
Semua orang membelalakkan matanya kaget, pandangan apa yang mereka lihat, Kenzi mencium bibir Tessa sekilas di depan banyak orang?
Bahkan Tessa sendiri terkejut di buatnya, tubuh Tessa menjadi kaku, detak jantungnya menjadi berdegup sangat kencang.
"Bibir gue?" batin Tessa.
Tessa semakin membelalakkan matanya kala mendengar suara teriakan heboh di sekitarnya, Tessa menatap ke arah Kenzi yang juga menatap manik matanya.
"Lo ...."
"I love you, Babe," ucap Kenzi penuh kelembutan membuat detak jantung Tessa semakin berdegup kencang.
Cup! Kenzi mencium kening Tessa lalu mengajak Tessa untuk menjauh dari parkiran, menuju kelas.
Brugg! Di dalam lift, Tessa menginjak kaki Kenzi hingga Kenzi meringis kesakitan, tentu saja Kenzi merasa sakit karena Tessa menginjak kaki Kenzi tanpa perasaan alias sangatlah kuat.
"Tessa," ringis Kenzi sembari memegangi kakinya.
"Brengs*k lo," umpat Tessa membuat Kenzi membelalakkan matanya.
"Apa? Lo bilang gue apa? Brengs*k?" pekik Kenzi ada rada tidak terima dalam dirinya saat di brengsek oleh Tessa.
"Kalo bukan brengs*k, sebutan apa yang cocok buat cowok yang main nyosor aja nyium bibir gue Hah! Bajingan?!" pekik Tessa sangat marah.
Kenzi diam, benar-benar di luar dugaan, Kenzi tidak menyangka Tessa akan semarah ini dengan dirinya, Kenzi kira Tessa bisa memaklumi rencananya agar terlihat nyata bahwa mereka adalah pasangan kekasih.
Lagi pula di negara bebas ini, hanya sebatas ciuman bibir saja tidak masalah bukan? Fikir Kenzi demikian.
"Gue minta maaf .... " ucap Kenzi bersamaan dengan lift yang terbuka.
Tessa tidak menghiraukan Kenzi dan langsung keluar dari lift, api amarah sudah membuatnya tidak mood bicara dengan Kenzi.
"Tess ...." Kenzi hendak mengejar Tessa tapi jika itu terjadi, seluruh penghuni kampus bisa heboh kala melihat mereka berdua bertengkar, alhasil Kanzi tetap berdiri di dalam lift hingga lift kembali tertutup.
"Akh! Sial," pekik Kenzi menendang lift.
.........
Selesai jam kelas pertama, Kenzi menunggu Tessa di parkiran. Lumayan lama, sekitar 45 menit Kenzi menunggu namun penantian yang sia-sia karena saat Tessa menuju parkiran ternyata Tessa masuk ke dalam mobil teman laki-lakinya.
Entah kenapa Kenzi tampak kaget dan merasa tidak suka melihat Tessa pergi dengan orang lain.
Kenzi buru-buru memasuki mobilnya kemudian Kenzi menyusul mobil yang Tessa tumpangi.
"Ke mana sih mereka?" gumam Kenzi heran kala arah jalanan yang mereka lewati bukanlah menuju apartemen Tessa.
Di dalam mobil Tessa meminta teman laki-lakinya untuk mengantarkannya pulang namun temannya malah menolak.
"Ryan, aku mau pulang, tolong antarkan aku pulang." pinta Tessa dalam bahasa Inggris.
"Ayolah Tessa, temani aku sebentar saja ya," pinta Ryan semakin menancapkan gasnya.
"Tidak bisa, aku ada urusan dan juga ingin istirahat karena nanti siang ...."
"Urusan apa? Dengan Kenzi?" potong Ryan sinis, entah kenapa sorot mata Ryan menajam tiba-tiba.
"Kenapa kau membawa-bawa nama Kenzi, aku sama sekali tidak ada urusan dengannya," sewot Tessa masih merasa kesal dengan Kenzi.
"Tessa, Tessa! Kau suka sekali berbohong, dulu saat kita masih High School aku menyatakan perasaanku tapi kau malah menolakku dengan alasan kau tidak di izinkan Ibumu untuk berpacaran bahkan kau menjauhiku, Tessa." sengit Ryan.
"Jangan di bahas lagi," pinta Tessa.
"Kenapa? Apakah kau sudah sadar telah membohongiku?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Cukup Ryan, aku menerima ajakanmu untuk pulang bersama bukan untuk berdebat atau ...."
"Bukankah kau memilih diriku, Baby?" potong Ryan.
"Apa maksudmu?" tanya Tessa.
"Kau memilih pulang bersamaku dari pada dengan kekasihmu Kenzi yang sudah menunggumu hampir satu jam di parkiran tadi," ucap Ryan membuat Tessa membelalakkan matanya.
Kenzi menunggu Tessa di parkiran? Bukankah saat Tessa ke kelas Kenzi, teman-teman Kenzi mengatakan bahwa Kenzi sudah pulang duluan tadi?
"Kenzi menungguku ...."
"Yeah bahkan saat kau menaiki mobilku, dia juga melihatnya. Aku bahagia Tessa, sangat bahagia melihat ekspresi Kenzi yang terlihat marah denganmu," ucap Ryan tersenyum miring.
"Dan mungkin saja sebentar lagi hubungan kalian akan berakhir." sengit Ryan semakin mempercepat gas mobilnya.
"Apa yang kau lakukan Ryan, jangan gila. Pelankan mobilmu sekarang!" pekik Tessa tempak was-was.
"Tenang saja Baby, aku tidak akan mencelakaimu," ucap Ryan lembut namun terdengar menyeramkan di telinga Tessa.
"Ryan, tolong pelankan mobilmu." pekik Tessa.
"Pelankan mobilmu atau aku akan melompat dari mobilmu," ancam Tessa namun Ryan tidak memperdulikan ancaman Tessa.
"Baiklah, kau yang meminta," ucap Tessa hendak membuka pintu mobil namun Ryan lebih dulu menggenggam tangan Tessa.
"Apa yang ingin kau lakukan Tessa," pekik Ryan.
"Pelankan mobilmu sekarang," titah Tessa sehingga Ryan memelankan mobilnya.
"Jangan nekat, Tessa." lirih Ryan tampak sedih.
Ryan tidak berbohong akan perasaan sedihnya saat Tessa mengancam dan ingin melakukan hal nekat.
"Aku mohon temani aku untuk menjenguk kakek sebentar saja," pinta Ryan lirih.
"Tidak bisa ...."
"Kakek ingin aku datang bersama kekasihku tapi aku tidak punya kekasih jadi aku mohon bantu aku, Tessa." pinta Ryan penuh kelembutan.
"Maaf Ryan ...."
"Aku janji setelah hari ini, aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Ryan membuat Tessa diam sejenak.
"Aku tidak ...."
"Hanya sebentar, sekedar untuk menyapa saja, aku mohon," potong Ryan.
"Aku minta maaf ...."
"Tessa, hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku" Ryan tidak menyerah dan terus berusaha membujuk Tessa.
"Aku harus izin dengan Kenzi ...."
"Untuk apa?" sela Ryan tampak tidak suka.
"Karena dia kekasihku," sahut Tessa.
"Hanya sebentar saja, kau tidak perlu meminta izin dengan Kenzi juga 'kan," ucap Ryan dengan rahang mengetat.
"Dia adalah kekasihku jadi ...."
Tringg! Suara handphone Ryan yang berdering membuat Tessa tidak dapat menyelesaikan perkataannya.
__ADS_1
"Iya kenapa?" tanya Ryan mengerutkan dahinya.
"(..................)"
Sekilas Ryan menatap ke arah Tessa kemudian tiba-tiba mata Ryan terbelalak kaget.
"A-apa? Ka-kakek jatuh dari tangga?" pekik Ryan gagap membuat Tessa ikut kaget.
"(..................)"
"Jaga Kakek, aku segera pulang," ucap Ryan dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa bicara apapun lagi, Ryan langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan yang membuat debaran jantung Tessa berpacu sangat cepat.
Sejujurnya Tessa tidak ingin ikut dengan Ryan tapi melihat keadaan Ryan yang tampak panik dan sedih, Tessa hanya bisa diam dan pasrah mengikuti Ryan hingga ke rumahnya.
"I'm so sorry, Tessa," batin Ryan.
Di belakang mobil Ryan, Kenzi ikut menambah kecepatan mobilnya agar tidak kehilangan jejak mereka berdua.
..............................
...Indonesia...
Di ruang kerja, Leo tidak henti-hentinya mengurusi data-data dan juga laporan-laporan yang di berikan Jeffry hingga di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul tengah malam, Leo akhirnya menghentikan aktivitas bekerjanya.
Leo membuka pintu kamarnya pelan, ia kira Karamel sudah tidur namun ternyata tidak!!!
"Hiks ... Mah, Kara kangen Mama." lirih Karamel menangis dengan tatapan kosong di sofa.
"Kara pengen peluk Mama," lirih Karamel lagi membuat Leo melangkahkan kakinya untuk mendekati Karamel.
"Kara pengen cerita sama Mama, Kara pengen curahin semua isi hati Kara kayak dulu, Mah." ucapnya dengan mata yang di isi dengan kekosongan, Karamel menerawang jauh ke masa lalu dirinya dan sang mama.
"Kenapa sulit ikhlasin kepergian Mama, Kara emang manusia penuh dosa tapi kenapa Tuhan harus hukum Kara dengan cara ngambil Mama? Kara mohon Tuhan, balikin Mamanya Kara, Kara kangen Mama." racau Karamel seperti orang yang kehilangan akal.
"Sayang," panggil Leo menyentuh pundak Karamel membuat Karamel tersentak kaget dan langsung menghapus air matanya.
"Ma-maaf, a-aku aku enggak bermaksud buat ngebantah perintah kamu, tadi bangun tidur aku aku ...."
Grapp ....
Leo langsung memeluk tubuh Karamel sehingga kepala Karamel tenggelam di dada bidang Leo. Rasanya sangat nyaman, Karamel jadi ingin menangis lagi tapi tidak, Karamel tidak mau menunjukkan kesedihannya di depan sang suami.
"Sekarang kita tidur ya," ucap Leo berusaha keras menormalkan suaranya agar tidak bergetar.
Karamel menganggukkan kepalanya kemudian Leo melepaskan pelukannya dan menggendong Karamel sampai ke atas kasur.
"Selamat malam, istri cantiknya aku," ucap Leo mengecup kening Karamel.
"Selamat malam, suami gantengnya aku," sahut Karamel di dalam pelukan Leo.
"Jangan sedih lagi ya bidadari cantiknya aku, sekarang tidur aja di pelukan aku," batin Leo mengelus rambut Karamel.
Mereka sama-sama tersenyum dan memejamkan mata mereka hingga alam bawah sadar mereka perlahan memudar dan memudar hingga terlelap bersama.
.......
.......
.......
...::: Bersambung :::...
__ADS_1