Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part ' 177 (Takdir)


__ADS_3

"Kara, Henry ...."


"Mantan suami," Faza memotong perkataan Diky.


"Hah?!" serentah keempat laki-laki itu terkejut.


Faza berdecak malas lalu ia mengajak mereka semua untuk duduk bersama namun bukan di bangku tapi mereka duduk di lesehan agar lebih nyaman.


Faza duduk di samping Leo dan di depan mereka berdua ada Karamel yang duduk di tengah-tengah Diky-Adit dan Bobby-Dito.


Sorot mata keempat laki-laki itu tidak berubah pada Leo hingga Faza mulai kesal kala sifat kekanak-kakakan sahabatnya itu muncul.


Faza pun bertindak meminta Karamel untuk bercerita tentang kejadian-kejadian dua tahun yang lalu seperti apa.


Perlahan Karamel bercerita tentang dendam Rega Ananda kepada grandpa Berrold dan tentunya Karamel langsung menyebutkan Henry adalah anak dari Rega Ananda, lalu Karamel menceritakan keterlanjutan rencana Rega Ananda untuk membunuh semua anggota keluarganya dengan bantuan dari anaknya yaitu Henry.


Karamel menatap dalam netra Leo lalu Karamel kembali bercerita tentang Leo yang pergi meninggalkannya demi menyelamatkan nyawa seluruh anggota keluarganya dari musuh terbesar grandpa Berrold.


Mendengar cerita Karamel, keempat laki-laki itu banyak mempertanyakan apa, kenapa, bagaimana dan sejenisnya.


"Plan B!" ucap Leo membuat keempat laki-laki itu menatap ke arah Leo.


Leo melanjutkan cerita Karamel dari rencana plan A Raga Ananda, yang ingin Henry menikah dengan Karamel maka rencana pembunuhan keluarga besar Karamel akan tertunda untuk sementara waktu atau plan B, jika rencana plan A gagal maka Rega Ananda akan membunuh semua anggota keluarga Karamel.


Kepergian Leo bukan untuk menyakiti hati Karamel tapi Leo pergi demi bisa menyelamatkan nyawa wanita yang Leo cintai.


Meski kenyataannya dua tahun yang lalu Leo sadar, kepergiannya sudah membuat Karamel sakit hati.


Bungkam! Keempat laki-laki itu tidak menyangka bahwa Henry adalah seorang penjahat dan Leo adalah seorang penyelamat.


Leo melanjutkan ceritanya lalu Karamel menimpalinya ceritanya dan Faza juga ikut menambahkan ceritanya hingga selesai.


Respon yang di berikan keempat laki-laki itu kadang marah, kadang melembut, terkejut dan yang lebih parahnya lagi keempat laki-laki itu terlalu banyak menyudutkan Leo hingga Karamel terpaksa angkat bicara dengan nada pelan.


"Kalian cuma bisa marah-marah doang sama Leo tapi kalian enggak lihat sisi pengorbanan dia, Leo ngorbanin cintanya demi nyawa pacarnya," ucap Karamel.


"Leo udah buktiin cinta dia ke gue, cinta yang berkorban bukan kata-kata cinta yang cuma terucap dari mulut aja." tambah Karamel tersenyum tipis pada Leo.


"Kalian mikir enggak sih, Leo berjuang sendiran tanpa adanya pacar, sahabat bahkan tanpa bantuan keluarga. Selama dua tahun, Leo sendirian," lirih Karamel.


"Kalo kita emang sahabat, kenapa lo enggak kasih tau kita sebelumnya Le?" tanya Diky pelan.


"Gue enggak mau nyawa kalian juga terancam, Dik" sahut Leo lebih memilih menderita sendirian dari pada harus berbagi dengan para sahabatnya.


"Intinya gini, Karamel udah ngertiin posisi Leo yang mempertaruhkan perasaan dia demi nyawa keluarga besar pacarnya, Leo nganggep kita sahabat bukan berarti di setiap situasi Leo harus cerita sama kita ... enggak! Leo malah berusaha buat enggak ngelibatin para sahabatnya karena dia tahu musuh yang dia hadapin itu enggak mudah buat di taklukin," ucap Faza memberi arahan agar keempat laki-laki itu paham akan posisi perjuangan Leo.


"Bahkan kalo kalian berfikir secara panjang nih, enggak ada gunanya juga Leo cerita sama para sahabatnya, mau bantu, emang lo pada bisa apa? Malah menambah beban Leo aja buat ngelindungin nyawa SALF BADRAD," tambah Faza memakan kentang goreng.

__ADS_1


"Kalian marah, itu wajar ...."


"Ya enggak dong!" sela Faza tiba-tiba membuat semuanya kaget.


"Gini gini, awalnya dengar cerita lo emang keliatannya salah banget elonya karena pertama, nyawa yang terancam itu keluarga besar gue sama Ara tapi lo enggak ngasih tau kita sedikitpun informasi itu. Kedua, apa gunanya sahabat kalo lo enggak mau minta bantuan para sahabat lo. Ketiga, lo ninggalin Ara tanpa alasan terus lo balik lagi dan nuduh Ara selingkuh. Itu baru tiga ... di mata orang yang denger dan liat jelas itu salah lo tapi ...." Faza menjeda perkataannya dan melirik ke arah Karamel.


"Sebenernya enggak sepenuhnya salah elo, Ara juga salah ...." ucap Faza membuat semuanya menatap Faza.


"Kenapa gue?" tanya Karamel.


"Leo cinta mati sama lo, dia rela ngorbanin segalanya buat lo, Leo rela di benci sahabatnya demi lo bahkan Leo harus nyakitin lo demi nyawa keluarga besar lo, tapi elo? Sejak awal gue enggak pernah liat lo ngorbanin cinta lo buat Leo, jangankan ngorbanin cinta, lo bahkan jarang nunjukin simpati lo ke Leo. Buktinya nih dua tahun yang lalu, apa lo enggak ngerasa bersalah ninggalin Leo ke Bandung dulu? Lo ninggalin Leo sendirian, di saat Leo dapetin pilihan dari orang tuanya, Leo butuh elo tapi lo enggak ada." ucap Faza bukan bermaksud untuk menyalahkan Karamel.


Faza ingin menunjukkan bahwa Karamel juga pernah melakukan kesalahan namun kesalahannya tidak di anggap karena kesalahan Leo lebih menonjol hingga terlihat hanya Leo yang bersalah.


Karamel tersentak tak percaya Faza akan menceramahi dirinya. Ya, Karamel sadar dirinya bersalah karena dulu dia bosan tinggal di Jakarta jadi dia lebih memilih meninggalkan Leo ke Bandung.


Faza memajukan kepalanya sedikit, "Karamel ninggalin Leo karena bosan diem di Jakarta tapi Leo ninggalin Karamel buat apa? buat nyelamatin nyawa dia. So, menurut kalian berempat yang terbukti salah siapa coba?" tanya Faza menaikkan sebelah alisnya.


"Kita minta maaf karena udah nyalahin lo, Le. Kita sadar kita salah karena cuma bisa marah-marah doang," lirih Diky tiba-tiba.


"Gue juga baru sadar sekarang, kalo Kara yang salah duluan karena ninggalin lo di Jakarta," timpal Adit membuat Karamel terbelalak kaget.


Faza berusaha menahan tawanya membuat Karamel memelotot ke arah Faza.


Kata maaf kepada Leo terus terlontarkan bahkan kata-kata kesalahan Karamel juga terlontarkan dari mulut keempat laki-laki itu.


Hingga suasana sudah terasa hangat, Karamel baru menampakan kekesalannya karena sejak tadi mulut Diky dan Adit yang selama ini selalu membela dirinya malah berpaling kepada Leo bahkan Bobby dan Dito terus saja memuja Leo di depan Karamel.


"Udah mau jam tujuh malem, enggak balik lo?" tanya Karamel pada Faza namun nada bicaranya dingin dan tanpa ekspresi.


"Cie! Marah ni ye," Faza malah menggoda Karamel.


"Apaan sih lo ...." Karamel memelototi Faza.


"Utut tutut Leo di salahain lo enggak terima, lo yang di salahin malah marah. Dasar cewek," ejek Faza membuat semuanya menatap Karamel.


"Enggak usah lihtin gue kayak gitu, gue enggak marah karena gue emang ngerasa salah. Puas lo!" sentak Karamel membuat Faza tersenyum.


Leo tahu istrinya itu sedang dalam mood yang buruk, maka dari itu alangkah baiknya jika Faza tidak menambah hancur suasana bad moodnya,.


"Za ...."


"Dih enggak marah tapi nadanya tinggi dong," Faza makin gencar menggoda Karamel.


Karamel merasa geram dengan Faza, "Lo nyar ...."


"Di mobil ada skateboard, hadiah dari gue buat lo," ucap Faza tiba-tiba, seketika raut wajah Karamel berubah terkejut dan bahagia.

__ADS_1


"Skateboard? Woah! Lo emang Abang gue yang terhebat, paling tahu mainan kesukaan gue," ucap Karamel langsung pergi ke luar cafe untuk menghampiri mobil Faza.


Leo, Diky dan Adit tercengang melihat perubahan suasana hati Karamel, sedangkan Bobby dan Dito tampak biasa saja karena mereka pernah menyaksikan sendiri bagaimana suasana hati Karamel berubah-ubah menjadi tegas, kejam, kekanak-kanakan bahkan manja sekalipun.


"Ck! Dasar cewek aneh," desis Dito melihat kepergian Karamel.


"Skateboard? Bini gue bisa main skateboard?" gumam Leo tak percaya.


"Main motor aja dia bisa apalagi skateboard, paling jago tu anak," ucap Faza


"Tau dari mana lo?" tanya Diky.


"Dari Kenzi, katanya Ara sering main sama salah satu teman cowoknya di Amerika, kalo enggak salah namanya Justin!" jawab Faza kembali memakan kentang goreng.


"Waw! Multitalenta banget tuh anak," ucap Adit kagum akan bakat Karamel.


"Dari kecil tu anak emang banyak bakatnya, biasa lah ajaran militer dari grendpa Berro," sahut Faza.


"Main pistol, main double stick, main panah, pintar karate, balapan terus sekarang skateboard ... Kara cewek apa bukan sih?" Adit malah mempertanyakan jenis kelamin Karamel yang tidak sesuai akan bakat yang seharusnya di miliki oleh laki-laki.


"Bakat Kara itu bisa nyanyi, akting sama fashion show doang. Kalo yang lo sebut tadi itu kekuatan fisik sama hobi dia," sahut Bobby tahu tentang Karamel.


"Sama aja kalik," balas Adit.


Faza hanya tersenyum simpul lalu Faza menatao ke arah Leo, "Gue denger tadi lo kalah tanding lagi ya dari Ara?" tanya Faza terdengar mengejek.


"Siapa?" sambar Bobby penasaran.


"Nih anak," Faza menunjuk Leo pakai bibirnya.


"Tanding apaan lo sama Kara?" tanya Dito pada Leo.


"Balap motor," Faza yang menjawab dan itu membuat semuanya menatap tak percaya ke Leo.


"Dasar lo ya ember cap jempol," dengus Leo membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.


Actually, Leo merasa sangat malu karena di ejek oleh para sahabatnya, dirinya memang suka balapan dan semasa hidupnya Leo tidak pernah kalah bahkan dengan Kenzi pun Leo pernah menang, namun entah kenapa Leo tidak bisa mengalahkan Karamel.


Mungkinkan Kara punya keturunan sang pembalap. Entahlah, Leo juga tidak tau.


"Ehem, Hai?!" seseorang datang menyapa keenam laki-laki SALF ARDDAB.


Semuanya menoleh ke arah sumber suara, "Boleh gabung enggak?" tanyanya membuat keenam laki-laki itu terdiam lama.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2