keracunan hingga kecelakaan yang menyebabkan gegar otak pun pernah wanita itu alami dan semua itu hampir merenggut nyawa wanita itu.
Mungkin selama ini Keisha memang salah menilai adik tirinya. Tidak, bukan hanya Keisha saja tapi semua orang sudah salah menilai Zoeya, mereka hanya melihat cover depan wanita itu yang selalu menunjukkan sisi buruknya saja namun mereka tidak tahu isi di dalamnya seperti apa.
Jeffry menghembuskan napasnya kasar, dirinya pun merasa bersalah dengan Zoeya yang dulu pernah ia sebut sebagai 'Anak Buangan' tepat di hadapan wanita itu, saat itu Keisha tidak memarahi Jeffry dan malah menambahkan kata-kata kasar lainnya seperti 'Dia memang hama yang seharusnya di singkirkan,' sungguh tidak bisa di bayangkan bagaimana perasaan Zoeya saat itu, pastinya sangat sakit.
"Dia kesakitan, Aldert." ucap Jeffry menatap Zoeya dengan tajam, setelah sekian lama Jeffry tidak pernah merasakan belas kasihan kini Jeffry kembali merasakan kasihan dengan keadaan Zoeya.
"Lalu maksudmu apa? Kau ingin membunuhnya? Membuat usaha kami yang mati-matian untuk menyelamatkannya menjadi sia-sia?" tanya dokter Aldert menatap Jeffry dengan sinis, dokter Aldert mengenal betul sikap Jeffry yang selama ini tidak pernah perduli dengan wanita manapun tapi sekalinya pria itu perduli, solusi yang pria itu berikan tidak pernah beres.
"Bo*h! Membiarkan dia tetap hidup akan membuatnya tersiksa, apa kalian tidak kasihan melihatnya di antara hidup dan mati seperti ini." pekik Jeffry merasa tidak tega dengan keadaan Zoeya, apalagi semalam bedside monitor wanita itu kembali menunjukkan garis lurus membuat mereka semua sangat panik karenanya.
Seperti yang di duga oleh dokter Aldert, solusi pria itu benar-benar tidak pernah beres dan terdengar konyol sekali.
Dokter Barrak yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara, bahkan sejak seminggu yang lalu jarang membuka mulutnya itu menghampiri Jeffry dan. Bukk! Ia membogem wajah tangan kanan tuannya itu hingga tubuh Jeffry terjatuh ke kursi panjang yang ada di ruangan itu.
"Kau bukan Lord yang bisa memerintah kami, tutup mulutmu selagi aku bisa menahan amarahku," sengit dokter Barrak menunjuk wajah Jeffry dengan tajam lalu dokter Barrak kembali ke brankar Zoeya.
Shane yang menjadi anak buah Jeffry hanya bisa diam saja melihat dokter Barrak memukul bosnya, begitu juga dengan Abill dan Ardan, tugas bawahan adalah menjaga dan mematuhi perintah bosnya tapi dokter Barrak dan dokter Aldert tidak bisa bahkan tidak berani mereka lawan. Itu karena di dunia gelap mereka selain atasan mereka adalah polar prince, baik itu Jeffry, Keisha, dokter Barrak serta dokter Aldert adalah atasan mereka juga.
Bukk ....
Jeffry memukul kursi panjang di dalam rungan itu, ia bukan marah pada dokter Barrak yang telah memukul wajahnya barusan tapi Jeffry terlihat frustasi dengan keadaan sahabat dan adik sahabatnya itu, Shane dan Ardan sampai terperanjat kaget karena mereka berdua duduk di kursi panjang itu sedangan Abill sama seperti Jeffry yang berdiri sejak beberapa jam yang lalu namun Abill bersandar di dinding samping brankar Keisha.
"Bos bangun!" ucap Abill saat melihat jari telunjuk Keisha bergerak dan ia menghampiri brankar bosnya itu.
Dokter Aldert yang berada di tengah-tengah brankar kedua pasien itu langsung mendekat ke brankar Keisha begitu juga dengan Shane, Ardan dan Jeffry yang menghampiri brankar Keisha. Pria itu menggerakkan kepalanya pelan dengan pupul mata yang bergerak ingin terbuka.
"Zoe ...." kata itu keluar dari bibir Keisha dengan suara pelan dengan napas tercekat, pria itu belum sanggup mengeluarkan banyak kata mungkin karena efek baru sadar dari komanya.
"Keisha, apa kau bisa mendengarku?" tanya dokter Aldert tepat di samping Keisha namun Keisha belum bisa membuka mata sepenuhnya, suara dokter Aldert samar-samar terdengar di telinganya begitu juga wajah dokter Aldert yang terlihat kabur namun sesekali terlihat jelas.
Keisha mengedipkan matanya sekali sebelum ia berusaha membuka matanya lagi walau gagal ia lakukan.
"Zoe ...." lagi-lagi Keisha memanggil nama adik tirinya, Jeffry mengepal tangannya kuat. Kenapa dirinya harus melihat Keisha yang lemah seperti sekarang? Rasa tidak tega muncul pada diri Jeffy karena selama ini ia tidak pernah melihat Keisha si brengs*k itu selemah sekarang.
Sejujurnya Jeffry sangat ingin menyiksa Zayn sampai mati karena telah membuat sahabatnya terluka parah namun Jeffry tidak yakin tuannya akan mengizinkannya karena tuannya itu pasti juga ingin menyiksa pria yang telah membuat istrinya celaka.
"Keisha!" panggil dokter Aldert lagi namun Keisha masih merasa kesulitan hanya untuk membuka matanya saja.
"Bangun kau brengs*k," pekik Jeffry tidak tahan langsung mencengkeram baju pasien Keisha dengan marah, Keisha seperti menahan perih di tubuhnya.
"Jeffry !!!" pekik dokter Aldert.
"Apa? Keisha yang aku tahu tidak pernah selemah ini jadi buka matamu, a**hole!" pekik Jeffry penuh penekanan, dirinya frustasi melihat keadaan Keisha.
"Lepaskan dia! Kau membuatnya sulit benafas, bod*h." pekik dokter Aldert menarik kedua tangan Jeffry dengan paksa.
"Tenanglah bos, bos Keisha pasti akan sadar." ucap Abill pada Jeffry.
"Zoe ...." panggil Keisha berhasil membuka matanya, kepala pria itu sakit begitu juga di sekujur tubuhnya, ia merasa antara hidup dan tak hidup akibat keadaannya yang begitu lemah, telinganya samar mendengar kegaduhan mereka.
"Dia terus saja memanggil adiknya tapi dirinya enggan untuk bangun, mati saja kau a**hole!" pekik Jeffry geram dengan Keisha.
"Bos, Nona Zoeya ada di sampingmu, bangunlah Bos!" ucap Abill pelan membuat Keisha kembali mengedipkan matanya sekali lalu Keisha menatap Abill.
"A-apa dia selamat?" tanya Keisha lemah.
"Operasinya berjalan lancar, dia ada di sampingmu sekarang," ucap Abill membuat Keisha menggerakkan kepalanya pelan ke arah brankar Zoeya, pria itu tersenyum tipis karena adik tirinya bisa selamat namun tak lama dari itu mata pria itu tertutup.
Titt ....
.......
.......
.......
......::: Bersambung :::......
__ADS_1
...Part akhir thor deg-degan dong, ada yang sama kayak thor?...