
"Berhentilah menangis Kei, Zoe tidak akan suka melihatmu seperti ini, di atas sana dia pasti akan merasa sedih karena melihat kekacuanmu saat ini." ucap dokter Jason
"Apa - apakah selama ini di-dia merasa bahagia? Di-dia sangat menderita karena ulah Josh dan Maya," ucap Keisha sesegukan.
"Aku bersumpah ak-akan membunuh kedua orang itu," pekik Keisha membuat dokter Jason memejamkan matanya lemah kemudian dokter Jason memilih untuk duduk di kursi samping Keisha.
"Zoeya ...." lirih Keisha kemudian memejamkan matanya kuat, bayangan wajah Zoeya tidak bisa ia lupakan, sakit yang di rasakan adiknya dulu akan Keisha balas berpuluh-puluh kali lipat.
"Keisha," setelah sekian lama dokter Aldert duduk dan diam di ruangan itu, ia pun berjalan menghampiri Keisha membuat Keisha membuka matanya pelan.
"Beberapa hari yang lalu saat hasil tes DNA kau dan Zoeya di nyatakan positif adalah saudara kandung, dokter Jason mengatakan sesuatu tentang pil obat yang rutin setiap hari kau konsumsi, apa kau tahu obat apa itu?" tanya dokter Aldert dengan sangat hati-hati dan Keisha hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu, baik dokter Aldert maupun dokter Jason membulatkan mata kaget karena Keisha tidak mengetahui fungsi obat itu untuk apa.
"Bagaimana bisa kau tidak tahu?" tanya dokter Aldert sedikit meninggikan suaranya.
"Itu adalah per-perintah dari Josh," ucap Keisha mengatakan bahwa ayah palsunya lah yang memerintahkannya untuk mengkonsumsi pil obat itu di setiap harinya.
"Aku kira kau sengaja mengkonsumsi pil itu karena kau ingin melupakan masa lalu burukmu yang mungkin ingin kau lupakan," ucap dokter Jason namun Keisha tidak paham maksudnya apa.
"Apa yang harus aku lupakan?" tanya Keisha.
"Pil yang selalu kau konsumsi, Itu adalah pil yang berfungsi untuk menghilangkan ingatanmu, Kei," ucap dokter Aldert membuat Keisha tersentak kaget.
"Jika kau mengkonsumsi pil obat itu hanya dalam waktu beberapa bulan, ingatanmu tidak akan hilang seutuhnya tapi jika kau mengkonsumsi pil obat itu dalam jangka waktu panjang sekitar lima atau tujuh tahunan, semua ingatanmu di masa lalu akan hilang total." ucap dokter Aldert membuat Keisha memutar otaknya dua kali lebih cepat.
"Aku mengkonsumsi pil penghilang ingatan?" ucap Keisha dengan suara serak.
"Untuk apa ...." Keisha langsung membulatkan matanya saat dirinya menyadari kenapa Josh memerintahkannya untuk meminum pil itu di setiap harinya.
"Brengs*k! Dia sengaja menyuruhku u-untuk mengkonsumsi obat itu agar aku melupakan semua masa laluku," sentak Keisha mengepalkan tangannya kuat.
"Aku tidak meng-ingat kedua orang tuaku dan juga adikku kar-ena ulah Josh yang sengaja membuatku melupakan mereka sem-ua," sengit Keisha dengan amarah besar.
"Aku melupakan semuanya," ucap Keisha.
"Aku melupakan mereka," lirih Keisha.
"Kau bisa mengingat semua masa lalumu jika kau mau berusaha, Kei," ucap dokter Aldert dan dokter Jason menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana caranya?" tanya Keisha menatap dokter Aldert kemudian dokter Aldert menjelaskan beberapa langkah yang harus Keisha ambil agar bisa memulihkan ingatan masa lalunya.
"Aku akan melakukannya," ucap Keisha ketika dokter Aldert selesai menjelaskan langkah-langkahnya.
"Katakan pada Lord, aku akan kembali ke California untuk memulihkan semua ingatanku," ucap Keisha pada Jeffry.
"Dan aku akan kembali lagi ke sini untuk memenuhi perintahnya," ucap Keisha mengingat Jeffry mengatakan Leo memberi Keisha perintah untuk menyiksa Zayn.
"Tapi apakah itu akan berhasil?" tanya Keisha mengingat dirinya mengkonsumsi pil obat itu lebih dari tujuh tahun sehingga mungkin saja ingatan masa lalunya tidak akan bisa kembali lagi.
"Cobalah dalam waktu lima atau enam bulan, jika salah satu ingatan masa lalumu kembali maka itu artinya kau berhasil," ucap dokter Aldert.
"Kau tidak kehilangan cerita masa kecilmu karena Zoeya mencatatnya di buku hariannya," ucap dokter Jason membuat Keisha dan dokter Aldert menatap dokter Jason.
"Dia sering bercerita denganku tentang panti asuhan Tunas Harapan, di sana dia menyimpan buku hariannya pada sahabat Arsan dan Gisca yaitu Umi Aminah." ucap dokter Jason mengingat setiap kali Zoeya terluka, wanita itu selalu mengingatkan tentang buku hariannya yang di simpan oleh sahabat Arsan dan Gisca yaitu Umi Aminah tapi setiap dokter Jason bertanya siapa Arsan dan Gisca, Zoeya tidak pernah mau menjawabnya.
"Aku akan mengambilnya," ucap Keisha lirih.
"Zoe, meski kau tidak bersama kakak lagi tapi kakak akan berusaha untuk mengingat masa lalu kakak, mengingat gadis kecil yang menjadi adik kakak, mengingat Mom dan Dad, mengingat semua tentang kita di masa lalu." batin Keisha memajamkan matanya.
..........
...Enam bulan kemudian...
Di ruangan yang gelap, Clara mendengar langkah kaki seseorang yang ia kira itu pasti Leo sedang berjalan ke arahnya namun ketika mendengar suara pria itu, Clara langsung mengerutkan dahinya.
"Buka mulutmu," titahnya dengan sangat tajam dan sedikit menyentak, auranya masih sama sangat dingin dan tajam, jika perintahnya tidak di turuti akan di pastikan akibatnya menjadi fatal.
"Aku membawa binatang peliharaanku jika kau mau bermain dengannya," ucapnya sinis tapi lebih ke mengancam membuat Clara terpaksa membuka mulutnya.
"Gadis pintar!" ucap Jeffry tersenyum sinis melihat Clara semakin hari semakin patuh meski harus di ancam dulu.
"Kau tidak mengenal siapa-siapa di dunia ini, kau hanya hidup sendirian, tidak ada keluarga ataupun sahabat. Ingatlah Clara, kau hanya wanita yang hidup sendirian di dunia ini." ucap Jeffry sebelum Clara menutup kedua matanya.
Jeffry menghela napas kasar ketika melihat Clara telah menutup kedua matanya.
"Setelah dia bangun, beri dia makanan yang layak." ucap Jeffry dan salah satu anak buahnya menganggukkan kepalanya patuh.
"Apakah Nyonya sangat menyeramkan?" gumam Jeffry heran karena tiba-tiba saja beberapa bulan yang lalu Leo menyuruh Jeffry untuk memberikan Clara pil yang berfungsi untuk menghilangkan semua ingatan wanita itu, itu juga atas perintah istrinya yang masih berbaik hati ingin melepaskan Clara namun dengan cara membuat wanita itu hilang ingatan hingga setelah dua tahun wanita itu melupakan segala masa lalunya, Clara akan di kirim ke penjara Afrika lagi.
"Apa itu artinya kau tidak takut denganku, Avido?" tanya Karamel berdiri di belakang Jaffry membuat Jeffry terperanjat kaget.
Karamel dan Leo baru saja bertemu dengan Zayn dan memberitahu Zayn bahwa sebenarnya insiden saat Zoeya tertembak, wanita itu belum mati, hanya saja wanita itu mengalami koma selama seminggu namun sayangnya enam bulan yang lalu Zoeya telah di nyatakan meninggal dunia.
Tak lupa juga pasangan suami-istri itu menyiksa dan memberi peringatan pada mantan kekasih Leo yaitu Widia bahwa dua orang yang sedang ia hadapi bukan orang biasa, akibat dari wanita itu yang masih menginginkan Leo adalah penjara atau kematian dan Widia lebih memilih kematian maka dengan senang hati Leo membunuh Widia di depan istrinya Karamel.
Tapi apa kalian tahu, saat Karamel melihat darah segar yang mengalir begitu banyak dari dada Widia, kepala Karamel seketika menjadi pusing. Ada yang terjadi pada Karamel sebenarnya?
"Ny-Nyonya," panggil Jeffry gagap membuat Leo menaikkan sebelah sudut bibirnya sinis.
"Ma-maaf Nyonya, saya ...."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Karamel memotong perkataan Jeffry.
"Saya sudah mengikuti perintah Tuan dan Nyonya untuk ...."
"Hem! Lakukan tugasmu dengan baik," ucap Karamel manatap Jeffry yang menunduk.
"Aku rasa kau tidak pernah membunuh delapan orang menggunakan belati kecil, aku benar 'kan Avido?" tanya Karamel membuat bulu kuduk Jeffry merinding bahkan beberapa anak buah Leo yang lain pun merasa merinding.
Enam bulan yang lalu yang menjadi pertanyaan para anak buah Leo tentang kedelapan anak buah Zayn tewas hanya dengan satu tusukkan dada dan satu sayatan di leher, telah mereka ketahui pelakunya adalah seorang wanita yang hamil tujuh bulan, dia adalah Karamel atau jika di dunia gelap julukkannya adalah Lady Queen. Istri lord mereka!
"Maaf Nyonya ...."
__ADS_1
"Pistol itu mereka genggam tapi mereka tetap kalah dengan wanita hamil," potong Karamel membuat Jeffry semakin menundukkan kepalanya dan Leo hanya bisa diam melihat istrinya memberikan peringatan pada anak buahnya untuk tidak meremehkan istrinya itu.
"Jika kau bersedia besok lawan delapan anak buahku menggunakan belati, bagaimana Avido?" tawar Karamel membuat Jeffry berkeringat panas-dingin.
"Maaf Nyonya, saya tidak ...."
"Maka berhati-hatilah saat kau berbicara tentang diriku, jika aku merasa tersinggung maka tidak kata maaf untukmu, paham." ucap Karamel mendongakkan kepala Jeffry dengan cara menari dagunya menggunkan jari telunjuk hingga tatapan mata tajam Karamel bertemu dengan mata Jeffry, pria itu menganggukkan kepalanya cepat membuat Leo menahan tawa yang ingin meledak-ledak kala melihat ekspresi wajah Jeffry yang ketakutan.
"Mamang pantas menjadi istriku," batin Leo menatap Karamel yang begitu pemberani kemudian pasangan suami-istri itu keluar dari ruangan itu hingga Jeffry dan beberapa anak buah di dalam ruangan itu bisa bernapas lega.
"Kamu nyiksa dia sampai segitunya, Mas?" tanya Karamel menatap Leo kala tadi Karamel melihat keadaan Clara yang kacau.
"Dia pantas dapetin semua itu, Sayang." ucap Leo mengelus puncak kepala Karamel membuat Karamel menghela napas panjang.
"Kejam banget suami siapa sih ini?" sengit Karamel membuat langkah Leo berhenti kemudian pria itu berbalik menghadap istrinya.
"Suami Tania Losvita Aramoy," bisik Leo membuat Karamel tersenyum tipis kala suaminya masih mengingat nama samarannya dulu.
"Kok malah senyum? Enggak cemburu emang?" tanya Leo menggoda istrinya namun Karamel malah semakin tersenyum den berjalan meninggalkan suaminya menuju mobil mereka, sehingga Leo berlari menyusul istrinya.
"Kok malah di tinggalin sih," gerutu Leo kala mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Kamu tau, Tania itu pilihan aku tapi Karamel itu takdir aku yang sesungguhnya," ucap Karamel membuat Leo mengerutkan dahinya tidak paham.
"Maksud kamu?" tanya Leo membuat Karamel menatap dalam mata suaminya itu.
"Dulu kamu ngenalin yang namanya cinta, kekecewaan dan patah hati sama Tania tapi sekarang kamu ngenalin Karamel sama yang namanya perjuangan cinta," ucap Karamel seraya tangan wanita itu membelai pipi Leo.
"Dulu aku mikir Tania adalah pilihan terburuk buat aku karena aku kenal sama cowok brengs*k kayak kamu tapi ternyata takdir aku sebagai Karamel pun masih enggak bisa lepas dari cowok brengs*k itu," ucap Karamel membuat Leo tersenyum tipis, Leo tidak marah istrinya menyebut dirinya sebagai pria brengs*k. Toh dulu memang dirinya adalah laki-laki brengs*k yang suka mempermainkan perasaan wanita.
"Sebrengs*k itu kah aku di mata kamu?" tanya Leo berpura-pura sedih dan dengan entengnya Karamel menganggukkan kepalanya.
"Dasar Mama Greydon enggak punya perasaan," umpat Leo memalingkan pandangannya ke depan kemudian pria itu menjalankan mobilnya dengan memasng raut wajah kesal, Karamel hanya terekekeh melihat raut wajah suaminya itu.
"Sayang," panggil Leo ketika di perjalanan.
"Em," sahut Karamel menatap suaminya.
"Aku udah putusin semuanya, kita bakal pindah ke Irlandia," ucap Leo membuat Karamel tersentak.
"Tapi ...."
"Jangan buat aku harus paksa kamu habis-habis sampai aku marah dulu baru kamu mau patuh sama aku, Kara." ucap Leo membuat Karamel mengigit bibir bawahnya.
"Maaf," cicit Karamel karena memang kekeras kepalaannya masih belum bisa ia rubah juga, tapi ia tengah berusaha untuk berubah kok.
"Irlandia," gumam Karamel dengan suara kecil.
"Kastil Binondra," ucap Leo membuat mata Karamel membola karena suaminya ingin mereka tinggal di kastil bukan di rumah ataupun mansion.
"Seriously?" tanya Karamel dan Leo menganggukkan kepalanya seraya tangan pria itu membelai kepala istrinya.
"Yeah! Sekalian Greydon bisa belajar jadi pimpinan dunia gelap di sana," ucap Leo tersenyum lebar membuat Karamel memelototi suaminya itu dengan sangar. Glukk! Seketika Leo menelan saliva kasar kala melirik ekspresi wajah istrinya yang menyeramkan.
"Cukup aku sama kamu yang terjerumus ke dunia gelap, aku enggak mau pribadi Greydon jadi rusak gara-gara masuk ke dunia gelap." ucap Karamel sinis.
"Kalo sampai aku lihat kamu ajarin dia jadi cowok brengs*k apalagi kejam kayak kamu, siap-siap aja pen*s kamu aku belah jadi dua," ancam Karamel membuat jantung Leo berdegup kencang.
"Sayang ...."
"Apa, enggak terima?" pelotot Karamel.
"Iya iya, enggak akan, aku enggak akan ajarin anak kita masuk ke dunia gelap." ucap Leo bergedik ngeri dengan ancaman istrinya itu.
.........
Sesampainya di rumah Karamel dan Leo di buat heran karena di depan halaman rumahnya ada banyak sekali mobil yang tidak mereka kenali siapa pemiliknya.
"Tamu kamu, Mas?" tanya Karamel tapi Leo menggelengkan kepalanya.
"Aku kira tamu kamu," ucap Leo.
"Emang selama ini aku kerja?" tanya Karamel dan Leo terkekeh, pria itu lupa bahwa istrinya telah berhenti kuliah dan tidak ia izinkan untuk bekerja juga hingga Karamel hanya menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak dan suaminya saja.
Karamel dan Leo keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, alangkah terkejutnya mereka berdua kala semua anggota keluarga mereka sedang berkumpul di rumah mereka.
"Kalian ...."
"Dasar kalian ya, ninggalin cucuk kakek sendirian di rumah, dari mana kalian berdua hah?" ucap kakek Hans menjewer telinga Karamel.
"Adududuh Kakek, sakit Kek, sakit." ringis Karamel berpura-pura karena jeweran kakak Hans sebenarnya tidak sakit.
"Anak nakal, memangnya kakak pernah jewer kamu sampai sesakit itu," ucap kakek Hans melepas jewerannya membuat Karamel tertawa kecil.
"Mah-Pah kalian juga di sini?" ucap Leo menunjuk mama Yarra dan papa Prasetya.
"Iya dong, Mama dan Papa juga mau bertemu cucu pertama kita, iya 'kan Pah?" ucap mama Yarra dan papa Prasetya menganggukkan kepalanya.
Karamel menatap semua anggota keluarga hingga kedua mata biru wanita itu berhenti pada Faza dan Alleta.
"Waw! Udah di bawa aja nih calon kakak ipar," ucap Karamel membuat semua orang mengikuti arahan pandang Karamel sehingga Faza dan Alleta menjadi gelagapan karena di pandang sampai segitunya oleh mereka semua.
"Udah di restuin ya Bang?" tanya Karamel menggoda Faza dan Alleta membuat Faza tersenyum tipis.
"Tanya aja sama Bunda," ucap Faza sehingga Karamel menatap ke arah bunda Santi.
"Di restuin, Tante?" tanya Karamel.
"Dulu sama Gina gagal tapi sekarang sama Alleta ya gitu, udah jadian mereka." ucap bunda Santi membuat pipi Alleta bersemu malu.
"O'hoho Kakak udah ada tunangan, abang udah ada pacar, alhamdulillah berarti lo berdua cowok normal dong." ucap Karamel membuat Kenzi yang menggendong Greydon membulatkan matanya begitu juga dengan Faza.
__ADS_1
"Heh bocah, maksud lo ngomong gitu apaan hah?" bentak Kenzi merasa sangat tersunging, eh salah tersingung maksudnya.
"Lah bukannya lo pernah jatuh cinta sama satu cewek tapi gagal ya?" tanya Karamel mengingat Kenzi tidak sempat mengungkapkan perasaannya pada Sasya karena Sasya sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
"Dan lo juga pernah suka sama cewek tapi udah keduluan cowok lain 'kan, gue tau ceritanya dari suami gue." ucap Karamel mengingat dulu Faza mengatakan bahwa dirinya pernah menyukai satu perempuan tapi tidak ada yang tahu siapa perempuan itu kecuali Faza, Dafa dan Lily.
"Dan cewek itu elo, Ra." batin Faza mengingat betapa dirinya sangat mendambakan Karamel dulu tapi dirinya tidak bisa mendapatkan Karamel karena selain Karamel adalah kekasih sahabatnya, wanita itu juga adalah sepupu kandungnya.
"Tapi sekarang gue udah ada Elle, cewek keras kepala yang bawelnya minta ampun," batin Faza menatap Alleta penuh cinta membuat Alleta ikut tersenyum pada kekasihnya itu.
"Greydon jangan kayak Mamanya ya, Mamanya suka nyinyir so'alnya," ucap Kenzi pelan pada Greydon.
"Mending kayak Om Kenzi aja ya, ganteng." ucap Kenzi mencium penuh wajah baby Graydon.
Owekk ....
Owekk ....
Greydon langsung menangis kala dirinya menjadi risih di cium terus-menerus oleh Om-nya namun Kenzi tidak mau berhenti meski Greydon semakin menangis kencang. Cup cup cup! Pria itu masih saja menicum kening, mata, hidung, hingga pipi Greydon.
Ehem ehem! Suara teguran Prasetya dan Sanjaya membuat Kenzi berhenti menciumi wajah Baby Greydon, kemudian pria itu mengangkat kepalanya. Glukk! Kenzi menelan saliva kasar.
"Hehehe ...!" Kenzi cengengesan kala di tatapan tajam oleh mereka semua. Ya! Semuanya menatap Kenzi dengan tatapan yang sangat menyeramkan.
"Habububuuu ....." Greydon bergumam tak jelas seraya menendang-nendang perut Kenzi membuat Kenzi terperanjat kaget dan melepaskan tangannya.
"Greydon !! Kenzi !!" pekik mereka meneriaki nama Greydon dan Kenzi kala tubuh Greydon berbalik dari pangkuan Kenzi hendak jatuh ke lantai.
Bukk! Bagaikan ada angin yang lewat, tubuh Greydon malah berbalik jatuh ke atas sofa namun sialnya Kenzi malah di pukul oleh beberapa orang tua bahkan Karamel pum ikut serta memukul kakaknya itu karena hampir saja menjatuhkan anaknya ke lantai.
"Pffffttttt !! Ehehek hek hek !!" Greydon menjulurkan lidahnya lalu tertawa melihat ke arah Kenzi, bayi itu seperti sedang mengejek Kenzi hingga semua orang terperangah di buatnya.
"Ouuwhhh!" mereka semua menjadi gemas karena melihat tingkah Greydon yang tertawa mengejek om-nya itu sedangkan Kenzi mengerjapkan matanya beberapa kali kala anak adik dan sahabatnya itu ternyata sama menyebalkannya seperti Karamel dan Leo yang suka menjahili orang.
"I love you," bisik Leo dengan suara serak.
Karamel yang fokus menatap anaknya yang berhasil membuat semua orang di ruangan itu merasa lucu dan gemas akan tingkahnya, perempuan itu tersenyum saat mendengar bisikan suaminya.
"I love you too, my hubby," balas Karamel tanpa menatap Leo. Cup! Leo mencium pipi Karamel dan kembali berbisik.
"Program anak kedua kita buat di Irlandia ya," bisikan itu berhasil mengalihkan atensi Karamel ke suaminya. Cup! Leo langsung mencuri satu kecupan di kening Karamel.
"Nanti setelah kamu sembuh," bisik Leo tepat di kening Karamel membuat Karamel tersenyum malu, hampir saja dirinya akan mengomeli suaminya tadi.
Cekrek! Moment Leo yang sedang mencium kening Karamel di abadikan oleh Faza.
"Ini yang namanya takdir, Ara," gumam Faza tersenyum menatap foto Leo dan Karamel.
Sosok Karamel yang terlahir di keluarga berpengaruh, terpaksa harus menjadi Tania demi keselamatannya yang di incar oleh para rival bisnis papanya.
Namun Karamel yang lahir di keluarga bak militer, mau tak mau harus mengikuti jejak grandpa nya menjadi pimpinan mafia yang kejam.
Di tarik sang ayah ke Indonesia saat usia 16 tahun, karena Sofia terlalu khawatir anak gadisnya akan kembali menjadi pimpinan mafia lagi, sebab grandpa Berrold mengharapkan itu terjadi.
Menjadi seorang pelajar pindahan dari London, tampilan si cantik malah ia rubah menjadi jelek, alasan pertama karena ingin menguji dan mengawasi sekolahan papanya dan alasan konyol kedua karena Tania ingin mendapatkan teman yang tulus.
Di hadapkan masalah soal kehadiran si playboy cap kakap yang mengganggu hari-harinya Tania, siapa yang menyangka jika ia malah terjerat oleh rayuan buaya sosok Cleo.
Pilihan yang ternyata tidak baik untuknya.
Malangnya! Ia malah membenci cinta saat tau dirinya hanya di jadikan bahan taruhan saja, tapi ternyata ia tidak bisa lepas dari sosok pemberi luka tersebut. Jadi apakah pilihannya untuk kembali menjadi kekasih Leo itu benar?
Pada akhirnya misi Tania satu-persatu berhasil ia tuntaskan, salah satunya ia menunjukkan bukti bahwa kepala sekolah berlaku tidak adil di sekolah, siapa saja siswa yang melakukan penindasan bahkan korban yang di larikan ke rumah sakit jiwa akibat gangguan mental pun Tania tuntaskan di hari itu juga, bersamaan dengan terbongkarnya identitas Tania yang sebenarnya adalah putri dari pemilik sekolah.
Setelah semua yang terjadi, harapan hidup damai dengan adanya kekasih? Dekat dengan saudara dan sepupu? Manjadi bagian dari SALF BADRAD? Oh ternyata belum!
Siapa sangka Karamel kembali di kecewakan oleh Leo, lagi dan lagi Karamel di pertemuan oleh pilihan untuk menikah dengan sosok lelaki yang sebenarnya tidak sepenuhnya ia cintai.
Pilihan yang ternyata tidak baik untuknya lagi.
Ia sempat terluka karena kehilangan sosok keluarga tapi berhasil disembuhkan perlahan oleh hadirnya kembali sosok Leo.
Kehidupan Karamel yang ia jalani, Tuhan kirimkan Leo berada di sisinya, setiap langkah Karamel akan selalu ada Leo yang menyertainya.
Ya, Tuhan tidak mencegah pilihan Karamel karena Tuhan ingin memberikan takdir yang baik untuk Karamel.
"Aku pernah bilang ke Tuhan kalo kamu pilihan terburuk di hidup aku," ucap Karamel pada Leo.
"Dan aku nyesel pernah ngomong kayak gitu, kamu bukan pilihan terburuk tapi kamu takdir terbaik di hidup aku," ucap Karamel lagi.
Leo yang mendengar itua hanya tersenyum dan memeluk erat tubuh istri tercintanya.
"Kamu jangan coba-coba ninggalin aku lagi, sekalipun alasannya demi keselamatannya Greydon, aku gak akan biarin kamu pergi. Aku cuma mau kamu, gak mau di hadapin sama pilihan yang lain lagi." ucap Karamel mengingat sebelumnya ia menikah atas dasar balas dendam.
"Jangan nangis, sayang," pinta Leo lirih karena Karamel menangis dalam pelukannya.
"Aku bahagia, Mas," ucap Karamel.
"Kita akan selalu bahagia bersama keluarga kecil kita nanti," ucap Leo membawa mereka ke khayalan masa depan kehidupan mereka kelak sampai menua bersama.
.......
.......
.......
...::: Selesai :::...
...Tamat sudah ceritanya, terima kasih yang sudah setia membaca novel pertama thor yang acak-acakan buanget deh pokoknya....
...Cerita Karamel dan Leo udah selesai....
__ADS_1
...Cerita gantung kayak punya si Keisha, mungkin bakal di jadiin novel baru tapi enggak tahu deh, naru rencana so'alnya....