Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part 179 (Takdir)


__ADS_3

Karamel sangat bahagia mendapatkan hadiah skateboard dari Faza, sudah bertahun-tahun lamanya Karamel tidak bermain skateboard lagi.


Dulu ketika Karamel masih menginjak sekolah dasar, Karamel belajar main skateboard dengan Justin hingga menuju sekolah menengah pertama Karamel selalu bermain skateboard dengan Justin.


"Jadi kangen masa SMP," gumam Karamel buru-buru menuju mobil.


"Malam Pak Idan," sapa Karamel ketika sang security kediaman keluarga Sinaja duduk di slah satu bangky dekat parkiran mobil.


"Eh! Non Kara, malam juga Non!" sahut pak Idan langsung berdiri dan membungkuk hormat.


"Bang Aza bilang di mobil ada hadiah ya buat Kara?" tanya Karamel dan pak Idan langsung mengajak Karamel ke bagasi mobil.


"Ini Non hadiahnya," ucap pak Idan memberikan skateboardnya.



Karamel tersenyum ketika melihat skateboard yang di hadiahkan Faza khusus di buat atas nama dirinya.


"Makasih, pak Idan!" ucap Karamel.


"Kata Den Faza, Non Kara enggak akan suka kalo di beliin pakaian atau tas mahal. Jadi Den Faza nanya sama Den Kenzi barang kesukaan Non Kara itu apa ...."


"Oooh, jadi Kak Kenzi yang bilang!' potong Karamel.


"Dasar Bang Aza!" dersis Karamel tersenyum miring.


"Ya udah, Kara mau coba main dulu. Pak Idan lihatin Kara ya," ucap Karamel dan pak Idan mengangguk patuh.


Karena cafe Gourmet terkenal paling ramai anak-anak muda, luas halaman cafe Gourmet hampir mencapai dua hektar termasuk tempat parkiran juga. Banyak anak muda yang bermain sepatu roda di sini tapi untuk anak muda yang bermain skateboard hanya ada satu atau tiga orang saja.


Karamel meletakkan kaki kanannya di atas papan skate lalu kaki kiri ia gerakkan di aspal. Dengan lihainya Karamel bermain skateboard sampai pandangan mata semua orang melirik ke arah Karamel.


Karamel terlalu asik dengan gerakkan-gerakkan mengangkat skateboard hingga melompat ke udara atau bisa di sebut dengan Ollie lalu gerakkan manual yang di mana papan skate bertumpu pada roda belakang ketika roda depan berada di udara namun masih dalam posisi meluncur di udara.


Karamel tidak sadar ada banyak mata anak-anak muda laki-laki maupun perempuan sedang memonton bahkan ada yang mengabadikan aksinya melalui ponsel mereka.


Hingga Pak Idan pun tidak bisa melihat aksi Karamel karena semua orang berkumpul menonton aksi Karamel.


Tidak banyak gerakkan yang Karamel lakukan karena dirinya tidak semahir teman lamanya yaitu Justin. Tapi untuk satu gerakkan extreme yaitu lipslide atau meluncur dengan menempatkan papan skate bagian tengah ke tiang slide, Karamel sangat lumayan mahir walau terkadang dirinya jatuh jika sedang tidak seimbang.


Prokk prokk prokk ....


Prokk prokk prokk ....


Ketika Karamel berhasil melakukan lipslide pada salah satu tiang slide di parkiran mobil yang panjang tiangnya mencapai dua mobil, semua orang bertepuk tangan hingga Karamel berhenti bermain lalu tersenyum canggung kala mendapatkan tepuk tangan dari semua orang yang menontonnya.


"Luar biasa," suara seorang laki-laki menghampiri Karamel dari arah samping kirinya.


Karamel menoleh, "Kak Kevin, Kak Rendi!" ucap Karamel tersentak.

__ADS_1


Kedua laki-laki itu tersenyum dengan terus bertepuk tangan, "Enggak nyangka gue ternyata lo bisa main skateboard, apalagi tadi gerakkannya di atas tiang sekecil itu. Hebat banget lo!" celoteh Rendi memuji aksi Karamel tadi.


"Makasih pujiannya kak," sahut Karamel memiringkan kepalanya.


Kevin merasa gemas ketika Karamel memiringkan kepalanya sembari mengucap kata makasih. Ingin rasanya Kevin mencubit pipi Karamel namun dirinya tidak berani untuk melakukannya.


"Oh iya! Lo malam-malam gini main skateboard di cafe enggak takut di marah suami?" tanya Rendi.


"Ada! Dia lagi di cafe ngobrol bareng sahabatnya." jawab Karamel cepat dan seketika juga Rendi terdiam karena mengira suami Karamel adalah Henry.


Kevin tersenyum kecut, "Kalo suami ada di dalam cafe, kenapa lo ada di luar main skateboard sendirian?" tanya Kevin.


"Bang Aza baru beliin gue skateboard jadi gue langsung nyoba main aja," jawab Karamel jujur.


"Kevin juga pro main skateboard, di Bandung enggak pernah ketinggalan dia kalo ada yang tanding." ucap Rendi.


"Benarkah?!" tanya Karamel dan Kevin hanya tersenyum menatap Karamel.


"Boleh dong tunjukkin ke gue," pinta Karamel.


Rendi menyenggol bahu Kevin hingga Kevin sempat berfikir sejenak lalu dirinya pasrah saja mengikuti permintaan Karamel.


Kevin memegang papan skate milik Karamel lalu Kevin langsung meluncur dan melakukan banyak gerakkan extreme lainnya, Karamel sampai menganga melihat Kevin sangat mahir bermain tanpa rasa ragu sedikitpun.


Saat Kevin bermain skateboard semua mata orang-orang kembali di suguhkan oleh aksi Kevin yang tingkat gerakkannya lebih extreme dari Karamel tadi. Setelah selesai, Kevin menghampiri Karamel dan Rendi.


"Waw! bagus banget Kak, jadi pengen lihat lagi gue!" ucap Karamel ketagihan melihat aksi hebat Kevin tadi.


"Oh ya udah, kita main di jalanan aja. Kevin lebih jago kalo main di trotoar jalanan," ajak Rendi dan Karamel menatap Kevin.


Apakah Kevin mau atau tidak? Fikir Karamel.


Dan tanpa di duga Kevin mengangguk pelan kepada Karamel, "Serius, Kakak enggak cape?" tanya Karamel.


Kevin memberanikan diri mengelus puncak kepala Karamel, "Enggak," ucap Kevin tersenyum mesra membuat Rendi merasa terabaikan.


"Ya udah, ayok!" ajak Rendi cepat.


Tanpa basa-basi lagi ketiga orang itu pergi menuju jalanan, Kevin meluncurkan skateboardnya di jalanan hingga Karamel dan Rendi sedikit berlari mengejar Kevin.


Karamel selalu berteriak heboh ketika Kevin berhasil melakukan setiap gerakkan yang menurutnya sangat sulit untuk di pelajari.


"Gila, habat banget kak!" pekik Karamel dan Kevin tersenyum senang mendengar teriakkan Karamel.


Huft ... huft ... huft ....!!!


Karamel dan Rendi mulai merasa lelah kala mengejar Kevin yang tidak henti-hentinya membuat takjub semua mata orang yang melihat aksinya.


"Cape gue," keluh Karamel dan Renda tertawa melihat wajah Karamel yang merah.

__ADS_1


"Gokil sih, baru kali ini gue ketemu cewek kuat yang larinya udah berpuluh-puluh menit baru ngerasin cape kayak lo, Kar!" ucap Rendi.


"Emang ... hahh! Harusnya kayak gimana?" tanya Karamel duduk di trotoar jalanan.


"Huft! Ya enggak harus kayak gimana-gimana, maksud gue 'kan biasanya kalo cewek lari dikit selama dua menit aja udah ngeluh cape atau bilang enggak sanggup lagi gitu." Rendi meluruskan maksud dari ucapannya tadi.


Karamel tidak menjawab dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


"Wah parah lo berdua, gue udah sampai di klinik persimpangan jalan. Lo berdua malah duduk santai di sini," umpat Kevin membuat kedua orang itu memutar bola mata jengah.


"Lo tahu artinya cape 'kan?" ucap Rendi.


"Nah! Kita lagi kecapean karena ngejar elo, Kak Kevin." timpal Karamel membuat Kevin speechlees.


"Lagian lo enggak cape apa main skateboard sampai sejauh itu, biasanya juga lo main enggak sampai sepuluh menit udah selesai." ucap Rendi membuat Kevin memelototi dirinya.


"Tadi 'kan gue yang minta jadi pertunjukan malam ini spesial dong buat gue, iya 'kan Kak?" sambar Karamel tersenyum merekah menatap Kevin, dan itu berhasil membuat jantung Kevin berdetak sangat cepat.


Deggg ....


"Kara ...." tiba-tiba ada suara seseorang laki-laki memanggil Karamel.


Mereka bertiga menatap ke arah sumber suara itu dan terlihatlah Leo, Faza, Diky, Adit, Dito dan Bobby berdiri tidak jauh dari mereka.


Leo sedikit terkejut melihat salah satu laki-laki yang berdiri di depan Karamel, dia adalah Kevin. Orang yang pernah berselisih dengan dirinya di masa lalu.


Sedangkan Kevin tampak biasa saja menatap Leo malah Kevin melihat Leo dengan tatapan datar dan malas.


Keenam laki-laki SALF BADRAD berjalan pelan menghampiri ketiga orang itu, "Lo! Ngapain lo di sini?" tanya Leo terdengar tidak suka akan kehadiran Kevin.


Mendengar pertanyaan Leo barusan, Diky, Adit, Dito, Bobby dan Faza merasa heran karena Leo dan Kevin seperti sudah saling mengenal. Sedangkan Rendi hanya diam memandang dua orang yang ia ketahui pernah punya perselisihan di masa lalu.


"Terpaksa," sahut Kevin terdengar ambigu namun Leo mengerti maksud dari ucapan Kevin itu.


"Wait wait! Kalian berdua udah saling kenal?" tanya Karamel berdiri menunjuk Kevin sekilas lalu menujuk Leo sekilas beberapa kali.


"Sepupu," Kevin dan Leo menjawab serentak dengan nada malas.


.


.


.


::: Bersambung :::


Hai wak-wak reader .....


Jangan lupa dukung author cici dengan terus vote, like dan komen ya. Dan buat yang mau kasih tips juga boleh ya. Terima kasih atas antusias kalian semua kakak-kakak.

__ADS_1


__ADS_2