
Karamel masih menikmati kegiatannya yang menyiksa Henry dengan terus mencambuki tubuh bagian depan maupun belakangnya.
Hingga beberapa menit berlalu, Karamel berhenti dengan napas terengah-entah.
"Sampai sini aku puas melihatmu tidak berdaya seperti ini, Henry." ucap Karamel dingin.
"Tapi nanti malam aku akan kembali untuk menyiksamu lagi karena besok kau dan Rega Ananda akan di kirim ke penjaga Afrika, kalian akan segera membusuk di sana," sengit Karamel menyeringai membuat Henry terkejut mendengarnya.
Dengan susah payah Henry mendongakan kepalanya menatap Karamel.
"Ke-kenapa kau mau memenjarakan suamimu, Sayang?" tanya Henry lirih.
"Benar, kau pasti tidak akan pernah bisa sadar dengan kesalahanmu, maka dari itu kau pantas hidup di balik sel tahanan agar otak bodohmu iti bisa berfikir, kesalahan apa saja yang telah kau perbuat." ucap Karamel sinis.
"Ak-aku mengaku salah, tolong jangan penjarakan aku, Sayang. Jangan jauhkan aku darimu, aku mohon." pinta Henry merintihkan air matanya.
Semudah itu air mata Henry keluar? Karamel sampai tersentak kaget tapi di dalam hati ia juga merasa senang.
"Ter-lam-bat," ucap Karamel pelan.
"Jika saja kau tidak membunuh anggota keluargaku, aku pasti bisa melepaskanmu tapi sayangnya kau melakukannya, Henry. Bahkan setelah kesalahkan itu, kau tidak merasa bahwa dirimu salah tapi saat aku mengatakan kau dan Rega Ananda akan di kirim ke penjara Afrika, kau baru mengaku salah dan memohon dengan alasan tidak mau berjauhan dariku." sengit Karamel.
"Mulutmu itu tidak ada bedanya dengan ular kobra, Henry, sangat berbisa." sambung Karamel pelan.
Leo menahan tawanya ketika Karamel mengatai mulut Henry seperti ular kobra yang berbisa.
"Kamu harus hati-hati sama mulut berbisa Henry, Kara." batin Leo mengejek Henry.
"Leo ...."
"Bukankah kau tidak mau berhubungan dengan Leo yang sudah meninggalkanmu selama setahun punuh lalu kenapa sekarang kau malah dekat dengannya, Kara?" tanya Henry terdengar sangat konyol untuk di pertanyakan lagi pada Karamel.
"Biar kuberitahu, Leo meninggalkan aku karena dia ingin menyelamatkan nyawaku dan keluargaku bukan seperti dirimu yang mengawasiku dan mendekatiku untuk mengincar nyawa semua anggota keluargaku," ucap Karamel.
"Kau sudah tidak mencintai Leo lagi karena kau sangat mencintai aku, Kara." ucap Heney penuh percaya diri.
Dan seketika Karamel terkekeh hambar.
"Kau salah Henry, aku menikahimu bukan karena cinta tapi karena belas kasihan, kau memaksaku untuk menikah karena kau selalu mengeluh dengan mengatakan 'aku menunggumu selama lima tahun, Kara. Apa bukti itu belum cukup untuk menunjukan betapa besarnya cintaku ini' ... oh ****, dengan perasaan belas kasihan aku menyetujui permintaanmu untuk menikah." ucap Karamel.
"Oh bukan hanya itu, tanpa dukungan dan desakkan kedua orang tuaku, kau pasti tidak akan bisa menikah denganku." sambung Karamel.
"Memang benar aku pernah merasa nyaman dan juga merasa terhibur akan caramu memperlakukan aku seperti ratumu, kau tau obsesi? Kau membuat aku terobesi akan perlakuanmu hingga aku merasa bahwa aku mungkin sudah jatuh cinta kepadamu," ucap Karamel dingin.
"Tapi tidak, aku tidak pernah mencintaimu, itu kebenarannya." tambah Karamel penuh penekanan.
"Lalu apa kau masih mencintai laki-laki brengs*k itu, Kara." ucap Henry lirih.
Deg! Karamel terdiam lama seraya dirinya melirik ke arah Leo yang ternyata sedang menatap dirinya.
__ADS_1
"Kau tidak punya hak apapun untuk mengetahui semuanya," ucap Karamel menatap tajam ke Henry.
"Aku tau kau tidak mencintainya, Kara. Kau tidak akan mungkin mencintai laki-laki brengs*k itu, iya 'kan." ucap Henry tertawa jelek membuat Karamel mengepal tangannya kuat.
Karamel tidak memperdulikan ucapan Henry, dirinya malah hendak pergi dari sana.
"Jika aku katakan aku akan menikah dengan Karamel, kau bisa berbuat apa, Henry?" ucap Leo tiba-tiba.
Karamel mengurungkan dirinya untuk pergi lalu ia berbalik menatap Leo, "Leo, udah ...."
"Brengs*k kau Leo, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Karaku. Karamel adalah istriku, jadi kau tidak ...." perkataan Henry terpotong.
"Kara adalah mantan istrimu jadi aku berhak untuk menikahinya karena aku sangat mencintainya, Henry," ucap Leo menyeringai dan itu memancing emosi Henry.
Karamel terpaku di tempatnya, meski kata-kata Leo mungkin hanya untuk memancing emosi Henry saja tapi pengaruh kata-kata itu sangat besar untuk Karamel, terbukti dari detak jantung wanita itu yang di buat disko di dalam sana.
"Kau aghhh ...." Henry meringis kesakitan karena ia bergerak ingin memberontak.
"Pati sangat sakit bukan?" ejek Leo membuat Karamel mengernyit.
Sebenarnya sejak tadi Leo memendam amarah kepada Henry tapi karena dirinya tidak mau mengganggu waktunya Karamel yang menyiksa Henry, maka Leo hanya duduk diam di meja menyaksikan apa yang di lakukan oleh Karamel.
"Tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan ketika aku harus meninggalkan wanita yang aku cintai demi menyukseskan rencana kalian," sengit Leo membuat Karamel tersentak kaget.
"Leo ...." desis Karamel lirih menatap Leo
"Dan sekarang aku tidak akan meninggalkan Kara lagi karena aku akan mencari cara untuk membuat Karamel mencintaiku lagi lalu setelah itu aku akan menikahi Karamel," sengit Leo membuat Karamel semakin terkejut.
Sungguh tidak bisa di bohongi, Leo merasakan sesak di dadanya kala mahkota Karamel-nya telah di ambil oleh laki-laki brengs*k seperti Henry.
"Aku tidak perduli akan itu," sahut Leo membuat mata Karamel menggenang.
Hati Karamel senang mendengar penuturan Leo yang mungkin saja hanya sandiwara belaka.
"Ck, jangan bermimpi untuk menikah dengan istriku, Karamel adalah istriku, dia masih menjadi istriku dan kau ...."
"Pernikahan kami akan di laksanakan besok sebelum keberangkatanmu ke Afrika, Henry." potong Karamel membuat kedua laki-laki itu menatap ke arah Karamel.
Dan di tempatnya berdiri, Karamel sedang menatap penuh ke arah Leo membuat Leo terbius oleh tatapan Karamel.
"A-apa maksudmu sayang? Kau tidak mungkin ...."
"Aku bukan istrimu lagi jadi aku berhak menikah dengan siapapun termasuk dengan mantan kekasihku—Leo," sengit Karamel beralih menatap Henry.
"Kamu harus tau Kara, aku nggak lagi bersandiwara sekarang, aku bener-bener mau kamu jadi istri aku," batin Leo masih menatap Karamel.
"Jangan bercanda Kara, kau pernah mengatakan bahwa tidak akan ada pernikahan untuk kedua kalinya, seumur hidupmu aku akan menjadi suamimu, itu yang kau katakan lalu kenapa sekarang kau mengingkari perkataanmu sendiri? Tidak ini tidak ... kau tidak mungkin menikah lagi 'kan sayang?" ucap Henry merintihkan air matanya.
Karena Henry sudah mencintai Karamel maka tidak akan sanggup bagi Henry jika di depan matanya Karamel harus bersanding dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Karamel kembali menatap ke arah Leo yang masih setia menatap teduh dirinya.
"Apa gue sama Leo bisa bersatu lagi bahkan sampai ke jenjang pernikahan?" batin Karamel kemudian ia mengalikan pandangannya ke arah Henry.
"Tunggu dan lihat saja besok," ucap Karamel berlalu pergi meninggalkan ruang tawanan itu.
"Tidak Sayang, kau tidak akan ... Kara, jangan ...." pekikan Henry terpotong.
"Percumah kau berteriak, calon istriku itu tidak akan mendengarnya," ucap Leo menekan kata 'calon istri'
"Bajing*n, tidak akan ku biarkan kau menikahi istriku, Brengs*k." pekik Henry membuat Leo tersenyum smirk.
"Bagaimana kau akan menghalangi acara pernikahan kami sedangkan tangan dan kakimu saja di borgol sempurna seperti ini," ejek Leo menyilang kedua tangannya di dada.
Henry menahan perih di sekujur tubuhnya namun ia tetap memaksakan diri untuk terus memberontak dengan berteriak kepada Leo.
"Brengs*k, bajing*n, sampah, aku akan membunuhmu Leo." pekik Henry membuat Leo terbahak.
"Apa aku tidak salah dengar? Kau mau membunuhku?" ejek Leo setelah tertawa. Ralat, masih sedikit tertawa hambar.
"Yang ada aku akan membunuhmu sekarang, Iblis." sengit Leo dengan tatapan tajam.
................
...Ruangan Lady Queen....
Karamel menatap penuh benci tubuh Rega Ananda yang pingsan akibat siksaan Leo tadi, sumpah demi apapun, jiwa psikopat Karamel seketika ingin bangkit. Entah itu kembali menyiksa atau bahkan sampai membunuh dan memutilasi, ingin sekali Karamel melakukannya tapi — sudahlah, itu tidak akan bisa terjadi.
"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?" tanya jiwa malaikat Karamel pada Daniel.
"Polar prince memerintahkan untuk membersihkan lukanya saja lalu setelah dia sadar dia akan di kurung lagi dengan borgolan di lehernya," sahut Daniel.
"Kalian sudah membersihkan lukanya bukan, lalu kenapa dia masih disini? pergi bawa dan kurung dia lagi di ruang tawanan," titah Karamel dengan nada yang tidak santai alias nyolot sehingga Daniel dan Jeffry cepat-cepat membawa Rega Ananda keluar,
Setelag itu Karamel duduk di kursinya.
"Ck! Ngapain sih gue malah kefikiran sama omongan Leo tadi," gumam Karamel jengkel.
Brakk! Karamel memukul meja yang ada di depannya dengan keras.
"Gue pukul ya lo nanti," dengus Karamel menunjuk kepalanya sendiri.
"Berhenti mikirin masalah yang gak penting," pekik Karamel kesal dengan otaknya sendiri.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...