Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 134


__ADS_3

"Henry udah nyekap seluruh anggota keluarga kalian." ucap Leo membuat ketiga orang itu terkejut.


"Kamu gak salah ngomong 'kan, Leo. He-Henry ...."


"Henry emang udah nyekap keluarga kalian tapi info yang aku dapet dari mata-mata aku, Rega Ananda gak akan langsung bunuh mereka semua sebelum Kenzi sama Faza ikut di sekap juga," ucap Leo menjelaskan.


"Makanya aku nyuruh Kenzi sama Faza buat dateng ke Irlandia biar Rega Ananda bisa lebih lama nunda rencananya yang mau bunuh semua anggota keluarga kalian secara bersamaan," kata Leo lag.


"Brengs*k ...."


"Tahan umpatan lo Ken, malam ini kita harus nyusun rencana yang bakal di bantu juga sama Jessy ...."


"Hah, apa? Jessy? Tunangan kamu itu?" spontan pekik Karamel.


"Jessy marah waktu tau Henry memperketat pengamanan kamu di rumah sakit, lebih tepatnya Jessy marah karena Henry malah ngelindungin kamu padahal Henry di tugasin buat jadiin kamu sebagai tawanan dia. Sedangkan Jessy, dia di tugasin buat nahan aku biar gak bisa ketemu sama kamu, makanya Jessy mau balas perbuatan Henry yang dia rada cuma mau manfaatin dia aja." ucap Leo.


"Apa dia marah sama ...."


Ting-nong! Bel apartemen yang berbunyi, menghentikan Karamel yang hendak bicara.


"Gue buka dulu," ucap Leo pergi membukakan pintu, setelah itu Leo masuk bersama seorang wanita.


"Waw, apa kau sudah memulai rencanamu Tuan Rendra," pekik Jessy membuat Leo memutar bola mata malas.


"Duduklah," titah Leo.


"Apa wanita ini adalah kekasihmu, Cleo." goda Jessy menatap Karamel dengan senyum lebar.


"Jessy," Jessy memperkenalkan dirinya sendiri sehingga Karamel menjabat tangan Jessy.


"Karamel," sahut Karamel.


"Dan dua laki-laki ini ...."


"Mereka adalah kakak-kakakku," sahut Karamel.


"Tampan," ucap Jessy sangat menggoda di telingga Kenzi dan Faza.


Glukk ....


"Astaghfirullahaladzim, iman gue bisa runtuh kalo gini caranya," batin Faza mengucap istighfar karena Jessy yang s*ksi duduk tepat di sampingnya.


"Cantik sih tapi ... astaga mikir apa sih gue." batin Kenzi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Katakan rencana yang kita bicarakan waktu itu," titah Leo dengan nada bicara big boss.


"Aku akan menyuruh Zoeya An untuk mengambil tanda tangan Henry agar bisa memindahkan semua properti perusahaannya ke tangan Fico," ucap Jessy berbicara dengan sekali tarikan napas.


"Zoeya?" beo Karamel tiba-tiba membuat semuanya menoleh ke arah Karamel,


"Hem! Zoeya An Blende, salah satu sekertaris terpercaya Henry, apa kau mengenalnya? Wanita itu lebih licik dariku, dia sangat menginginkan Henry ... ah tidak tidak, sepertinya semua laki-laki kaya raya, dia sangat menyukainya," ucap Zoeya sinis.


"Apa kau yakin untuk seseorang yang dia sukai, dia akan melakukan ...."


"Of course ... what's your name?" tanya Jessy.


"Kenzi," jawab Kenzi


"Jangan khawatir, Ken. Tanpa di ancam Zoeya pasti akan melakukannya, tapi aku harus memberinya bumbu hasutan sedikit agar dia mau melakukannya," ucap Jessy.


"Setelah semua properti perusahaan, rumah dan tanah sudah menjadi milik Fico, buat Henry lemah dengan kehadiran Karamel." ucap Jessy kemudian.


"Maksudmu?" tanya Karamel.


"Kau akan gentayangan, Kara ... em Maksudku biar dia mengira arwahmu itu tidak tenang karena niat jahatnya itu." kata Jessy.


"Aku tidak akan ...."

__ADS_1


"Kau sudah membuat Henry mencintaimu, Kara. Dan menyingkirkan aku dari hidupnya." sengit Jessy.


"Aku ...."


"Bukan kau yang salah tapi Henry yang salah, dan kau harus melakukan rencana ini ... kau mengerti maksudku 'kan." ucap Jessy.


"Henry akan lemah dan mungkin akan gila, dari sana kalian bisa mengambil kesempatan untuk menyerang Rega Ananda dan Henry." sengit Jessy dengan tatapan tajam.


Kenzi menangkap tatapan mengerikan dari Jessy, senyum tipis muncul dari sudut bibir Kenzi.


"Untuk Rega Ananda, biar Morgan yang melakukan tugasnya." sambung Jessy.


"No Jessy, kau lah yang bisa melakukannya. Rega Ananda sangat ingin kau menjadi menantunya jadi kau lah yang akan melakukannya." ucap Leo cepat membuat Jessy menatap lekat mata Leo.


Auto muka Karamel berubah bete dong!


"Right, aku akan melakukannya demi dirimu sayang." goda Jessy membuat Leo dan yang lainnya terbelalak kaget.


Jessy sekilas menatap Karamel yang ternyata mengepal tangannya kuat seraya pandangannya ia palingkan ke jauh dari pandangan orang-orang sekitarnya.


"Kau cemburu, Kara." batin Jessy senang ternyata Karamel tidak mencintai Henry, mungkin.


...........


Di jam tengah malam, semua orang sudah tertidur pulas, lain dengan Karamel yang masih menikmati kerlap-kerlipnya lampu yang ada di jalanan dan gedung-gedung.


"Makasih Leo, makasih karena kamu udah buktiin ke aku arti cinta bukan hanya lewat kata-kata tapi lewat tindakkan juga, sekali lagi makasih Leo, makasih." gumam Karamel.


Dan tanpa Karamel sadari, di belakangnya ada Leo yang sedang bersandar di pintu kamar seraya tersenyum lebar karena mendengar gumaman Karamel barusan


"Aku selalu cinta sama kamu dari dulu sampai sekarang Kara, dan aku yakin kamu tau soal itu," batin Leo menatap punggung Karamel.


Jujur saja, Leo sangat ingin memeluk mantan kekasihnya itu dengan erat tapi Leo merasa ragu untuk melakukannya, ia takut Karamel akan marah dengannya.


Ini bukan saatnya Leo! Begitulah caranya Leo menahan diri, berbicara pada dirinya sendiri bahwa di masa depan akan ada saatnya ia bisa memeluk ataupun memiliki Karamel.


"Kamu ...." Karamel memelototi Leo membuat Leo terkekeh gemas.


"Kenapa belum tidur?" tanya Leo.


"Ka-kamu kenapa bisa masuk ke kamar aku?" tanya Karamel dengan nada menyentak.


"Ini kamar aku, Kara." ucap Leo.


"Oh iya ya, gue 'kan tamu yang minep di sini ... tapi ngapain ni anak dateng ke sini? Bukannya dia tidur bareng Kak Ken sama Aza ya," batin Karamel.


"Ya ya aku tau tapi 'kan malam ini aku yang tidur di sini," kesal Karamel.


"Aku cuma mau meriksa kamu udah tidur atau belum, dan ternyata kamu belum." ucap Leo.


"Kalo belum, kamu mau apa?" tanya Karamel seolah-olah berharap Leo akan mengajaknya mengobrol.


"Enggak ada, aku cuma mau meriksa aja. Jangan tidur terlalu larut gak baik buat kesehatan kamu." ucap Leo kemudian berbalik hendak pergi.


"Em Leo ...." panggil Karamel.


"A-pa Jessy men ... maaf gak jadi." ucap Karamel membalikkan badannya menatap ke arah jendela.


Leo mengernyit aneh lalu ia membalikkan badannya menatap punggung Karamel.


Karamelnya sedang cemburu, Leo yakin itu.


"Kalo Jessy cinta sama aku, apa kamu cemburu?" goda Leo membuat Karamel terbelalak kaget.


"Aku gak ...."


Karamel tidak menyelesaikan perkataannya karena Leo sudah berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Aku gak tau." lirih Karamel menatap ke lantai.


...............


...Tiga hari kemudian....


...Kantor GV Del Nixon Internasional_Kanada...


"Bod*h, menemukan dua orang saja tidak becus," pekik Henry di telepon membuat Zoeya yang hendak masuk ke dalam ruangan Henry—berhenti seketika.


"Andi bersiaplah. Kita akan pergi ke markas sekarang," ucap Henry setelah mematikan sambungan teleponnya.


Zoeya menelan salivanya kasar, Jessy benar-benar sangat kurang ajar karena sudah membuatnya di landa rasa bimbang.


"Jika aku ketahuan, Tuan Henry pasti akan membunuhku tapi jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan bisa menjadi Nyonya Teodor Del Nixon." gumam Zoeya.


"Demi kelangsungan hidupmu, kau harus berani Melakukannya Zoeya," ucap Zoeya kemudian mengetuk pintu ruangan kerja Henry.


"Masuk," titah Henry cepat.


"Maaf mengganggu waktu Pak Henry." ucap Zoeya membuat Henry dan Andi kaget.


"Zoeya, kenapa kau ada di sini? Aku 'kan menyuruhmu untuk stay di Indonesia," ucap Henry.


"Ada beberapa berkas yang harus mendapat persetujuan dari anda dan juga tanda tangan anda, Pak. Saya tidak mungkin mengatakannya lewat telepon, akan sangat tidak sopan jika anda yang mendatangi kami." alibi Zoeya.


"Baiklah berikan padaku sekarang, aku akan menanda tanganinya." ucap Henry duduk di kursi kebesarannya.


"Apa kau sudah memeriksanya?" tanya Henry tampak terburu-buru mengambil ballpointnya.


"Sudah, Pak." ucap Zoeya santai.


"Aku percayakan semuanya padamu Zoeya, setelah aku menanda tangani semua berkas ini, kau harus kembali ke Indonesia hari ini juga. Mengerti." titah Henry tidak memfokuskan diri pada tulisan yang ada di berkas-berkas itu.


"Baik, Pak." sahut Zoeya.


Setelah mendapatkan tanda tangan Henry, Zoeya tersenyum penuh kesenangan.


"Akhirnya apa yang di harapkan akan segera terwujud juga, segera aku akan menjadi Nyonya Teodor Del Nixon." gumam Zoeya teraenyum tipis.


Di sebuah cafe Jessy menunggu kedatangan Zoeya, dan tak lama kemudian Zoeya datang dengan berkas-berkas di tangannya.


"Sepertinya kau berhasil, Zoeya." ucap Jessy kala melihat raut wajah ceria Zoeya.


"Tentu, aku adalah kepercayaan Tuan Henry jadi mana mungkin aku gagal," sahut Zoeya berbangga diri.


"Baiklah, apa kau mau bayaran?" tawar Jessy.


Pakk! Zoeya langsung meletakan berkas-berkas itu di meja.


"Janjimu untuk mempertemukan aku dengan Tuan Fico, itulah yang harus kau lakukan," sengit Zoeya.


"Baiklah, Aku akan menepati janjiku tapi sebelum itu apa kau sudah merekam Henry tadi?" tanya Jessy.


"Aku sudah mengirimkan rekaman Tuan Henry kepadamu, kau priksa saja di ponselmu itu," kata Zoeya.


"Tugasku selesai, ingatlah untuk menepati janjimu, Jessy." ucap Zoeya pergi dari cafe itu.


Jessy mengambil berkas-berkas yang di berikan Zoeya tadi, lalu di lepasnya label yang menutupi tulisan 'AKTA CERAI'


"Bagus, Kara dan Henry sudah bukan pasangan suami–istri lagi sekarang, kau pasti masih mencintai Leo 'kan, Kara. Begitu juga denganku yang sangat mencintai Henry, aku tahu mungkin Henry akan mati di tangan kalian dan saat hari itu terjadi, aku akan ikut mati bersama orang yang aku cintai." gumam Jessy menghapus tetesan air mata yang jatuh mengenai pipinya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...::: Bersambung :::...


__ADS_2