
...Singapura (19 : 50)....
Selama lebih dari setahun tinggal di Singapura, Rio sudah lebih mengenal Mika. Mika yang kadang cuek, Mika yang kadang lugu atau bahkan lola, Mika yang kadang sinis dan tentunya Mika yang pandai dalam merubah suasana hati dengan mudah. Semua Rio tahu dan menganggumi setiap sifat dari yang Mika tunjukkan.
Mika memang bukanlah cinta pertama Rio tapi Mika sudah membuat Rio stuck pada hati Mika hingga Rio tidak mau berjauhan dari gadis manis yang benama Mika Yosefa Azril.
Di sebuah cafe yang sering mereka kunjungi, kini Rio ingin mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya dengan Mika. Tapi entah kenapa Rio merasa gugup membayangkan dia akan menembak Mika malam ini juga.
"What do you think, Rio?" tanya Mika membuyarkan lamunan Rio yang sedang membayangkan bagimama Mika akan menerima cintanya atau bahkan mungkin menolak cintanya. Ah! Rio menjadi gugup sekarang.
"No-nothing," sahut Rio terlihat gugup.
"So, Rio. Why do we meet here and have to be tonight?" tanya Mika penasaran kenapa Rio memaksany untuk bertemu hari ini juga, padahal Mika sudah menawarkan untuk besok saja.
(Jadi, Rio. Kenapa kita bertemu di sini dan harus malam ini?)
Rio menghela napas panjang, "Mika, gue ...."
Tringgg ....
"Bentar bentar ...." ucap Mika memeriksa handphonenya yang berdering di sela-sela Rio akan bicara. Sial! Rio tampak merasa kesal.
Mika mengernyitkan dahinya, "Siapa?" tanya Rio heran melihat raut wajah Mika yang tampak bingung.
"Da-Daddy," sahut Mika.
Rio sedikit membelalakan matanya karena Rio tahu cerita bagaimana Mika merasa sangat marah dan kecewa dengan daddynya yang memaksa kakaknya Biyan untuk menikah dengan perempuan pilihan daddyanya hingga kakaknya jauh dari kehidupannya selama bertahun-tahun lamanya.
Mika meletakan handphonenya di meja, "Kenapa nggak di angkat?" tanya Rio pelan, oh Rio yang selalu bersikap cuek sudah berubah menjadi lembut sekarang.
Mika menaikan sebelah alisnya, "Palingan juga nyuruh gue buat pulang ke rumah," sahut Mika meminum minumannya.
"Suasananya nggak pas nih," batin Rio merasa bimbang untuk melanjutkan rencana awalnya atau tidak.
"Mik ...."
"Gue nggak akan balik ke rumah kalo nggak sama Kak Biyan," ucap Mika mengepal tangannya, wanita itu masih marah dengan deddynya. Rio langsung terdiam ketika melihat sorot mata Mika yang tempak memancarkan amarah pada daddynya.
Dua hari kemudian Rio mengajak Mika untuk jalan-jalan tapi sayangnya Mika menolak karena tugasnya sangat banyak dan deadlinenya juga besok. Hingga pad akhirnya Rio datang ke apartemen Mika, dengan alasan ingin membantu Mika menyelesaikan tugasnya.
"Thanks, udah mau bantu," ucap Mika tulus seraya tersenyum lebah. Ah! Senyum manis itu berhasil membuat jantung Rio berdegup sangat kencang.
Degg ....
"Nggak masalah," sahut Rio menatap lekat wajah cantik Mika lalu Rio kembali membantu Mika hingga tugas yang sangat banyak itu bisa terselesaikan dengan mudah berkat orang pintar yaitu Riolen Adijaya.
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga," desis Mika merasa lega dan merenggangkan otot bahu, tangan dan jari-jarinya yang pegal karena kebanyakan menulis.
"Sini, gue urut!" ucap Rio dan Mika mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Rio hingga Rio menyentuh tangan Mika, sontak Mika menarik tangannya lagi karena kaget.
"Why?" tanya Rio sambil mengerutkan dahinya aneh.
"Tangan lo kenapa, Rio?" tanya Mika membuat Rio kebingungan lalu melihat ada apa di kedua tangannya itu, tapi tidak ada apa-apa!
"Tangan lo dingin benget," ucap Mika membuat Rio tersentak, seketika tangan pria itu semakin dingin hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Oh ini, ini kayaknya karena ru-ruangan ini dingin ...."
"Gue nggak nyalain AC, Rio." potong Mika membuat Rio semakin salah tingkah, fikiran pria itu menjadi ngebleng akibat Mika menatap dirinya dengan intens.
"Oh nggak di nyala ...."
"Tunggu bentar," ucap Mika berdiri dan pergi ke arah dapur sampai beberapa menit kemudian Mika kembali dari dapur dengan membawakan nampan.
"Nih minum," ucap Mika meletakan secangkir bandrek ke hadapan Rio. pria iy iya mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum meminum bandrek itu lalu em Rio sedikit kaget menatap Mika.
"Siapa yang buat ini?" tanya Rio.
"Lo fikir aja sendiri," ucap Mika sibuk membereskan buku-bukunya.
"Calon istri idaman," ceplos Rio tersenyum tipis, kata-kata itu keluar tanpa ia sadari.
"Mika, lo nggak bisa santai dikit ya ngomongnya." kesal Rio seraya tangannya menyentuh detak jantungnya yang kaget.
"Oops sorry, gue dengar lo ngomong 'calon istri idaman' tadi, maksud lo apaan?" tanya Mika menyipitkan matanya, Rio melebarkan matanya lalu Rio memalingkan wajahnya. Ayaya! Pria itu baru menyadari kecerobohan mulutnya tadi.
"Do you love me, Rio?" tanya Mika frontal, Mika tidak suka basa-basi jadi wanita itu lebih suka bertanya langsung dari pada harus kode-kodean dulu.
Rio semakin melebarkan matanya lalu Rio menatap mata Mika, "What! I love you ...."
"I love you more," Mika memotong perkataan Rio hingga Rio speechlees dan keduanya saling bertatapan satu sama lain. Tatapan yang begitu dalam hingga senyuman tipis Mika mampu mambuat Rio ikutan tersenyum lebar.
Telinga Rio memerah karena merasa malu, tapi masa bodo lah, yang jelas moment romantis dirinya dan Mika akan di mulai dari sekarang.
............
...Kanada (16 : 10)....
Semalam Leo merasa sedikit kesal karena Karamel menghidar dari Leo dengan terus bermain dengan Aldy dan Kenzi. Leo sudah memberi kode dan bahkan membisikan 'Aku ngantuk, ayo kita ke kamar sekarang' tapi sayangnya Karamel malah menyuruh Leo untuk duluan tidur karena ia masih ingin bermain dengan Aldy dan Faza.
Leo menunggu Karamel di kamar hingga ia ketiduran, paginya Leo di buat heran karena ia tidak melihat Karamel ada di dalam kamarnya dan ketika Leo turun ke bawah, ternyata Karamel tertidur di ruang keluarga bersama Kenzi dan Faza.
__ADS_1
Di sisi lain karena Kenzi, Faza dan Fico menginap di mansion Fico, Karamel sengaja menghidar dari Leo alasannya Karamel sedang memikirkan sang mama, kesedihan yang ada di dalam diri Karamel membuatnya takut akan merusak suasana mereka nantinya. Maka dari itu Karamel terus mengelak ingin bermain dengan sang kakak dan sepupunya hingga tanpa di sadari Karamel, Kenzi dan Faza ketiduran di depan layar yang masih menyala itu dan alasan lain juga Karamel merasa belum siap untuk melakukannya tapi wanita itu terlalu takut untuk mengatakan kepada suaminya.
Sejak pagi Leo pergi bersama Fico untuk ke kantor baru Fico, hingga sore hari Leo dan Fico masih belum juga kembali.
"Maaf udah buat suasna hati kamu jadi kacau, aku bakal coba malam ini, semoga enggak gagal." batin Karamel merasa bersalah dengan suaminya.
Ketika Leo mengecup keningnya tadi pagi, Leo tidak tersenyum ataupun berbicara pada Karamel. Dan ternyata Faza menyadari sikap Leo yang dingin hingga Faza bertanya pada Karamel, apakah mereka berdua bertengkar. Karamel menjawab 'Gue buat kesalahan jadi gue ya gitu deh'
"Ara," panggil Faza berhasil membuyarkan lamunan Karamel.
"Iya bang," sahut Karamel spontan.
"Lo ngelamun ya?" tanya Kenzi.
"Gue pengen ketemu Papa," ucap Karamel menghidar dari pertanyaan Kenzi.
"Cerita sama kita ada masalah apa?" tanya Kenzi tidak percaya akan kata-kata adiknya itu. Kenzi adalah kakaknya Karamel jadi pria itu sangat tahu adiknya itu tidak suka berbohong, maka dari itu Karamel akan menghidar tanda wanita itu sedang tidak mau menceritakan masalahnya. Tapi Karamel menggelengkan kepalanya.
"Masalah Leo ya?" selidik Kenzi.
"Lo beneran lagi ada masalah?" timpal Faza.
"Gue kayaknya salah deh, semalem gue menghidar dari Leo," ucap Karamel mulai bercerita, wajah wanita itu memelas karena mungkin saja setelah ia cerita kedua kakaknya itu akan mengomeli dirinya.
"Kenapa lo lakuin itu, Ra. Sekarang 'kan Leo udah sah jadi suami lo ...."
"Gue tahu, Za. Tapi semalem suasana hati gue lagi nggak memungkinkan untuk memenuhi keinginan Leo." sela Karamel jujur.
"Maksud lo?" tanya Kenzi.
"Gue keinget Mama, gue kangen sama Mama. gue nggak konsen dalam segala hal karena gue mikirin Mama, gue berusaha buat enggak larut dalam kesedihan atas kepergian Mama tapi i don't know. Bayangan muka Mama selalu dateng di benak gue, gue cuma takut suasana sedih gue bakal menimbulkan kekecewaan buat Leo," ucap Karamel dengan raut wajah menyedihkan, hati hancur mengingat sang mama telah jauh dari dirinya, selama beberapa hari ini Karamel berusaha ikhlas tapi dirinya tidak bisa memungkiri perasaan yang sangat merindukan sosok mama tercinta.
Kenzi dan Faza bergeser untuk duduk di samping kiri dan kanan sang adik, "Kakak yakin Mama udah tenang di alam sana," ucap Kenzi menempelkan kepalanya ke kepada Karamel.
"Tante Sofi pasti bahagia lihat lo yang sekarang, Ra." timpal Faza ikut menempelkan kepalanya.
Tangisan Karamel terdengar jelas di telinga Leo yang sejak tadi berdiri di belakang ketiga insan itu, Leo merasa sangat sedih melihat Karamel yang belum juga lepas dari suasana dukanya.
"Kenapa kamu enggak ngomong so'al kesedihan kamu ke aku, aku suami kamu Kara!" batin Leo lirih, pria itu bersedih karena Karamel belum cukup terbuka dengannya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...::: Bersambung :::...