
Di pagi hari, Leo terbangun dengan menyentuh kepalanya yang terasa sangat berat dan sedikit nyut-nyutan.
Awalnya Leo sangat kaget kala dirinya berada di sebuah kamar yang tidak ia kenal namun pandangan Leo tertuju ke arah samping kirinya, Leo merasa lega karena ternyata Karamel ada di sampingnya.
Wajah sang istri tampak sangat menawan dan anggun ketika tidur. Leo tersenyum getir, menyentuh kening Karamel lalu turun ke hidung dan turun lagi ke bibir, hingga tangan Leo berhenti di leher Karamel. Leo melihat ada bekas warna merah di leher Karamel.
"Ini?" gumam Leo mengernyitkan dahinya, Leo bukan anak kecil lagi, tentu Leo tahu tanda merah yang ada di leher Karamel adalah bekas k******k.
Leo beranjak dari tempat tidurnya, namun ketika Leo membuka selimutnya. Alangkah terkejutnya Leo melihat dirinya tidak memakai pakaian apapun, di lihatnya lantai yang berserakan pakaian Karamel dan dirinya.
"Semalem gue ... kita? Kara?" gumam Leo tak jelas.
Leo memejamkan matanya, samar-samar kejadian semalam bisa Leo ingat. Semalam Leo sempat memberontak ketika Clara memaksanya untuk masuk ke kamar hotel, lalu Clara membaringkannya di kasur dengan kasar bahkan membuka kemejanya dengan paksa. Leo ingat semua itu namun ketika Clara memasukan serbuk ke mulutnya, Leo menjadi lemas dan bahkan Leo tidak menolak perlakuan Clara.
Leo ingat dirinya memanggil Karamel terus-menerus, wajah yang ada di hadapannya tampak seperti wajah sang istri. apakah Karamel datang membantunya? Atau semalam dia memaksa Karamel untuk membantunya? Seketika Leo menjadi gelisah.
"Sayang," panggil Leo berbalik menatap Karamel dan mengelus kening Karamel.
"Ini udah siang, ayo bangun sayang!" ajak Leo pelan sembari terus mengelus kening Karamel.
"Kara," panggil Leo lagi.
Leo menghela napas pasrah, mungkin Kara merasa lelah karena ulahnya semalam jadi Leo membiarkan Karamel tetap tidur dan dirinya tentu harus membersihkan diri di kamar mandi.
Namun ketika Leo berdiri, Leo melihat bawahannya ada bercak darah.
"Istri gue masih perawan?" Leo memelotot kaget, Leo menatap Karamel lalu Leo membuka selimut yang menutupi tubuh Karamel. Leo terdiam menatap ranjang yang ada noda darah.
"Bukannya Kara udah pernah ...."
Leo mengerutkan dahinya. Oke! Leo semakin di buat gelisah sekarang, ia tidak akan bisa tenang jika harus membiarkan Karamel tetap tidur tanpa menjelaskan apa yang ia lihat saat ini.
"Kara," panggil Leo mengelus lembut puncak kepala Karamel.
"Bangun sayang!" Leo menepuk pelan pipi Karamel, namun tidak ada hasil, Karamel masih tetap bergeming.
Beberapa kali Leo mengguncang tubuh Karamel namun hasilnya sama, Karamel tidak juga merespon. Sampai Leo menyadari Karamel tidak bergerak ataupun menggeliat sedikitpun. Apa Karamel pingsan?
Leo menjadi panik sampai Leo tidak menyempatkan diri untuk mandi, Leo langsung memakai pakaiannya dan Karamel lalu Leo membawa Karamel ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Di luar kamar pemeriksaan Karamel, Leo menjadi gelisah, dirinya terus saja modar-mandir di depan pintu itu.
Beberapa jam kemudian seorang dokter wanita datang menghampiri Leo, "Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa ada hal yang serius, atau ...."
"Mari ke ruangan saya, Tuan." ajak sang dokter sehingga Leo mengikuti sang dokter ke ruangannya.
"Apa ada masalah serius, Dok?" tanya Leo was-was, Leo takut terjadi sesuatu pada sang istri.
"Keadaan pasien melemah akibat kelelahan, Tuan." ucap sang dokter menghela napas panjang.
"Dan mohon maaf Tuan, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam rahim istri anda." sambung sang dokter.
Tubuh Leo menjadi lemas, mulutnya kelu. Fikirannya melayang-layang saat sang dokter mengatakan 'Janin'
"Ja-janin?" beo Leo gelagapan.
"Istri anda mengalami keguguran akibat orgasme yang berlebihan, Tuan." ucap sang dokter.
"Is-istri saya hamil, Dok?" tanya Leo, Leo tidak tahu kalau Karamel hamil maka dari itu dia bertanya apakah Karamel hamil?
Sang dokter tampak bingung dengan pertanyaan Leo, Bagaimana seorang suami tidak tahu istrinya sedang hamil? Apakah istrinya juga tidak tahu? Fikir sang dokter.
"Benar Tuan, usia kandungan istri anda baru menginjak seminggu empat hari," jawab sang dokter.
Bagaimana Leo akan menjelaskan semuanya dengan Karamel, dokter bilang Leo harus menyampaikan semuanya dengan sangat hati-hati, seorang ibu yang kehilangan anaknya bisa membuat sang ibu menjadi terpuruk.
Leo duduk di kursi samping brankar Karamel, sembari menggenggam tangan Karamel, Leo terus memandang wajah Karamel.
"Maaf," kata itu keluar dari mulut Leo.
Walau janin yang hilang bukan darah dagingnya, namun Leo merasakan sesak ketika tahu Karamel sedang mengandung dan tiba-tiba harus keguguran karena berusaha membantu dirinya dari pengaruhi obat yang Clara berikan.
"Maafin aku," lirih Leo tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Maafin Papa, Nak!" Leo menenggelamkan wajahnya di tangan Karamel, hati Leo sakit, sangat sakit.
Leo terus saja menangis dalan diam hingga sebuah tangan menyentuh pundak Leo, dan Leo langsung mendongakan kepalanya.
Bukan tangan Karamel?
__ADS_1
Leo menoleh ke belakang, "Kak Aryan," Leo terkejut kala sahabat masa kecil sang istri ada di rumah sakit yang sama.
Aryan mengajak Leo untuk keluar dari ruangan Karamel lalu Aryan meminta penjelasan pada Leo.
Begitu banyak pertanyaan Aryan yang di mana Leo harus menjawab semuanya, mulai dari Apa yang terjadi dengan Karamel? Lalu bagaimana Leo bisa ada bersama Karamel padahal Karamel tidak mengharapkan Leo lagi? Bagaimana Leo bisa menjadi suami Karamel? Di mana suami Karamel, Henry? Dan masih banyak lagi. Leo menjawab dengan tenang namun Aryan yang mendengar semua kejelasan Leo tidak bisa menahan emosi.
Beberapa kali Aryan mengumpat kala ternyata Henry adalah orang jahat, namun untungnya Leo mencoba untuk menenangkan amarah Aryan.
"Aku nggak tau gimana caranya ngomong sama Kara, Kak!" setelah semua cerita berakhir, kini Leo berputus asa karena masalah keguguran Karamel.
Aryan menyentuh punggung Leo, "Kara adalah wanita yang kuat, Leo." ucap Aryan ikut merasa sedih atas duka yang di alami sahabatnya itu tapi Leo menggelengkan kepalanya.
"Ini semua salah aku, dari awal aku udah buat Kara menderita Kak!" umpat Leo memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Hentikan Leo ... Leo hentikan!" bentak Aryan menahan tangan Leo.
Aryan tahu Leo merasa terpukul namun Aryan tidak tega melihat Leo yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku buat Kara menderita, Kak. Aku penyebab dari hilangnya anak Kara ... hiks ... hiks ....!" isak Leo menundukan kepalanya dalam-dalam.
"Berhentilah menangis, jika kamu begini terus-menerus. Bagaimana kamu bisa menghadapi Karamel, Leo, kamu harus ingat Kara lebih menderita karena dia adalah seorang ibu yang kehilangan anaknya." bentak Aryan tidak suka melihat Leo selemah anak perempuan.
"Penderitaanmu tidak sebanding dengan Kara jadi aku mohon demi Karamel, berhentilah menangis, Leo!" ucap Aryan tegas namun tidak bisa di pungkiri air matanya kian jatuh membasahi pipinya.
................
Di dalam ruang perawatan, tubuh karamel menjadi kaku mendengar pembicaraan sang suami dan Aryan, Karamel menatap perutnya lalu Karamel menyentuh perut datarnya, Karamel tidak menyangka dirinya sedang hamil dan anak yang ia kandung adalah anak Henry. Tapi Karamel keguguran, anak yang ia kandung telah hilang dari rahimnya.
Apa ini sebuah karma ayah dari anaknya? Atau ini memang takdir Tuhan yang tidak mau Karamel mengandung anak dari penjahat seperti Henry?
Hati Karamel hancur karena anak pertamanya harus di ambil lagi oleh Tuhan, Karamel tahu Tuhan lebih menyayangi anaknya tapi Karamel merasa sangat-sangat sedih atas kehilangan anaknya.
"Maafin Mama, sayang!" lirih Karamel merintihkan air matanya.
"Maafin Mama yang gak bisa jaga kamu dengan baik," tangis Karamel menutup matanya dengan tangan sebelah kanan.
.......
.......
__ADS_1
.......
...::: Bersambung :::...