Choice And Destiny Of Life

Choice And Destiny Of Life
Part . 166 (Takdir)


__ADS_3

Hati-hati (21++)


.


.


.


.


Pandangan di mana Clara duduk di atas tubuh Leo dengan kancing kemeja Leo yang sudah lepas semua, seketika api amarah Karamel memuncak dan dengan perasaan amarah itu Karamel mengepal tangannya lalu berjalan mendekati Clara yang sedang asik mencumbu tubuh Leo.


Bukk! Karamel memukul punggung Clara hingga Clara terjatuh ke pelukan Leo, Clara merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya lalu ia menoleh ke arah belakang.


Bukk! Kembali Karamel memukul wajah Clara hingga Clara meringis kesakitan, dan tubuhnya terhempas ke samping Leo.


Clara menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya sendiri namun sepertinya Karamel sudah membenamkan kebencian dan amarah yang besar pada Clara hingga Karamel kembali membogem wajah Clara.


Tak hanya itu saja, Karamel bahkan mencengkram rambut bagian belakang Clara dan menghempaskan kepala perempuan itu ke dinding sampai perempuan itu pingsan di buatnya.


"Gue udah baik hati biarin lo ngerasain dan dapetain perhatian dari cowok yang lo suka tapi ternyata lo malah mau perko*a dia," sengit Karamel dengan api amarah.


Tatapan membunuh terpancarkan dari kedua bola mata Karamel, ingin rasanya Karamel membunuh wanita licik yang ada di depannya sekarang namun Karamel membuang pemikiran itu karena Karamel mengingat komitmennya untuk tidak membunuh manusia.


"Kara," racau Leo membuat raut wajah Karamel berubah tenang, Karamel mendekati Leo lalu Karamel menyentuh pipi Leo.


"Leo, kamu enggak apa ...."

__ADS_1


"Panas! Aku, aku ...." Leo meracau tak jelas.


"Apa? Pa-panas?" tanya Karamel mengernyit kebingungan.


Karamel berfikir udara di kamar itu sangat dingin namun kenapa Leo merasa kepanasan, dan keringat mulai bercucuran dari wajah dan tubuh Leo.


"Dingin ah," gumam Karamel merasa udara di ruangan itu terasa dingin bukan panas sedangkan Leo menggelengkan kepalanya merasa tidak tahan dengan aura panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Anjing! Jangan-jangan ... brengs*k ni cewek," umpat Karamel sudah tahu apa yang terjadi pada suaminya itu


"Oke, tunggu bentar ya," ucap Karamel.


"Kara, ini gerah banget ... jangan pergi Kara ...." racau Leo ketika Karamel menjauh dari Leo dengan mambawa Clara keluar dari kamar hotel itu.


Karamel menelepon Jeffry untuk datang ke kamar itu lalu Karamel mengatakan setelah sampai Jeffry harus membawa Clara keluar dari hotel.


Karamel membiarkan Clara di luar kamar lalu Karamel kembali masuk ke kamar hotel dan menghampiri Leo yang masih meracau kepanasan.


Kehangatan yang di berikan Karamel lepas karena Leo membalikan keadaan dengan menindih tubuh Karamel dan kembali mencari kehangatan dari bibir mungil sang istri.


"Do it now, Sayang." bisik Karamel setelah melepas pangutan bibirnya.


Karamel tahu jika Leo tidak di bantu oleh Karamel, maka efek dari obat perangsang yang di berikan Clara akan berakibat fatal di tubuh Leo.


Terbukti dari kesadaran Leo, dosis obat yang di berikan Clara sangat besar hingga Leo tidak terkendali mencumbu setiap inci tubuh Karamel.


Sensasi sentuhan Leo sangat luar biasa hingga membuat darah Karamel ikut berdesir, tubuh Karamel terus menggeliat ketika Leo menggigit kecil bagian-bagian sensitifnya sampai akhirnya kini Karamel mulai menikmati dan juga mengimbangi cumbuan manis dari sang suami.

__ADS_1


...............


Di luar kamar 201, Jeffry baru saja keluar dari lift, matanya langsung tertuju pada wanita yang terbaring di depan pintu kamar 201.


Jeffry mendekati Clara lalu Jeffry berjongkok untuk melihat wajah Clara, luka di sudut bibir Clara menandakan bahwa sang nyonya bos lah yang melakukannya.


"Sungguh malang nasibmu Nona," desis Jeffry terdengar mengejek Clara.


Emhh! Seketika bulu kuduk Jeffry naik kala mendengar suara laknat dari dalam kamar 201.


"Telingaku sudah tidak suci lagi," desis Jeffry buru-buru menggendong tubuh Clara dan membawanya pergi dari sana.


...............


Masih di kamar yang sama sekarang Leo maupun Karamel sudah tidak memakai sehelai benang pakaian, Karamel tidak tahu apakah Leo masih sedikit dalam keadaan sadar atau malah sudah di kuasi oleh gairah.


Kini Leo telah berusaha untuk membobol gawang Karamel hingga erangan kuat dari Karamel memenuhi kamar hotel itu, serta pelukan dan cengkraman Karamel membekas di punggung Leo kala menahan perih di bagian sensitifnya.


Walau Karamel sekarang sudah tidak perawan lagi tapi entah kenapa sensasi yang di berikan Leo terasa sangat sakit, Karamel tidak bisa menahannya hingga buliran air mata membashi pelipisnya.


Leo mulai menggerakan pinggulnya namun Karamel masih saja merasakan perih dan sakit di bagian selangkangannya hingga beberapa menit dan jam berlalu permainan malam mereka akhiri dengan pencapaian puncak untuk kesekian kalinya.


Leo tumbang di samping Karamel, deru napas keduanya sama-sama tidak teratur sampai Karamel menatap ke bagian sensitifnya. Deg! Bola mata Karamel membola hingga pandangannya kabur, kabur kabur dan hilang.


.......


.......

__ADS_1


.......


...::: Bersambung :::...


__ADS_2